Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Kamis, 06 Agustus 2020

Modus-modus Estetika dalam Seni

Nasbahry Couto
Mempelajari estetika itu sangat sulit, apalagi jika terjebak dengan,  dan mencampukannya dengan filsafat. Salut dengan teman sekuliah di ITB dulu (1995) Dharsono Sony Kartika, yang nama aslinya sebenarnya Dharsono yang berani menulis buku estetika yang banyak beredar dan diiukuti secara ilmiah di Indonesia. Untuk mengingat sahabat ini saya ingin menyumbang sedikit essay ini.

Untuk memastikan  teori apa yang cocok untuk membahas seni-seni yang berlatarkan budaya memang harus melihat kepada masyarakatnya. Terlihat bahwa  kelahiran seni sedikit banyaknya bukan hanya oleh seniman secara individu (definisi individu), tetapi juga oleh masyarakat (kelompok orang) yang mungkin tidak sengaja dan sadar menciptakan serta memberi definisi tentang apa itu seni.

Namun ada juga yang tidak setuju dengan pandangan bahwa seni  harus lahir dan didefinisikan oleh masyarakat atau budaya serta agama. Karena hal ini, seakan seni itu hanya demi kepentingan lembaga (kelompok budaya) dan kelompok masyarakat yang melahirkan seni, demikian juga sistem nilai yang disnutnya. Umumnya mengabaikan estetika  mainstream terutama cita-rasa dan pandangan pribadi terhadap seni.

Perbedaan-perbedaan pandangan ini menjelaskan adanya  perbedaan-perbedaan modus dan orientasi estetik estetika dalam seni dan (termasuk kritik seni).  

Ringkasnya  perlu untuk dijelaskan  teori umum estetika yang dilandasi berbagai modusnya .

Brinkman, Gloria J.  Dalam tulisannya, menjelaskan teori estetika dilandasi oleh 5 modus orientasi sebagai berikut ini. [1]

Pertama modus Formalisme adalah teori "seni demi seni". Menurut pemikiran Formalis, nilai dari sebuah karya seni dipegang dalam kapasitasnya untuk memperoleh respons yang signifikan pada pemirsa melalui pengaturan yang efektif dari unsur-unsur seni formal seperti garis, bentuk, warna dan tekstur, ruang, dll. Yang diselenggarakan sesuai dengan prinsip-prinsip seni seperti gerakan, ritme, pola, persatuan, dll. 

Teori ini baru bagi perkembangan seni sekitar tahun 1930-an melalui tulisan-tulisan Clive Bell dan penekanannya pada "bentuk signifikan". Bagi Bell, konten naratif dalam sebuah karya adalah gangguan dari estetika dan harus diabaikan. 

Formalisme adalah premis dasar di balik apresiasi seni modern. Termasuk dalam hal ini Herbert Read dalam bukunya “the Meaning of Art” yang menyatakan seni adalah bentuk-bentuk yang menyenangkan. 

Termasuk kelompok ini juga adalah  Clement Greenberg yang sekitar  1950-an dan 1960-an dengan tulisannya yang berpengaruh untuk mendefinisikan seni abstraks, khususnya Minimalisme.[2]

Kedua modus Imitationalism (Mimetic) mengikuti bahwa seni mencerminkan realitas dunia di sekitar kita. Oleh karena itu tugas seniman meniru keindahan alam sekitar manusia.

Teori ini setua umur orang Yunani kuno, yang didukung oleh otoritas Aristoteles yang menganut bahwa alam dunia adalah standar untuk keindahan dan kebenaran. 

Seniman itu tidak bisa berbuat lebih baik daripada secara akurat menggambarkan alam semesta dalam keanekaragamannya yang tak terbatas. [3]  

Banyak orang, termasuk sebagian besar siswa remaja, cenderung menilai seni sesuai dengan standar untuk Imitationalism. Lukisan dan seni pahat (patung) seringkali dinilai dari seberapa realistisnya mereka menggambarkan sosok sesuatu yang ditiru. Memang seniman dianggap sebagai "berbakat" sejauh ia dapat menggambar atau melukiskan hal-hal sebagaimana apa yang muncul dan terlihat oleh mereka. [4]

Ketiga modus Ekspresionisme berpihak pada seniman yang menciptakan seni untuk menghasilkan respons emotif dalam pemirsa.

Penganut modus ini percaya bahwa  perasaan dan kekuatan  pengalaman batin seniman adalah sumber seni bagi mereka. 

Mereka menggunakan media dan berbagai bentuk dan materi tertentu untuk mengekspresikan diri mereka dengan tegas dan  jelas, sehingga penonton dapat mengalami perasaan yang sama. Ekspresionis merangkul teori seni yang menggambarkan tentang jiwa dan kehidupan seseorang. [5]

Keempat instrumentalisme. Teori lain  seperti, Instrumentalisme juga berperan penting di dunia dewasa ini sebagai bentuk komunikasi persuasif karena seni dibuat untuk tujuan mempengaruhi perubahan dalam masyarakat. Keberhasilan dalam dunia seni bagi mereka bukanlah tujuan utama seni. 

Teori instrumentalis mengikuti bahwa identitas seniman dan pentingnya karya diselaraskan dengan kegiatan budaya karena melibatkan memikirkan kembali peran produksi, distribusi dan penonton sebagai komponen penting dari karya seni. 

Kritik feminis dan Marxis sebagian besar berakar dari modus dan teori instrumentalis. [6]. Lebih jauh lagi  pendapat bahwa seni adalah alat untuk pedagogy atau pembelajaran.[7] yang cendrung menggunakan ekspresi estetik imitatif dan formalis dalam pembelajaran seni (lihat uraian selanjutnya)

Kelima adalah teori Kelembagaan (Istitusionalisme) mendefinisikan karya seni dengan cara di mana benda atau peristiwa diperlakukan dalam masyarakat. 

Institusionalis  bukan berfokus pada karakteristik objek atau kualitas ekspresifnya melainkan pada praktik sosial yang menyertai pekerjaan seni. Bagi mereka apa itu seni atau bukan seni adalah hasil kesepakatan pada tempat dan waktu tertentu dalam sejarah seni.l

Filsuf Arthur Danto menciptakan kata "artworld" untuk merujuk pada pentingnya keinginan komunitas individu yang terlibat dalam menciptakan, mengkurasi, mengumpulkan, menjual, mempelajari dan menulis apa itu tentang karya seni. 

Contoh yang populer dalam hal ini adalah karya Marcel  seni ketika anggota "artworld" mengakui benda-benda tertentu sebagai yang dirasakan, ditafsirkan, atau dinilai sebagai karya seni. [8]

Contoh lain misalnya dalam sejarah diperlihatkan bahwa benda-benda purbakala bisa saja suatu saat hanya disebut artefak pada saat yang lain disebut karya seni dengan alasan yang tidak jelas.

Kesimpulan Berbagai model Ekspresi Estetik 





 


Imitatif, Representatif, Naratif
Seniman dianggap sebagai "berbakat" sejauh ia dapat menggambar atau melukiskan hal-hal sebagaimana apa yang muncul dan terlihat oleh mereka
 
Contoh Imitasi oleh perupa patung, dalam pembuatan patung pahlawan



Contoh Imitasi bentuk bunga, oleh penata tari




Formalisme

Karya seni dipegang dalam kapasitasnya untuk memperoleh respons yang signifikan pada pemirsa melalui pengaturan yang efektif dari unsur-unsur seni formal seperti garis, bentuk, warna dan tekstur, ruang, dll

Contoh formlisme dalam lukisan, mementingkan unsur dan susunan unsur, mennilai seni terutama dari susunan yang terlihat

Cotntoh formalisme dalam seni musik, komposisi musik

Contoh formalisme dalam seni tari
 

Ekpresionisme
seni untuk menghasilkan respons emotif dalam pemirsa. Kehidupan batin para seniman kuat dan perasaan mereka tentang pengalaman adalah sumber seni mereka.


 



 


Instrumentalis
Kegiatan seni sebagai bentuk komunikasi persuasif karena seni dibuat untuk tujuan mempengaruhi perubahan dalam masyarakat. Dan juga individu (anak didik) dalam pembelajaran

Contoh seni sebagai instrumen alat pendidikan dan alat propaganda




Institusialisme
Pengesahan seni ditentukan oleh kelompok atau lembaga seni. Keinginan komunitas individu yang terlibat dalam menciptakan, mengkurasi, mengumpulkan, menjual, mempelajari dan menulis tentang karya seni

Dari uraian di atas terlihat  lima teori estetika yang berlaku – yaitu yang menjadi mudus penciptaan seni. Yaitu teori imitasi,  teori bentuk, teori emosi, teori Instrumentalis dan teori institusionalis.

Kelima teori ini dapat di ringkas menjadi dua kubu seni yaitu estetika  instrumentalis dan estetika institusionalis.  Perbedaaan dan persamaan kedua estetika ini adalah dalam menggunakan modus keindahan.

 Persamaannya adalah  keduanya sama-sama menggunakan modus formalis dalam penilaian seni, perbedaannya adalah dimana  faham instrumentalis menggunakan dan mementingkan modus imitasi dan sebaliknya institusialisme mementingkan modus emosi.


IMITATIONALISM,
FORMALISME
EMOTIONALISM

Karyaseni dihargai karena dinilai dari sisi bagaimana dia menyampaikan realitas

Karyaseni dihargai karena organisasi yang efektif dari unsur-unsur dan prinsip-prinsip susunan seni


Karyaseni dihargai karena kemampuannya untuk membangkitkan kualitas emosi manusia.
INSTRUMENTALISM
INSTITUSIONALISME

Karyaseni dihargai karena memainkannya dengan jelas di dunia saat ini sebagai dibuat untuk tujuan mempengaruhi perubahan dalam masyarakat.

Karyaseni dihargai oleh komunitas individu yang terlibat dalam menciptakan kurasi, mengumpulkan, menjual, mempelajari dan menulis tentang karya seni.



Gambar. Bagan teori estetika, sumber: Gloria J. Brinkman [[9]]

Oleh karena estetika instrumentalis dan institusional sama-sama menggunakan modus formalisme maka perlu diketahui apa yang dimaksud dengan modus estetika formalis itu dan apa kelemahannya dalam konteks tulisan ini (seni tribal / suku yang berlandaskan budaya)

Kritik Terhadap Modus Formalisme dalam Seni
Seperti yang diketahui estetika formalisme umumnya semata tertuju kepada kualitas seni dan melepaskan diri dari kaitannya seperti unsur makna seni,  tradisi atau budaya

Modus ini berasumsi pentingnya konfigurasi karya seni, yaitu  pengamatan terhadap mutu karya seni yang terkait  kekompakan  berbagai unsurnya ke dalam suatu kesatuan organis (Osborne, 1955). Dan  berasumsi bahwa mutu karya seni seperti ini mampu mendukung penilaian seni dengan standar yang objektif, karena   susunan “organik” seni adalah nyata dan tidak ditanggapi secara emosional dan penilaian seni bisa menjadi lebih objektif.

Asumsi ini juga merupakan dasar konsep bagi faham “formalisme  (Bell, 1958; Fry, 1956). Namun, banyak ahli yang kurang sependapat dengan cara berpikir ini, karena “formalisme” sebagai   alat penilaian hanya dianggap pantas  dipakai saat mengkaji karya seni modern.

Alasannya, berbagai struktur formal seni, sama sekali belum terpikirkan oleh seniman sebelum abad ke-sembilanbelas. Dan tidak cocok dipakai  untuk menilai karya seni tradisi apalagi untuk folk art yang munculnya memang bukan dari pemikiran formalisme, keseimbangan komposisi, keenakan untuk dilihat dan bukanlah tujuan seni folk karena mereka justru sering muncul demi kepentingan ritus, mitos, bahkan magi,  serta fungsi praktisnya.

Menurut Hough, Joni (2009) selama beberapa dekade terakhir, formalisme telah memainkan peran sentral di sebagian besar ruang kelas seni sekolah umum di Amerika (K-12) [[10] ]. Dan menurut penulis juga di Indonesia

Menurut penulis formalisme juga berpengaruh di Eropah dan Indonesia, hal ini kelihatan dari pelajaran komposisi (desain), rupa dasar, atau dasar desain yang dipelajari bidang seni dan desain untuk memahami keindahan semua seni. 

Dalam melukis misalnya diperlukan untuk menganalisa karya itu berdasarkan ilmu komposisi atau desain dasar (7+7) (lihat keterangan di bawah). Dan hal ini juga sangat berpengaruh dalam pembelajaran seni di Indonesia di berbagai bidang dimana seni kerajinan dan seni rupa tradisional juga dinilai dan di buat dengan memahami prinsip formalisme seperti komposisi dan sebagainya, pada hal pelaku seni tradisi yang asli tak pernah memikirkan komposisi dan sebagainya.


Daftar catatan kaki

[1] Gloria J. Brinkman, (tnp thn) Articulations
[2] Terry Barrett, Criticizing Art: Understanding the Contemporary Art, 1994
[3]  Ibid, Barrett, Criticizing Art, 102.
[4]  Marilyn Stewart, Thinking Through Aesthetics
[5] Op.Cit., Terry Barrett, Criticizing Art, (p.102)
[6] Op.Cit. Barrett, Criticizing Art, ( p.102)
[7] https://www.kompasiana.com (seni musik untuk alat pendidikan), diakses tanggal 20 Januari 2020
[8] Op. Cit. Marilyn Stewart, (P.24)
[9] https://teachers.yale.edu/curriculum/viewer/initiative_14.04.03_u
[10]  K-12 adalah istilah yang dipakai di Amerika dari Kelas 1 SD sd kelas 3 SMA (12 kelas} sebutan yang sama di indonesia, misalnya SMP adalah kelas 7,8 dan 9 (K7-9)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda, jika ingin menggunakan emotion, silahkan klik emotionnya, dan kopy paste kodenya dalam kotak komentar

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting