Percikan 3) Realisme dan
Naturalisme
Realisme, kadang-kadang disebut juga naturalisme, dalam seni umumnya adalah upaya
untuk merepresentasikan sesuatu objek atau peristiwa secara jujur, tanpa artifisial dan menghindari
konvensi artistik, atau elemen-elemen supranatural yang tidak masuk akal,
eksotis, dan eksotis. Realisme lazim ditemukan dalam berbagai periode sejarah senide,
dan sebagian besar masalah seni realis adalah masalah teknik dan pelatihan, dan
penghindaran dari stilisasi. Stilasi adalah cara menggambar suatu objek dengan
merubah menjadi bentuk baru atau dengan menyederhanakan bentuk yang ada tanpa
meninggalkan karakter dan bentuk objek aslinya.
Sedangkan
naturalisme adalah istilah yang kurang
tepat untuk genre lukisan lanscape (pemandangan alam). Sebab naturalisme seperti realisme adalah
salah satu faham filsafat dan agak lain dengan lukisan lanscape. Lukisan
lanskap adalah seni lansekap, yaitu penggambaran bentang alam dalam seni -
pemandangan alam seperti gunung, lembah, pohon, sungai, dan hutan, terutama di
mana subjek utama adalah pemandangan luas - dengan unsur-unsurnya disusun
menjadi komposisi yang koheren.
Lahirnya faham atau filsafat realisme atau naturalisme bermula
dari Filsuf Perancis, Auguste Comte (1798-1857) memiliki keyakinan bahwa dalam
mencari kebenaran manusia itu menempuh tiga tingkatan, yang pertama melalui
kepercayaan animisme, polytheisme, dan monotheism; yang kedua dalam tingkatan
filsafat metafisika, yaitu manusia menerangkan rahasia alam dengan cara berpikir
abstrak; sedangkan yang ketiga atau positif menurut Comte manusia dapat
menyelami diri sendiri untuk menerangkan rahasia alam, melalui ilmu
pengetahuan, yang dilakukan lewat penyelidikan, dan usaha menarik kesimpulan
dengan cermat. Dijelaskan oleh Comte, bahwa segala sesuatunya itu tidak betul-betul
nyata, kecuali dengan pengamatan yang teliti. Dari titik tolak pemikiran
filsafat Positifisme inilah awal lahirnya pandangan realisme di Perancis.
Dengan pesatnya kemajuan dibidang jurnalistik, kemudian ditunjang
oleh penemuan alat potret oleh Daquerre tahun 1839. Kemudian juga timbulnya
faham realisme dalam kesusastraan, di Perancis. Faham realisme kemudian meluas
ke seluruh benua Barat (1850-1880).