Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Minggu, 04 Mei 2014

Sejarah Seni Indonesia dan Perlunya Revisi: dari Lukisan Dokumenter ke seni Lukis “Moii Indie” yang Berkasus (1600-1945)-1

A. Van Pers, "Een Chinees op het kantoor bij een Europeaan1854 Litho naar een oorspronkelijk werk van A. van Pers. Linksonder: Nederlandse tekst. Middenonder: Javaanse tekst. Rechtsonder: Un chinois sur le comptoir après d'un Européen. Rechtsonder: K.St. v. C. W. Mieling. Sumber: geheugenvannederland
Hal 1

Catatan Peneliti, Penggambar, Pelukis, ilustrator,  Engrafer, litografer  yang menggambarkan Indonesia di Era Kolonialisme, 1600-1945
Oleh: Nasbahry Couto

Pengantar

LAMAN ini dibuat untuk mengetahui bagaimana sejarah seni sebelum kemerdekaan  atau zaman kolonial dapat menyambung dengan seni sesudah kemerdekaan. Setidaknya sejak kedatangan bangsa Barat pada abad ke 16 dan 17, sampai dengan zaman kemerdekaan Indonesia 1945. 

Seperti yang diketahui sejarah seni sejak zaman Prasejarah, seni Hindu-Budha, Seni Islam Indonesia tiba-tiba terputus  di zaman kolonial. Sejarah seni rupa Indonesia tiba-tiba membicarakan Raden Saleh sebagai pelopor seni moderen Indonesia. Pada hal di Belanda, Raden Saleh juga tercatat sebagai seniman Belanda (lihat situs ini). Dalam banyak buku sejarah seni,  tidak ada keterangan terperinci tentang sebelum  zaman Raden Saleh ini dan bagaimana  seni ini menyambung dengan  seni lukis sesudahnya yang disebut  dengan “Moii Indie” (Indonesia Molek). [1]

Memang agak aneh penyusunan sejarah seni rupa Indonesia, misalnya pada sejarah sosial tetap dipelajari tokoh-tokoh asing yang memerintah di zaman kolonial, anak-anak sekolah dasar misalnya tahu  Gubernur Jendral Deandels yang memerintah Hindia Belanda mulai tahun 1808, dan tahu sejarah VOC dan seterusnya. Tetapi di sekolah Perguruan Tinggi seni rupa-pun jarang yang mempelajari dan tahu bagaimana perkembangan seni di zaman ini.

Hasil penelitian Bambang Suwondo (ed.), tentang Sejarah Seni Rupa Indonesia tahun 1979, dan banyak buku yang sama oleh pemerintah (PDK)-- maupun buku-buku sejarah seni rupa yang dikarang oleh penulis Indonesia dan asing -- umumnya tidak ada keterangan; kecuali hanya keterangan singkat, apalagi untuk membahas kegiatan seni bangsa asing di Indonesia pada periode itu.[2]

Dalam laporan Suwondo, dkk., (1979: 148-157), Sesudah zaman Raden Saleh, terdapat  tiga tokoh pelukis seperti  Wakidi, Pirngadi dan Abdullah yang dianggap sebagai tokoh seni lukis “Hindia Molek”[3] namun tidak ada dasar pemikiran yang mantap untuk menjelaskan fenomena “Hindia Molek” ini, kecuali ketidaksetujuan Sujoyono atau Persatuan Ahli Gambar Indonesia terhadap seni lukis para penjajah saat itu (Persagi).

Misalnya, apa dasar untuk menetapkan seni lukis “Moi Indie” itu muncul di tahun 1920 dan berakhir tahun 1938 (berdirinya Persagi)? [4] Dengan adanya uraian ini (laman ini) setidaknya akan memperjelas bagaimana  seni visual sesudah era Islam dan menyambung dengan seni visual bercorak Barat di zaman Kolonial,  dari pada memperdebatkan siapa  tokoh seni  modern  Indonesia, [5] atau memperdebatkan mashab antar kota.[6]
* Perlu dicatat bahwa terbitnya buku foto Gregor Krause,  (1883-1959), fotografer Jerman tahun 1920, tentang wanita, budaya dan lingkungan di Bali,  menyebabkan banyaknya seniman Eropah datang ke Indonesia, khususnya ke Bali di zaman itu.  Tahun itu dianggap oleh Persagi sebagai awal mulanya gaya lukisan "Mooi" Indie. Sedangkan istilah "Moii Indie" sendiri pertamakali muncul tahun 1930 bukan tahun 1920. Istilah ini muncul untuk memberi judul reproduksi sebelas lukisan pemandangan cat air Du Chattel yang diterbitkan dalam bentuk portfolio di Amsterdam tahun 1930. Istilah itu menjadi popular di Hindia Belanda semenjak S. Sudjojono (Persagi) memakainya untuk mengejek pelukis-pelukis pemandangan dalam tulisannya pada tahun 1939. Dia mengatakan bahwa lukisan-lukisan pemandangan yang serba bagus, serba enak, romantis bagai di surga, tenang dan damai, tidak lain hanya mengandung satu arti: Mooi Indie (Hindia Belanda yang Indah). Mungkin beliau tidak memahami bahwa seni gambar (sketsa pensil, gambar peta, cat air, etsa, lithografi dsb) yang berkembang di jaman kolonial tujuan utamanya adalah untuk dokumenter, kemudian berlanjut ke teknik lukis cat minyak yang berkembang di Eropah (naturalisme-romantik, realisme, impresionisme dan ekspresionisme). Dengan demikian istilah seni Mooi Indie yang disebut Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) itu sebenarnya adalah berbagai campuran gaya-gaya seni tersebut (naturalisme-romantik, realisme, impresionisme dan ekspresionisme). Dapat dipastikan gaya seni ini ikut mempengaruhi gaya seni lukis di zaman kolonial ini. Jadi bukan semata dilandasi oleh konsep "Moii Indie". Dan pernyataan Persagi ini adalah sebuah istilah yang dapat dilihat sebagai sebuah gerakan seni avant garde sebelum Indonesia Merdeka. Kumpulan tiga laman artikel ini dibuat untuk memperjelas hal ini. Jadi statemen Persagi dapat dianggap sebagai sebuah gerakan seni "Avant Garde" yang dipakai untuk menentang seni kolonial sebagai sebuah gejala dari sindrom kolonial dan post-kolonial sebagai cara untuk menyatakan eksistensi diri Nasionalisme Indonesia. Gerakan-gerakan semacam ini berulang terus dengan munculnya gerakan-gerakan avantgarde lainnya seperti Lekra, Manikebu, Seni Rupa Baru dan sebagainya setelah kemerdekaan Indonesia, tentunya dengan tema dan cara yang berlainan.
Lukisan Dokumenter
Dari suatu sisi, lukisan-lukisan pada awal kedatangan Barat di Nusantara adalah dalam rangka mencatat dan mengetahui keadaan sosial budaya, politik, ekonomi serta kekayaan flora dan fauna yang terdapat di Indonesia. Oleh karena itu lukisan-lukisan mereka dapat dianggap sebagai lukisan dokumenter berdasarkan teknik menggambar pada saat itu. 
*  Istilah seni untuk dokumentasi pertamakali penulis temukan pada tulisan Bernadine Barnes - Encarta - Microsoft (CD) tahun 1997 tentang Seni (Art). Yang kemudian penulis aplikasikan kepada pengamatan sejarah seni rupa Indonesia (Penulis adalah pengajar sejarah seni rupa). Istilah ini tidak ada dalam buku-buku sejarah seni rupa Indonesia. Dari pengamatan yang panjang, maka tulisan tentang seni  untuk dokumen ini baru penulis tulis tahun 2013 dan memasukkannya pada blog 2014.Istilah ini juga tidak ditemukan pada Galeri Nasional Jakarta.
Lukisan Wakidi pelukis Sumatera Barat. Seperti lukisan yang diperlihatkan di atas, lukisan ini dapat dilihat sebagai dokumen tentang kehidupan tradisi Minangkabau lama, jadi jangan dilihat semata dari sudut pandang gaya-gaya seni atau  berpikir-menggambar (realis, naturalis, impresionis) atau sebagai ungkapan perasaan seniman (ekspresionisme). Sebab lukisan ini dimulai dari "menggambar-berpikir" (melihat/ seeing), bukan "berpikir-menggambar" (inspirasi/thinking).
Walaupun teknik pelukisan itu terlihat kuno pada masa kini, pada zaman lampau itu sudah dianggap modern. Teknik yang dimaksud adalah etsa,  engrafing, litografi, gambar pensil, pena dan tinta cina, "gravure"serta cat airbeberapa diantaranya adalah dari cat minyak atau oil painting. Teknik-teknik penggambaran ini pada dasarnya adalah karya seni  visual juga yang perlu dijelaskan sebagai bagian dari sejarah seni rupa Indonesia di zaman kolonial. 

Seperti yang tercatat, para seniman di zaman kolonial bukan hanya orang Belanda, tetapi hampir semua bangsa Eropah seperti Inggris, Perancis, Italia, Portugis, dan sebagainya yang menggambarkan tentang Indonesia. Kebanyakan dari mereka adalah peneliti dan juga tukang gambar yang ahli dalam membuat peta. Para penggambar itu ada yang dari pihak militer misalnya Letnan G.W.C. Voorduin (1830-1910), yang menggambarkan tentang Indonesia dan SurinameLouis Henri WilhelmusMerkus de Stuersdan J.H.W. le Clerq (1809-1885)  yang menggambarkan tentang keadaan Sumatera. Banyak pula para pengelana asing, seperti para peneliti, militer, pembuat peta yang bekerja lepas dan atau yang bekerja untuk VOC.

Walaupun berbeda-beda, mereka yang datang Barat ini memiliki kesamaan.  Mereka melihat masyarakat pribumi sebagai masyarakat “kurang maju” yang berbeda dengan mereka yang memiliki sejarah panjang dalam seni dan telah mengalami perubahan berpikir  sejak era renaisan.  Di catat oleh John R. Hale (a.1984:177) sebagai berikut.

“Kematangan datang dengan cepat pada manusia renaisan, disertai dengan ambisi yang menyala-nyala untuk mengejar  ketenaran, Giovanni dellle Bende Nere adalah salah satu diantara banyak bangsawan yang berjuang sebagai condotteeri untuk mendapatkan nama besar dan uang.........Tetapi keuntungan dari perdagangan ternyata lebih aman dan lebih pasti dari pada upah berperang.......timbunan kekayaan itu  dengan lebih leluasa untuk menjamin agar namanya senantiasa dikenang sepanjang masa..........”

Hal itulah salah satu alasan mereka menyeberangi lautan, terutama ....untuk mencari ketenaran, dan kekayaan.... Negeri jauh  dan masyarakat pribumi yang mereka temui, walaupun ada yang beradab serta memiliki masyarakat yang sudah teratur --tetapi penuh tahyul dan mudah dikuasai – justru karena pertengkaran diantara orang pribumi itu sendiri.

Pengetahuan tentang mereka menjadi penting—bukan hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk mendominasi. Dokumentasi tentang tentang ciri, bentuk, kebiasaan, bahasa dan sejarah anak negeri wajib diketahui, berikut kekayaan alam yang dimilikinya. 

Jadi dokumentasi itu bukan saja untuk kepentingan pengetahuan—tetapi terutama untuk kepentingan ekonomi, dan pengembangan agama kristen, politik, khususnya militer untuk menguasai negeri yang mereka kunjungi sekaligus untuk memperoleh “kekayaan dan ketenaran”. [7] Seperti yang di catat oleh Hale (b.1984:61) sebagai berikut.

Para pembuat Peta: Ketika perjalanan kepahlawanan pada abad ke 15 dan abad ke 16 mulai mengubah pandangan manusia barat tentang dunia, maka makin besarlah kebutuhan akan peta maupun gaftar yang lebih tepat................Setelah bangsa-bangsa Eropah menjadi bernafsu untuk memancangkan tanda kepemilikannya atas daerah temuan baru, mulailah pemetaan bumi dan langit bukan sekedar membantu pelayaran, melainkan merupakan kunci kekuasaan.”

Catatan dan sketsa-sketsa oleh Louis Henri Wilhelmus Merkus de Stuers[8] tentang keadaan di "Minangkabau" misalnya, adalah dalam rangka perperangan dengan pihak Paderi dan Aceh di Sumatera. Dalam catatan sejarah kita lihat, kota Padang di Sumatera barat adalah tempat perawatan dan pengobatan serdadu belanda yang sakit dalam perang dengan Aceh dan Paderi (ada dua lokasi, pertama di pinggir batang Arau, kemudian pindah ke Rumah Sakit Tentara Ganting sekarang di kota Padang). De Stuers bukan hanya membuat laporan tertulis, tetapi juga membuat lukisan dan sketsa-sketsa tentang itu.Tentu saja ada diantara dokumen-dokumen penting militer yang tidak dipublikasikan oleh pihak Museum di Belanda, oleh karena sensitifitas antar bangsa.

Keterangan gambar: Batavia merupakan pusat tempat bertemunya kapal VOC, dan markas besarnya di Asia. Fungsi ini diembannya sejak tahun 1619. VOC telah memiliki pangkalan di tempat ini pada tahun 1610, tetapi pada waktu itu Bantam lebih penting. Ketika sultan Jakatra, dibantu oleh orang Bantam dan Inggris, mencoba mengusir orang Belanda, Jan Pieterszoon Coen merebut kesempatan, menaklukkan daerah ini dan mengusir rajanya. Jakatra lalu diberi nama Batavia. Posisi Batavia baru aman setelah berhasil menahan dua kali pengepungan oleh kesultanan Jawa Mataram pada tahun 1628 dan 1629. Menyusul perjanjian perdamaian dengan Bantam dan Mataram pada pertengahan abad ke-17, daerah udik Batavia terbuka untuk eksploitasi ekonomis. (sumber foto)
Terlihat bahwa pelaku lukisan dokumenter tentang Indonesia ini oleh bangsa barat berlangsung dalam dua tahap.
  1. Sejak abad ke 17, yang dilakukan oleh berbagai  bangsa Eropah
  2. Sejak VOC runtuh (1799) dan beralih ke pemerintahan Kerajaan Belanda, tugas ini digantikan oleh petugas dan pegawai pemerintahan bangsa Belanda, dan ini berlangsung  satu abad lamanya, yaitu antara akhir abad ke-18 sampai akhir abad ke-19. Hal ini berlangsung cukup lama karena tidak semua daerah di Indonesia dapat dikuasai oleh Belanda. Minangkabau dan Aceh misalnya baru pada akhir abad ke 19 dapat dikuasainya. 
Akan tetapi tidak kalah pentingnya, setelah mereka dapat menguasai daerah jajahan, usaha keras lainnya adalah untuk pengembangan  agama.  Seperti yang dikemukakan oleh Hale (b.1984:167) sebagai berikut.
"Tetapi agamalah yang memaksa orang Eropah berusaha dengan cara coba-coba untuk memahami cara hidup dan cara berpikir bangsa lain. Dorongan agama ini lebih besar dari dorongan penjajahan dan perdagangan, bahkan lebih besar daripada keperluan pemerintahan dan kependudukan. Sampai dengan pertengahan Abad ke -16, para misionaris penuh harapan bahwa bangsa yang baru ditemukan dapat dijadikan Kristen dan sedapat mungkin di ubah menjadi "orang Eropa". Akan tetapi ....Para iman yang tekun ini tidak kunjung menyadari bahwa kebiasaan yang berbeda dan metode organisasi sosial yang berbeda dari bangsa pribumi itu adalah hasil pembentukan yang berabad-abad lamanya "............(dalam banyak kasus tidak mudah untuk diubah).



Peta Kristenisasi di Indonesia. lihat juga situs ini

Setelah munculnya teknik fotografi dokumentasi dilakukan melalui foto. Kemajuan ini juga memunculkan fotografer Indonesia pertama seperti Kassian Chepas (1845-1912).


Dengan melihat dokumentasi ini, dapat dipahami bahwa penjajahan di Indonesia sebenarnya tidak sepenuhnya penjajahan politik dan pengembangan agama, tetapi juga penjajahan ekonomi atau sejarah kapitalisme (yang mungkin bisa berlangsung sampai sekarang tetapi dalam versi lain) (Bersambung).....


Artikel ini ada 3 halaman, untuk melihat seluruhnya, klik kanan seluruh artikel berikutnya.
(2) Sambungan
Poskan Komentar

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting