Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Tampilkan postingan dengan label KRIYA & TACIT KNOWLEDGE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KRIYA & TACIT KNOWLEDGE. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Agustus 2020

Kerajinan Sebagai Ilmu Pengetahuan Tacit (Non-Ragawi)


Nasbahry Couto

Peter Dormer  dalam bukunya The Art of the Maker: Skill & its meaning in Art, Craft & Design, [[1]][[2]] dan buku Harry Rand “Hundert­wasser”.[[3]] Ini menempatkan Dormer dan Hundertwasser dalam diskusi tentang peran pengetahuan praktis atau kria  dan seni. Hal ini dilakukan sebab dua tokoh ini sangat penting bagi pratisi, dan teoritikus kria dan seni  untuk memperoleh pengalaman diri dari berkarya dan atau berkarya, karena pengetahuan ini tidak dapat di­artikulasikan dengan kata-kata.

Jumat, 27 Februari 2015

Prinsip Kognisi Desain (Psikologi Persepsi)-1


        Nasbahry Couto
Artikel pada laman ini sebenarnya sambungan artikel "Cuplikan Desain Komunikasi Visual", di blog Nasbahry Edu. Artikel ini mencoba melihat lebih dalam prinsip-prinsip desain informasi, dan pentingnya peran psikologi persepsi pada Desain komunikasi visual. Khususnya tentang proses persepsi "bottom-up" dan "Top-down", sebagai kunci masalah persepsi secara kognisi, dan "affordance" sebagai bagian kognisi singkat dari manusia dalam bertindak, misalnya dalam melihat iklan, olahraga, seni dan militer. Ternyata tidak semua persepsi itu harus dimaknai. Gestalt misalnya hanya sampai pada penglihatan singkat, sedangkan estetika bisa sebagai bagian affordance, dan bisa juga bagian dari persepsi dengan skemata memori manusia (budaya). Penulis membahas masalah persepsi ini sebenarnya sudah lama, dulu waktu kuliah di jurusan komunikasi seni, di ITB, antara tahun 1970-1973, salah satu mata kuliah yang penulis ikuti adalah "Ilmu Komunikasi". Tetapi mengajar secara intensif tentang psikologi persepsi mulai tahun 2003, yaitu sejak berdirinya jurusan DKV, di Pdg. 
Lihat juga
A. Pengantar
Menurut Pettersson (2013) prinsip desain informasi bersifat universil, jadi prinsip informasi ini dapat berlaku dimana saja. Seperti prinsip-prinsip informasi lainnya, matematika, tidak terikat dengan fitur unik dari bahasa tertentu, mereka juga tidak terikat pada budaya. Prinsip desain informasi adalah pertimbangan dan atau kebijakan yang berlaku universil, misalnya fungsi, administrasi, estetika dan kognisi selalu terkait dengan desain.  berlaku untuk semua jenis desain informasi, karena prinsip ini adalah hasil penelitian. Berbeda dengan seni, biasanya hanya terkait dengan estetika, interpretasi dan kadang juga oleh budaya. Desain terikat dengan prinsip fungsi, prinsip administrasi, estetika dan kognisi. Prinsip kognitif ini sudah diuraikan sedikit pada tulisan sebelumnya di blog Nasbahry edu, terutama aplikasinya pada desain WEB. Namun perlu rasanya untuk melihat lagi secara keseluruhan apa saja butir-butir prinsip desain itu dan bagaimana modelnya.

Prinsip Kognisi Desain (Psikologi Persepsi)-3

Hal 3
Oleh Nasbahry Couto

B. 4. Pemanfaatan Teori Gipson (Affordance)

Affordance, Affect dan Estetik Menurut Donald A. Norman

Menurut Murray, (tanpa tahun), konsep affordances Gipson (1977)  30 tahun, kemudian digunakan dalam bidang interaksi manusia dengan komputer untuk menggambarkan sifat fungsional benda atau lingkungan - yaitu yang memungkinkan penggunaan tertentu. Misalnya, papan tulis memungkinkan affords (menindak) ditulis dan dihapus, direndahkan, didatarkan, mendukung untuk diduduki 30 inci persegi. Istilah ini pertama kali digunakan oleh James J. Gibson ("A Theory of affordances" 1977) yang berarti "kemungkinan aksi" yang dilakukan  terhadap objek materi secara potensial. 

Prinsip Kognisi Desain (Psikologi Persepsi)-2

Hal 2

B.2. Gibson (1966) dan Persepsi Proses Bottom-up
Gibson mengkritik keras gagasan bahwa persepsi manusia melibatkan proses top-down dan menolak diskusi Gregory tentang ilusi visual dengan alasan bahwa mereka hanya contoh buatan dan bukan imaji sebenarnya yang biasa ditemukan di lingkungan visual yang normal. Hal ini sangat penting karena Gregory menerima bahwa kesalahan persepsi adalah pengecualian daripada norma persepsi. Ilusi mungkin fenomena menarik, tetapi mereka mungkin saja bukan informasi yang perlu diperdebatkan.


James Gibson
Sumber:https://cs3240group07.files.wordpress.com/2012/03/gibson.gif

James Gibson (1966) berpendapat bahwa persepsi langsung itu yang penting, dan dia tidak tunduk pada pengujian hipotesis yang diusulkan Gregory. Ada informasi yang cukup di lingkungan manusia untuk memahami dunia dengan cara langsung. Bagi Gibson: sensasi adalah persepsi: apa yang Anda lihat adalah apa yang Anda dapatkan.Tidak perlu untuk diinterpretasikan. Sebagai informasi yang diterima langsung tentang ukuran, bentuk dan jarak dll yang cukup rinci, cukup bagi manusia untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan.

Prinsip Kognisi Desain (Psikologi Persepsi)-4

Hal 4 (Affordance pada Seni, Olahraga, Desain dan Pembelajaran
Oleh Nasbahry Couto

Lihat juga:
Prinsip-prinsip kognisi dalam Desain Informasi 
B. 6. Affordance  adalah Seni (Art) ?
Lebih lanjut affordance sekarang bukan saja dianggap sebagai pengalaman perseptual–motor yang hanya ada pada bidang tertentu, tetapi juga dianggap perseptual–motor dalam seni, seperti yang dikemukakan Katherine Leduc dalam artikelnya “Art as Affordance” (2013)[18]

Dia  membahas seni sebagai sebuah alat,  sebagai lawan kata benda, dalam upaya untuk menjawab, atau membatalkan, pertanyaan "apakah seni?". Cara ini menurutnya memungkinkan untuk menilai cara seni bertindak, di mana objek, penerima stimuli dan seniman berhubungan satu sama lain melalui materinya, bagaimana komunikasi seni dapat ditafsirkan sebagai jenis tindakan, dan bagaimana tindakan tersebut tergambar dari affordance 'kesenian'. Ia menganggap  definisi seni sebagai affordance, berlawanan dengan beberapa teori seni yang lebih dominan. Dan affordance itu sendiri adalah seni. Dengan demikian maka pertanyaan dan rahasia selama ini tentang “tacit knowledge” dalam seni  sebagian bisa terkuak.

Rabu, 08 Oktober 2014

Pengertian Seni: Friksi Konsep dan Diskrepansi Arti Seni-1

Revisi : 24-10-2014
Oleh 
Nasbahry Couto
 
Karya Nasbahry C. "Indonesia", Grafis Adobe Photoshop.
Friksi konsep, adalah pergeseran konsep yang dapat menimbulkan perbedaan pendapat. Sedangkan diskrepansi makna adalah ketidak cocokan makna. Misalnya friksi konsep seni bergeser artinya menjadi seni murni. Menjadi "sani", "genie", "cilpa"dsb. "Menggambar" menjadi "berekspresi", "kriya menjadi "seni kriya" dan sebaliknya. Prinsip seni menjadi prinsip estetika, dsb. Friksi dan Diskrepansi makna, diperkirakan telah berlangsung lama  dalam dunia seni Indonesia. Tetapi sayang dibiarkan berlarut-larut, dengan tidak adanya penulisan kritik seni, tidak ada yang menulis, dan dibiarkan dalam khasanah seni termasuk dunia pendikan. Dari pada tidak berbunyi, maka penulis memberanikannya menulis. Dan tentu saja tidak semua friksi-friksi itu dibahas dalam tulisan pendek ini, karena niatnya hanya untuk menyegarkan ingatan kembali tentang ketidakcocokan makna dalam pemakaian bahasa untuk seni. Oleh karena itu contoh-contoh diberikan adalah hal-hal yang biasa dan dekat dengan pemakaian sehari hari...., semoga berguna.

Pengertian Seni: Friksi Konsep dan Diskrepansi Arti Seni-2

Hal.2

Timbul pertanyaan apakah seni rupa itu adalah “fine art”, kenapa seni rupa itu perlu dibagi lagi atas seni murni dan seni pakai, apakah keduanya terjemahan dari fine art dan  applied  arts

3. Samakah Seni Rupa dengan Seni Murni? 

Friksi konsep pada buku Seni Budaya

Diantara istilah seni rupa dan seni visual  bisa terjadi friksi, seni pakai (aplied arts) telah tergeser menjadi “seni terapan”. Seni rupa dan terapan, keduanya dipakai untuk pengertian yang sama, pada hal mereka berbeda.

Pertama seni rupa lazim dianggap sebagai “seni murni”, yang diantara seni rupa murni itu adalah “lukisan”, pernyataan ini tidak salah. Sebab seni rupa dipakai untuk menyatakan kegiatan melukis, membuat patung, keramik dan seni grafis.Contoh dibawah ini (yang ditulis di buku Seni  Budaya, tahun 2014) memperlihatkan hal itu.
“Guru seni budaya bersama siswa mempersiapkan dan melaksanakan aktivitas mengapresiasi seni rupa murni (seni lukis), sehingga kompeten merasakan keindahan dan makna seni, kemudian menerapkan dan merasakan keindahan itu dalam kesehariannya. (Bangun, Sem Cornelius; Zebua, S., Narawati,T., Maua, Z.R. Dkk. 2014:1) [4]

Pengertian Seni: Friksi Konsep dan Diskrepansi Arti Seni-3

Hal.3

Aspek Historis

Gagasan untuk “fine arts” (versi barat) dapat ditelusuri  kembali kepada Akademi Perancis Fine arts abad ke-17, bagaimanapun sejak masa ini seniman, dan  banyak orang bekerja namun terdapat perkembangan konsep lain yang justru merusak dan mengalihkan konsep seni.

Kita mungkin berpikir tentang lukisan, patung, dan arsitektur terkait langsung dengan seni dua dan seni tiga dimensi, dan seni yang termasuk menggambarkan ruang. Sebagian dari bentuk seni yang lebih baru yang ditambah dengan gerak/motion, seperti  seni filem dan seni video kadang-kadang dikenal sebagai media yang didasari oleh waktu (time based media).

Pengertian Seni: Friksi Konsep dan Diskrepansi Arti Seni-4

Hal.4

6. Inspirasi Sebagai Ancang-ancang (desain) dalam Seni

Desain (rancangan, ancang-ancang) itu bukan ilmu terapan seni, tetapi secara implisit ada pada seni, desain dan kriya, matematik, sains dsb. Saat seorang pelukis, desainer dan pengriya akan bekerja maka berlangsung ancang-ancang (rencana) dalam dirinya akan membuat sesuatu. Rencana (desain) itu bukan produk, tetapi ada pada kepala perupa, tetapi cara perupa dalam menyelesaikan masalah berbeda-beda menurut waktu. Dalam mengutarakan rencananya arsitek menggambarkan sebuah rencana bangunan, pelukis bisa berencana (mendesain) lukisannya dalam bentuk sketsa-sketsa pendahuluan. Seorang desainer Komunikasi visual, dapat mendesain melalui coretan sketsa  konsep di atas kertas putih tentang desain majalah, baru kemudian diselesaikannya dengan komputer. Jadi kurang tepat jika desain diartikan sebagai hasil seni terapan.

Pengertian Seni: Friksi Konsep dan Diskrepansi Arti Seni-5

Hal.5

8. Friksi Konsep Kegiatan Seni

Friksi itu bukan hanya dalam menafsirkan arti seni tetapi juga kepada kegiatan seni seperti fine art,  applied  art, dekorative art. Antara "kriya (craft)" dengan "seni" dan kriya yang dianggap "seni" yang bisa bergeser-geser.

Friksi kriya menjadi seni kriya mudah di pahami, karena anggapan bahwa kriya itu mudah dan bisa dijadikan benda seni. Disini terjadi diskrepansi makna kriya. Yang seharusnya bukan lagi benda kriya tetapi benda seni. Misalnya seni patung miniatur yang dianggap seni kyiya, atau sebaliknya kriya yang dianggap seni kriya. Dalam sejarah perkembangan seni biasa material kerajinan menjadi material seni, tapi sikap dan cara memandangnya, dan proses berseni sama dengan proses seni murni yang mementingkan ekspresi dalam prosesnya. Misalnya teknik menenun yang dipakai untuk ekspresi lukisan dinding (tapestry).

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting