Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Tampilkan postingan dengan label Sosiologi Seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosiologi Seni. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Maret 2018

Budaya Anak-anak (Child Culture) dan Studi Seni Budaya (Bagian1)

Oleh Nasbahry Couto


Budaya (culture) adalah perilaku sosial dan norma yang ditemukan di masyarakat manusia. Yang di maksudkan dengan kebudayaan ini tentunya adalah kebudayaan orang dewasa, bukan kebudayaan anak-anak (child culture). Dari kedua sisi pandang inilah (budaya orang dewasa dan budaya anak-anak) penulis melihat beberapa permasalahan, khususnya dalam kaitannya dengan pembelajaran seni dan budaya di sekolah, maupun di perguruan tinggi di Indonesia.Dalam paket buku guru dan murid kurikulum tematik terpadu 2013, yang diterbitkan tahun 2015 oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Istilah seni budaya menghilang digantikan dengan buku paket untuk murid dan guru bertema "Permainan Tradisional" isinya sebenarnya di antaranya adalah "budaya anak" juga di samping permainan tradisional orang dewasa. Dalam hal ini pemerintah khususnya departemen pendidikan dan kebudayaan tentu akan berpihak membela anak-anak, tetapi kekeliruan ini lama baru dapat di sadari dan muncul kurikulum tematik 2013. 

Jumat, 09 Oktober 2015

Seni Murni dan Seni Komersial yang Berkasus

Oleh: Nasbahry Couto


UMUMNYA terdapat perbedaan antara kegiatan seni dan kegiatan seni untuk komersial, bahwa seni komersial bertujuan untuk menjual produk. Selanjutnya juga sering disebut dengan bermacam istilah kreatif, seperti ekonomi kreatif, industri kreatif dan sebagainya. Sementara itu tujuan seni adalah menjadi obyek estetika untuk dihargai kehalusannya dan memiliki kualitas yang unik, hal ini dijelaskan oleh  Susan Kendzulak (2015) dalam sebuah tulisannya. Sehingga yang dimaksud  dengan “seni komersial” itu bisa meliputi periklanan, desain grafis, branding, logo, dan ilustrasi buku, sedangkan bidang seni meliputi lukisan, patung, seni grafis, fotografi, instalasi, multi-media, seni suara, dan performance art. Di Indonesia sebutan untuk seni komersial masih dinamakan “seni terapan”. Namun  dari banyak tulisan hari ini di Eropah maupun di Amerika, istilah seni terapan ini tidak dipakai lagi dan dianggap kuno (archaic). 
Dalam seni musik juga terdapat kontradiksi antara musik untuk tujuan seni dengan musik untuk tujuan komersial. Hal  ini bisa terjadi karena perbedaan interpretasi dan tujuan diantara seni dan seni untuk komersial. Di antara kedua kepentingan ini idealisme seniman umumnya tertekan oleh hegemoni produsen seni yang memandang aspek ekonomi lebih penting dari pada idealisme seni. Pertentangan antara seni murni dan seni komersial nampaknya lebih tajam terlihat di dalam seni musik ketimbang dalam seni rupa. Di bawah ini  adalah gambaran selintas bagaimana kehidupan seni komersial itu yang berbeda dengan ideal seni yang berasal dari dunia pendidikan di Indonesia. Apapun yang dikerjakan oleh seniman komersial, nampaknya bakat dan minat serta kegigihan sangat menentukan keberhasilannya. 

Sabtu, 26 April 2014

Pornografi dalam karya Seni, Grafis dan Desain



Halaman 1

Oleh
Nasbahry Couto
Klik kanan gambar untuk artikel (1,2) dan gallery (3,4,5)

lukisan wanita erotika islam Untitled-1 copyerotika islam lukisan wanita






MASALAH pornografi dalam seni dan desain sudah sering dibahas dalam berbagai mass media maupun di internet, demikian juga yang berkaitan dengan undang-undang pornografi. Masalah ini sudah ada sejak lama, misalnya tentang ajaran seks Kamasutra dari India sekitar 400 SM, Serat Chentini (Jawa), Assikalabineng (Bugis) dan masalah seksualitas itu selalu ada sampai "kini". Secara etimologis, pornografi berasal dari dua kata Yunani, porneia yang berarti seksualitas yang tidak bermoral dan kata grafe (grafis) yang berarti tulisan dan atau gambar. Jadi secara etimologis pornografi adalah tindakan seksual tidak bermoral dalam bentuk gambar atau grafis. Pornografi umumnya dapat berupa gambar, tulisan, video, atau apapun yang mengekspos masalah seksualitas, di Indonesia istilah ini diluaskan kepada segala hal yang menampilkan seseorang (khususnya wanita) yang yang dapat merangsang, misalnya berpakaian minim atau gerakan-gerakan yang merangsang. Jadi tulisan ini ingin membahas pornografi dalam konteks karya seni dan desain. Pertanyaan yang timbul adalah apakah pornografi itu, kenapa aspek ini bisa muncul? Dan apa sebenarnya imaji-imaji pornografi itu, sehubungan dengan teori persepsi dan media yang dipergunakan dan mengandung aspek pornografi

Pornografi dalam karya Seni, Grafis dan Desain-3


Halaman 3 (Terakhir)
Oleh
Nasbahry Couto
Klik kanan gambar untuk artikel (1,2) dan gallery (3,4,5)

 lukisan wanita
  erotika islam
  Untitled-1 copy
 erotika islam
  lukisan wanita

Artikel Teori Resepsi (Nasbahry Couto)

Artikel Kebangkitan Erotika Islam (Betwa Sharma) 2010

Gallery lukisan  Is. Erotik

Gallery Lukisan Wanita Indonesia

Galery Lukisan Alwins

Kasus Pornografi pada Karya Desain
Jika karya seni masuk ke ruang publik, maka karya itu akan masuk kepada "interpretasi luas", karya yang tadinya adalah masalah instrinsik seniman, dia kemudian dihakimi, dinilai dan dikritik sesuai dengan nilai-nilai etika sosial yang ada. Sebaliknya jika karya itu bersifat pornografi dan tidak masuk ke ruang publik, dia tidak menjadi masalah. Dan tidak ada yang peduli karya itu  porno atau tidak. Berbeda dengan seni, karya seni komesial seperti iklan, ilustrasi, poster, grafis majalah, buku, atau pesan-pesan informasi di WEB --atau karya desain -- seperti desain produk (mobil, motor dan lain-lain), menyajikan visualisasi wanita adalah dalam rangka komersialisasi dan bisa sekaligus pornografi.

Pornografi dalam karya Seni, Grafis dan Desain-2


Hal 2

Oleh
Nasbahry Couto
Klik kanan gambar untuk artikel (1,2) dan gallery (3,4,5)

 lukisan wanita
  erotika islam
  Untitled-1 copy
 erotika islam
  lukisan wanita

Artikel Teori Resepsi (Nasbahry Couto)

Artikel Kebangkitan Erotika Islam (Betwa Sharma) 2010

Gallery lukisan  Is. Erotik

Gallery Lukisan Wanita Indonesia

Galery Lukisan Alwins

Diskrepansi Makna dalam Pemaknaan Karya Seni
Diskrepansi makna adalah ketidakcocokan makna.  Hal ini adalah fenomena umum yang terjadi dalam dunia seni modern dimana seniman memiliki visi dan persepsi khusus yang cendrung esoterik. Sedangkan pengamat seni makin tidak mengerti tentang apa yang digambarkan atau diinginkan seniman. 

Catatan: Penulis sengaja memakai istilah "diskrepansi"  yang sering dipakai dalam bidang perencanaan dan ekonomi. Misalnya dalam perencanaan pendidikan, diskrepansi antara perencanaan dengan hasil belajar. Tetapi pemakaian istilah ini juga sering ditemukan dalam semiotika (ilmu tanda) untuk menjelaskan ketidakcocokan makna. Istilah makna yang umum adalah makna denotatif (yang langsung, konsep) dan makna konotatif (makna tautan, kiasan), dan sebagainya dalam konteks kebahasaan.

Sabtu, 07 September 2013

Perkembangan Terakhir dari Seni: Stuckism Versus Posmodern Dan Anti-Art- Kembali Ke Modernisme (Re-Modernisme)

Iraq Contemporary Visual Arts Exhibition, sumber: http://www.chinadaily.com.cn/video/images/attachement/jpg/site1/20101014/0026b987fc5f0e20f3db2b.jpg

Oleh Nasbahry Couto
Anti seni dan Remodernisme menerapkan ulang modernisme, memperbaiki visi dasarnya, disisi lain meninggalkan azas formalisme-nya. Remodernisme juga meliputi perbaikan akan nilai-nilai dalam sebuah karya seni, bahwa nilai – nilai kebentukan menjadi sangat penting menyangkut peranannya sebagai medium dan  kegunaannya sebagai bahasa komunikasi, ekspresi dari emosi dan pengalaman. Remodernisme juga meliputi perbaikan nilai-nilai spritual seni yang meliputi kajian kemanusiaan dan itegritas antara nilai-nilai holistik dengan seni


Minggu, 26 Mei 2013

Lagu Dangdut, Pop dan Rock pada Acara Perkawinan di Minangkabau

Diramu oleh 
Nasbahry Couto

Sebuah prosesi perkawinan adat Minang kabau, di kawasan pedesaan di kota Padang
.
Dalam upacara adat Perkawinan Minang di Sumatera Barat, khususnya di kota Padang --yang penulis amati-- ada beberapa unsur wajib dilaksanakan yang berbeda dengan daerah lainnya yang mentradisi di kawasan ini. Namun penulis tidak akan mengulangi pembahasan tentang upacara adat itu, sebab masalah ini sudah banyak di kaji di berbagai situs di internet dan buku-buku yang ditulis oleh penulis tentang adat perkawinan Minangkabau.

Lagu Dangdut, Pop dan Rock pada Acara Perkawinan di Minangkabau

Hal 3

3.    Fenomena " Musik Dangdut "

Penyebutan nama "dangdut" diambil dari suara permainan tabla (lebih dikenal sebagai gendang) yang didominasi oleh bunyi "dang" dan "ndut". Sebuah artikel majalah pada awal 1970-an menyebut kata ini terhadap bentuk suatu musik melayu yang sangat populer di kalangan masyarakat kelas pekerja saat itu. 

Makanya, musik dangdut dikenal sebagai musik kelas bawah. Musik dangdut sendiri mulai dikenal pada tahun 1940-an. Selayaknya budaya masyarakat Indonesia yang menerima pengaruh-pengaruh asing untuk mempertinggi khasanah peradabannya, begitu juga dengan musik dangdut. Berturut-turut unsur musik India (alunan penggunaan tabla), unsur musik arab (cengkok dan harmonisasi), dan unsur musik barat (penggunaan gitar listrik), menjadikan musik dangdut matang sejak awal tahun 1970-an.Sebagai musik populer, dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh bentuk musik lain, mulai dari keroncong, langgam, degung, gambus, rock, pop, bahkan house music. 

Lagu Dangdut, Pop dan Rock pada Acara Perkawinan di Minangkabau

Hal 2

2.    Rhoma Irama Revolusi Si Raja Dangdut

Rhoma Irama adalah seorang revolusioner dalam dunia musik Indonesia. Demikianlah komentar seorang sosiolog AS dalam tesisnya berjudul Rhoma Irama and the Dangdut Style: Aspect of Contemporary Indonesia Popular Culture, 1985. Komentar ini tidaklah berlebihan mengingat "Raja Dangdut" yang mencanangkan semboyan Voice of Moslem pada 13 Oktober 1973 ini menjadi agen pembaharu musik Melayu yang memadukan unsur musik rock dalam musik melayu serta melakukan improvisasi atas syair, lirik, kostum dan penampilan di atas panggung.

Pengalamannya menyanyikan lagu-lagu India sewaktu masih sekolah dasar, lagu-lagu pop dan rock Barat hingga akhir 1960-an lalu beralih ke musik Melayu, menjadikan lagu dan musik yang dibawakannya di atas panggung lebih dinamis, melodis dan menarik.
Kehidupannya tidak jauh dari terpaan gosip dan komentar pro dan kontra terhadap berbagai sikap yang diambilnya. Katakan saja, fenomena goyangan Inul yang dikecamnya dan dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai agama. Bahkan belum lama ini, sekitar bulan Mei 2003 lalu, ia digosipkan menjalin hubungan "istimewa" dengan artis dangdut, Lely Angraeni (Angel). Menanggapi hal itu, Sang Raja Dangdut yang sudah puluhan tahun merajai belantara dunia artis tetap tenang memberikan penjelasan kepada masyarakat perihal gosip tersebut.

Minggu, 03 Maret 2013

Kerja Seni dan Istilah Seniman

Lukisan tangan dari tangan: Sumber: http://ts3.mm.bing.net/th?id=HN.608040285531737162&pid=15.1

     
          Nasbahry Couto

"Art (Seni) adalah bisnis dan didekati oleh setiap pemilik uang, kapitalis, institusi, konglomerat, penguasa dan raja-raja;  baik dalam bentuk seni murni dan desain), sebab berguna untuk meningkatkan semua kualitas benda, dan atau produksi yang mereka miliki. Atau untuk menyenangkan semua orang.
Seniman atau pekerja seni pada dasarnya bekerja untuk mereka.
Dalam perkembangannya. 'Pekerja seni abad ke-21 dituntut untuk bereksperimen dan inovatif, mengembangkan karya yg memiliki sifat2  individual yang khas. Seniman didorong untuk meningkatkan dan mengeksploitasi individualitas mereka dan untuk memberi makna, memberi mitos, agar populer di mata pengamatnya dan agar memperkuat sifat asli kerja seni mereka.  
Apakah  seniman itu sama dengan pengrajin atau tukang? Yang kerjanya hanya mengulangi atau meniru atau meproduksi apa yg sudah ada.
Karena sifat-sifat individualistik itu, banyak seniman kontemporer secara sadar atau tidak sadar terjebak dalam  keterasingan baik secara sosial, ekonomi atau budaya. 
Apa sebenarnya kerja seni itu dan siapa yang bernama seniman itu? Untuk itulah artikel ini di buat.

Kerja Seni dan Istilah Seniman

Hal 2

Beberapa Istilah yang Dipakai untuk Kata Seniman (artis)
  1. Pelukis. Dalam dunia seni, pelukis adalah orang yang menciptakan karya seni dua dimensi berupa lukisan. Selain pelukis, istilah yang pernah populer sebagai padanan kata ini adalah ahli gambar. Hal tersebut dibuktikan dengan pernah berdirinya sebuah komunitas para pelukis Indonesia dengan nama Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada tahun 1938. Komunitas ini bertujuan sebagai ajang belajar dan berbagi di antara para pelukis Indonesia saat itu 
  2. Pematung. Dalam dunia seni, pematung adalah orang yang menciptakan karya seni tiga dimensi berupa patung 
  3. Aktor. Yaitu orang yang memerankan tokoh tertentu dalam suatu pertunjukan di panggung, acara televisi, atau film. Semula sebutan ‘aktor’ secara eksklusif diperuntukkan bagi pemeran laki-laki, tapi istilah itu sekarang dipakai untuk pemeran laki-laki maupun perempuan. Meskipun demikian, sebagian orang menyebut ‘aktris’ untuk pemeran perempuan. Aktor atau aktris biasanya adalah orang yang dididik atau dilatih secara khusus dalam suatu kursus atau sekolah akting. Istilah pemeran sering dirancukan dengan istilah artis (kata artis dalam bahasa Inggris mengacu kepada artist/seniman). Mungkin kemiripan bunyi dengan actress (pemeran perempuan) yang menjadi penyebabnya. Seorang aktor adalah juga seorang intelektual, harus mempunyai minat besar untuk belajar, membaca, mendengar, dan bergaul. Intensitas dalam kegiatan menuju tataran sebagai intelektual itu menyebabkan seseorang mampu mencapai kepekaan dalam banyak hal. Kepekaan atau sensitivitas inilah yang nantinya menjadi bekal utama seorang aktor dalam menyikapi dan menafsirkan perannya, sehingga dia tidak hanya menjadi robot yang digerakkan sutradara. Aktor harus memberi bentuk lahir pada watak dan emosi pelaku. Watak yang harus diperankan itu mempunyai tiga bagian yang harus tampak, yaitu: watak tubuh, watak pikiran, dan watak emosi. Aktor dituntut untuk menciptakan keseluruhan hidup sukma manusia di atas panggung. Sukma manusia itu harus dapat dilihat dari segala segi, baik fisik, mental, maupun emosional. Pemeranan yang baik ditentukan oleh:- casting yang tepat,- make-up yang tepat,- pemahaman dan penghayatan yang cerdas terhadap tokoh yang diperankan,- kecakapan pemeran menampilkan emosi-emosi tertentu,- kewajaran dalam akting,- kecakapan menggunakan dialog,- timing yang tepat,- adanya adegan dramatik untuk dibawakan oleh pemain. 
  4. Aktris. Pemeran perempuan dalam sebuah film. dsb

Rabu, 13 Februari 2013

5Bruno Latour dan ANT (Actor Network Theory)

hal 5

Penutup
Uraian di atas adalah bagian dari kajian Sosiologi Seni yang relatif baru dikenal di Indonesia, terutama untuk dipakai sebagai alat penelitian di bidang seni dan budaya, hal ini dapat dipahami karena kajian sosiologi seni secara internasionalpun masih relatif baru, misalnya kalau tidak salah seminar internasional tentang sosiologi seni yang pertama diadakan di Spanyol, baru tahun 2005.

4Bruno Latour dan ANT (Actor Network Theory)

Hal 4
2. Actor–Network -Theory (ANT) dan Fungsi Seni
Pada pandangan pertama, ANT tidak menawarkan banyak kesempatan untuk menemukan koneksi yang stabil antara bagaimana dunia seni diatur, atau bagaimana fungsi seni dalam masyarakat. Dia hanya menyimpulkan adanya interaksi, membuat perhitungan deskriptif, menelusuri singularitas dan mengikuti aktor, semua tampaknya hanya untuk memberikan berbagai data empiris - termasuk tentang koneksi - tetapi pada saat yang sama kegiatan ini muncul untuk menghalangi pola yang lebih umum atau dinamikanya. Menurut Maanen (2009) hal itu tidak terlalu aneh, karena penulis ANT hanya mencari senjata yang dapat digunakan untuk menyerang sosiologi strukturalis, yang, menurut mereka, mengubah dunia agar terbalik dengan menganalisa dari segi konsep kalibrasi (pengujian) sosiologis.

3Bruno Latour dan ANT (Actor Network Theory)

Hal 3

Menurut Maanen (2009) Teori Jaringan Aktor dan Setelah tahun-tahun (1999, 2004) tidak hanya menyajikan sejumlah diskusi baru dan aplikasi dalam ANT, namun juga ditelaah langsung melalui sumbangan pemikiran Bruno Latour dan John Law secara langsung. Latour membahas apa yang dia sebut 'empat paku (pemaku)' yang dia pakai untuk 'membuat kotak (peti) ANT', setiap unsur itu disebut pendekatan: (1) aktor/ Actor, (2) jaringan (Network), (3) teori/ Theory (4) “Hypens” atau hubung antara aktor dan network. [6]

Menurut Latour pada awalnya (konsep ini) belum menjadi teori, atau setidaknya belum pernah dimaksudkan untuk menjadi sebuah teori. Kempat faktor ini, seperti yang kemudian kita lihat berubah maknanya sesuai dengan pengembangan ilmu yang menggunakan ANT sebagai titik awal pandangannya (lihat uraian selanjutnya)

2Bruno Latour dan ANT (Actor Network Theory)

hal 2

Translasi
ANT mempostulasikan bahwa di antara manusia dan obyek teknologi berlangsung dua proses. Di satu sisi adalah proses translasi dalam bentuk desain dan konstruksi. Sementara di sisi lain adalah pembelajaran melalui pembuatan dan penggunaan. Melalui desain, konstruksi, dan pembelajaran tersebut, obyek teknologi berubah dan manusia pun berubah. Melalui proses pembelajaran itulah nilai-nilai kemanusiaan diterapkan di ranah teknologi. Teknologi ditata kelola sedemikian rupa agar tidak mengukuhkan relasi-relasi sosial yang otoriter maupun hierarkis. Tidak cukup hanya itu, sebaiknya pula teknologi selaras dengan prinsip-prinsip kesetaraan dan keadilan sosial.

Bruno Latour dan ANT (Actor Network Theory)



Hal 1

Oleh : Nasbahry Couto

Pendahuluan
Teori Jaringan Aktor adalah pendekatan interdisipliner pada studi ilmu-ilmu sosial dan studi teknologi. Actor-Network-Theory atau sering disingkat ANT yang digagas oleh Latour, sebenarnya (sampai sekarang) telah berevolusi sangat jauh dan berkembang, ANT di pakai oleh berbagai bidang pengetahuan, termasuk bidang seni dan teknologi.

Selasa, 29 Januari 2013

Seni Modern dan Tradisional di Indonesia: Kontinuitas dan Diskontinuitas dalam Perkembangan Seni

Hal.1


现代和传统艺术在印尼:在艺术发展的连续性与非连续性
Современные и традиционные искусства в Индонезии: преемственность и прерывистость в развитие искусства
इंडोनेशिया में आधुनिक और पारंपरिक कला: कला के विकास में निरंतरता और अलगाव

Oleh: Nasbahry Couto

Seperti yang kita ketahui topik seni modern adalah topik yang paling kontroversial dalam wacana seni Indonesia. Sebab akan menimbulkan pertanyaan, apakah Indonesia sudah menjadi negara modern seperti Jepang, Korea di Timur atau seperti model Turki, dan Mesir di Barat. Hal ini pernah menjadi polemik dalam sejarah seni Indonesia, misalnya, polemik kebudayaan di antara para cendekiawaan Indonesia, pada tahun 1935—1936. Polemik tersebut mengemuka karena adanya kesadaran perihal bentuk kebudayaan seperti apa yang akan mengisi Indonesia ketika merdeka kelak. Di antara dua pihak yang saling berpolemik, yaitu Sutan Takdir Alisjahbana disatu pihak,  yang menginginkan agar meniru kebudayaan Barat, dengan Sanusi Pane, Poerba Tjaraka, Sutomo, Tjindarbumi, Adinegoro, M. Amir, dan Ki Hajar Dewantara, yang menginginkan menolak seni dan budaya Barat. Dalam kenyataannya, lembaga seni dan budaya tradisi tidak memiliki ruang untuk berkembang. Ibarat “karakok tumbuah di batu” (batang sirih tumbuh di batu), mati tidak, hidup merana

Seni Modern dan Tradisional di Indonesia: Kontinuitas dan Diskontinuitas dalam Perkembangan Seni

Oleh: Nasbahry Couto

Hal 3


Ahmad Muhammad Isa (1981), dalam tulisannya tentang Muslim dan Tashwir, sampai pada kesimpulan bahwa diantara  hadits Nabi ada yang bertentangan penafsirannya oleh orang-orang terdahulu, namun tidak seorangpun yang dapat mengatakan secara jelas maupun tersirat, bahwa Alquran memberi larangan terhadap tashwir.[25] Tidak dapat diingkari bahwa seni Islam dipengaruhi oleh pandangan para ulama yang berpegang pada larangan membuat gambar.

Pandangan demikian adalah rintangan bagi  seniman untuk membuat gambar manusia dan binatang. Akibatnya karya-karyanya menjadi kaku, kering dan jauh dari kemiripan alam.   terdapat sedikit kritik Ahmad Muhammad Isa, bahwa penolakan oleh sebagian besar umat Islam itu, terhadap gambar dan seni patung telah merugikan umat Islam sendiri  seperti yang dikatakannya :
“ Karena agama kristen sejak semula telah memanfaatkan pemakaian gambar (shuwar) untuk meluaskan ajarannya dan membawa ajaran itu dari suatu tempat  ke tempat lain lewat cara gambar-gambar yang mempunyai arti simbolis (rusum), maka gambar-gambar itu telah melestarikan ajaran-ajaran agama dalam seni, dan dengan demikian betul-betul dibutuhkan sebagai pelukisan ajaran-ajarannya. Seni itu dapat dipakai untuk membawakan arti  Injil, dan lebih mudah melekat dalam pikiran dan lebih mudah dipahami oleh orang-orang, seni dipakai untuk menggambarkan kejadian-kejadian penting dalam agama Kristen dan kehidupan rasul dan pendeta. Dapatlah disebut dengan aman, bahwa hingga abad ke 8 Masehi, tidak pernah ada muncul suatu penentang atau kekhawatiran akan kembalinya paganisme atau pemurtatan dari agama Kristen.”[26]

Seni Modern dan Tradisional di Indonesia: Kontinuitas dan Diskontinuitas dalam Perkembangan Seni

Oleh: Nasbahry Couto

hal 2

d. Diskontinuitas Lembaga Sosial Seni (Kasus Kesenian Istana) 

Dari sudut pandang kelembagaan seni, kita melihat dua pola dalam kesenian di Indonesia (1) seni tradisional (2) seni moderen. Yang dimaksud dengan kesenian tradisonal  menurut Wiyoso Yudosaputro (2005) ada dua bentuk. Pertama yang berasal dari rakyat jelata, dan yang kedua dari keraton. Oleh karena itu, ditinjau dari segi bentuk kelembagaan seni tradisional-moderen  kita dapat melihat dua pola kelembagaan seni, seperti yang digambarkan indrayuda (2013), dikontinuitas itu dapat diperlihatkan pada gambar . 1

Hal ini dijelaskan lebih rinci oleh Indrayuda (2013) sebagai berikut.

Minggu, 20 Januari 2013

Naluri/Instinct dalam Seni: Teori dan Terapannya

艺术的本能/本能理论及其应用
Инстинкт / Instinct в искусстве: теория и ее приложения
वृत्ति / कला में इंस्टिंक्ट: सिद्धांत और उसके आवेदन
  Nasbahry Couto

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting