Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Kamis, 30 Mei 2013

9Konsep Arsitektur Beberapa Tokoh Arsitek Indonesia dan Karyanya

Pada tulisan terdahulu tentang arsitektur telah dijelaskan  teori dan konsep arsitektur, (lihat dan klik di sini) Pada kesempatan ini kita akan melihat contoh-contoh bagaimana praktisi arsitek menggunakan konsep-konsep dan teori desain itu untuk karyanya. Khususnya  bagi pelaku/tokoh arsitektur Indonesia. Beberapa diantaranya yang akan diuraikan adalah :
Yuswadi Saliya,  M. Ridwan Kamil,  Baskoro Tedjo,  Alexander Santoso, Achmad D. Tardiana, Eko Purwono, Acmad Noe’man, Basauli Umar Lubis dan sebagainya.

Вы можете узнать, как концепции и теории архитектуры принятые индонезийского архитектора и его применение в архитектурных работах.


你可以学习如何架构的概念和理论,通过印尼建筑师和建筑作品及其应用。


Anda dapat mempelajari bagaimana konsep-konsep serta teori arsitektur yang dianut oleh arsitek Indonesia dan penerapannya pada karya arsitektur.

9.  Eko Purwono (1962...)


Konsep Desain: Pragmatic ArsitekturMenggali Lebih Dalam Nilai-Nilai Lokal

Sekilas tentang Ir. Eko Purwono, Ms. Arch. S

Eko Purwono, sosok arsitek yang dikenal selain sebagai seorang dosen jurusan Arsitektur (kira-kira sudah 29 tahun) di Intitut Teknologi Bandung juga dikenal aktif di Dewan Pendidikan Kota Bandung dan menjabat sebagai Ketua Yayasan MP2I (Masyarakat Pemerhati Pendidikan Indonesia). Karakternya yang dapat dikatakan kritis dalam mengutarakan pendapatnya terutama terhadap dunia pendidikan di Indonesia menggambarkan komitmen Eko Purwono sebagai sosok seorang pendidik serta sebagai arsitek yang memiliki prinsip yang kuat dan dikenal di kalangan komunitas arsitektur baik dari dunia akademisi dan praktisi.

Pandangan Tentang Manifesto Arsitek International
Menurut Eko Purwono, yang dikenal sebagai ahli di bidang Sejarah, Teori, dan Kritik Arsitektur, bahwa biasanya yang senang ber-‘manifesto’ adalah arsitek-arsitek muda (penulis mengartikannya dengan arsitek yang berusaha mencari identitas) dan yang paling menyukai manifesto itu adalah arsitek-arsitek italy pada tahun 1919 (jika dibandingkan dengan arsitek Amerika dan Inggris) dan, Eko Purwono juga menambahkan bahwa arsitek dalam berkarya terkadang tidak memiliki konsep atau memakai konsep tetapi tidak dapat menceritakan konsep tersebut, dan Eko Purwono memberi gambaran manifesto yang dilakukan oleh Peter Eisenman, dimana Eisenman mencoba mengganggu tatanan yang sudah ada dan kemudian mampu merumuskan kembali secara akademik setelah itu dijadikan sebagai salah satu sarana menawarkan karya Eisenman kepada masyarakat.

Pandangan Tentang Manifesto Arsitek Indonesia
Arsitek Indonesia sebaiknya memiliki manifesto yang murni dibuat oleh arsitek itu sendiri agar betul-betul terdapat perenungan, pemahaman dan kesadaran yang penuh dalam pencarian identitasnya. Dengan demikian, autobiografi/monograf yang dihasilkan tidak hanya sekedar berisi kronologis perjalanan hidup dengan daftar karya-karya yang dihasilkan pertahunnya tanpa menyertakan visi dan pesan yang ada dibalik masing-masing karya tersebut. Disini Eko Purwono menambahkan, arsitek-arsitek muda juga sebaiknya dapat menggali lebih dalam nilai-nilai lokal (local knowledge, local identity, local culture) sehingga menghadirkan desain Arsitektur yang berkarakter  lokal .

Pendekatan Perancangan
Secara umum pendekatan perancangan yang dilakukan Eko Purwono dapat berbeda-beda di tiap-tiap proyek tergantung dari karakter proyek tersebut, kemudian Eko Purwono memasukkan nilai-nilai lokal (local knowledge, local identity, local culture) yang digabungkan dengan material dan teknologi yang tersedia pada daerah setempat sehingga mampu menghadirkan desain Arsitektur yang berkarakter dan bermakna. Mengenai preseden arsitektur, menurut Eko Purwono merupakan pendekatan yang paling dekat atau cepat didapatkan oleh arsitek. Hal ini disebabkan karena kita sebagai arsitek selalu berhubungan dengan dunia luar dalam memperoleh informasi mengenai arsitektur, baik secara langsung (melihat), atau melalui media. Hal tersebut kemudian secara tidak sadar tertanam dalam benak arsitek yang pada saat merancang, yang secara tidak sadar pula, kembali muncul sehingga dapat membantu menghasilkan ide-ide dalam merancang.
Sebagai seorang arsitek, Eko Purwono sangatlah akomodatif terhadap keinginan dari para pemberi tugas. Tujuannya mendesain adalah membuat sesuatu yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Jadi desain - desain yang ada pada proses awal proyek, bisa saja berubah pada akhirnya. Sesuai dengan komunikasi yang terjadi antara arsitek dan klien selama proses desain terjadi.
Dalam menentukan layout dari sebuah desain disesuaikan dengan kebutuhan yang ada, hal ini tergantung dari pemberi tugas. Misalnya untuk bangunan rumah sakit didasarkan kepada kebutuhan fasilitas yang akan disediakan, pada kantor disesuaikan dengan jenis kantor yang diinginkan berdasarkan standar - standar yang baku. Sebelum masuk ke perihal desain terlebih dahulu haruslah mempelajari dan mengetahui kondisi masyarakat sekitarnya, kondisi alam dimana bangunan itu akan berada. Bagaimana nantinya bangunan tersebut akan mempengaruhi lingkungan tempat dia berdiri, diusahakan seminimal mungkin agar tidak minimbulkan efek negatif terhadap lingkungan. Eko Purwomo sangat consern pada konteks lokal, budaya, dan alam lingkungan sekitar. 


Poskan Komentar

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting