Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Desember 2018

Perbandingan Perkembangan Pendidikan Seni di Inggris dengan Indonesia

(Bagian I)

Seorang anak sedang memperhatikan acara TV, dia sebenarnya  tidak mengerti apa yang dilihatnya, demikian juga sewaktu dia sudah masuk ke sekolah, dengan berjejal buku di punggungnya, diapun tidak mengerti apakah dia adalah korban politik pendidikan, yang dia tahu hanya patuh kepada perintah gurunya, dan menjadi anak yang baik. Selma Nakamaha B, April, 2006. Pengolahan Foto dengan Corel Photoshop, ver.8


Oleh: Nasbahry C.

Perbandingan Perkembangan Pendidikan Seni di Inggris dengan di Indonesia

(Bagian 2)


Konon kabarnya sejak awal abad ke- 16, setelah kedatangan Portugis ke Indonesia, ternyata mereka juga mendirikan sekolah yang bertujuan memberikan pendidikan baca, tulis, dan hitung sekaligus mempermudah penyebaran agama katolik.  Ketika Belanda memasuki Indonesia, kegiatan sekolah oleh Portugis ini berhenti, digantikan dengan sekolah yang dirintis oleh Belanda, masih dengan basis keagamaan. Oleh Belanda Ambon menjadi tempat yang pertama dipilih oleh Belanda dan setiap tahunnya, beberapa penduduk Ambon dikirim ke Belanda untuk dididik menjadi guru. Ketika Indonesia memasuki tahun 1627, telah terdapat 16 sekolah yang memberikan pendidikan kepada sekitar 1300 siswa.



Oleh: Nasbahry Couto

Senin, 05 Maret 2018

Budaya Anak-anak (Child Culture) dan Studi Seni Budaya (Bagian1)

Oleh Nasbahry Couto


Budaya (culture) adalah perilaku sosial dan norma yang ditemukan di masyarakat manusia. Yang di maksudkan dengan kebudayaan ini tentunya adalah kebudayaan orang dewasa, bukan kebudayaan anak-anak (child culture). Dari kedua sisi pandang inilah (budaya orang dewasa dan budaya anak-anak) penulis melihat beberapa permasalahan, khususnya dalam kaitannya dengan pembelajaran seni dan budaya di sekolah, maupun di perguruan tinggi di Indonesia.Dalam paket buku guru dan murid kurikulum tematik terpadu 2013, yang diterbitkan tahun 2015 oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Istilah seni budaya menghilang digantikan dengan buku paket untuk murid dan guru bertema "Permainan Tradisional" isinya sebenarnya di antaranya adalah "budaya anak" juga di samping permainan tradisional orang dewasa. Dalam hal ini pemerintah khususnya departemen pendidikan dan kebudayaan tentu akan berpihak membela anak-anak, tetapi kekeliruan ini lama baru dapat di sadari dan muncul kurikulum tematik 2013. 

Rabu, 08 Oktober 2014

Pengertian Seni: Friksi Konsep dan Diskrepansi Arti Seni-1

Revisi : 24-10-2014
Oleh 
Nasbahry Couto
 
Karya Nasbahry C. "Indonesia", Grafis Adobe Photoshop.
Friksi konsep, adalah pergeseran konsep yang dapat menimbulkan perbedaan pendapat. Sedangkan diskrepansi makna adalah ketidak cocokan makna. Misalnya friksi konsep seni bergeser artinya menjadi seni murni. Menjadi "sani", "genie", "cilpa"dsb. "Menggambar" menjadi "berekspresi", "kriya menjadi "seni kriya" dan sebaliknya. Prinsip seni menjadi prinsip estetika, dsb. Friksi dan Diskrepansi makna, diperkirakan telah berlangsung lama  dalam dunia seni Indonesia. Tetapi sayang dibiarkan berlarut-larut, dengan tidak adanya penulisan kritik seni, tidak ada yang menulis, dan dibiarkan dalam khasanah seni termasuk dunia pendikan. Dari pada tidak berbunyi, maka penulis memberanikannya menulis. Dan tentu saja tidak semua friksi-friksi itu dibahas dalam tulisan pendek ini, karena niatnya hanya untuk menyegarkan ingatan kembali tentang ketidakcocokan makna dalam pemakaian bahasa untuk seni. Oleh karena itu contoh-contoh diberikan adalah hal-hal yang biasa dan dekat dengan pemakaian sehari hari...., semoga berguna.

Pengertian Seni: Friksi Konsep dan Diskrepansi Arti Seni-2

Hal.2

Timbul pertanyaan apakah seni rupa itu adalah “fine art”, kenapa seni rupa itu perlu dibagi lagi atas seni murni dan seni pakai, apakah keduanya terjemahan dari fine art dan  applied  arts

3. Samakah Seni Rupa dengan Seni Murni? 

Friksi konsep pada buku Seni Budaya

Diantara istilah seni rupa dan seni visual  bisa terjadi friksi, seni pakai (aplied arts) telah tergeser menjadi “seni terapan”. Seni rupa dan terapan, keduanya dipakai untuk pengertian yang sama, pada hal mereka berbeda.

Pertama seni rupa lazim dianggap sebagai “seni murni”, yang diantara seni rupa murni itu adalah “lukisan”, pernyataan ini tidak salah. Sebab seni rupa dipakai untuk menyatakan kegiatan melukis, membuat patung, keramik dan seni grafis.Contoh dibawah ini (yang ditulis di buku Seni  Budaya, tahun 2014) memperlihatkan hal itu.
“Guru seni budaya bersama siswa mempersiapkan dan melaksanakan aktivitas mengapresiasi seni rupa murni (seni lukis), sehingga kompeten merasakan keindahan dan makna seni, kemudian menerapkan dan merasakan keindahan itu dalam kesehariannya. (Bangun, Sem Cornelius; Zebua, S., Narawati,T., Maua, Z.R. Dkk. 2014:1) [4]

Pengertian Seni: Friksi Konsep dan Diskrepansi Arti Seni-3

Hal.3

Aspek Historis

Gagasan untuk “fine arts” (versi barat) dapat ditelusuri  kembali kepada Akademi Perancis Fine arts abad ke-17, bagaimanapun sejak masa ini seniman, dan  banyak orang bekerja namun terdapat perkembangan konsep lain yang justru merusak dan mengalihkan konsep seni.

Kita mungkin berpikir tentang lukisan, patung, dan arsitektur terkait langsung dengan seni dua dan seni tiga dimensi, dan seni yang termasuk menggambarkan ruang. Sebagian dari bentuk seni yang lebih baru yang ditambah dengan gerak/motion, seperti  seni filem dan seni video kadang-kadang dikenal sebagai media yang didasari oleh waktu (time based media).

Pengertian Seni: Friksi Konsep dan Diskrepansi Arti Seni-4

Hal.4

6. Inspirasi Sebagai Ancang-ancang (desain) dalam Seni

Desain (rancangan, ancang-ancang) itu bukan ilmu terapan seni, tetapi secara implisit ada pada seni, desain dan kriya, matematik, sains dsb. Saat seorang pelukis, desainer dan pengriya akan bekerja maka berlangsung ancang-ancang (rencana) dalam dirinya akan membuat sesuatu. Rencana (desain) itu bukan produk, tetapi ada pada kepala perupa, tetapi cara perupa dalam menyelesaikan masalah berbeda-beda menurut waktu. Dalam mengutarakan rencananya arsitek menggambarkan sebuah rencana bangunan, pelukis bisa berencana (mendesain) lukisannya dalam bentuk sketsa-sketsa pendahuluan. Seorang desainer Komunikasi visual, dapat mendesain melalui coretan sketsa  konsep di atas kertas putih tentang desain majalah, baru kemudian diselesaikannya dengan komputer. Jadi kurang tepat jika desain diartikan sebagai hasil seni terapan.

Pengertian Seni: Friksi Konsep dan Diskrepansi Arti Seni-5

Hal.5

8. Friksi Konsep Kegiatan Seni

Friksi itu bukan hanya dalam menafsirkan arti seni tetapi juga kepada kegiatan seni seperti fine art,  applied  art, dekorative art. Antara "kriya (craft)" dengan "seni" dan kriya yang dianggap "seni" yang bisa bergeser-geser.

Friksi kriya menjadi seni kriya mudah di pahami, karena anggapan bahwa kriya itu mudah dan bisa dijadikan benda seni. Disini terjadi diskrepansi makna kriya. Yang seharusnya bukan lagi benda kriya tetapi benda seni. Misalnya seni patung miniatur yang dianggap seni kyiya, atau sebaliknya kriya yang dianggap seni kriya. Dalam sejarah perkembangan seni biasa material kerajinan menjadi material seni, tapi sikap dan cara memandangnya, dan proses berseni sama dengan proses seni murni yang mementingkan ekspresi dalam prosesnya. Misalnya teknik menenun yang dipakai untuk ekspresi lukisan dinding (tapestry).

Selasa, 16 September 2014

Teori Seni dalam Dunia Pendidikan (Bagian 2)


(Bagian 2) dari Teori Seni dalam Dunia Pendidikan
Oleh Nasbahry Couto
Untuk melihat bagian (1) link di sini



B. Bagaimana Pendidikan seni di Sekolah Umum Indonesia: latar Konsepnya dan apa Permasalahannya?

1. Pendidikan Seni pada masa Pemerintahan Kolonial

Pembelajaran seni sekitar tahun 1930-an, oleh pemerintah Belanda secara tidak langsung dipengaruhi oleh pendidikan seni yang menerus dari Eropa sebelum perang dunia ke Indonesia. Konsep pembelajaran seni saat itu di Eropah dianggap dapat untuk membantu kepentingan industri. Dalam masa ini pendidikan di Indonesia dikenal dalam dua strata yaitu sebutan sekolah kelas satu dan sebutan sekolah kelas dua. Sekolah kelas satu bagi warga Negara Belanda, kelompok priyayi dengan pembelajaran kualitas standart untuk menghasilkan seni tinggi. Sedangkan sekolah kelas dua bagi orang biasa dan warga pedesaan dengan kualitas pembelajaran alakadarnya, namun dilatih keterampilan untuk dapat menghasilkan benda seni untuk kepentingan pemerintahan Kolonial Belanda.

Teori Seni dalam Dunia Pendidikan (bagian 1)


Oleh Nasbahry Couto

A.Pendahuluan


Sebagai sebuah pandangan (hipotesis), teori seni itu adalah teori-teori dan konsepsi seni yang ada di sepanjang sejarahnya. Terutama hasil pemikiran para filsuf dan teoritikus yang sangat luas dari para pemikir Barat. Namun menurut penulis, teori seni yang luas itu ada dalam dua core besar yaitu teori tentang seni  (“Theories about Art” ) dan teori di dalam seni (Theory in Arts).
Ada teori-teori lain yang mempengaruhi konsep seni -- tetapi pada dasarnya tidak dapat dimasukkan ke dalam ke dua kelompok teori di atas -- yang disebut teori di luar bidang seni (outside the field of art theory). Teori di luar bidang seni misalnya teori fisika dan matematik, Teori fisika Newton tentang cahaya misalnya, dipakai untuk menjelaskan teori warna. Teori relativitas Einstein  diduga meng- inspirasi lahirnya seni kubisme (Shest, Herman, 2009)[1] dan (Laporte, Paul. M., 1966), teori-teori seperti ini tidak akan di bahas dalam laman ini. Memang dalam sejarah seni terlihat beberapa teori dan konsep yang berada di luar bidang seni namun dapat  memberi ide kepada teoritikus seni dan seniman untuk berkarya.

“Theories about Art” (Teori tentang Seni) adalah bersifat memaparkan “what is art”, atau apakah seni itu atau apakah seni rupa itu dan fungsinya dalam kehidupan manusia, misalnya apakah seni dan fungsinya dalam pendidikan?. Artinya, teori ini lahir menurut posisi teoretis penulis dan paradigmanya; yang hanya berlaku pada posisi teori pendidikan berikut aplikasinya. 

Menurut pendapat penulis teori ini  cenderung  berfungsi hanya untuk memberi penjelasan (eksplanasi) apa seni dan seni rupa itu pada posisi masing-masing bidang teoritisnya. Teori-teori yang lahir dari teori tentang seni (“Theories about Art” ) itu bisa sangat luas. Ilmu filsafat misalnya, menjelaskan dari sudut filsafat (Lihat buku The Liang Gie, 1975. Filsafat Keindahan). Gie, secara rinci menjelaskan apa seni itu dari sudut filsafat. Sesuai dengan tujuan berfilsafat. Umumnya, filsafat adalah  dalam rangka mencari  “kebenaran” menurut paradigma filsafat sebagai sebuah interpretasi. Filsafat seni tidak di bahas dalam uraian ini.

Minggu, 06 Oktober 2013

Memberdayakan Teori dan Praktik Kependidikan Seni dalam Kawasan Kultural (Naskah Asli)

Kebudayaan Majapahit: sumber:http://ts4.mm.bing.net/th?id=HN.608012424077379339&pid=15.1

International Seminar on Languages and Arts (ISLA-2), “Empowring Theories and Pedagogical Aplication Languages and Arts”, FBS Universitas Negeri Padang, 5-6 Oktober 2013, di Hotel Pangeran Beach, Padang
Oleh: Nasbahry Couto [1] & Ramalis Hakim[2] 

Abstract
The assumption that the field of pedagogy and the arts are rooted in the same science that is psychology, would attenuate the differences between: the practice of the art learning and pedagogical practices. This can result in a lack of attention to the art science teacher. Really it's just the art of science is rooted in the science of psychology? Apparently not. In a clear pedagogical practices that aim arts education can not be generalized to any ranking elementary, junior high and high school. If this is true, then the teacher of arts majors are not needed, because it can be replaced from the teachers of the graduates of the Faculty of Educational Sciences. Conversely, if there are teachers and professors who believe that the roots of the art science just skills (technological arts) and to be an artist, this assumption is not true, because learning does not mean the same as the art of learning Expertise Group (KK) Art Practice, because there another lesson is learning families of Arts (Aesthetics and the Sciences of Arts). Of Arts is mastery over territory controlled by families that have art teachers and lecturers. And according to the writer, it is too weak from the central (compilers curriculum) to the lower level (implementing the curriculum). Learning art is distinguished in rank elementary, junior high and high school, hence the term "art education" can not be generalized to all this education rankings. Important note there should be debriefing science teacher and lecturer on art, particularly art theories relevant, especially about the sociology and anthropology of art is a relatively new art developed in Indonesia.

Key Words: Beliefs About Learning, The Sciences of Arts, and Curricullum

Pendidikan Seni Sebelum Kurikulum 2013

Rabu, 28 September 2011

Sejarah Pendidikan Desain di Mancanegara dan Pengaruhnya terhadap Pendidikan Seni Rupa dan Desain di Indonesia

Oleh
Nasbahry Couto

Pengantar

 Pada kesempatan ini penulis ingin menyumbang pemikiran tentang bagaimana perkembangan Pendidikan Desain. Pendidikan Seni (fine arts maksudnya), memang memiliki sejarah panjang ketimbang pendidikan desain, hal ini dapat dilihat dalam bentuk pendidikan formal maupun nonformalnya.[1]  Seperti yang diketahui pendidikan desain awalnya muncul di sekolah Bauhaus (1919) di Jerman, kedua jenis pendidikan ini (seni dan desain) kemudian menyatu kembali di bawah induk  pendidikan seni visual.[2] Bahkan sekarang dikenal pula pendidikan seni dan budaya. Bagaimanakah kondisi pendidikan desain di Indonesia? Pada pendidikan umum (SD,SMP,SMU), ilmu desain umumnya  kurang begitu dikenalnya di Indonesia, kecuali seni terapan, tetapi seni terapan tidak sama dengan ilmu desain. Apakah hal ini akibat orang suka mengarang-ngarang ilmu, atau apakah ini akibat pendidikan seni berinduk kepada pendidikan seni dan budaya? Penulis berpendapat bahwa pendidikan seni dan budaya di sekolah umum di Indonesia adalah pengaruh gerakan  "Art and Craft Movement di Eropah abad ke 19. Jika ini ya, maka sejarah lama di Eropah telah berulang kembali di Indonesia. Baca juga artikel ini, dan perbedaan hakiki antara seni dan desain,dan ini


Selasa, 08 Maret 2011

Memahami Klassifikasi Seni dan Seni Rupa

Oleh Nasbahry Couto

Revisi: Revisi terakhir April 2017

A. Pendahuluan



TUJUAN memahami klasifikasi seni adalah untuk memudahkan kegiatan apresiasi/kritik seni dan kreasi seni (memproduksi) karya berdasarkan tema tertentu. Misalnya tema-tema pemersatu seni dan tema khusus dari analisis karya seni maupun dari  budaya lokal, nasional maupun dari mancanegara.
Bentuk Pengklassifikasian berdasar budaya, yang dipelajari di tingkat dasar ada yang mementingkan pelajaran jenis seni, produk seni  dan atau karya. Ada pula yang lain berpendapat pentingnya pengelompokan seni berdasarkan estetik. Karena yang dianggap estetik itu bukan respon estetik dan dianggap ada pada karya seni. Akibatnya semua yang terlihat indah dianggap sebagai seni seperti anyaman, tembikar, ukiran, sesajen dan sebagainya, Yaitu benda yang dianggap mengandung estetik dari budaya material (lihat kurikulum KTSP 2006).
Pengklassifikasian seni biasanya bertujuan untuk mengetahui pengelompokan seni. Pengelompokan karya seni ini bisa sangat luas, misalnya pada tulisan Wikipedia kita temukan pengelompokan seni lukis sebagai berikut ini (Wikipedia, 2013)
  • Pengelompokan Seni Lukis berdasarkan gerakan Seni (by art movement) 
  • by school or group (Pengelompokan seni berdasarkan teori sekolah atau teori kelompok seniman tertentu) 
  • by genre (Tipe) 
  • by nationality (Pengelompokan seni berdasarkan kebangsaan) 
  • by century (Pengelompokan seni berdasarkan sejarah/Abad) 
  • by popularity (Pengelompokan seni berdasarkan popularitas karya atau seniman)

Oleh karena sistem klassifikasi seni yang bisa sangat luas maka perlu kita meyederhanakannya dan melihat sistem klasifikasi yang umum saja, antara lain sebagai berikut ini.
  • Sistem klasifikasi berdasarkan ketrampilan, alat dan bahan, dan atau berdasarkan bagaimana seni diproses
  • Klasifikasi berdasarkan dimana karya seni  di tempatkan
  • Klasifikasi berdasarkan gaya seni
Bagian yang pertama sistem klassifikasi bisa dibuat berdasarkan bagaimana dan aspek yang dipentingkan saat seni diproduksi. Dalam hal ini sebenarnya ada sebelas (11) aspek seni dalam sistem produksinya, diantaranya adalah berikut ini: (1) produksi seni melalui elemen dasar dan prinsip-prinsip penyusunan seni;  (2) produksi seni melalui peragaan (performance) seni;  (3) produksi seni melalui kosakata seni; (4)  produksi seni melalui gaya dan hasil  seni;  (5) produksi seni melalui tema bentuk seni;  (6) produksi seni melalui imitasi karya   sejarah dan budaya serta imitasi tampilan seni tertentu;  (7) Aspek latihan dan analisis praktik seni dan fungsinya;  (8) aspek peralatan, alat dan bahan seni;  (9) Produksi seni melalui partisipan (Pelaku) seni, tampilan seni, 10) produksi seni melalui teknologi seni;  (11) produksi seni melalui teknologi dalam konteks tradisi, sosial dan budaya tertentu.

Dalam uraian ini, dari ke sebelas (11) aspek diproduksi seni dapat diklassifikasikan tiga kelompok besar klassisikasi seni yaitu (1) klassifikasi teknik, bahan dan alat (proses), 2) berdasarkan penempatan, dan tampilan, 3) berdasarkan gaya seni. Oleh karena keterbatasan ruang maka tidak semua klassifikasi jenis ini diuraikan, dan hanya beberapa contoh-saja. 

Kamis, 01 Januari 2009

Materi Pembelajaran Seni dan Budaya Lokal, Nasional dan Mancanegara



Menurut hemat penulis, paling tidak ada empat aspek yang dibahas menurut standar pendidikan seni di tingkat perguruan tinggi  mancanegara, yaitu berikut ini.3)
1.    Aspek produksi dan tampilan dan pameran seni
2.    Aspek yang terkait dengan kebudayaan dan sejarah seni
3.    Aspek respon dan kritik seni
4.    Aspek respon estetik dalam seni

(gbr.Koleksi Agus Hamdani)

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting