Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Kamis, 30 Mei 2013

4Konsep Arsitektur Beberapa Tokoh Arsitek Indonesia dan Karyanya

Yuswadi Saliya
Pada tulisan terdahulu tentang arsitektur telah dijelaskan  teori dan konsep arsitektur, (lihat dan klik di sini) Pada kesempatan ini kita akan melihat contoh-contoh bagaimana praktisi arsitek menggunakan konsep-konsep dan teori desain itu untuk karyanya. Khususnya  bagi pelaku/tokoh arsitektur Indonesia. Beberapa diantaranya yang akan diuraikan adalah :
Yuswadi Saliya,  M. Ridwan Kamil,  Baskoro Tedjo,  Alexander Santoso, Achmad D. Tardiana, Eko Purwono, Acmad Noe’man, Basauli Umar Lubis dan sebagainya.

Вы можете узнать, как концепции и теории архитектуры принятые индонезийского архитектора и его применение в архитектурных работах.


你可以学习如何架构的概念和理论,通过印尼建筑师和建筑作品及其应用。


Anda dapat mempelajari bagaimana konsep-konsep serta teori arsitektur yang dianut oleh arsitek Indonesia dan penerapannya pada karya arsitektur.

4. Yuswadi Saliya (1938- )

Konsep Desain: Bentuk-bentuk Geometris yang sederhana, Topografi Tapak dan Teori Arsitektur Modern

Manifesto dalam Mendesain
Bentuk-bentuk geometris yang sederhana, topografi tapak dan teori modern.
Konsep Architype [1] Yuswadi Saliya adalah pendekatan desain secara geometris. Selain itu ada faktor lain dalam pendekatan desainnya, yaitu bentuk topografi tapak, riwayat tempat tersebut yang berkaitan dengan sejarahnya, serta respon terhadap lingkungan sekitarnya dan dalill-dalil dari teori arsitektur modern.

Langkah awal mendesain adalah dengan membaca bentuk tapaknya. Menurut pengakuan beliau bila tidak mengetahui bentuk tapaknya, akan sukar untuk dapat mendesain, kecuali merancang  sebuah bangunan yang desainnya mengacu kepada salah satu bentuk tipologi bangunan dan dapat diletakkan di banyak tempat. Menurutnya setiap bentuk tapak mempunyai anatomi yang khas, seperti dimana letak tulang punggungnya (garis sumbu imajinernya), dimana sendi-sendinya. Setelah peta itu dapat dibaca sumbunya bagaimana, kemudian dapat ditetapkan bagaimana hirarki, orientasi, dan sebagainya. Dari informasi yang terdapat pada peta tersebut. Lalu dari orientasi yang ada sumbu tadi dikoreksi kembali. Langkah selanjutnya adalah meresponnya terhadap riwayat dan kondisi lingkungan sekitarnya, baru kemudian Beliau dengan cepat dapat menarik-narik garis yang membentuk geometri sesuai dengan bentuk dan orientasi tapak tersebut.


Setiap tempat mempunyai orientasi yang berbeda tergantung dari kondisi topografinya. Dalam menarik garis-garis pembentuk geometris ada dalil-dalil dan tuntutan-tuntutan, sehingga mempunyai alasan, seperti bila membuat bentuk kurva, apa pegangannya. Menurut beilau bahasa geometri ada aturan-aturannya ada istilah geometri thinking (berpikir geometris). Bisa dibayangkan, seperti ada suatu pola-pola perulangan, pola-pola yang konsisten dalam skala, dalam volumetri, dll.

Untuk pengolahan tampak bangunan, beliau menggunakan aturan-aturan dari teori arsitektur modern seperti komposisi, keseimbangan, proporsi, perbandingan golden section, dll. Sedikit banyaknya rumusan teknis modernis tadi beliau gunakan yang menurutnya belum ada tandingannya apalagi dibandingkan dengan rumusan post- modern yang dinilainya masih liar. Kemudian dalam memberikan unsur estetika dan warna menurutnya semua orang akan setuju atau mempunyai persepsi yang sama bila penjabarannya menggunakan teori arsitektur modern. Tanpa mengikuti itu beliau tidak dapat menjelaskan desainnya kepada orang lain, dan dari ketentuan-ketentuan tersebut beliau dapat menyiapkan kategorisasinya, kemudian terdapat kronologisnya yang akhirnya dijadikan bentuk verbalnya sebagai bahan untuk menjelaskan kepada orang lain. Menurutnya agar mendapatkan kepuasan dalam mendesain, hasil desain itu harus bisa dibaca, kalau tidak bisa dibaca sepertinya hanya terjadi dengan kebetulan saja sehingga tidak bermakna. 

Architype
Biasanya para Arsitek dalam merancang sesuai dengan semangat dan visinya. Kemudian sikap dia terhadap arsitektur itu apa, sikap dia dalam proses merancang itu bagaimana. Apa yang disebut teori sebenarnya suatu generalisasi dari berbagai cara para arsitek, dari pendekatan-pendekatan beberapa arsitek yang sifatnya umum. Seperti yang dikatakannya berikut ini.
“Pandangan seorang arsitek sangat tergantung kepada pandangan dia (jadi bisa subyektif). Misalnya pandangan geometri saya, itu karena saya senang geometri. Bagi saya Geometri adalah suatu bentuk bahasa yang mudah diolah. Jadi menterjemahkan suatu gagasan dengan geometri bagi saya dekat hubungannya, tidak terlalu jauh. Kemudian, bahwa bentuk geometri menjadi sifat utama arsitektur saya, adalah suatu kebetulan saja. Misalnya saya menjadi pelukis, karena saya suka geometri maka nantinya akan banyak bentuk geometri dalam lukisan saya.”
Seperti teori Paul Gustav Jung dalam bukunya tentang Architype, bahwa architype hinggap di setiap orang dan dapat muncul dalam berbagai bentuk kehidupannya, baik dalam perilakunya, kegemarannya terhadap lagu-lagu, pada warna, dll. Misalnya seseorang senang dengan warna merah, sebenarnya menurut teori Jung dapat ditelusuri kebelakang, dia pernah mengalami apa, pernah mempunyai alasan apa hingga menyukai warna merah. Architype-nya yang tua/purba didalam ingatan seseorang, kelihatannya sadar atau tidak, akan ada hubungannya (dengan kesenangannya, red.). Nilai rapor ilmu ukur bidang dan stereometri saya bagus-bagus, makanya saya dekat. Bahwa saya mendekati secara geometris karena itu Architype saya.

Biografi singkat Yuswadi Saliya
Yuswadi Saliya adalah seorang Doktor di bidang arsitektur yang sederhana dan senang dengan bentuk geometri, senang dengan bidang kelautan (maritim), dan predikat sejarawan arsitektur yang terlanjur melekat dalam dirinya. Awalnya saat pemerintahan Ir. Soekarno, dosen-dosen ITB yang berkebangsaan Belanda dipulangkan ke negaranya, sementara jumlah dosen sejarah arsitektur di ITB masih kurang. Akhirnya Ir. Yuswadi Saliya yang ketika itu sebagai assisten dosen di bidang arsitektur, diminta untuk menjadi dosen sejarah arsitektur. Karena dedikasinya yang baik sebagai insan pendidikan, walaupun awalnya tidak terpikir untuk mendalami bidang sejarah, hingga akhirnya beliau dapat mendalami dan menjiwai bidang tersebut. Akibat dari pengabdiannya dibidang sejarah, beliau memperoleh hikmah akan makna ilmu sejarah bagi disiplin ilmu yang lain, khususnya dibidang arsitektur.

Baginya sebaik apapun sebuah bangunan bila tanpa memiliki keterkaitan dengan nilai sejarah atau menelaah sejarah yang ada, terutama riwayat mengenai lokasi bangunan itu berdiri, maka bangunan tersebut hanyalah sebuah bangunan belaka yang dapat diletakkan dimana saja di dunia ini sehingga kurang mempunyai makna tertentu. Dan hikmah lainnya adalah, sejak 1989 hingga kini beliau dipercaya sebagai ketua Lembaga Sejarah Arsitektur Indonesia (LSAI).

Ketertarikannya terhadap arsitektur bermula karena interaksi beliau terhadap lingkungannya. Pada masa SMA beliau sering membaca jurnal-jurnal arsitektur di perpustakaan British Council Bandung. Dari buku-buku itu beliiau dapat dengan cepat memahami gambar-gambar denah, tampak, sehingga akhirnya senang. Tidak seperti sebagian orang yang merasa sukar untuk memahami stereometri atau ilmu ukur ruang, sehingga tidak senang. Dan kebetulan kala itu ada mahasiswa arsitektur yang mondok di rumah orang tuanya, dan Beliau sering pula memperhatikan mahasisiwa tersebut menggambar serta membuat tugas kuliahnya, sehingga menambah ketertarikannya di bidang arsitektur.


Curiculum VitaeNama : DR. Ir. Yuswadi Saliya, M.Arch.
Tempat / Tanggal lahir : Bandung, 15 Juni 1938.
Alamat  : Kompleks Dosen ITB, jln. Kanayakan A/4, Dago Atas, 

               Bandung.
Telp. : 022-2503971

Riwayat Pendidikan  
  1.  Lulus dari Departemen Arsitektur ITB – tahun 1966. 
  2. Master of Architecture  diperoleh dari University of Hawaii at Manoa , Honolulu, USA,       Dengan beasiswa dari The East – West Centre (1973- 1975 ) .
  3. Program Doctor di Departemen Arsitektur, ITB, 1997  
Perjalanan Karier  
·         1977-1979 , Sekertaris Departemen Arsitektur, ITB. 
·         1979-1985 , Ketua Departemen Arsitektur, ITB.
·         1985-1987 , Pembantu Dekan Bidang Akademik , Fakultas Teknik Sipil dan   
                           Perencanaan, ITB. 
·         1970-1973 ; 1975-1984 , Anggota Badan Pendidikan ITB . 
·         1988-1992 , Anggota Badan Riset ITB. 
·         1966- sekarang , Senior Architect –AT – 6 .- Senior Lecturer –ITB .
·         1989- sekarang : Chairman of LSAI (Lembaga Sejarah Arsitektur Indonesia).
                                   - Internasional Jury of Agha Khan Awards.
                                   - National Jury of IAI.
                                   - Juri SAA - Awards , UNPAR.
Selected Projects : 
·         Hilton Executive Club di Jakarta , sebagai arsitek utama , 1971-1973. 
·         Anjungan DKI , di TMII , arsitek utama , Pemenang Sayembara, 1972.
·         Rumah Dinas Rektor ITB , arsitek, 1972.
·         Rumah Tinggal di Cisatu , Bandung 1990.
·         Gedung Departemen Arsitektur , ITB , arsitek utama / koordinator , 1997-1998.
·         Desain Logo Ikatan Arsitek Indonesia IAI.

Studi Kasus

Hilton Executive Club, Jakarta
 Beliau mengambil bentuk geometri dasar piramida.  Di sini saya merancang dengan bermain-main  dengan bentuk segitiga sementara pertimbangan-  pertimbangan perkotaan menjadi kendala yang  harus ditaati. Bangunan tidak bisa tinggi, agar tidak  menghalangi pandangan orang dari Jembatan  Semanggi ke arah Stadion Senayan. Konsep rancangan lebih diutamakan pada aspek fungsionalnya, yaitu terbuka terhadap publik. Bentuk bangunan dipilih bentuk yang modern sama sekali, dan mengambil presedens dari bentuk yang sudah ada, yaitu piramida.

Anjungan DKI Jakarta, TMII Jakarta
Konsep utamanya adalah mencari bentuk yang mewakili daerah Jakarta. Beliau tidak mengikuti arsitektur vernakular, dan lebih mengelaborasi bentuk-bentuk yang modern, karena Jakarta adalah kota modern yang tidak memiliki ciri khusus. Pencarian bentuk kemudian tertuju pada ide-ide universal tentang arsitektur. Sehingga akhirnya jadilah sebuah bangunan yang berdasar pada bentuk ”yoni” dari Monas. Dan desain ini menang dalam sayembara.

Rumah Dinas Rektor ITB, Bandung


Pada kasus ini terbentur oleh kebijakan terhadap rumah dinas, yang menyebabkan luasan 300-400 m2. dibuat menjadi seperti 3 unit rumah. Ketiga massa bangunan tersebut dihubungkan oleh ruang pertemuan yang bersifat terbuka. Bentuk bangunan mengikuti konsep geometris dan tropis. Tempat Pertemuan terbuka, yang mempunyai fungsi lain sebagai penghubung anatar unit rumah, yang sebenarnya adalah merupakan satu unit rumah.

Gedung Departemen ITB 
Karena tapak terletak dilokasi yang sudah terstruktur, maka pada desain Gedung Departemen Arsitektur tidak terlalu melihat benturk morfologi tapak. Bentuk bangunan dipilih yang modern dan tropis serta mengikuti ciri khas bentuk bangunan di kampus ITB. 

Rumah Tinggal Di Cisatu, Bandung
Direncanakan pada lahan ber Lereng dengan konsep split  level. Komposisi bentuk-bentuk geometris dalam tatanan yang sesuai dengan lahan berlereng tersebut. Konsep atap tropis dengan kemiringan 30 yang menyatu dengan alam. Akan tetapi tinggi plafondnya hanya 2,70 m. Sehingga bangunan tersebut berkesan rendah. 

Desain Logo IAI
Menggunakan bentuk geometris yang sederhana, Huruf IAI dilambangkan layaknya sebuah bangunan yang melambangkan pergerakan pembangunan di lingkungannya. Lingkungannya dilambangkan dengan bentuk lingkaran yang bawahnya terpotong oleh datarnya lahan / bumi. Perbandingan jarak tebal garis dan komposisi mengikuti aturan golden section.

Catatan (1)

Architype artinya adalah: Original pattern, model, prototype, or blueprint. According to modern, psychological astrology, archetypes... Archetype dan Autonomous Complex. Dalam psikologi Jung, Architype artinya adalah ketidaksadaran kolektif dapat terdiri atas komponen komponen dasar kekuatan jiwa yang oleh Jung disebut sebagai archetype. Archetype merupakan konsep universal yang mengandung elemen mitos yang luas. Konsep archetype ini sangat penting dalam memahami simbol mimpi karena ia menjelaskan kenapa ada mimpi yang memiliki makna universal, sehingga bisa berlaku bagi semua orang. Dan ada pula mimpi yang sifatnya pribadi dan hanya berlaku untuk orang yang bermimpi saja. Jung memandang archetype ini sebagai suatu autonomous complex, yaitu suatu bagian dari kekuatan jiwa yang melepaskan diri dan bebas dari kepribadian. Kohnsamm dan B.G Palland, 1984: 92). Bagi Jung pandangan Freud terlalu menjagokan pandangan seksualitas dan orientasi yang mekanistis-biologis. Jung mengajak psikolog untuk meyakini asumsi dasar yang berbeda, ia menyatakan bahwa manusia selalu terkait erat dengan mitos, hal mistis, metafisis, dan pengalaman religius. Jung melihat manusia sebagai makhluk biologis yang jiwanya berkait erat dengan pola-pola primordial. Manusia memang memiliki aspek kesadaran dan ketidaksadaran bahkan kumpulan kolektif ketidaksadaran yang berbeda dengan dorongan Id menurut Freud. Dengan adanya ketidaksadaran kolektif, manusia memiliki sifat universal dalam hal sensasi, suara qalbu, pikiran dan perasaan.





Poskan Komentar

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting