Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Minggu, 04 Mei 2014

Sejarah Seni Indonesia dan Perlunya Revisi: dari Lukisan Dokumenter ke seni Lukis “Moii Indie” yang Berkasus (1600-1945)


Hal 2

Antara Imajinasi dan Kenyataan

Teknik penyajian lukisan pada zaman ini sebenarnya meliputi beberapa tahap, misalnya catatan-catatan atau sketsa dari lapangan, dibuat kembali dengan litografi atau cat air oleh senimannya. Bisa juga karya cat air atau litho yang sudah ada, di cetak kembali oleh para seniman di Eropah atau yang ada di Indonesia. Hal ini bisa terjadi karena lukisan-lukisan itu tidak dilihat semata sebagai karya seni, tetapi sebagai penggandaan dokumen sebagaimana  kita memfotocopy dokumen di zaman sekarang --yang digunakan untuk berbagai kepentingan. Kebiasaan seperti ini mungkin sekali berpengaruh terhadap seniman di zaman kolonial lainnya, Wakidi misalnya, sering merepro lukisan-lukisannya yang lama, sehingga sulit mengetahui  mana lukisan asli dan yang baru kalau tanggal pembuatannya tidak diketahui. 





Keterangan gambar: Pada akhir abad ke-16 kapal-kapal Belanda pertama berangkat ke Hindia Timur. Pieter van den Broecke menulis laporan mengenai perjalanannya yang kedua ke Hindia, yang dimuat dalam kumpulan karangan Begin ende voortgang, van de Vereenighde Nederlantsche Geoctroyeerde Oost-Indische Compagnie […] (Awal dan perkembangan perusahaan Hindia Timur Belanda yang diberi oktroi [...]). Laporan ini tidak hanya menceritakan perkembangan perjalanan, dengan ‘scorbutus[9], pemberontakan dan sejumlah besar peristiwa lain, tetapi juga menyebut semua yang ditemukan awak kapal selama perjalanan. Laporan ini sebenarnya merupakan deskripsi biologis dan antropologis yang awal. Banyak temuan para pengembara itu dianggap asing dan, karena itu, dirasakan patut dicatat. Ceritanya dihiasi dengan gambar hal-hal yang aneh ini. Yang mencolok pada gambar dengan fauna asing ini adalah burung dodo di sebelah kiri. Pemunahan jenis hewan ini adalah perbuatan yang sangat tidak patut dibanggakan orang Belanda. (sumber foto) 


Dalam reproduksi atau penyalinan data itu ke reproduksi baru tidak jarang terjadi penyimpangan, misalnya seperti lukisan di bawah ini.



Chinese playing Tchonka in Coupang, Timor, from 'Voyage Autour du Monde sur les Corvettes de L'Uranie 1817-20'. Karya aslinya adalah sketsa oleh Victor Arago (1790-1855), pengelana Perancis.

Keterangan gambar:Lukisan karya Jacques Etienne Victor Arago ini kemudian digambar ulang menjadi sebuah lukisan berjudul Femmes Chinoises Jouants Aux Échecs, Original steel engraving drawn by Danvin, engraved by Langlois, Timor 1836. Walaupun kedua lukisan sekilas memiliki tema yang sama, namun perbedaan yang signifikan dapat terlihat. Lukisan pertama mengetengahkan dua perempuan muda tionghoa yang sedang bermain congklak yang diperhatikan seorang pemuda, sedangkan lukisan yang kedua terlihat bahwa mereka sedang bermain catur. Pada lukisan pertama lebih sederhana dengan kesan grayscale dalam ruang indoor, sedangkan pada lukisan kedua lebih semarak dengan tambahan latar serta tampilan berwarna dibandingkan dengan lukisan pertama. Begitupun dengan lokasi lukisan pertama di Coupang (Kupang) Timor, sedangkan lukisan kedua, cendrung berada di Kota Dilly dengan latar menara katedralnya.
Selanjutnya, data tertulis (laporan) dengan informasi visual seperti gambar dan lukisan sama pentingnya bagi mereka. Data visual  bukan untuk dilihat “keindahannya” tetapi untuk di analisis dan dipelajari seperti yang terlihat dalam kajian-kajian terhadap lukisan Sydney Parkinson, “Rumah Kepala Suku di Pulau Sabu, (1770), lukisan JacquesEtienne Victor Arago (1790-1855), tentang jamuan makan yang dihadiri oleh orang yang sudah meninggal  dan seterusnya. Adalah sebuah tradisi bagi bangsa barat untuk menganalisis lukisan atau gambar untuk mendapatkan informasi dari lukisan. Namun tidak jarang lukisan-lukisan itu menceritakan hal-hal yang aneh seperti yang diungkapkan pengeliling dunia orang Perancis Victor Arago.

Diantara para seniman yang datang ke Indonesia pada abad ke-18 misalnya Johannes Rach (1720-1783) dan Jan Brandes (1743-1808). Keduanya pernah tinggal di Batavia, pada akhir 1770-an. Selain melukiskan pemandangan pesisir, etsa-etsa karya Rach dan Brandes menggambarkan kehidupan sehari-hari di Batavia.[10]

Rincian etsa itu bisa dibaca pada sebuah buku berjudul  Indonesië op Vrijdagmiddag atau Indonesia Pada Jumat Sore tulisan Max de Bruijn (2009). Bruijn adalah seorang sejarawan pada Rijksmuseum Amsterdam. Ia pernah tinggal di Jakarta untuk menekuni etsa-etsa yang sudah berusia ratusan tahun tadi. Bahkan ia sampai dua kali menetap di Jakarta, pada zaman orde baru dan pada zaman reformasi.


Selain orang Belanda, banyak pengelana asing dan seniman lainnya yang mencoba menggambarkan keadaan di indonesia. Beberapa pelukis yang berkesempatan melukiskan Indonesia, diantaranya tentang Kota Kupang di masa lalu seperti Felice Campi (1764-1817) dan Francesco Citterio, Keduanya berkebangsaan Italia, sedangkan Alphonse Pellion, Jacques Etienne Victor Arago (1790-1855) dan Pierre Antoine Marchais (1763-1859) adalah pelukis-pelukis berkebangsaan Prancis.


“Kasus Moii Indie”

Dapat dipastikan istilah  “Moii Indie” adalah sebutan yang dimunculkan oleh sebuah judul pameran cat air "Du Chattel" di Amsterdam tahun 1930. Istilah ini mungkin sudah muncul pula di kalangan seniman Indonesia khususnya Persagi. 

Arti “moii indie” adalah “Hindia molek”, Indonesia yang indah. Sujoyono sebagai juru bicara Persagi (persatuan ahli gambar Indonesia) mengkritik seni lukis "moi indie" ini sebagai  seni lukis yang hanya mementingkan ketenangan serta suasana "sorga" Hindia Belanda serta keindahan di zaman kolonial. Dan sering pula disebut jika yang beraliran Moii Indie ini adalah pelukis Raden Abdullah Suriosubroto (1878-1914), Wakidi (1889-1979) dan Raden Mas Pirngadi (1875-1936). Kemudian sekelompok  pelukis barat yang menggambarkan lanskap  indonesia seperti  Dezentje, AdolfsR. Locatelli, Jan Frank, Rudolf Bonnet, Walter Spies, Theo Meiyer, Strasscher, Sayers, Dake, Le Mayeur, dan Arie Smith, dan disamping beberapa pelukis Indonesia lainnya seperti Basuki Abdullah (Suwondo:1979:153).

Jika ketiga pelukis ini masih hidup (R. Abdullah Suriosubroto, Wakidi R. M Pirngadi) dan ditanya apa mereka beraliran Hindia Molek, dapat dipastikan  jawabannya tidak. Penulis yang pernah belajar dengan Wakidi antara (1963-1969) atau “saksi hidup”; beliau tidak pernah mengajarkan aliran atau ajaran “Moi Indie” ini. Jadi sejarah seni rupa Indonesia perlu direvisi lagi tentang ini.

Wakidi hanya menganggap beliau tukang gambar dan pernah belajar menggambar waktu sekolah  Belanda (HIS), di Bukittinggi, bukan di Padang.  Jadi “moii indie” bukanlah aliran atau faham yang dianut oleh pelukis  atau seniman di zaman ini seperti yang dianggap oleh banyak generasi sekarang. Tetapi sebuah ciri-ciri atau gejala tentang lukisan sebagai sambungan dari lukisan dokumenter di zaman kolonial tentang Indonesia. 

Selanjutnya, mungkin pemikir seni di zaman Persagi mengabaikan kenyataan bahwa adanya seni lukis semacam itu adalah akibat pengaruh  gaya seni realisme dan naturalisme yang berkembang di Eropah dan Amerika yang ikut mempengaruhi seni Hindia Belanda saat itu.Misalnya  gaya seni kelompok Pre-Raphaelite Brotherhood di Inggris, gaya seni Hudson River School di Amerika; gaya seni sekolah Barbizon School di Perancis yang memusatkan pengamatan lebih dekat kepada alam.

Wakidi juga tidak hanya menggambarkan lanskap atau lukisan pemandangan, walaupun lukisannya yang terkenal adalah “Pemandangan di Mahat”, atau “Ngarai Sianok”. Banyak  lukisan-lukisannya tentang manusia khususnya wanita dalam konteks budaya Minangkabau. Dan lukisannya tentang perempuan bukanlah untuk menggambarkan kecantikan wanita. Tetapi potret tentang kehidupan budaya dan sosial di Minangkabau seperti “suasana di Balai Adat pada sore hari”, “Perempuan  mengambil air dengan “parian”, perempuan ke pasar atau di jalan. (baca tulisan ini. Beberapa karya wakidi)

Gunung dengan rumah Minang di latar depan, circa / sekitar 1925 (sumber foto)

Keterangan gambar: Lukisan cat air ini diperoleh dari Kumpulan foto dari Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies, KITLV Collections. Menurutnya, hampir tidak ada informasi mengenai lukisan cat air ini, selain bahwa cat air ini menjadi bagian tiga seri lukisan yang dibuat oleh murid sebuah Hollands-Inlandsche School (HIS) dan yang dihadiahkan kepada KITLV oleh Ibu S.C.L. Vreede- de Stuers pada tahun 1926. Rupanya menggambar termasuk kurikulum pengajaran tipe sekolah ini. Lukisan cat air itu memberi kesan yang bagus mengenai pemandangan alam di Minangkabau (Sumatera Barat). Menurut penulis lukisan cat air ini adalah lukisan cat air Wakidi.

Lukisan lanskap atau lingkungan (environment) yang di lukis orang Belanda adalah bagian dari dokumentasi dari sebuah lingkungan atau tempat, lengkap dengan suasana, cuaca, flora, fauna atau tradisi masyarakat setempat. Kalau ciri-ciri lukisan seperti ini adalah ciri “moi Indie”, ciri ini sudah ada pada lukisan Van Den Kherkoff (1830-1908), bahkan ciri ini sudah ada pada etsa atau litografi pengelana yang datang ke Indonesia sejak abad ke 16 atau 17 seperti yang diuraikan pada laman ini. Sedangkan di banyak penulisan sejarah seni rupa Indonesia yang ada, mengatakan bahwa “lukisan-lukisan Moii Indie berlangsung antara 1920-an sd 1938-an.

Pirngadi misalnya, bersama J.E. Jasper, seorang peneliti bangsa Belanda, berkeliling ke pelosok daerah di Indonesia hanya dalam rangka mendokumentasikan kerajinan rakyat yang ada pada waktu itu, kemudian dibukukan sebanyak lima jilid, berjudul ‘De Inlandsche Kunst Nijverheid In Ned. Indie’s’ Graven Hage. Jilid 1, tentang Anjaman,(1912). Jilid 2 tentang Tenunan, (1912). Jilid 3 tentang Batik, (1916). Jilid 4 tentang Emas dan Perak, (1927). Dan jilid 5 tentang logam lain selain emas dan perak, (1930). Lukisan-lukisan Pirngadi jarang ditemukan, kalau ada dapat dipastikan bahwa lukisannya bersifat dokumenter, bukan “moii indie”.[11]

Lukisan-lukisan R. Abdullah S., yang penulis amati seperti lukisan “Pemandangan di Jawa Tengah”, “Dataran tinggi Bandung”, dari koleksi Sukarno, terlihat bersifat fotografis sebab tidak terlihat kesan mengada-ada dalam lukisan itu untuk menonjolkan keindahan alam. Kalaupun indah, alam lingkungan yang di lukisnya memang seperti itu.

Melihat dokumentasi yang ada, terlihat bahwa ciri-ciri seni seperti yang disebut sebagai seni lukis Moii Indie itu mulai berlangsung sejak pemerintahan Belanda mulai stabil di Jawa, dan para pelukis yang asli dari Eropah mulai masuk ke Jawa dan dapat berkarya dengan tenang, walaupun pemberontakan masih ada di sana-sini.

Hal ini terlihat dari lukisan-lukisan pelukis pada pertengahan abad  ke 19, seperti  yang terdapat pada ciri-ciri lukisan Van Den Kherkoff (1830-1908), yang melukiskan khusus lanskap dan kehidupan masyarakat  di sekitar kota Malang. Namun ciri-ciri dari lukisan dokumenter masih terlihat pada karya-karya Kherkoff, sebab lukisannya disamping bersifat fotografis, juga menampakkan ciri-ciri lukisan etsa dokumenter karena kaya dengan detail penampilan berbagai jenis flora seakan mencatat apa saja tumbuhan yang dilihat pelukis, yaitu merekam apa yang ada tanpa mengurangi atau menambah seperti yang terdapat pada lukisan romantisme yang mengaburkan objek dan melebih-lebihkan sesuatu untuk mencapai kesan romantik.


Karya L.J. (Leo) Eland 1952, Olieverfschildering voorstellend het uitplanten (di Jawa)  van de rijst door L.J. Eland, 115 x 170 cm. (sumber foto) 

Karya-karya yang baik dari corak seni lukis yang menggambarkan lanskap indonesia ini, --khususnya dari pelukis Belanda sendiri-- dapat dilihat pada karya-karya L. J. (Leo) Eland 1884-1952, seorang pelukis Belanda yang banyak melukiskan  daerah pertanian dan perkebunan di Indonesia.  



Artikel ini ada 3 halaman, untuk melihat seluruhnya, klik kanan seluruh artikel berikutnya.
(2) Sambungan


Poskan Komentar

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting