Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Minggu, 04 Mei 2014

Sejarah Seni Indonesia dan Perlunya Revisi: dari Lukisan Dokumenter ke seni Lukis “Moii Indie” yang Berkasus (1600-1945)

Hal 3

Pengaruh Gaya Seni Eropa di daerah Kolonial
1840-an (Realisme, Naturalisme)


Jika seni  rupa era kolonial ini kita hubungkan dengan perkembangan gaya seni di Eromerika, terlihat bahwa perkembangan ini ada relevansinya dengan perkembangan seni di Hindia Belanda saat itu. Misalnya, gaya seni realisme  mendominasi dunia seni rupa dan sastra di Perancis, Inggris, dan Amerika Serikat di sekitar tahun 1840 hingga 1880. Dalam gaya seni lukis ini kita mengenal  pengaruh pelukis realis  seperti  Gustave Courbet dan Jean François Mille. Kenapa mereka disebut dengan seniman realis? Karena seniman realis umumnya berusaha menampilkan kehidupan sehari-hari seperti objek-objek dengan karakternya, suasana, dan persoalan dari realitas yang dilihat. Salah satu alasan munculnya seniman realis karena menolak mengambarkan adegan drama yang bersifat teatrikal seperti yang ada pada seni lukis Romantik dan zaman Barok sebelumnya.



Keterangan gambar: Raden Saleh, "Pemburu diserang Harimau", 1847, pengaruh seni lukis romantik, dan Barok, tokoh digambarkan seakan adegan drama, lukisan seakan panggung teatrikal. Gaya seni ini yang ditolak oleh pelukis realisme di Eropah, atau yang memunculkan gaya seni realisme yang menghendaki menggambarkan keadaan yang nyata.
Sebagai pengaruhnya, di Belanda kita kenal pelukis Rembrandt sebagai seniman realis terbaik yang kemudian diikuti oleh pelukis sezamannya. Di Inggris, kelompok Pre-Raphaelite Brotherhood, di Amerika kemudian dikenal Hudson River School. Di Perancis kita kenal dengan sekolah Barbizon School memusatkan pengamatan lebih dekat kepada alam, yang kemudian membuka jalan bagi berkembangnya impresionisme. 

1860-an (Impresionisme)
Jika relalisme ingin mengungkapkan realitas, impresionisme sebenarnya juga ingin mengungkapkan realitas tetapi mempertanyakan realitas itu berdasarkan keterbatasan pengetahuan. Misalnya persepsi manusia secara optis, teori warna dan fisika optis. Ternyata realitas itu dapat digambarkan secara lain, tidak hanya dari membangkitkan bentuk. Realitas tidak lagi dilihat sebagai mitos kebesaran alam atau tuhan seperti zaman seni romantik, tetapi sebagai ontologi, pengetahuan sekaligus estetik. Dalam menggambarkan realitas ternyata bisa ditampilkan dalam bentuk kesan-kesan sesat, menurut waktu yang berbeda. Akibatnya, lukisan impresionistik  dapat menghasilkan persepsi iluminasi/pencahayaan, dan ruang, melalui sapuan warna dan garis yang kuat. Bahkan melalui unsur titik-titik   saja (pointilisme). Gaya seni impresionisme muncul sejak abad 19 di Paris pada tahun 1860-an. Nama ini diambil dari lukisan Claude Monet, "Impression, Sunrise" ("Impression, soleil levant"), oleh kritikus Louis Leroy, sebagai sindiran dalam artikelnya di Le Charivari.

Ciri-ciri seni Realisme, Realisme gaya "Barbizon" dengan tekanan lukisan lanskap, kemudian realisme gaya impresionisme ini juga muncul pada seniman-seniman di zaman kolonial. Gaya seni ini kita lihat pada seniman kolonial seperti Charles William Meredith van de Velde dan G. van Achterberg,(naturalisme), dengan karya litografinya antara tahun 1843-1845;  pada karya cat minyak Frans Lebret (1820-1909) “Kerbau di Jawa”, (1865-1876) (realisme);  pada karya Ferdinand George Erfmann, Pelukis Lanskap Kampung dan Kota, atau. Dan Abraham Salm (Litograf), 1865-1872 (naturalisme) dan sebagainya. Pada karya-karya  P.A.J. Moojen 1879-1955, terlihat kecendrungan ke gaya impresionistik.  

Olieverfschildering voorstellend de weg naar de ochtendmarkt door G. van Achterberg

 G. van Achterberg "Jalan ke pasar pagi” Batavia?, 1938, lukisan-lukisannya yang naturalisme , tetapi cendrung Impresionistik karena menggambarkan pencahayaan kesan sesaat.

Dari Realisme ke Ekspresionisme
Ekspresionis bukanlah sebuah gaya seni yang solid dalam pengertian muncul pada suatu tempat, kemudian menyebar ke tempat lain. Keinginan bereskpresi sebagai ungkapan sujektif adalah gejala umum dalam dunia seni sejak lama (Feldman, E.B, 1969). Seterusnya, kemunculannya sebagai sebuah gerakan seni ada di beberapa tempat berbeda di Eropah dan Amerika. Sebagai sebuah sambungan sejarah seni, ekspresionisme adalah "gerakan pembaharuan" (gerakan modernis). Awalnya adalah dalam puisi dan lukisan, yang berasal dari Jerman pada awal abad ke-20. Ciri khas seni ekspresionistik adalah untuk menyajikan dunia semata-mata dari perspektif subyektif, pendistorsian secara radikal untuk mengungkapkan efek emosional dan membangkitkan suasana hati atau gagasan.

Seniman ekspresionis berusaha untuk lebih mengekspresikan makna, dan pengalaman emosional ketimbang meniru realitas fisik. Istilah ini kadang-kadang mensugestikan kecemasan. Dalam pengertian umum, pelukis seperti Matthias Grünewald dan El Greco kadang-kadang disebut ekspresionis, meskipun dalam prakteknya istilah ini diterapkan terutama untuk karya-karya abad ke-20. Penekanan ekspresionis pada ungkapan individu dilihat sebagai reaksi terhadap  gaya artistik seperti Naturalisme dan Impresionisme. Dalam dunia seni lukis, gaya ekspresioisme mulai terlihat pada karya-karya Pelukis Norwegia Edvard Munch (1863-1944); Pelukis Belanda Vincent van Gogh (1853-1890); Pelukis Belgia James Ensor (1860-1949).  

Gaya seni ekspresionisme juga mempengaruhi seni zaman ini, dan hal ini nampak pengaruhnya pada pelukis kolonial seperti Max Fleischer 1861-1930Isaac Israels,  1865 -  1934,  C. van Mens 1890-1985., dan karya Ch.E.H. Sayers 1901-1943 yang cendrung ke gaya seni lukis ekspresionitik. 

Olieverfschildering door Max Fleischer voorstellend de tempel Candi Bima op het Diengplateau

Lukisan cat minyak lukisan oleh Max Fleischer yang menggambarkan candi Candi Bima di Dataran Tinggi Dieng , Bergaya ekspresionisme 1912. Sumber

Olieverfschildering voorstellend papoea's aan het strand door Max Fleischer

Max Fleischer, "Papua", 1933. bergaya Ekspresionisme 

Pada akhir abad  ke 19, banyak pelukis asing yang bermukim di Indonesia dengan berbagai gaya seni antara realisme, naturalisme, impresionisme dan ekspresionisme, seperti Rudolf Bonnet, Walter Spies dan sebagainya yang ikut mempengaruhi  corak seni lukis Indonesia, khususnya di Bali. Dengan uraian ini kelihatan bagaimana seni rupa di zaman kolonial dapat menyambung kepada perkembangan seni sesudah zaman kemerdekaan. 



Isaac Israels,“Wayang Wong”

Kebenaran dari seni lukis "Moii Indie" itu dapat didiskusikan kembali, apakah seni kolonial pada tahun-tahun 1920 sampai 1938 itu benar sebagai "Moii Indie"? 

Jawaban atas pertanyaan ini mungkin diperkirakan saat diterbitkannya foto tentang Bali oleh Fotografer Gregor Krause,  (1883-1959) -- fotografer Jerman yang dokter itu pada tahun 1920 -- yang menyebabkan seniman-seniman Eropah berdatangan ke Bali. (lihat artikel ini), diantaranya adalah W.G. Hofker (1902 - 1981), baca juga artikel Bruce W Carpenter "Art and Forbidden Fruit in Bali" yang menjelaskan hal ini

Lihat juga Walter Spies (1895-1942), yang ada hubungannya dengan mengenalkan Bali ke Dunia Barat.

Lihat Juga Rudolf Bonnet (1895-1978) dan Ubud sebagai pusat Seni

Apapun kesimpulannya tentang seni "Moii Indie", dia bukanlah sebuah gaya seni seperti yang  di duga orang, sebab gaya seni yang berlangsung tetap gaya realisme, naturalisme, impresionisme dan ekspresionisme, sebagaimana yang berlangsung saat itu. Namun sebagai sebuah sebutan "moii Indie" dapat juga dilihat sebagai reaksi penolakan terhadap sikap romantisme orang Eropah tentang Indonesia sesudah tahun 1920-an, khususnya pengaruh dari karya foto Krause. 

Romantisme ini ada dasarnya, yaitu sebagai obat bagi orang Eropah setelah perang dunia ke II yang bermimpi tentang negara jajahan yang sudah merdeka dan perjalanan jauh kenegeri "dewata". Suatu hal yang positif dari pengaruh romantisme ini adalah menjadikan Bali sebagai salah satu pusat pariwisata dunia. Hal ini mungkin tidak terbayangkan oleh kelompok Persagi pada tahun 1938-an itu. 

Catatan

Istilah aliran
Penulis sengaja menghindari istilah ALIRAN SENI, karena dalam KBBI (kamus bahasa Indonesia) arti dari istilah ini sebagai berikut.
Aliran n 1 sesuatu yg mengalir (tt hawa, air, listrik, dsb): ~ hawa; ~ listrik; 2 sungai kecil; selokan: di daerah pegunungan itu banyak ~ yg jernih; 3 saluran untuk benda cair yg mengalir (spt pipa air): gas ini patah ~ nya; 4 haluan; pendapat; paham (politikpandangan hidup, dsb): ~ politik; ~ falsafah modern.
Sebab istilah ini seakan menolak cara belajar seni atau fakta bahwa seniman visual itu selalu berkembang dan berubah-ubah dalam berkarya seni. (1) Proses belajar seni bukanlah dari faham, pendapat atau haluan seni. Tetapi dari teknis pada awalnya, setelah teknis dikuasai baru seniman mengikutsertakan gagasan-gagasan yang dimilikinya yang sering berubah-ubah. (2) Aliran seni umumnya berkonotasi dengan politikorganisasi dan lembaga dimana seniman berada di dalamnya. Tetapi yang terpenting dari itu, seniman kolonial tidak selalu berasosiasi dengan sebuah lembaga, yang menunjukkan faham politik tertentu dalam berkesenian. Dan mungkin hal ini berbeda dengan Persagi. Oleh karena itu, aliran seni dilihat dalam konteks penilaian seni dan resepsi seni dalam sosial atau lembaga seni, bukan untuk berkarya.  (3) aliran seni adalah sebuah sebutan dalam konteks --kecendrungan berkarya sekelompok seniman -- dalam sepotong waktu sejarah. Tetapi dalam sejarah seni sebutan yang tepat tentang itu adalah gaya seni, langgam atau corak, bukan aliran (haluan, pendapat, paham dan pandangan hidup)


Penyajian
Penulis banyak menemukan kesulitan dalam dokumentasi, hal ini karena sebagian besar data yang diperoleh dari dokumen situs Tropen Museum dari negeri Belanda, koleksi foto dari flickr dan koleksi yang telah ada.. Namun dengan adanya tulisan ini setidaknya dapat dipakai sebagai bahan diskusi tentang seni lukis Indonesia  sebelum dan sesudah zaman seni lukis Moii Indie. Oleh karena itu harus dipahami bahwa uraian ini  masih  banyak kekurangan, sebab banyak data yang belum masuk ke dalam uraian ini.

Urutan dalam uraian ini adalah berdasarkan kronologi waktu, oleh karena datanya tidak lengkap maka dalam pengklassifikasian terdapat beberapa kronologi waktu.
  1. Berdasarkan tahun kronologi hidup seniman
  2. Tahun karya dibuat, jika  tahun kronologi hidup seniman tidak diketahui
  3. Tahun karya dibuat jika  senimannya anonim
  4. Berdasarkan catatan sejarah tokoh lain yang terkait kepada karya itu untuk melacak tahunnya, atau jika (1)  (2) dn (3) tidak diketahui.
Untuk penyajian karya, tidak semua karya seniman atau peneliti di tayangkan pada laman, cukup satu atau dua karya. Tetapi ada beberapa karya lukisan yang perlu ditayangkan lebih dari empat karya (dari data yang ada) untuk memberi penekanan.

Untuk laman ini penulis mengucapkan terimakasih terhadap tulisan dari saudara Usman Maman Husin, tentang “Ambigu dalam Lukisan Tempo Doeloe” (8-2-2013), membantu menjelaskan bagaimana analisis terhadap karya-karya zaman kolonial  yang memotret Kupang.  Demikian juga uraian dari blog Ia Family Indonesia Tempo Doeloe, dari laman-laman Ir. Djoko Luknanto, M.Sc., Ph.D., dari Universitas Gajah Mada, yang membantu melacak sumber asli di Internet untuk menganalisis lukisan zaman kolonial. Tentu saja terimakasih di ucapkan kepada  pihak Tropen Museum di Belanda atau serta Kumpulan foto dari Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies, KITLV Collections di Nederland yang telah menayangkan koleksi lama tentang zaman kolonial. 

Beberapa Tokoh dan Karya Penting
Klik kanan daftar pelukis yang ada di bawah untuk melihat karya-karyanya


  1. van der Heyden  (ilustrator) di Belanda (sebagai gambaran awal seni di Belanda), 
  2. Andries Beeckman, Pengelana abad ke-17, “Kali Besar Batavia (1651-1663)”
  3. Johannes Rach (1720-1783) Pengelana abad ke-18 dan Ahli Etsa
  4. Jan Brandes, Pastor Lutheran dan Pengamat dan peneliti (1743-1808)
  5. Felice Campi (1764-1817) seniman dan pengelana Italia
  6. Sydney Parkinson,1745-1771,Skotlandia Quaker, ilustrator botani dan seniman sejarah alam.
  7. Francesco Citterio (Italia), “Tukang Kayu di Kupang”(1820-30-an)
  8. Pierre Antoine Marchais (1763-1859) (Perancis)
  9. Louis Henri Wilhelmus Merkus de Stuers, Militer, Peneliti Pertahanan Belanda di Sumatera, atau (Hubert Joseph Jean Lambert ridder de Stuers, 1788-1861 ?)
  10. Jacques Etienne Victor Arago Seniman Perancis, Pengelana dengan cerita aneh-aneh (1790-1855)
  11. Antoine. J Payen, Pejabat yang seniman, 1792-1853 (Belgia)
  12. Alphonse Pellion, (Perancis), Pelukis litografi, juru angkatan laut l'Uranie
  13. Raden Saleh (1807-1880), Pelukis Golongan Elite
  14. Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864), Peneliti ahli Geografi
  15. J.H.W. le Clerq, Letnan dan Peneliti Pertahanan Belanda (1809-1885)
  16. Charles William Meredith van de Velde,1818-1898 litografer lanskap dan lingkungan Hindia Belanda
  17. Frans Lebret (1820-1909) , pelukis, “Kerbau di Jawa”, (1865-1876)
  18. Q.M.R. Ver Huell, peneliti militer, pelukis “Banda Neira” 1824
  19. M.E.H.R. Van Den Kherkoff (1830-1908), Pelukis lanskap kota Malang
  20. L. Ullmann, Peneliti, Militer
  21. E. van Heemskerk van Beest, Litografer untuk karya LetnanG.W.C. Voorduin (1830-1910)
  22.  “Babad Tanah Jawa”, 1835,
  23. Kassian Céphas, 1845-1912, Fotografer Indonesia pertama
  24. Carel Dake, 1853-1888
  25. A. Van Pers, 1854-9, litograf antropologi dan pakaian tradisi Hindia Belanda
  26. Charles Theodore Deeleman. Litografer,” Sunda Kelapa”, 1859
  27. P.M.W. Trap Afther C. Dellman (litografer), dari buku: Bataviaashe Album, 1859
  28. Coenraad Ritsema, Peneliti Budaya, Ilustrator dan lithografer, aktif 1860
  29. Max Fleicher 1861-1930, Pelukis cat minyak gaya Van Gogh
  30. J.S.G. Gramberg, pelukis pengelana, “Tangkuban Perahu”, 1865-1872
  31. FC Wilsen ,Peneliti dan litograf lanskap di Jawa dan Sumatera (aktif 1865-1876)
  32. Abraham Salm, Litografer lanskap Hindia Belanda, 1865-1872
  33. G. van Achterberg 1872-1953, Pelukis Cat Minyak Lanskap di zaman Peralihan
  34. R. M. Pirngadie, (1875-1936) Pelukis dan peneliti Kerajinan di Hindia Belanda
  35. Abdullah Suriosubroto (1878-1941) Pelukis cat minyak, Lanskap di Jawa
  36. P.A.J. Moojen 1879-1955
  37. Carl Bock (Peneliti Borneo) “Orang Punan yang tidur”, 1881, Litografi
  38. Jhr Josias Cornelis Rappard 1882-1889 Litograf dan Seniman Hindia Belanda zaman Peralihan
  39. L. J. (Leo) Eland 1884-1952, Pelukis Lanskap HB cat Minyak di zaman Peralihan
  40. Gregor Krause,  (1883-1959), Fotografer Jerman yang dokter dan mengguncang Eropa dg fotonya 
  41. J. C. Poortenaar 1886-1958, Litograf Hindia Belanda zaman Peralihan 
  42. Wakidi, (1889-1979),Pelukis cat Minyak ,”Lanskap di Minangkabau”, 1926
  43. C. van Mens 1890-1985, Pelukis Cat Minyak zaman Peralihan.
  44. Jhon YKema, peneliti Budaya, pelukis, 1891
  45. Johannes YKem, peneliti budaya dan pelukis 1891
  46. Walter Spies (1895-1942)
  47. Fred J.du Cattel, 1896
  48. W. Leijdenroth van Boekhoven, Litografer “Pendaratan di Banten”, 1900-1950
  49. Ch.E.H. Sayers 1901-1943
  50. W.G. Hofker (1902 - 1981), pelukis Belanda yang terdampar di Bali
  51. G.B Hooijer (Pelukis,Ilustrator, drafter), Borobudur -1916-19
  52. Ilustrasi Penerbit Buku  J.B.Wolters, 1924
  53. Ferdinand George Erfmann, Pelukis Kapur Lanskap Kampung dan Kota (1938)
  54. R. Toelaer, Peneliti, litografer di akhir pemerintahan Belanda (lukisan perjuangan), 1942
  55. Karya Ilustrasi Lepas di Zaman Kolonial 


Catatan : daftar ini sewaktu-waktu bisa dikoreksi/diperbaiki)

Beberapa Kesimpulan
  1. Dapat disimpulkan bahwa Seni lukis dan gambar dokumenter berperan penting dalam penjajahan bangsa Barat di Indonesia, tetapi jenis seni lukis ini sudah jarang dipahami sebagai bagian penting dari dokumentasi. Dengan aspek ini pula mereka  menjajah asia tenggara, antara lain dari aspek dokumentasi dan informasi yang mereka kumpulkan melalui gambar dan lukisan (diantara yang penting adalah peta)
  2. Umumnya seni lukis dan pentingnya gambar dokumenter menurut tradisi barat tidak berlanjut dalam seni lukis Indonesia, kecuali pengetahuan tentang gaya seni, tetapi makna tentang gaya dan gaya seni hanya jadi sebutan, dan tidak dipahami apa sebenarnya “tacit knowledge” dibalik hal itu. Memang ada istilah lain yang dipakai untuk menggantikan kata “gambar dokumentasi” seperti gambar illustrasi, gambar grafis dan sebagainya tetapi itu tidak dipahami sebagai gambar dokumentasi. Tradisi Barat dalam gambar dan seni lukis dokumentasi masih berlanjut sampai sekarang seperti yang akan dicontohkan di bagian terakhir tulisan ini.
  3. Oleh karena seni lukis dokumenter menyambung ke seni lukis realisme dan naturalisme dan romantisme (menurut konsep barat), sebenarnya tidak seluruhnya benar bahwa seni lukis Moii Indie itu adalah bertujuan estetik dan keindahan semata. Seni lukis Moii indie tetap dapat dilihat sebagai sambungan seni lukis dokumenter, tetapi telah melenceng karena membawa aspek “romantisme” tentang Indonesia setelah terbitnya buku foto Gregor Krause,  (1883-1959), fotografer Jerman tahun 1920,  (lihat artikel ini) yang menyebabkan banyaknya seniman Eropah datang ke Indonesia, khususnya Bali. Sebaliknya banyak seni lukis kolonial sebelum abad ke-20 sangat baik dalam mengungkapkan realitas dan  tidak selalu dapat dikategorikan masuk ke dalam kategori “Moii Indie”.
  4. Melihat dan mempelajari karya-karya seniman Indonesia dan asing, karya-karya Moii Hindie , justru muncul dan berkembang setelah kemerdekaan Indonesia, dimana adanya kebutuhan "nostalgia" bangsa Belanda dan asing lainnya tentang negeri Indonesia sebagai koloninya di masa lampau. (lihat catatan di bawah)
  5. Jadi seni lukis Moii Indie yang dikritik oleh Sujoyono itu, dalam pandangan bahwa seni yang baik hanya yang memiliki ekspresi (“jiwa ketok”) nasionalisme, terlalu berlebihan dan dapat dipertanyakan. Sujoyono tidak melihat kepentingan lain, selain ekspresi seni khususnya "nasionalisme dalam seni". Padahal realism, realitas  dan naturalism itu tetap penting sampai kapanpun untuk melihat realitas dari zaman ke zaman (dokumentasi, informasi) tentang kehidupan dan lingkungan sosial pada suatu waktu --di luar aspek komersial seni --  seni dokumenter berbeda dengan seni fotografi dan banyak hal tidak dapat dicapai oleh fotografi.
  6. Pandangan ini bukan pandangan baru, oleh karena aspek inilah yang tersembunyi dan disembunyikan oleh bangsa barat dalam perkembangan seni (tacit knowledge) selama ratusan tahun lamanya. Dan dari aspek ini pulalah mereka meretas dan mendominasi ilmu pengetahuan sejak zaman Renesan (lihat aspek penting yang lain dari  karya Leonardo da Vincy). Dalam kenyataannya karya-karya seperti ini di sekolah jarang dibahas yang banyak di bahas adalah teknik dan komposisi.
Daftar Pustaka (Sumber-Sumber Terpercaya)

  1. John R. Hale ,(a. 1984), Abad Besar Manusia:Zaman Renaissance, Jakarta: Pt.Tira Pustaka
  2. John R. Hale ,(b. 1984), Abad Penjelajahan, Jakarta: Pt.Tira Pustaka
  3. Bambang Suwondo (Ed.)Sejarah Seni Rupa, Indonesia, proyek penelitian Departemen pendidikan dan Kebudayaan, 1979. Jakarta.
  4. Hugiono, (1992) , Pengantar Ilmu Sejarah, Semarang: Rineka .Cipta.
  5. Koentjaraningrat, Prof.Dr.(Ed) 1985, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Jakarta: Pen.Jambatan
  6. Naskah elektronik, “Koleksi Lukisan Sukarno”
  7. Usman Maman Husin, “Lukisan Kupang Tempo Dulu”, ,http://daonlontar.blogspot.com/2012/10/lukisan-kupang-tempo-doeloe.html
  8. Mihardja, Achdiat K.1977, Polemik Kebudayaan, Jakarta: Pustaka Jaya.
  9. Mustika, 2001, Tokoh-tokoh Pelukis Indonesia, Jakarta: Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.
  10. C.T.D. Deeleman, "Kepulauan Hidia Belanda", the Hague, 1865-1876 with 24 colours lithographs
  11. Kumpulan foto dari Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies
  12. Geheugen Museum 
  13. KITLV Collections, https://www.flickr.com/photos/kitlvcollections/5433457504/
  14. Proyek Guttenberg, (Ancient E-book) http://www.gutenberg.org/browse/authors/a#a4636
  15. Proyek Rintisan Biografi Belanda-Indonesiahttp://id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Rintisan_biografi_Belanda
  16. Kamus Seniman Australia: pelukis, sketchers, fotografer



[1] Seperti yang kita lihat penyusunan sejarah seni rupa Indonesia, seakan meloncat, dan ada bagian yang kosong. Misalnya Sejarah seni rupa prasejarah, hindu budha ada dijelaskan, tetapi saat menjelaskn seni rupa zaman kolonial samasekali tidak ada, lalu tiba-tiba menjelaskan Raden Saleh.
[2] Lihat buku, Lihat buku Bambang Suwondo (Ed.)Sejarah Seni Rupa, Indonesia, proyek penelitian pdk, 1979.
[3] Ibid., Suwondo, Bambang, 1979:148
[4] Ibid, Suwondo, Bambang, 1979:152
[5] dalam konsep asli dari asal kata “modern” pengertiannya adalah “baru”, dalam konteks ini maka Raden saleh adalah tokoh sah seni  modern  awal Indonesia, bukan Sujoyono atau yang lain.
[6] Umumnya yang diperdebatkan adalah antara aliran Bandung dan Yogya.
[7] Catatan-catatan dan dokumentasi bangsa asing yang dikunjungi pelaut itu, sangat berharga bagi kerajaan-kerajaan di Eropah, dan bahkan seperti Cristhoper Colombus, Marcopolo, dan lainnya dihargai sebagai pahlawan.
[8] Lihat buku, karangan Rusli Amran, Sumatera Barat dan Plakat Panjang.
[9] Scorbutus, adalah penyakit yang diakibatkan oleh kekurangan vitamin C, yang bisa berakibat kematian
[11] Lihat Wikipedia, tentang Pirngadi.

Suasana zaman Kolonial di Jakarta (Batavia)(silakan lihat video ini)



Suasana zaman Kolonial di Surabaya (silakan lihat video ini)



Catatan mengenai Moi  Indie

Pada mulanya istilah Mooi Indie pernah dipakai untuk memberi judul reproduksi sebelas lukisan pemandangan cat air Du Chattel yang diterbitkan dalam bentuk portfolio di Amsterdam tahun 1930.

Namun demikian istilah itu menjadi popular di Hindia Belanda semenjak S. Sudjojono memakainya untuk mengejek pelukis-pelukis pemandangan dalam tulisannya pada tahun 1939. Dia mengatakan bahwa lukisan-lukisan pemandangan yang serba bagus, serba enak, romantis bagai di surga, tenang dan damai, tidak lain hanya mengandung satu arti: Mooi Indie (Hindia Belanda yang Indah).

Lukisan-Iukisan Mooi Indie dapat dikenali dari penampilan fisiknya. Bentuk atau subyek maternya adalah pemandangan alam yang dihiasi gunung, sawah, pohon penuh bunga, pantai atau telaga. Selain itu kecantikan dan eksotisme wanita-wanita pribumi, baik dalam pose keseharian, sebagai penari, atau pun dalam keadaan setengah busana. Laki-Iaki pribumi juga sering muncul sebagai obyek lukisan, biasanya sebagai orang desa, penari atau bangsawan yang direkam dalam setting suasana Hindia Belanda.

Menurut M. Agoes Burhan, wama yang dipakai untuk mengungkapkan obyek-obyek itu kebanyakan cerah dan mengejar cahaya yang menyala. Karakter garisnya lembut sebagaimana lukisan Du Chattel, sampai lincah dan spontan seperti Isaac Israel, tetapi tidak ada yang sampai liar sebagaimana goresan orang-orang ekspresionis. 

Mereka menempatkan obyek-obyek dalam komposisi yang formal, seimbang, sehingga menghasilkan suasana tenang. Konsekuensinya, komposisi yang mengarah pada struktur diagonal atau bloking objek-objek dari sudut kanvas untuk menimbulkan suasana tegang dan dramatis jarang dipakai. Ciri-ciri fisik yang demikian itu merupakan manifestasi dari ide pelukisnya yang ingin merealisasikan impian untuk melihat negeri Timur, yang bagi pelukis-pelukis Belanda merupakan dunia dongeng sejak masa kanak-kanak mereka. 

Terdapat empat kelompok pelukis dari aliran Indie Mooi ini yang mulai berkembang pada awal abad ke-20 ini, yaitu: 
  • Seniman asing yang datang dari luar negeri yang jatuh cinta pada keindahan negeri ini dan menemukan obyek-obyek yang cocok di tanah Hindia. Misalnya F.J. du Chattel, Manus Bauer, Nieuwkamp, Isaac IsraelPAJ MoojenCarel DakeRomualdo Locatelli (Itali), dll. 
  • Seniman Belanda kelahiran Hindia Belanda, misalnya Henry van Velthuijzen, Charles Sayers, Ernest Dezence, Leonard Eland, Jan Frank, dll. 
  • Seniman pribumi yang berbakat melukis dan mendapat ketrampilan dari  kelompok di atas, misalnya generasi pertama Raden Saleh, generasi kedua Mas Pirngadi, Abdullah Surisubroto, dan Wakidi, kemudian generasi ketiga Basuki Abdullah, Mas Soeryo Soebanto, Henk Ngantung; 
  • Seniman keturunan Cina yang mulai muncul pada dasawarsa ketiga abad 20, khususnya Lee Man Fong, Oei Tiang Oen dan Biau Tik Kwie. Pada umurnnya, dalam melakukan publikasi karya-karyanya mereka mengadakan pameran selama di Jakarta bertempat di Bataviasche KuntkringgebouwTheosofie VereenigingKunstzaal Kolff & Co, Hotel Des Indes, dll.
Sumber:  Jakarta Go.id.

Kutipan tentang seni rupa dan "moii indie" di zaman kolonial oleh Wikipedia (2014)
Visual Arts

The natural beauty of East Indies has inspired the works of artists and painters, that mostly capture the romantic scenes of colonial Indies. The term Mooi Indie (Dutch for "Beautiful Indies") was originally coined as the title of 11 reproductions of Du Chattel's watercolor paintings which depicted the scene of East Indies published in Amsterdam in 1930. The term became famous in 1939 after S. Sudjojono used it to mock the painters that merely depict all pretty things about Indies.[97] Mooi Indie later would identified as the genre of painting that occurred during the colonial East Indies that capture the romantic depictions of the Indies as the main themes; mostly natural scenes of mountains, volcanos, rice paddies, river valleys, villages, with scenes of native servants, nobles, and sometimes bare-chested native women. Some of the notable Mooi Indie painters are European artists: F.J. du Chattel, Manus Bauer, Nieuwkamp, Isaac Israel, PAJ Moojen, Carel Dake and Romualdo Locatelli; East Indies-born Dutch painters: Henry van Velthuijzen, Charles Sayers, Ernest Dezene, Leonard Eland and Jan Frank; Native painters: Raden Saleh, Mas Pirngadi, Abdullah Surisubroto, Wakidi, Basuki Abdullah, Mas Soeryo Soebanto and Henk Ngantunk; and also Chinese painters: Lee Man Fong, Oei Tiang Oen and Biau Tik Kwie. These painters usually exhibit their works in art galleries such as Bataviasche Kuntkringgebouw, Theosofie Vereeniging, Kunstzaal Kolff & Co and Hotel Des Indes.
Contoh gambar yang dipakai sebagai alat dokumentasi dan informasi, yang tidak bisa digantikan oleh fotografi.

Artikel lanjut tentang Kedatangan Seniman Barat ke Bali


Artikel ini ada 3 halaman, untuk melihat seluruhnya, klik kanan seluruh artikel berikutnya.
(1) Pendahuluan (hal 1)
(2) Sambungan (hal 2)


Poskan Komentar

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting