Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Tampilkan postingan dengan label Seni Rupa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Rupa. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Agustus 2020

Kritik Terhadap Modus Formalisme dalam Seni

Nasbahry Couto

Seperti yang diketahui estetika formalisme umumnya semata tertuju kepada kualitas seni dan melepaskan diri dari kaitannya seperti unsur makna seni, tradisi atau budaya. Modus ini berasumsi pentingnya konfigurasi karya seni, yaitu pengamatan terhadap mutu karya seni yang terkait kekompakan berbagai unsurnya ke dalam suatu kesatuan organis (Osborne, 1955). Dan berasumsi bahwa mutu karya seni seperti ini mampu mendukung penilaian seni dengan standar yang objektif, karena susunan “organik” seni adalah nyata dan tidak ditanggapi secara emosional dan penilaian seni bisa menjadi lebih objektif.

 Lihat Tulisan yang berkaitan:

Kamis, 06 Agustus 2020

Modus-modus Estetika dalam Seni

Nasbahry Couto
Mempelajari estetika itu sangat sulit, apalagi jika terjebak dengan,  dan mencampukannya dengan filsafat. Salut dengan teman sekuliah di ITB dulu (1995) Dharsono Sony Kartika, yang nama aslinya sebenarnya Dharsono yang berani menulis buku estetika yang banyak beredar dan diiukuti secara ilmiah di Indonesia. Untuk mengingat sahabat ini saya ingin menyumbang sedikit essay ini.

Rabu, 05 Agustus 2020

Kerajinan Sebagai Ilmu Pengetahuan Tacit (Non-Ragawi)


Nasbahry Couto

Peter Dormer  dalam bukunya The Art of the Maker: Skill & its meaning in Art, Craft & Design, [[1]][[2]] dan buku Harry Rand “Hundert­wasser”.[[3]] Ini menempatkan Dormer dan Hundertwasser dalam diskusi tentang peran pengetahuan praktis atau kria  dan seni. Hal ini dilakukan sebab dua tokoh ini sangat penting bagi pratisi, dan teoritikus kria dan seni  untuk memperoleh pengalaman diri dari berkarya dan atau berkarya, karena pengetahuan ini tidak dapat di­artikulasikan dengan kata-kata.

Rabu, 19 Desember 2018

Perbandingan Perkembangan Pendidikan Seni di Inggris dengan Indonesia

(Bagian I)

Seorang anak sedang memperhatikan acara TV, dia sebenarnya  tidak mengerti apa yang dilihatnya, demikian juga sewaktu dia sudah masuk ke sekolah, dengan berjejal buku di punggungnya, diapun tidak mengerti apakah dia adalah korban politik pendidikan, yang dia tahu hanya patuh kepada perintah gurunya, dan menjadi anak yang baik. Selma Nakamaha B, April, 2006. Pengolahan Foto dengan Corel Photoshop, ver.8


Oleh: Nasbahry C.

Perbandingan Perkembangan Pendidikan Seni di Inggris dengan di Indonesia

(Bagian 2)


Konon kabarnya sejak awal abad ke- 16, setelah kedatangan Portugis ke Indonesia, ternyata mereka juga mendirikan sekolah yang bertujuan memberikan pendidikan baca, tulis, dan hitung sekaligus mempermudah penyebaran agama katolik.  Ketika Belanda memasuki Indonesia, kegiatan sekolah oleh Portugis ini berhenti, digantikan dengan sekolah yang dirintis oleh Belanda, masih dengan basis keagamaan. Oleh Belanda Ambon menjadi tempat yang pertama dipilih oleh Belanda dan setiap tahunnya, beberapa penduduk Ambon dikirim ke Belanda untuk dididik menjadi guru. Ketika Indonesia memasuki tahun 1627, telah terdapat 16 sekolah yang memberikan pendidikan kepada sekitar 1300 siswa.



Oleh: Nasbahry Couto

Sabtu, 17 November 2018

Komentar terhadap Katalog Pameran “Kapacak” dari Komunitas Tambo


Oleh Nasbahry C.

........seni adalah bentuk komunikasi emosional yang paling ampuh. .......(banyak) contoh-contoh orang yang mampu mendengarkan musik dan menari selama berjam-jam tanpa lelah dan orang yang membaca sastra memiliki kemampuan membawanya ke tempat yang jauh, membayangkan tanah (tempat) lain di dalam kepala mereka. Bentuk-bentuk seni memberi manusia kepuasan yang lebih tinggi dalam melepaskan (emosi mereka) daripada sekedar  mengelola emosi mereka sendiri. Seni memungkinkan orang untuk memperoleh pelepasan emosi yang terpendam baik dengan (1) menciptakan pekerjaan (seni) atau dengan (2) menyaksikan (seni) dan (3) mengalami apa yang mereka lihat di depan mereka. Alih-alih menjadi penerima tindakan dan pengaruh gambar pasif, seni itu ditujukan (tersedia) bagi orang untuk dapat menantang diri mereka sendiri dan bekerja dengan emosi  mereka --atas apa yang -- dilihat dan tersaji dalam pesan artistik.
Noy, P.; Noy-Sharav, D. (2013). "Art and Emotions". 
Penulis sudah lama tidak ke UNP Padang, tapi oleh urusan buku-buku yang di tulis oleh  staf pengajar disini, ketemu dengan Ucok (Yasrul Sami B.,) yang sebagai seniman dan juga mengajar  di tempat ini. Beliau menyodorkan katalog pameran “Kapacak” oleh komunitas “Tambo Art Center”, dalam pameran seni rupa kontemporer Tambo #3 yang digelar selama satu minggu mulai dari tanggal 11 hingga 17 September 2018, di kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Dan Ucok nampaknya adalah “panitia” bagian diskusi pada acara akbar tersebut. Penulis memang tidak diundang, dan baru tahu kalau ada ada acara, seperti ini. Tapi ucok sambil “bagarah” (bercanda), mengatakan “pak  tolong ya,  tulis komentar terhadap pameran (katalog) ini”.  Sebetulnya saya berat hati, untuk menulis sebab takut ada yang tersinggung, karena tulisan-tulisan saya sering kritis, dan  tajam. Tapi  saya tertarik juga. Walau tidak menghadiri pameran, paling tidak saya melihat beberapa hal yang agak  menarik untuk di bahas. Jadilah tulisan ini. 

Kamis, 15 November 2018

Komentar terhadap Katalog Pameran “Kapacak” dari Komunitas Tambo (2)

Oleh : Nasbahry Couto
Lihat di sini bagian awal tulisan

Percikan 3) Realisme dan Naturalisme

Realisme, kadang-kadang disebut juga  naturalisme, dalam seni umumnya adalah upaya untuk merepresentasikan sesuatu objek atau peristiwa  secara jujur, tanpa artifisial dan menghindari konvensi artistik, atau elemen-elemen supranatural yang tidak masuk akal, eksotis, dan eksotis. Realisme lazim ditemukan dalam berbagai periode sejarah senide, dan sebagian besar masalah seni realis adalah masalah teknik dan pelatihan, dan penghindaran dari stilisasi. Stilasi adalah cara menggambar suatu objek dengan merubah menjadi bentuk baru atau dengan menyederhanakan bentuk yang ada tanpa meninggalkan karakter dan bentuk objek aslinya.

Sedangkan naturalisme  adalah istilah yang kurang tepat untuk genre lukisan lanscape (pemandangan alam). Sebab naturalisme seperti realisme adalah salah satu faham filsafat dan agak lain dengan lukisan lanscape. Lukisan lanskap adalah seni lansekap, yaitu penggambaran bentang alam dalam seni - pemandangan alam seperti gunung, lembah, pohon, sungai, dan hutan, terutama di mana subjek utama adalah pemandangan luas - dengan unsur-unsurnya disusun menjadi komposisi yang koheren.

Lahirnya faham atau filsafat realisme atau naturalisme bermula dari Filsuf Perancis, Auguste Comte (1798-1857) memiliki keyakinan bahwa dalam mencari kebenaran manusia itu menempuh tiga tingkatan, yang pertama melalui kepercayaan animisme, polytheisme, dan monotheism; yang kedua dalam tingkatan filsafat metafisika, yaitu manusia menerangkan rahasia alam dengan cara berpikir abstrak; sedangkan yang ketiga atau positif menurut Comte manusia dapat menyelami diri sendiri untuk menerangkan rahasia alam, melalui ilmu pengetahuan, yang dilakukan lewat penyelidikan, dan usaha menarik kesimpulan dengan cermat. Dijelaskan oleh Comte, bahwa segala sesuatunya itu tidak betul-betul nyata, kecuali dengan pengamatan yang teliti. Dari titik tolak pemikiran filsafat Positifisme inilah awal lahirnya pandangan realisme di Perancis.
Dengan pesatnya kemajuan dibidang jurnalistik, kemudian ditunjang oleh penemuan alat potret oleh Daquerre tahun 1839. Kemudian juga timbulnya faham realisme dalam kesusastraan, di Perancis. Faham realisme kemudian meluas ke seluruh benua Barat (1850-1880).

Kamis, 11 Mei 2017

Pameran Lukisan: Perjalanan Seni Syahrial


Oleh Nasbahry Couto
Rabu tanggal 10 Mei 2017, penulis diundang untuk menghadiri pameran lukisan Syahrial (Yayan ) di galeri Taman Budaya Padang. Pameran ini dilanjutkan dengan diskusi hari ini kamis jam 14.00 siang di tempat yang sama. Pada pameran ini penulis diminta untuk membahas lukisan Syahrial itu. Alasan penulis untuk memuat tulisan ini di blog ini karena tulisan di katalog pameran ini sangat kecil dan tak terbaca. Mudah-mudahan tulisan ini dapat terbaca, dan pembaca dapat mengapresiasi dan memahami bagaimana permasalahan dan konteks seni pelukis ini.
 

Kamis, 10 Juli 2014

Plein Air Painting

Jason Sacran, Great Spirit Bridge, oil, 12 x 16. Sumber  Southwest Art

 Oleh Nasbahry Couto

Tahun 1995, saya menerima kiriman dua eks majalah Southwest Art dari Amerika. Yang mengirim adalah adik saya yang lagi libur ke Amerika saat itu, yang suaminya bekerja di perusahaan minyak Amerika Hufco, di Balikpapan.  Saya kaget melihat repro-repro karya seni yang tampilkan di majalah itu, apalagi lukisan-lukisan lanscapnya bagus-bagus. Tadinya saya berpikir pragmatis bahwa majalah seni Amerika ini -- seperti perkembangan seni terakhir saat itu –- pastilah berisi gaya seni posmoderen, abstrak, konseptual atau sejenis ini.Ternyata tidak. Galery-galery seni, kolektor seni dan seniman di Amerika yang umumnya ada (baik karya keramik, patung lukis) adalah yang biasa-biasa saja yang  dikenal dari perkembangan seni, namum dari segi penampilan, manajemen, pameran, diskusi dan seminar, maupun koleksi portofolio seni di sana sangat teradministrasi dengan ketat.

Minggu, 04 Mei 2014

Sejarah Seni Indonesia dan Perlunya Revisi: dari Lukisan Dokumenter ke seni Lukis “Moii Indie” yang Berkasus (1600-1945)-1

A. Van Pers, "Een Chinees op het kantoor bij een Europeaan1854 Litho naar een oorspronkelijk werk van A. van Pers. Linksonder: Nederlandse tekst. Middenonder: Javaanse tekst. Rechtsonder: Un chinois sur le comptoir après d'un Européen. Rechtsonder: K.St. v. C. W. Mieling. Sumber: geheugenvannederland
Hal 1

Catatan Peneliti, Penggambar, Pelukis, ilustrator,  Engrafer, litografer  yang menggambarkan Indonesia di Era Kolonialisme, 1600-1945
Oleh: Nasbahry Couto

Sejarah Seni Indonesia dan Perlunya Revisi: dari Lukisan Dokumenter ke seni Lukis “Moii Indie” yang Berkasus (1600-1945)

Hal 3

Pengaruh Gaya Seni Eropa di daerah Kolonial
1840-an (Realisme, Naturalisme)
Jika seni  rupa era kolonial ini kita hubungkan dengan perkembangan gaya seni di Eromerika, terlihat bahwa perkembangan ini ada relevansinya dengan perkembangan seni di Hindia Belanda saat itu. Misalnya, gaya seni realisme  mendominasi dunia seni rupa dan sastra di Perancis, Inggris, dan Amerika Serikat di sekitar tahun 1840 hingga 1880. Dalam gaya seni lukis ini kita mengenal  pengaruh pelukis realis  seperti  Gustave Courbet dan Jean François Mille. Kenapa mereka disebut dengan seniman realis? Karena seniman realis umumnya berusaha menampilkan kehidupan sehari-hari seperti objek-objek dengan karakternya, suasana, dan persoalan dari realitas yang dilihat. Salah satu alasan munculnya seniman realis karena menolak mengambarkan adegan drama yang bersifat teatrikal seperti yang ada pada seni lukis Romantik dan zaman Barok sebelumnya.

Sejarah Seni Indonesia dan Perlunya Revisi: dari Lukisan Dokumenter ke seni Lukis “Moii Indie” yang Berkasus (1600-1945)


Hal 2

Antara Imajinasi dan Kenyataan

Teknik penyajian lukisan pada zaman ini sebenarnya meliputi beberapa tahap, misalnya catatan-catatan atau sketsa dari lapangan, dibuat kembali dengan litografi atau cat air oleh senimannya. Bisa juga karya cat air atau litho yang sudah ada, di cetak kembali oleh para seniman di Eropah atau yang ada di Indonesia. Hal ini bisa terjadi karena lukisan-lukisan itu tidak dilihat semata sebagai karya seni, tetapi sebagai penggandaan dokumen sebagaimana  kita memfotocopy dokumen di zaman sekarang --yang digunakan untuk berbagai kepentingan. Kebiasaan seperti ini mungkin sekali berpengaruh terhadap seniman di zaman kolonial lainnya, Wakidi misalnya, sering merepro lukisan-lukisannya yang lama, sehingga sulit mengetahui  mana lukisan asli dan yang baru kalau tanggal pembuatannya tidak diketahui. 


Selasa, 18 Februari 2014

Tantangan Seni Rupa di Era Global


Bambang Sugiharto
(Dosen Pasca  Sarjana , FSRD, ITB, Bandung)
Seminar Nasional Pendidikan Seni Budaya dan Industri Kreatif dalam Menghadapi Tantangan Global


Minggu, 06 Oktober 2013

Memberdayakan Teori dan Praktik Kependidikan Seni dalam Kawasan Kultural (Naskah Asli)

Kebudayaan Majapahit: sumber:http://ts4.mm.bing.net/th?id=HN.608012424077379339&pid=15.1

International Seminar on Languages and Arts (ISLA-2), “Empowring Theories and Pedagogical Aplication Languages and Arts”, FBS Universitas Negeri Padang, 5-6 Oktober 2013, di Hotel Pangeran Beach, Padang
Oleh: Nasbahry Couto [1] & Ramalis Hakim[2] 

Abstract
The assumption that the field of pedagogy and the arts are rooted in the same science that is psychology, would attenuate the differences between: the practice of the art learning and pedagogical practices. This can result in a lack of attention to the art science teacher. Really it's just the art of science is rooted in the science of psychology? Apparently not. In a clear pedagogical practices that aim arts education can not be generalized to any ranking elementary, junior high and high school. If this is true, then the teacher of arts majors are not needed, because it can be replaced from the teachers of the graduates of the Faculty of Educational Sciences. Conversely, if there are teachers and professors who believe that the roots of the art science just skills (technological arts) and to be an artist, this assumption is not true, because learning does not mean the same as the art of learning Expertise Group (KK) Art Practice, because there another lesson is learning families of Arts (Aesthetics and the Sciences of Arts). Of Arts is mastery over territory controlled by families that have art teachers and lecturers. And according to the writer, it is too weak from the central (compilers curriculum) to the lower level (implementing the curriculum). Learning art is distinguished in rank elementary, junior high and high school, hence the term "art education" can not be generalized to all this education rankings. Important note there should be debriefing science teacher and lecturer on art, particularly art theories relevant, especially about the sociology and anthropology of art is a relatively new art developed in Indonesia.

Key Words: Beliefs About Learning, The Sciences of Arts, and Curricullum

Pendidikan Seni Sebelum Kurikulum 2013

Sabtu, 07 September 2013

Perkembangan Terakhir dari Seni: Stuckism Versus Posmodern Dan Anti-Art- Kembali Ke Modernisme (Re-Modernisme)

Iraq Contemporary Visual Arts Exhibition, sumber: http://www.chinadaily.com.cn/video/images/attachement/jpg/site1/20101014/0026b987fc5f0e20f3db2b.jpg

Oleh Nasbahry Couto
Anti seni dan Remodernisme menerapkan ulang modernisme, memperbaiki visi dasarnya, disisi lain meninggalkan azas formalisme-nya. Remodernisme juga meliputi perbaikan akan nilai-nilai dalam sebuah karya seni, bahwa nilai – nilai kebentukan menjadi sangat penting menyangkut peranannya sebagai medium dan  kegunaannya sebagai bahasa komunikasi, ekspresi dari emosi dan pengalaman. Remodernisme juga meliputi perbaikan nilai-nilai spritual seni yang meliputi kajian kemanusiaan dan itegritas antara nilai-nilai holistik dengan seni


Minggu, 03 Maret 2013

Kerja Seni dan Istilah Seniman

Lukisan tangan dari tangan: Sumber: http://ts3.mm.bing.net/th?id=HN.608040285531737162&pid=15.1

     
          Nasbahry Couto

"Art (Seni) adalah bisnis dan didekati oleh setiap pemilik uang, kapitalis, institusi, konglomerat, penguasa dan raja-raja;  baik dalam bentuk seni murni dan desain), sebab berguna untuk meningkatkan semua kualitas benda, dan atau produksi yang mereka miliki. Atau untuk menyenangkan semua orang.
Seniman atau pekerja seni pada dasarnya bekerja untuk mereka.
Dalam perkembangannya. 'Pekerja seni abad ke-21 dituntut untuk bereksperimen dan inovatif, mengembangkan karya yg memiliki sifat2  individual yang khas. Seniman didorong untuk meningkatkan dan mengeksploitasi individualitas mereka dan untuk memberi makna, memberi mitos, agar populer di mata pengamatnya dan agar memperkuat sifat asli kerja seni mereka.  
Apakah  seniman itu sama dengan pengrajin atau tukang? Yang kerjanya hanya mengulangi atau meniru atau meproduksi apa yg sudah ada.
Karena sifat-sifat individualistik itu, banyak seniman kontemporer secara sadar atau tidak sadar terjebak dalam  keterasingan baik secara sosial, ekonomi atau budaya. 
Apa sebenarnya kerja seni itu dan siapa yang bernama seniman itu? Untuk itulah artikel ini di buat.

Kerja Seni dan Istilah Seniman

Hal 2

Beberapa Istilah yang Dipakai untuk Kata Seniman (artis)
  1. Pelukis. Dalam dunia seni, pelukis adalah orang yang menciptakan karya seni dua dimensi berupa lukisan. Selain pelukis, istilah yang pernah populer sebagai padanan kata ini adalah ahli gambar. Hal tersebut dibuktikan dengan pernah berdirinya sebuah komunitas para pelukis Indonesia dengan nama Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada tahun 1938. Komunitas ini bertujuan sebagai ajang belajar dan berbagi di antara para pelukis Indonesia saat itu 
  2. Pematung. Dalam dunia seni, pematung adalah orang yang menciptakan karya seni tiga dimensi berupa patung 
  3. Aktor. Yaitu orang yang memerankan tokoh tertentu dalam suatu pertunjukan di panggung, acara televisi, atau film. Semula sebutan ‘aktor’ secara eksklusif diperuntukkan bagi pemeran laki-laki, tapi istilah itu sekarang dipakai untuk pemeran laki-laki maupun perempuan. Meskipun demikian, sebagian orang menyebut ‘aktris’ untuk pemeran perempuan. Aktor atau aktris biasanya adalah orang yang dididik atau dilatih secara khusus dalam suatu kursus atau sekolah akting. Istilah pemeran sering dirancukan dengan istilah artis (kata artis dalam bahasa Inggris mengacu kepada artist/seniman). Mungkin kemiripan bunyi dengan actress (pemeran perempuan) yang menjadi penyebabnya. Seorang aktor adalah juga seorang intelektual, harus mempunyai minat besar untuk belajar, membaca, mendengar, dan bergaul. Intensitas dalam kegiatan menuju tataran sebagai intelektual itu menyebabkan seseorang mampu mencapai kepekaan dalam banyak hal. Kepekaan atau sensitivitas inilah yang nantinya menjadi bekal utama seorang aktor dalam menyikapi dan menafsirkan perannya, sehingga dia tidak hanya menjadi robot yang digerakkan sutradara. Aktor harus memberi bentuk lahir pada watak dan emosi pelaku. Watak yang harus diperankan itu mempunyai tiga bagian yang harus tampak, yaitu: watak tubuh, watak pikiran, dan watak emosi. Aktor dituntut untuk menciptakan keseluruhan hidup sukma manusia di atas panggung. Sukma manusia itu harus dapat dilihat dari segala segi, baik fisik, mental, maupun emosional. Pemeranan yang baik ditentukan oleh:- casting yang tepat,- make-up yang tepat,- pemahaman dan penghayatan yang cerdas terhadap tokoh yang diperankan,- kecakapan pemeran menampilkan emosi-emosi tertentu,- kewajaran dalam akting,- kecakapan menggunakan dialog,- timing yang tepat,- adanya adegan dramatik untuk dibawakan oleh pemain. 
  4. Aktris. Pemeran perempuan dalam sebuah film. dsb

Kamis, 06 September 2012

Sejarah Seni Rupa Lokal: Metode seni, Seni Lukis, dan Perkembangannya di Sumatera Barat (2)

Oleh: Nasbahry Couto  ( Revisi September, 2014 dan 6-9-2015)
Hal 2

Seni sebagai bagian dari Riset dan Dokumentasi (Arsip)
Perang melawan lupa
AWAL persentuhan Iptekni baru (modern) dibidang seni rupa diawali dengan kedatangan pionir-pionir bangsa asing dari Eropah (Belanda, Inggris, Jerman dan sebagainya)  yang ingin merekam budaya dan geografis atau lingkungan negeri Nusantara (archipelago) ini. Mereka ini disebut dengan tukang gambar. Penjelasan ini terdapat pada jurnal-jurnal atau laporan pionir bangsa Belanda seperti jurnal Nederlandish Indie terbitan awal abad  ke 20.  Namun mereka yang datang ke Indonesia itu, termasuk bangsa Belanda, bukanlah berprofesi sebagai pelukis, tetapi  tukang gambar (draftsman); yaitu dalam rangka membantu riset para peneliti ke daerah baru yang masih asing dan misterius. Setelah mereka menaklukkan wilayah yang mereka temui -- pekerjaan ini dilanjutkan untuk mendokumentasikan lanskap, gambaran tentang pribumi, budaya-- dan semua aspek yang berhubungan dengan kekayaan alamnya. Para tukang gambar inilah yang menularkan kepandaiannya dalam hal menggambar kepada anak pribumi, yang diperlukan membantu pekerjaan mereka. Tokoh Pirngadi, seperti yang digambarkan dalam sejarah seni rupa Indonesia, adalah pribadi yang  muncul dalam suasana seperti itu. Pirngadi diminta oleh pemerintah Belanda untuk menghimpun data, dan menggambarkan produk kriya dan hasil teknologi di Indonesia. Tujuannja bukan sekedar riset ilmu pengetahuan seperti yang kita kenal sekarang. Sebab di samping untuk tujuan-tujuan ilmu pengetahuan, terkandung juga tujuan-tujuan sosial politik, sosial ekonomi dan industri di Eropah. Sebab dari data-data yang diperoleh dari negeri jajahan seperti itu, dapat mereka pakai selanjutnya untuk perkembangan  pengetahuan seni rupa dan desain di Eropah. Artinya tukang gambar yang didatangkan ke Nusantara ini,  secara tidak langsung adalah untuk kepentingan seni rupa dan industri di Eropah. Namun kedatangan mereka ada aspek positifnya, oleh karena mereka kekurangan tenaga  maka para peneliti itu mengajarkan kepada anak pribumi tentang cara menggambar untuk membantu pekerjaan mereka. Dapat diduga, pendidikan seni rupa (menggambar) pertamakalinya oleh kolonial di negeri jajahan adalah untuk kepentingan dokumentasi.
*  Istilah seni untuk dokumentasi pertamakali penulis temukan pada tulisan Bernadine Barnes - Encarta - Microsoft (CD) tahun 1997 tentang Seni (Art). Yang kemudian penulis aplikasikan kepada pengamatan sejarah seni rupa Indonesia (Penulis adalah pengajar sejarah seni rupa). Istilah ini tidak ada dalam buku-buku sejarah seni rupa Indonesia. Dari pengamatan yang panjang, maka tulisan tentang seni  untuk dokumen ini baru penulis tulis tahun 2013 dan memasukkannya pada blog 2014. (lihat laman ini). Istilah ini juga tidak ditemukan pada Galeri Nasional Jakarta.

Sejarah Seni Rupa Lokal: Metode seni, Seni Lukis dan Perkembangannya di Sumatera Barat (1)


Pelukis Amrianis, Sumatera Barat, bergerak dari bentuk nyata yang di pelintir-pelintir

Oleh: Nasbahry Couto ( Revisi september, 2014 dan 6-9-2015)


Minggu, 03 Juni 2012

Elemen dasar dan Prinsip Penyusunan Seni Rupa dan Desain Serta Teori Pendukungnya


Contoh pembangkit bentuk 3 D melalui batang sedotan

艺术与设计理论和支持者的基本要素和原则编制 
Подготовка основные элементы и принципы искусства и дизайна Теория и сторонников
कला और डिजाइन सिद्धांत और समर्थकों के बुनियादी तत्वों और सिद्धांतों की तैयारी
Oleh   Nasbahry Couto
24 Agustus 2012 (revisi Oktober 2020  untuk tidak salah tafsir)
Pendidikan seni rupa dan desain sekarang ini ada dalam posisi yang agak meragukan. Terutama jika arah  yang diajarkan kepada murid dalam kegiatan dasar-dasar seni rupa dan desain hanya untuk modus ekspresi dan estetika (modus Formalisme). Pada hal dasar-dasar pengetahuan ilmu seni rupa dan desain adalah basis dari industri negara maju. Untuk mengetahui lebih lanjut bisa ditelusuri dari buku (1) Design and Technology in the Primary School: Case Studies for Teachers atau buku Callaway,Gloria, Teaching Art and Design Primary Scholl , atau YvonneGaudelius, Peg Speirs,Contemporary issues in art education, Sebenarnya, ada bagian-bagian dari pembelajaran seni rupa yang logis dan menyadarkan anak-anak tentang lingkungan (benda, rumah, alam dsb) dan hal ini tidak selalu ada hubungannya dengan estetik  lihat  artikel ini Penekanan estetika di pelajaran nirmana pada seni dan desain itu sangat labil dan relatif. Misalnya dalam artikel " Nirmana 3d (Trimatra); Menjelajahi Dimensi Ketiga" entah dari mana muncul ilmu baru bahwa Prinsip prinsip Nirmana 3d itu adalah (1) Haptic (sentuhan), (2) Prinsip prinsip Nirmana 3d, (3) Form Follows Function, (4) Ergonomic / Ergonomis, (4) Proporsi, pada nirmana 3d dan refrensinya tentu saja Wucius Wong, walaupun Wucius Wong tidak ada menyatakan begitu. Jadi  ada kecendrungan mengarang karena malas membaca.Seni rupa dan desain memang bisa bertukar arah, hal ini bukan hanya tergantung niat pelaksana pendidikan, tetapi juga di dalam materi/substansi pengetahuannya bisa berbeda. Misalnya pengetahuan tentang prinsip estetika atau prinsp organisasi elemen seni (formalisme). 

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting