Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Rabu, 08 Oktober 2014

Pengertian Seni: Friksi Konsep dan Diskrepansi Arti Seni-2

Hal.2

Timbul pertanyaan apakah seni rupa itu adalah “fine art”, kenapa seni rupa itu perlu dibagi lagi atas seni murni dan seni pakai, apakah keduanya terjemahan dari fine art dan  applied  arts

3. Samakah Seni Rupa dengan Seni Murni? 

Friksi konsep pada buku Seni Budaya

Diantara istilah seni rupa dan seni visual  bisa terjadi friksi, seni pakai (aplied arts) telah tergeser menjadi “seni terapan”. Seni rupa dan terapan, keduanya dipakai untuk pengertian yang sama, pada hal mereka berbeda.

Pertama seni rupa lazim dianggap sebagai “seni murni”, yang diantara seni rupa murni itu adalah “lukisan”, pernyataan ini tidak salah. Sebab seni rupa dipakai untuk menyatakan kegiatan melukis, membuat patung, keramik dan seni grafis.Contoh dibawah ini (yang ditulis di buku Seni  Budaya, tahun 2014) memperlihatkan hal itu.
“Guru seni budaya bersama siswa mempersiapkan dan melaksanakan aktivitas mengapresiasi seni rupa murni (seni lukis), sehingga kompeten merasakan keindahan dan makna seni, kemudian menerapkan dan merasakan keindahan itu dalam kesehariannya. (Bangun, Sem Cornelius; Zebua, S., Narawati,T., Maua, Z.R. Dkk. 2014:1) [4]
Pada buku yang sama, ada berapa kosa kata  lain yang dapat menimbulkan friksi dan dikrepansi makna: Seni Rupa (murni, desain dan kriya), hal 11; Seni rupa murni (hal 1, 3, 6, 11,12,14), Penciptaan seni murni (hal 12), Perupa murni (hal 6) x Perupa tidak murni?; Seni rupa murni dan terapan (hal, 3); Aspek konseptual = sumber inspirasi, interes seni, interes bentuk, prinsip estetik; Aspek visual = struktur visual, komposisi, gaya pribadi.
    Beberapa catatan
    a. Friksi Seni (arts) sudah diuraikan pada awal tulisan ini
    b. Friksi Seni Rupa
    Seni rupa tidak perlu di bahas, oleh karena sejak awal pemakaian kata ini di Indonesia menunjuk kegiatan kategori “fine art” seperti lukisan, patung, keramik dan grafis. Friksi Seni Rupa terjadi saat di luaskan menjadi “seni visual” (visual arts). Friksi juga terjadi saat seni rupa di bagi kepada seni rupa murni dan seni rupa terapan. Kedua konsep ini agak kabur, lihat saja rumus ini.  Seni Rupa = seni Murni, Seni Rupa (seni murni) = seni rupa murni + seni rupa terapan. Berarti karena sudah ada terapan dia tidak murni lagi.

    c. Seni Murni dan Seni Terapan
    Apa saja yang termasuk “seni murni” dan bukan seni murni di jelaskan oleh (Arini, 2008), sebagai berikut.
    Seni rupa modern terbagi atas dua kelompok besar yaitu seni murni dan seni terapan. Seni terapan terdiri dari desain dan kriya. Desain dan Kriya bertujuan untuk mengisi kebutuhan masyarakat akan bidang estetis terapan. Perkembangan keilmuan seni rupa dalam beberapa tahun terakhir ini mengalami perluasan ke arah wahana besar yang kita kenal sebagai budaya rupa (visual culture). Lingkup sesungguhnya tidak hanya cabang-cabang seni rupa yang kita kenal saja, seperti lukis, patung, keramik, grafis dan kriya, tapi juga meliputi kegiatan luas dunia desain dan kriya (kerajinan), multimedia, fotografi. Bahkan muncul pula teori dan ilmu sejarah seni rupa, semantika produk, semiotika visual, kritik seni, metodologi desain, manajemen desain, sosiologi desain, dan seterusnya.”: (Arini, Sri Hermawati Dwi, dkk.2008:290.)[5]
    Seperti yang kita ketahui, konsep ini, adalah konsep lama yang masih berlaku sampai sekarang yang asalnya “fine arts” dan “aplied arts”. Tetapi bisa juga dipertanyakan kenapa disebut “seni terapan”, dan seni terapan yang terdiri dari desain dan kriya. Apakah untuk memenuhi “estetika terapan”. Bukankah ini friksi dan diskrepansi pengaruh istilah dalam beberapa buku yang berjudul “Estetika Terapan”?  

    Melihat sejarah dan tradisi seni akademis di Indonesia, kita mengerti bahwa “seni murni” adalah sebagai terjemahan tidak langsung dari “fine art”.  Namun telah terjadi friksi. Sebab “fine” (“menyenangkan, sangat baik, halus”)  bergeser kepada “murni (“pure”). Kita paham, bahwa arti murni ini, belum tentu menyenangkan. Apakah maksudnya "murni" dalam  “seni murni”? Atau mungkin “murni estetis”? Di bawah adalah kutipan tentang ini.
    Fine arts = “arts creation of beautiful objects: artistic work that is meant to be appreciated for its own sake, rather than to serve some useful function” (Encyclopaedia).
    Walaupun banyak menimbulkan kontroversi, mungkin perlu juga melihat teori  Jhon Dewey (1943:80-81) tentang pengalaman estetik  dalam bukunya "arts as experirnce". Bahwa fine art itu adalah sebuah proses yang mengikut sertakan pengalaman manusia pelakunya

    Teori Pengalaman Seni Dewey

    Pada bab kelima dari bukunya (Arts as Experience) tentang "The Expressive Object" dia menjelaskan bahwa objek seni tidak harus dilihat secara terpisah dari proses yang menghasilkannya, maupun dari visi individualnya. Teori yang hanya berfokus pada objek (tanpa unsur ini), dan atau objek merupakan benda-benda lain, adalah benda yang tidak memiliki kontribusi individu seniman.  Dalam hal ini dia melihat pentingnya “pengalaman estetik” (esthetic experience) saat bekerja seperti “melukis, puisi, musik dan mematung” mengandung unsur emosi.  

    Yang terpenting dari teori Dewey adalah bahwa seni atau fine art itu adalah sebuah kategori kegiatan yang berfokus pada “pengalaman estetik dan mengikut sertakan emosi pelaku”. Dewey memegang dua teori tentang peran emosi dalam pengalaman estetis, (1) objek estetis membangkitkan emosi pengamat, dan (2) bahwa kandungan makna seni secara objektif, adalah emosi. (Stanford Encyclopedia of Philosophy, 2006). Dewey nampaknya tidak suka dengan istilah “artistik”, sebab menurutnya istilah ini ambigu  yang memaparkan antara persepsi dengan penikmatan seni.  Apakah bedanya"estetik" dengan "artistik? Namun artistik sering dianggap sebagai penikmatan kualitas bendanya, sedangkan estetik juga menerangkan hal yang sama. Apa bedanya? Dalam hal ini dia menyatakan.
    “We have no word in the English language that unambiguously include what is signified by the two word “artistic” and esthetic to that perception and enyoyment, the absence of a term designating the two processes taken together is unfortunate. (Dewey, 1943. Ibid. P.46
    Dari pandangan Dewey, kita dapat mengerti bahwa Istilah estetika terapan adalah pergeseran hasil benda pakai menjadi benda seni (kata sifat). Yang terakhir ini adalah kenikmatan yang diperoleh dari dari benda pakai. Oleh karena itu penulis sebenarnya kurang memahami istilah estetika terapan kecuali itu hanya "persepsi" terhadap benda pakai, mungkin juga hal ini adalah "produk desain pilihan" sesuai dengan selera (taste), gaya hidup, sosial yang berlaku. Pilihan estetik user (pemakai), ditentukan oleh kondisi sosial budaya yang berlangsung. Termasuk oleh "pilihan desain" oleh kelompok industri untuk memenuhi selera pasar. 

    Disamping itu, rumusan-rumusan apa yang disebut "estetik" tidak lagi terbatas hanya pada masalah estetika "bentuk" (visual) dan "fungsi" (utilitas) material, dan yang disebut estetika itu bisa masuk kepada "trik-trik" agar produksi tersebut menjadi pilihan konsumen pada waktu tertentu, oleh karena adanya persaingan pasar pada poduk yang sama. 

    Akibatnya, rumusan estetika kemudian di cari pada wilayah yang lebih luas seperti keyakinan, kepercayaan, tradisi, budaya, perilaku, streotipe, kebiasaan, hal-hal yang menjadi tabu, norma-norma, konvensi, dan sebagainya yang sebenarnya adalah wilayah pengetahuan "pseudo-psikologi" yang secara sadar atau tidak sadar melekat kepada estetika terapan. Dan selanjutnya ilmu "sosiologi desain" yang berusaha melihat fenomena desain dalam konteks sosial.

    Masalah pokok yang sebenarnya adalah kepentingan industriawan dalam memproduksi barang yang terkait dengan masalah desain. Desainer yang bekerja di industri tentu mengikuti kebijakan perusahaan dan sebelum bekerja belajar terlebih dahulu yang namanya "sosiologi desain", "estetika terapan" untuk memperluas wawasannya bahwa estetika itu bukan sekedar keindahan bentuk dan fungsi barang.

    Sumber masalah friksi adalah teori dan makna estetik sendiri bisa bermuka dua sesuai konsep Dewey adalah pengalaman saat seniman berkarya dengan ekspresi dan unsur emosinya. dan pengalaman estetik pengamat saat mengamati produknya (misalnya musik). Estetika terapan menimbulkan kesan bahwa produk benda pakai seakan produk pengalaman estetik, sedangkan produk benda pakai adalah produk desain. 

    Pendekatan teori Dewey disebut pendekatan "Pragmatis", pendekatan ini masih relevan sampai sekarang karena tidak terkungkung dengan estetika sebagai filsafat, tetapi berkenaan dengan estetika yang ada dalam kehidupan keseharian manusia, bahkan beliau adalah pelopor dalam masalah seni multikulturalisme.

    Fenomena-fenomena pengamatan seni/apresiasi seni, tidak bisa diartikan “pengalaman estetik seni” tetapi persepsi estetik seni. Sebab yang dimaksud seni disini adalah kegiatan seni, bukan kegiatan mempersepsinya. Ada fenomena persepsi lainnya dari persepsi seperti persepsi “bottom-up”, dan “top-down” dsb. yang terangkum pada dua jenis respon manusia (respon estetik dan respon kritik).



    Konsep dan prinsip estetik (nirmana) oleh penulis Ocvirk, Stinson, Wigg, and Bone dalam bukunya Art Fundamentals, 1990.
    Ada anggapan bahwa prinsip organisasi bentuk estetik (komposisi) nirmana di atas satu-satunya prinsip yang dipakai dalam berkarya, hal ini juga dipelajari pada tari, drama dan musik. Tapi itu bukan satu-satunya prinsip organisasi estetik pada bidang seni rupa. Dalam hal ini nampaknya ada pergeseran makna yang berlangsung ratusan tahun lamanya. 

    Asal-usulnya adalah pernyataan Aristoteles, dalam "Poetics", bahwa sebuah karya seni itu memiliki ciri-ciri misalnya (1) kesatuan organis, (mirip makhluk hidup) (2) "kompleksitas dan keberagaman", (3) "tema dan variasi tema" (misalnya dalam drama, lukisan), (4) "perkembangan atau evolusi", (5) "keseimbangan (balance)". Yang dimaksud Arsitoteles adalah ciri-ciri seni. yang kalau dipikir-pikir analog dengan tubuh manusia (yang indah?).

    Friksi yang terjadi adalah jika “ciri-ciri seni” itu bergeser maknanya menjadi “prinsip-prinsip penciptaan”. Misalnya Eny Kusumastuti (2009) mengatakan bahwa dalam proses penciptaan sebuah karya seni mengandung ciri-ciri bentuk estetis yang dibahas oleh ahli estetik De Witt H. Parker dalam bukunya The Analysis of Art (The Liang Gie 1976: 48). Artinya, The Liang Gie, mengutip Parker, dan Parker mengutip lainnya, kutip mengutip ini dalam perjalanannya menggeser makna (arti) yang sebenarnya maksud Aristoteles. Yang dimaksud Arsitoteles adalah ciri-ciri seni. Mengenai "kesatuan organis seni" dia menjelaskan sbb.
    "A work of art must have what Aristotle called “a beginning, a middle, and an end”; it must be unified, it must “hang together” as one entity. Everything, of course, has some degree of unity or other. Even a collection of things, such as a woodpile, has some unity in as much as it can correctly be called one thing: it is a collection, but it is a single collection. But the unity desired in works of art is much greater than this: it is more like the unity of the higher organisms in which every part functions not independently of the others but interdependently with them, and it is this interdependency of the parts that constitutes an organic unity. ............................Philosophers of art have often noted that the purest examples of organic unity in the universe are not organisms but works of art: here the interdependency of parts often achieves a state of such perfection that it could often be said, of a melody or a sonnet, that if this note (or word) were not there, in just the place that it is, the effect on the entire remainder of the melody or poem would be disastrous".
    Jika kemudian ada bagian-bagian dari teori Aristoteles (ciri-ciri seni ini)  yang menjadi prinsip estetik seni rupa atau lainnya (nirmana, rupa dasar, dasar visual dsb), sebetulnya tidak menjadi masalah. Tetapi uraian ini ingin menjelaskan bahwa prinsip seni (yang disebutkan Aristoteles) kurang tepat dianggap sebagai prinsip estetik. Sebab prinsip estetik pada setiap jenis seni sebenarnya berbeda-beda sesuai perkembangan ilmu seni yang bersangkutan, prinsip estetik sastra misalnya berbeda dengan prinsip estetik seni lukis walaupun ada unity, variasi dsb)

    Dibawah ini adalah prinsip estetik seni rupa yang juga berasal dari era Yunani kuno (Golden section), contoh lain adalah prinsip organisasi estetik Fibonancy di abad ke 17, yang juga di pakai pada masa kini. Ini salah satu bukti pengertian "ciri seni" kemudian bergeser (terjadi friksi) menjadi "ciri estetik" yang pada masa kini menjadi (nirmana, rupa dasar, dasar visual). Pada hal, ada prinsip estetik, yang sebenarnya berbeda dengan prinsip-prinsip yang dimiliki seni.

    Catatan: Penulis menduga bahwa apa yang dipelajari dari nirmana, rupa dasar (basic visual design) tentang unity, kesimbangan , proporsi sebenarnya berasal dari teori Gestalt dan filsafat seni, dimana para filsuf telah menafsirkan dengan caranya sendiri dalam memandang keindahan. Pada hal di hari-hari kemudian para ahli psikologi akhirnya menemukan bahwa estetika itu hanya bagian dari emosi manusia yang disebut affect (afek), yaitu semacam emosi manusia terhadap suatu objek (yang sifatnya sementara). Untuk hal ini bisa di baca pada buku Donald A Norman (2002) The Design of Everyday Things(pdf)
    Penerapan prinsip estetik Golden Mean pada komposisi lukisan. Sumber. Couto,N. 2008


    Penerapan prinsip estetik Fibonacci pada komposisi lukisan. Howard David Jhonson (2006)

    Kritik dan sokongan pada teori Dewey.


    Namun demikian, ide Dewey pada estetika dan seni telah sering dikritik dan dipertahankan selama tujuh puluh lima tahun setelah publikasi bukunya "Arts as Experience". Vivas (1937) misalnya berpendapat bahwa Dewey memegang dua teori tentang peran emosi dalam pengalaman estetis, dimana objek estetis membangkitkan emosi penonton, dan yang lainnya bahwa kandungan makna seni, secara objektif, adalah emosi. Tapi, menurutnya, estetika eksperimental telah menunjukkan bahwa emosi merupakan akibat tidak disengaja dari aspek estetik, sehingga tidak harus dimasukkan dalam definisi estetik. Objek estetika yang sama dapat membangkitkan reaksi emosional yang berbeda pada pengamat yang berbeda. Beberapa orang yang terlatih dalam musik bahkan menyangkal bahwa pengalaman estetis yang memadai juga meliputi emosinya. Dewey juga belum memberikan penjelasan tentang cara-cara bagaimana sebuah objek dapat mendatangkan emosi. Vivas sendiri mendefinisikan pengalaman estetis dalam hal perhatian yang penuh dari pengamat yang sifatnya imanensi dari objek (menyadari betul objek itu).

    Namun untaian pemikiran pro-Deweyan baru-baru ini dikembangkan lagi oleh Crispin Sartwell dalam menanggapi multi-kulturalisme dan estetika sehari-hari (Sartwell 1995, 2003) dan oleh Yuriko Saito (Saito 2007) dalam usahanya untuk melanjutkan telaah estetika untuk kehidupan sehari-hari. Pada 1980-an estetika Dewey akhirnya menerima penjelasan yang sangat baik dalam karya Thomas Alexander (Alexander 1987). Sementara itu, telah ada minat yang stabil dalam estetika Dewey dalam filsafat pendidikan, dengan artikel yang muncul secara teratur dalam publikasi seperti Journal of Aesthetic Education and Studies in the Philosophy of Education dan beberapa buku (Jackson 1998, Garrison 1997, Greene 2001, Maslak 2006, Granger 2006a).

    Untuk menjelaskan apa itu seni murni dan desain, dan kriya kita tidak perlu membahas aspek seni dan estetika secara mendalam. Atau apakah ada polemik  teori Dewey atas publikasi bukunya"Arts as Experience". Namun sekarang kita mungkin mengerti tentang perbedaan antara fine art dengan produk benda pakai, kriya dan desain, gunanya adalah untuk membedakan antara seni murni (seni rupa) dengan  non-seni rupa, yang melibatkan pengalaman seni dalam kegiatannya. 

    Gambar. 1 Seni dan fine art, adalah sebuah kategori pengalaman dalam berseni, dan karya seni dapat memperluas interpretasi pengamatnya.

    Menurut penulis timbulnya istilah estetika terapan itu akibat konflik wacana yang timbul dari interpretasi terhadap kedua istilah itu (murni - tidak murni). Istilah seni terapan diasumsikan muncul karena produk benda pakai, kriya dan desain juga dapat memberikan pengalaman keindahan. Tetapi banyak orang lupa bahwa kegiatan pada kriya dan produk desain  bukanlah kegiatan yang tujuannya memberikan pengalaman seni saat berkarya. Benda pakai adalah sebuah kategori produk untuk memberikan pengalaman fungsi pakai dan juga pengalaman persepsi.

    Lain lagi dengan bidang desain kegiatan ini ditujukan untuk memberikan pengalaman pemecahan masalah (problem solving) kepada desainer walaupun kedua pengalaman terdahulu (pengalaman seni dan persepsi)  ada padanya, tetapi bukan tujuannya). Misalnya, salah satu masalah yang harus dipecahkan desainer adalah masalah bentuk yang harmonis, selaras, menarik (persepsi keindahan).  Namun yang lebih penting dari itu bagi desain adalah masalah fungsi, kenyamanan, komunikatif dan kategori preskriptif lainnya.

    Karya desain ditujukan agar semua orang (mempersepsi) memberikan penilaian yang sama berarti bukan untuk di interpretasikan secara konotatif (seperti aspek emosi contoh Dewey di atas). Sebagai contoh, sebuah pegangan pintu, harus diinterpretasikan tunggal, bahwa pegangan itu saat dilihat reaksi orang adalah ‘harus ditekan ke bawah”.Jika ada orang menginterpretasikannya di putar ke atas, pintu tdak bisa di buka.Inilah aspek komunikasi dalam karya desain

    Hal ini berbeda dengan tujuan seni, membuat karya seni yang  baik adalah agar mampu memperluas  interpretasi setiap orang. dalam kritik seni dijelaskan tingkat keluasan interpretasi.


    Gambar 2. Rancangan itu untuk dimengerti, berbagai bahasa visual pegangan pintu , putar-tarik, tekan-tarik.Fungsi komunikasi terlihat dari  otomatisasi respon manusia terhadap ruang, benda dan lingkungan. dari melihat (persepsi)  ke bertindak ini disebut "affordance" Sumber. Penulis.
    Berbeda dengan bahasa visual seni rupa, bermacam hal dapat diutarakan dari karya seni secara bebas, tergantung cara menafsirkan. [6] Paul Martin Lester dalam komunikasi gambar (citra) budaya visual, menerangkan  ada enam perspektif dalam menilai sebuah citra gambaran. Jadi istilah “seni” pada “seni terapan” pada dasarnya bias dan ambigu, sebab  karya-karya desain bukan bertujuan memberikan pengalaman seni dalam arti yang sebenarnya, tetapi pengalaman dalam mendesainKeduanya memiliki arti yang dapat berbeda.

    Poskan Komentar

    Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting