Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Senin, 20 Desember 2010

Desain Grafis sebagai Penentu Persepsi dan Citra

hal 4


11.Desain Grafis sebagai Penentu Citra dan Persepsi


Citra dalam bahasa Inggris adalah Image9. Menciptakan citra be­rarti men­ciptakan imaji-imaji dengan media tertentu misalnya gambar atau foto, tetapi bisa juga melalui tulisan. image (abad ke-XII), berasal dari kata Latin imago yang artinya menyerupai, mirip.

Contoh dari persepsi ini (lihat artikel ini: pornografi dalam seni , desain dan grafis )


Imaji benda atau artefak adalah peristiwa psikologi persepsi. Akan tetapi, im­aji yang terbentuk dalam ingatan atau otak adalah peristiwa psikologis, di­mana terda­pat rekaman-rekaman ingatan dalam bentuk memori yang se­sekali muncul ke­luar dari imaji dalam, sedangkan imaji yang nampak dari objek-objek luar diri manusia adalah imaji luar (Primadi, 1965).


Desain grafis berfungsi membentuk imaji-imaji itu, misalnya kita meli­hat sebuah iklan yang menggambarkan seorang wanita cantik memakai sabun Luks, imaji yang ingin dibentuk adalah bahwa sabun luks itu adalah sabun wanita cantik, atau pengertiannya di balik, setiap wanita yang ingin can­tik harus memakai sabun luks. Terjadinya konotasi-konotasi seperti ini ka­rena adanya citra yang mele­kat pada sebuah produk, pada diri seseo­rang.

Kita dapat melihat bagaimana dalam pemilihan umum masing-masing calon presiden membentuk citranya melalui mass media seperti televisi, poster, iklan, tulisan dalam buku dan sebagainya. Tujuan pem­bentukan im­aji adalah membentuk persepsi yang baik.

Dengan demikian, kita dapat memahami ilmu desain grafis bukan­lah se­buah sains, tetapi cara berbagai pengetahuan (sains) yang dite­rapkan membentuk citra; misalnya ilmu psikologi, ilmu komuni­kasi, ilmu eko­nomi, dan sebagainya yang bermuara kepada kegiatan de­sain sehingga terbentuk ci­tra-citra. Khusus untuk kegiatan desain grafis, sebuah kegia­tan meran­cang dapat dilihat dari be­berapa kepentingan. Kepentingan itu antara lain adalah:

(1) grafika, yang menekankan kepada kegiatan produk cetakan;
(2) epistemologi atau morfologi desain grafis melihat percaban­gan kegia­tan gra­fis, apakah pada satu kegiatan atau pada bidang interdisplin se­perti gra­fis display, interior, arsitektur dan trans­portasi;
(3) cara desain grafis dikelola (pendekatan manajemen), akan melihat skala usaha grafis, besar atau kecil, (grafis lini atas dan grafis lini ba­wah);
(4) metodologi desain cara atau teknik, yang dipakai untuk mengem­bang­kan de­sain (manual, komputer, tipografi saja atau imaji saja), dan
(5) pendekatan historis atau sejarah, yang melihat desain grafis dari su­dut pan­dang peran desainer dari waktu ke waktu, hal-hal yang mempenga­ruhi, dan contoh-contoh karyanya.

Riset fungsi-fungsi grafis dalam fungsi benda dan tempat, seperti gra­fis untuk buku, atau televisi (media statis dan bergerak), untuk tempat dan ruang (interior, display, pameran dsb), bangunan (building graphic), ling­kungan (en­vironment graphic), transportasi (transportation graphic) dan pe­rusahaan (cor­porate) diperlu­kan untuk meninjau masalah yang luas dari dampak grafis.

Secara internasional, metodologi desain dikembangkan Cris­tho­pher Jones tahun 60-70-an, tetapi metode ini hanya teraplikasi secara khu­sus pada bi­dang arsitektur dan desain grafis yang memasuki ranah Total Design atau de­sainer prolifik (serba bisa) seperti yang dilakukan Wim Crouwel tahun 1963 di Belanda. Cara ini kemudian dikuti pe­rusahaan de­sain interdisiplin (de­sain grafis, Inte­rior, arsitektur dan lans­caping), misalnya Pentagram, ta­hun 1972. [10]

12. Fenomena Desain Grafis Masa Kini


Seperti yang kita ketahui, bermacam bentuk desain grafis telah di­prak­tikkan orang dalam bermacam  cara. [11]
Sejak abad ke-XV terjadilah revolusi teknologi percetakan, se­cara re­volu­sioner kegiatan ini memungkinkan produksi buku secara massal. Desain grafis mengalami kemajuan pesat pada abad-abad berikut­nya, yaitu dengan ditemukan cara mengatur page layout, atau cara men­desain hala­man buku (pages) sebagai ba­gian dari pekerjaan setting hu­ruf (type), dan gambar serta hiasannya (ilu­strasi dan dekorasi buku). Menurut Megg (1998), begitulah kenyataannya bahwa sejarah per­kembangan desain komunikasi visual dimulai dari pekerjaan merancang huruf dan gambar, kemudian dilan­jutkan dengan beberapa temuan cara merancang hala­man buku yang lebih maju lagi. 

Pada akhir abad ke-XIX, desain grafis muncul sebagai profesi yang khas di Ba­rat dan berbeda dengan profesi sebelumnya yang penekanannya pada tek­nologi percetakan. Profesi-profesi yang baru ini muncul sebagian ka­rena adanya spe­sialisasi pekerjaan yang terjadi di sana, dan sebagian lagi karena teknologi baru dan bermacam kemungkinan ko­mersial, dan me­mungkinkan munculnyarevolusi industri. Metode pro­duksi yang baru (produksi massal) mendorong tumbuh­nya cabang media ko­munikasi visual lain­nya (an­tara lain poster) sebagai alat kam­panye.

Pada akhir abad ke-XIX dan awal abad ke-XX, perkembangan ini te­rus me­ningkat, yang ditandai dengan terbentuknya agen periklanan serta pe­nerbi­tan buku dan surat kabar. Sebagai contoh, di Amerika mun­cul profesi yang namanya art director

Pada awalnya, profesi ini hanya sebatas pekerjaan men­gatur elemen-elemen yang terkait den­gan media publikasi grafis agar men­jadi sebuah kesatuan yang har­monis, dan/atau men­ciptakan suatu un­gkapan pencitraan yang sesuai dengan (isi) terbitan. Akan tetapi, pada akhirnya, sebu­tan art di­rector dipakai untuk profesi yang bermacam-macam, antara lain art director bidang perfilman, bidang penerbitan, dan sebagainya yang terkait dengan pekerjaan seorang pimpinan yang membawahi sekelompok orang untuk pekerjaan di bidang kreasi artistik. Se­panjang abad ke-XX, berbagai temuan teknologi me­mungkinkan para desainer men­gembangkan kerja desain lebih cepat dan ber­macam ke­mungki­nan ko­mersil dan aspek artistik mulai muncul. Pro­fesi ini kemudian ber­kem­bang sangat luas. 

Para desainer grafis masa kini tidak hanya mendesain buku, tetapi menciptakan berbagai produk, antara lain mendesain hala­man majalah, sampul buku, poster, cover compact-disc, pe­rangko, uang, ema­san, merek dagang, tanda-tanda jalan (furniture street), ik­lan, merek bangunan, judul kinetik untuk program televisi, film, ani­masi, dan pe­kerjaan publi­kasi grafis untuk berselancar di in­ternet.
Untuk melihat perkembangan sebuah sejarah desain grafis yang lengkap, kita harus pula melihat per­kembangan teknologi printing. Pada putaran abad ke-XXI, desain grafis telah menjadi suatu profesi yang mengglobal, ketika itu teknologi lanjut dan industri tersebar di seluruh dunia. Perkembangan desain grafis ke­mu­dian dipicu perkembangan teknologi komputer.

Namun, se­perti yang dikatakan Cooper pada sebuah wawan­cara tahun 1989, ternyata teknologi komputer membawa resiko terhadap profe­sio­nalitas desainer, dimana batas-batas antara seniman dan desainer, pe­nulis dan desainer, profesional dan amatir menjadi hilang. Akibat mu­dahnya komputer dibawa-bawa, akan mengaburkan antara pe­kerjaan stu­dio dengan di kantor, antara perkerjaan di kantor dengan di rumah, dan di lapangan; sebab semua pekerjaan desain sekarang da­pat dilakukan di­mana saja, walaupun pekerjaan de­sain grafis sebagai profesi dan yang berkualitas tetap dikuasai yang mempelajari bidang ini.[12]

13. Komunikasi Massa Sebagai Pembentuk Persepsi

Komunikasi massa adalah suatu proses. Membicarakan komunikasi massa tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan tentang media massa. Kedua istilah itu sering dipertukarkan, baik dalam arti yang sama maupun dalam isti­lah yang berbeda pengertiannya, namun kemudian pemakaian­nya tidak tepat karena pen­gertian yang diberikan terhadapnya juga tidak tepat. Meskipun sulit dibedakan antara komunikasi massa dengan media massa, dan antara pers dan jurnalistik, tetapi secara ilmiah masih dapat dilihat perbedaan di antaranya. Karena itu, perlu dibahas, apa dan bagaimana, serta ciri-cirinya, komunikasi massa, media massa; perbandingan pers dengan media lain seperti film, radio siaran dan televisi siaran.

a. Proses komunikasi Massa
Sebagai suatu proses, komunikasi massa tidak berbeda dengan proses-proses komunikasi lainnya. Perbedaan yang khas ialah bahwa pada komunikasi massa dipergunakan media massa.


Bahkan tek­nologi modern dalam ben­tuk media massa itu adalah hal esensial bagi proses komunikasi massa. Meski­pun demikian, pemakai­an media ini jangan dipertukarkan dengan pro­sesnya. Wilbur Schramm menyatakan bahwa perbedaan antara proses komu­nikasi massa dengan lainnya seperti komunikasi sosial adalah sifat­-sifat yang ter­kandung dalam proses tersebut. Misalnya, antara sum­bernya dan komuni­kator lebih banyak bersifat organisasi dan lembaga; menyalurkan pesan mela­lui me­dia massa secara massa­litas dan atau ditujukan kepada orang banyak yang ber­sifat anonim dan hete­rogen Charles Wright (l989) mengidenti­fikasi be­berapa karakteristik komunikasi massa sebagai berikut: [13]
(a) komunikasi massa itu ditujukan kepada audien yang relatif besar atau luas, bersifat heterogen dan anonim. kegiatannya dilakukan secara ce­pat dalam waktu-waktu tertentu,
(b) pesan-pesan disiarkan secara umum (publicly), sering tertentukan wak­tunya untuk mencapai sebagian besar audien secara simultan atau se­rempak,
(c) komunikator adalah suatu bentuk organisasi yang menggunakan pem­biayaan sangat besar atau banyak.

Sumber (Komunikator)
Setiap kegiatan komunikasi massa dapat dibagi ke dalam kom­ponen-kom­ponennya yaitu para komunikator yang menyampaikan pesan media massa kepada audien untuk mencapai pengaruh tertentu. Komunikator sering juga disebut sebagai sumber, meskipun dapat dikatakan tunggal, tetapi terdiri atas banyak orang. Kegiatan atau pekerjaan para komunikator ini melalui su­atu organisasi komunikasi yang rumit dan modal yang besar. Melakukan ke­giatan dengan komunikasi massa jauh lebih sukar daripada komunikasi antar­per­sona atau tatap muka. 

Karena komunikator harus menyam­paikan pesan pada saat yang sama kepada komunikan yang luas dan pribadi yang berbeda. Meskipun jumlah audien atau komunikan dapat mencapai jutaan, se­cara teoretik memiliki versi yang sama dengan kontak komunikasi dua orang, yaitu pesan dari kepala komunikator yang disampaikan kepada kepala komu­nikan; dan atau kepada kepala komunikan dalam jumlah banyak. Hal ini mirip dengan kontak pribadi yang berulang secara massal dan pada waktu yang sama.

Pesan-pesan komunikasi massa itu disa­lurkan melalui media massa, sifat­nya massal dan ditujukan kepada audien yang banyak. Penyampaian pe­san atau publisitas secara cepat, bersifat transien, dan terbuka buat semua orang. Media massa dalam hal ini bukan berarti alat atau in­strumen itu sendiri, me­lainkan bagaimana cara media dipergunakan; hal inilah adalah pembeda antara suatu media dengan media lain, apakah media massa itu menjangkau orang banyak atau hanya sekedar media terbatas. Dalam arti, hanya ditujukan kepada publik tertentu. 

Ciri sebuah media media massa, tidak hanya yang bersifat impersonal, tetapi juga terlihat ciri lain dari kegiatan komunikasi ini. Katakanlah, audien atau komunikannya adalah sejumlah besar manusia, sifatnya heterogen, ano­nim, terpisah-pisah dapat berjarak sangat jauh dari sumber pesan. Karena itu, jika dibandingkan dengan komunikasi sosial, komuni­kasi massa tidak bersi­fat alamiah, dia adalah hasil perencanaan, hasil organisasi atau lem­baga. 

Kegiatan komuni­kasi massa umumnya mempunyai tujuan dan arah yang telah ditentukan. Istilah media massa merupakan singkatan dari media komu­nikasi massa yang dipergunakan untuk menunjukkan penerapan suatu alat teknis (media) yang menyalurkan atau merupakan wadah komunikasi massa. Dari sudut pandangan itu kita dapat mengatakan bahwa media massa itu terdiri atas seperti berikut ini. 
(1) Media tercetak atau cetakan, yaitu surat kabar, majalah, buku, pamf­let, bahkan dapat diperluas dengan billboard, dan banyak alat teknis lain­nya yang membawakan pesan-pesan untuk orang banyak.
(2) Media elektronika yaitu radio siaran atau programa dalam arti bersifat au­ditif; televisi siaran atau programa; film atau gambar hidup dalam arti bersifat audiovisual bisa didengar maupun dilihat.

Pers dan Jumalistik
Pers adalah salah satu media massa, dalam arti sempit meliputi surat ka­bar dan ma­jalah dan dalam arti luas dapat meliputi semua media tercetak. Apa­bila kita berbicara tentang pers, maka kita tidak dapat melepaskan diri dari jur­nalistik. Kedua pengertian ini sering dipertukarkan. Jurnalistik merupakan ke­giatan komunikasinya, se­dang­kan pers merupakan wadahnya, atau medianya tempat komunikasi massa itu disalurkan. Dengan demikian, kita mengenal istilah-istilah seperti jurnalis­tik pers, jurnalistik film, jurnalistik radio, dan jurnalistik televisi. 

b. Model-model Komunikasi Massa
Sampai kini kita mengenal adanya empat model komunikasi massa
a) Per­tama adalah model jarum hipodermis yang adanya ini ialah angga­pan bahwa pengaruh media massa itu sangat kuat, langsung, cepat, dan ham­pir tidak ada kekuatan apa pun yang dapat menghambatnya. Selain itu audiennya dianggap bersifat atomistis dalam arti bahwa in­dividu-in­dividu terhubungkan langsung kepada media dan tidak ke­pada indi­vidu-individu lainnya atau kelompok, audien dianggap bersi­fat pasif.
b) Setelah berbagai penelitian Lazarsfeld, Berelson, dan Gaudet (1948)[14], me­reka pun memperkenalkan konsep komunikasi dua tahap. Tahap pertama adalah pengalihan informasi dari media massa kepada para pemuka pendapat, dan ini merupakan bentuk komunikasi massa. Akan tetapi kemudian tahap kedua, yaitu dari para pemuka pen­dapat kepada para pengikutnya atau anggota-anggota lain masyarakat­nya merupa­kan penyebarluasan pengaruh; ini bukan lagi berbentuk komu­nikasi massa, melainkan bentuk komunikasi antarpersona. Sehingga dengan demi­kian, dalam model komunikasi dua tahap ini, selain diper­kenal­kannya orang-orang yang dianggap kaya informasi dan disebut para pemuka pendapat, diperkenalkannya pula hubungan maupun pera­nan yang san­gat erat antara kedua bentuk komunikasi tadi, yaitu komuni­kasi antar­persona dan komunikasi massa. Ketika kemudian setelah se­kitar 25 ta­hun dipergunakan, terdapat kelemahan-kelamahan yang ada pada model komunikasi dua tahap ini, kemudian timbul dua model lainnya.
c) Model ketiga adalah model komunikasi massa satu tahap. Meskipun mi­rip dengan model jarum hipodermis, namun terdapat beberapa per­bedaan. Misalnya, model komunikasi satu tahap mengakui bahwa tidak semua media memiliki kekuatan pengaruh yang sama. Model komu­ni­kasi satu tahap memperhitungkan peran selekti­f sebagai faktor yang menentukan penerimaan audien. Model komunikasi satu tahap men­ga­kui kemungkinan timbulnya reaksi yang berbeda dari audien terha­dap pesan komunikasi yang sama.
d) Selain itu timbul model komunikasi banyak tahap, yang mencakup se­mua model tahapan komunikasi terdahulu. Model ini tidak menjurus kepada tahapan-tahapan tertentu dalam penyebarluasan atau arus infor­masi melalui media massa. Juga tidak menetapkan bahwa suatu infor­masi itu pasti tersebarnya melalui media massa. Model ini me­nunjuk­kan bahwa dalam suatu penyebarluasan pesan-pesan yang be­rasal dari suatu sumber informasi kepada audien yang luas, akan ter­dapat banyak sekali variasi; sehingga dalam menganalisis berbagai situasi komuni­kasi ataupun suatu kejadian dalam proses itu, kita juga akan mempu­nyai banyak variasi. Misalnya, mungkin sebagian audien memperoleh informasi langsung dari media massa sebagai sumber in­formasi, tanpa terikat kepada keharusan bahwa mereka itu merupakan para pemuka pendapat; sebab mungkin saja penerima informasi lang­sung ini adalah orang-orang biasa, yang justru kemudian menyampai­kan informasi ini kepada para pemuka pendapat. Mungkin sebagian audien memperoleh informasi setelah melalui ber­bagai tahap yang ha­rus dilalui setelah dis­ebarluaskan suatu sumber informasi.


Catatan Kaki


1)      Untuk memahami lebih lanjut lihat buku Nasbahry Couto, 2009. Seni Rupa: Teori dan aplikasi, Padang: Unp Press dan buku Ringkasan Prekembangan Desain Grafis (2009), teori desain ada pada sejarah desain.
2)      Lih. Thesaurus, Encyclopaedia Encarta CD.
3)      Lih. Hepler, 1977 (30-35)
4)      4) Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat bahwa atribut visual  adalah juga elemen visual, pendapat ini benar tetapi dia bukan  pembangkit   bentuk (form generator). Benar sebagai elemen visual saat karya itu telah siap atau jadi. Yaitu elemen yang kelihatan oleh mata manusia (persepsi). Ciri dari atribu visual adalah tidak konstan/berubah-ubah oleh jarak (warna dan tekstur), oleh cahaya (nada dan warna).
5)      Representasi adalah gambaran tentang objek yang di gambar
6)      Uraian yang terperinci lihat buku Nasbahry Couto (2007), Prinsip dan Konsep dasar Visual, jilid I.
7)      Lih. http//www.davidairey.com.
8)      Uraian lebih lengkap ada dalam buku Nasbahry Couto.(2009). Ringkasan Perkembangan Desain Grafis, Padang: Penerbit UNP Press
9)      Istilah graphic, dalam kamus-kamus artinya adalah sebuah (detail) yang dapat dibaca dengan sangat jelas (Encarta, 2002). Sebagai kata sifat, grafis berarti sebuah garis, tulisan dan atau sebuah gambar, gambaran (imaji) yang sifatnya dapat dibaca. Disebut grafika (graphical/adj., sebagai kata benda) menekankan kepada hasil cetakan yang dapat dibaca, misalnya buku. Oleh fungsi komunikasinya, grafis kadang-kadang disebut rancangan atau desain komunikasi visual, suatu istilah yang menekankan fungsi visualnya. Sekarang produk grafis dikenali sebagai buku, advertising, logo, atau Web Site dan atau sebuah informasi.
10)  Lihat buku Nasbahry Couto. 2009. Ringkasan Perkembangan Desain Grafis, Padang: Unp Press.
11)  11) Pekerjaan  desain  grafis  ini,  dapat  ditelu­suri  kembali  dari  asal  mulanya,  yaitu  sejak  mun­culnya  naskah kuno dari Ne­geri Cina, Mesir, dan Yunani ribuan ta­hun  lalu.    Salah  satu  bentuk  kegiatan  desain  grafis  yang  pertama  adalah mem­buat buku melalui tulisan tangan, kemu­dian muncul kegiatan  reproduksi  buku,  baik  melalui  tulisan  tangan   dan  cetakan seder­hana
12)  Lih. Béltran, Félix. 2000
13)  Lihat datanya di internet.







Poskan Komentar

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting