Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Tampilkan postingan dengan label Psikologi Persepsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Persepsi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 April 2014

Pornografi dalam karya Seni, Grafis dan Desain



Halaman 1

Oleh
Nasbahry Couto
Klik kanan gambar untuk artikel (1,2) dan gallery (3,4,5)

lukisan wanita erotika islam Untitled-1 copyerotika islam lukisan wanita






MASALAH pornografi dalam seni dan desain sudah sering dibahas dalam berbagai mass media maupun di internet, demikian juga yang berkaitan dengan undang-undang pornografi. Masalah ini sudah ada sejak lama, misalnya tentang ajaran seks Kamasutra dari India sekitar 400 SM, Serat Chentini (Jawa), Assikalabineng (Bugis) dan masalah seksualitas itu selalu ada sampai "kini". Secara etimologis, pornografi berasal dari dua kata Yunani, porneia yang berarti seksualitas yang tidak bermoral dan kata grafe (grafis) yang berarti tulisan dan atau gambar. Jadi secara etimologis pornografi adalah tindakan seksual tidak bermoral dalam bentuk gambar atau grafis. Pornografi umumnya dapat berupa gambar, tulisan, video, atau apapun yang mengekspos masalah seksualitas, di Indonesia istilah ini diluaskan kepada segala hal yang menampilkan seseorang (khususnya wanita) yang yang dapat merangsang, misalnya berpakaian minim atau gerakan-gerakan yang merangsang. Jadi tulisan ini ingin membahas pornografi dalam konteks karya seni dan desain. Pertanyaan yang timbul adalah apakah pornografi itu, kenapa aspek ini bisa muncul? Dan apa sebenarnya imaji-imaji pornografi itu, sehubungan dengan teori persepsi dan media yang dipergunakan dan mengandung aspek pornografi

Pornografi dalam karya Seni, Grafis dan Desain-3


Halaman 3 (Terakhir)
Oleh
Nasbahry Couto
Klik kanan gambar untuk artikel (1,2) dan gallery (3,4,5)

 lukisan wanita
  erotika islam
  Untitled-1 copy
 erotika islam
  lukisan wanita

Artikel Teori Resepsi (Nasbahry Couto)

Artikel Kebangkitan Erotika Islam (Betwa Sharma) 2010

Gallery lukisan  Is. Erotik

Gallery Lukisan Wanita Indonesia

Galery Lukisan Alwins

Kasus Pornografi pada Karya Desain
Jika karya seni masuk ke ruang publik, maka karya itu akan masuk kepada "interpretasi luas", karya yang tadinya adalah masalah instrinsik seniman, dia kemudian dihakimi, dinilai dan dikritik sesuai dengan nilai-nilai etika sosial yang ada. Sebaliknya jika karya itu bersifat pornografi dan tidak masuk ke ruang publik, dia tidak menjadi masalah. Dan tidak ada yang peduli karya itu  porno atau tidak. Berbeda dengan seni, karya seni komesial seperti iklan, ilustrasi, poster, grafis majalah, buku, atau pesan-pesan informasi di WEB --atau karya desain -- seperti desain produk (mobil, motor dan lain-lain), menyajikan visualisasi wanita adalah dalam rangka komersialisasi dan bisa sekaligus pornografi.

Pornografi dalam karya Seni, Grafis dan Desain-2


Hal 2

Oleh
Nasbahry Couto
Klik kanan gambar untuk artikel (1,2) dan gallery (3,4,5)

 lukisan wanita
  erotika islam
  Untitled-1 copy
 erotika islam
  lukisan wanita

Artikel Teori Resepsi (Nasbahry Couto)

Artikel Kebangkitan Erotika Islam (Betwa Sharma) 2010

Gallery lukisan  Is. Erotik

Gallery Lukisan Wanita Indonesia

Galery Lukisan Alwins

Diskrepansi Makna dalam Pemaknaan Karya Seni
Diskrepansi makna adalah ketidakcocokan makna.  Hal ini adalah fenomena umum yang terjadi dalam dunia seni modern dimana seniman memiliki visi dan persepsi khusus yang cendrung esoterik. Sedangkan pengamat seni makin tidak mengerti tentang apa yang digambarkan atau diinginkan seniman. 

Catatan: Penulis sengaja memakai istilah "diskrepansi"  yang sering dipakai dalam bidang perencanaan dan ekonomi. Misalnya dalam perencanaan pendidikan, diskrepansi antara perencanaan dengan hasil belajar. Tetapi pemakaian istilah ini juga sering ditemukan dalam semiotika (ilmu tanda) untuk menjelaskan ketidakcocokan makna. Istilah makna yang umum adalah makna denotatif (yang langsung, konsep) dan makna konotatif (makna tautan, kiasan), dan sebagainya dalam konteks kebahasaan.

Senin, 20 Desember 2010

Desain Grafis dan Ragam Persepsi (1)


Desain Grafis dan Ragam Persepsi

Pendahuluan 

Dalam ilmu desain, yang dicari adalah fisik benda yang akan di­cip­takan, benda itu berbentuk. Karena itu, dalam teori desain, bentuk (form) men­jadi pusat perhatian desainer dan bukan hanya masalah warna atau lainnya. Karena itu, teori-teori desain dimulai dari teori pembangkit bentuk (form generator) atau pengarah bentuk (ge­nerator of form), yang kedua ini adalah yang ikut menentukan bentuk disamping yang pertama. 

Harus disadari pentingnya suatu keputusan desain yang diambil tentang kepastian bentuk vi­sual. Sebaliknya, persepsi adalah hal yang ditimbulkan bentuk vis­ual karya de­sain. Karena itu, mana yang penting mencari bentuk visual tanpa mem­pedulikan persepsi yang akan ditimbulkannya atau sebaliknya?

Pengetahuan dasar dalam mendesain, se­perti nir­mana datar, nirmana ruang, dasar visual, rupa dasar dan seba­gainya adalah penge­tahuan yang mengandung teori per­sepsi secara im­plisit di dalamnya. Namun, hal itu ja­rang disadari. Kita dapat mulai dengan pertanyaan, apakah yang berfungsi sebagai pem­bang­kit bentuk (form generator) dalam sebuah desain?. Dan apa pula yang membata­si bentuknya (constraint)?. 

Untuk hal yang bersifat interpretasi atau persepsi kita dapat mulai dengan pertanyaan, bagaimana membangun persepsi sebuah karya desain yang men­citrakan moderen, klasik, romantis, folk, tradisional, kekanakan, dewasa atau ana­logi-analogi dari persepsi lainnya?. Bagaimana pula peranan gambar atau font dalam mem­bangun persepsi semacam itu?. Jadi, masih ada masalah yang krusial dan mendasar yang terkait dengan masalah persepsi yang perlu diung­kapkan dalam bab ini di antaranya adalah sebagai berikut ini.
(a) Teori atau konsep desain seperti yang dikemukakan (Meggs, 1998), Walschaeger, 1991; dsb).
(b) Pembangkit Bentuk (form generator) dan Pembatas Bentuk De­sain (con­straint) seperti yang dikemukakan (Walschaeger, 1991, Sarwono & Lubis, 2005).
(c) Persoalan Desain, yaitu me­mahami bagaimana elemen atau bagian-ba­gian de­sain grafis disusun atau diaransir, atau bagaimana ka­ryanya da­pat men­ciptakan persepsi atau citra tertentu seperti yang dikemukakan (Wal­schaeger, 1991, Al­len, 2009).
(d) Persepsi terhadap huruf (font) dan font-font yang efektif dipakai da­lam bi­dang desain grafis seperti yang dikemukakan (Airey, David. 2010, Pujiyanto, 2008).
(e) Persepsi terhadap gaya atau corak desain seperti yang dikemukakan(Meggs, 1998, Ansley, 2001), dan sebagainya.

Desain Grafis sebagai Penentu Persepsi dan Citra

hal 4


11.Desain Grafis sebagai Penentu Citra dan Persepsi


Citra dalam bahasa Inggris adalah Image9. Menciptakan citra be­rarti men­ciptakan imaji-imaji dengan media tertentu misalnya gambar atau foto, tetapi bisa juga melalui tulisan. image (abad ke-XII), berasal dari kata Latin imago yang artinya menyerupai, mirip.

Contoh dari persepsi ini (lihat artikel ini: pornografi dalam seni , desain dan grafis )


Imaji benda atau artefak adalah peristiwa psikologi persepsi. Akan tetapi, im­aji yang terbentuk dalam ingatan atau otak adalah peristiwa psikologis, di­mana terda­pat rekaman-rekaman ingatan dalam bentuk memori yang se­sekali muncul ke­luar dari imaji dalam, sedangkan imaji yang nampak dari objek-objek luar diri manusia adalah imaji luar (Primadi, 1965).

Persepsi Huruf: Konsep Pemilihan Font

Hal 3

8. Persepsi Huruf: Konsep Pemilihan Font

Studi tentang font/huruf tidak hanya sebatas ungkapan ekspresi huruf, tetapi ke berbagai hal yang berhubungan dengan kejelasan pembacaan dan display di antaranya adalah berikut ini, (1) huruf untuk arsitektur (bangunan), (2) untuk tampilan di TV, (3) Web, (4) huruf untuk buku, (5) untuk majalah (6) huruf untuk mass-media surat kabar. Beberapa hal yang berkaitan dengan per­sepsi adalah berikut ini:
(1) kejelasan pembacaan huruf,
(2) lama pembacaan dan keletihan mata dalam pembacaan,
(3) jarak antara huruf, besar huruf standar untuk mas media, buku.

Pengarah Bentuk (Generator of Form) dalam Desain Grafis

Hal 2

6. Pengarah Bentuk (Generator of Form) dan Aspek Preskriptif dalam Desain Grafis


Menurut Wallsclaeger (1991), di samping pembangkit bentuk yang terdiri dari unsur visual dan atribut visual terdapat hal lain yang ikut menentukan bentuk, yaitu prinsip penentu organisasi(prescriptive prin­ciples of organization) atau dengan sebutan lain yaitu generator of form. Keinginan menciptakan bentuk dan pesan visual menyiratkan, bahwa ada konsep atau pesan untuk dikomunikasikan. Kemampuan mengkomunika­sikan pesan visual, membutuhkan penetapan peringkat pe­san. Sebagai contoh, pe­ringkat ini terkait dengan fungsi bentuk, metoda kon­struksi, kualitas material dan proses-prosesnya. Artinya komunikasi vis­ual yang dimak­sud haruslah lengkap da­lam bentuk sebuah karya yang fisiknya ak­hirnya seperti apa, poster?, bangunan?, interior?, dan seterusnya. 

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting