Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Rabu, 08 Oktober 2014

Pengertian Seni: Friksi Konsep dan Diskrepansi Arti Seni-1

Revisi : 24-10-2014
Oleh 
Nasbahry Couto
 
Karya Nasbahry C. "Indonesia", Grafis Adobe Photoshop.
Friksi konsep, adalah pergeseran konsep yang dapat menimbulkan perbedaan pendapat. Sedangkan diskrepansi makna adalah ketidak cocokan makna. Misalnya friksi konsep seni bergeser artinya menjadi seni murni. Menjadi "sani", "genie", "cilpa"dsb. "Menggambar" menjadi "berekspresi", "kriya menjadi "seni kriya" dan sebaliknya. Prinsip seni menjadi prinsip estetika, dsb. Friksi dan Diskrepansi makna, diperkirakan telah berlangsung lama  dalam dunia seni Indonesia. Tetapi sayang dibiarkan berlarut-larut, dengan tidak adanya penulisan kritik seni, tidak ada yang menulis, dan dibiarkan dalam khasanah seni termasuk dunia pendikan. Dari pada tidak berbunyi, maka penulis memberanikannya menulis. Dan tentu saja tidak semua friksi-friksi itu dibahas dalam tulisan pendek ini, karena niatnya hanya untuk menyegarkan ingatan kembali tentang ketidakcocokan makna dalam pemakaian bahasa untuk seni. Oleh karena itu contoh-contoh diberikan adalah hal-hal yang biasa dan dekat dengan pemakaian sehari hari...., semoga berguna.
Menurut (Atkins, 1990) dan juga Barnes (2003-9) akar masalah  friksi dalam seni, dimulai dari  hal penjabaran dan pengelompokan seni modern. Orang mulai sibuk membuat kategori masing-masing. Ini kotak seniman, dan ini pendidikan (seni untuk pedidikan) dan bisnis (seni komersial). Timbulnya konsep-konsep baru dalam seni bukan tidak bermasalah. Bukan saja oleh konsep gaya dan aliran seni, atau oleh keragaman seni dan budaya, friksi itu bisa terjadi karena adanya penekanan-penekanan kepada  aspek interesting, komersialnya. Kepada aspek visual,  kepada makna dan fungsi seni. Penjelasan mengenai kategori pengertian seni-- kalau kita pelajari dari sejarah seni --akan berbeda-beda maksudnya. Menurut penulis  friksi yang terjadi pada bidang seni adalah akibat pencarian konsep, keterbukaan dan kebekuan konsep seni dari kemungkinan hegemoni bermacam arti dan bermacam motivasi yang melatar belakanginya. 

1. Friksi dalam istilah Arts (Seni)

Banyak tulisan berusaha untuk menjelaskan apa itu seni, tetapi semakin diterangkan, semakin kabur pengertiannya. Hal ini terjadi karena cara menjelaskannya kurang baik. Seperti yang dikatakan oleh Atmazaki (2005). Untuk menjelaskan definisi katanya ada tiga syarat menulis sebuah definisi yang baik dengan langkah: (1) nama istilah atau konsep harus jelas, (2) menempatkannya dalam suatu kategori, dan (3) menerangkan perbedaannya dengan anggota lain dalam kategori yang sama. Menurutnya, sering definisi yang baik dilanjutkan dengan contoh, ilustrasi, atau kasus.  Menurut Atmazaki, sebuah definisi yang jelek apabila terikat dengan waktu dan tempat.

Contoh pertama: friksi estetik
Pergeseran konsep bisa saja pada hal yang sederhana. Misalnya definisi yang ada pada kamus yang biasanya di catat-catat mahasiswa. Seperti contoh di bawah ini. Dalam kamus ditemukan: "Art (seni)  artinya adalah penciptaan benda-benda yang indah dengan melibatkan pikiran dan perasaan manusia". Definisi ini dikutip dari bahasa asing. Tetapi tidak disertai oleh contoh, kasus atau ilustrasi yang lengkap, menjadi kurang jelas.
Arts: “creation of beautiful things: the creation of beautiful or thought-provoking works, e.g. in painting, music, or writing”[1]
Artinya, seni adalah kreasi berbagai hal yang indah, kreasi sesuatu yang cantik atau kerja yang dirangsang oleh pikiran seperti lukisan, musik atau tulisan.
Diskusi: Pengertian seni ini sebenarnya cukup baik tetapi di ramalkan akan terjadi pergeseran makna, atau friksi. (1) Karena tidak ada penjelasan tentang sifat-sifat seni indah itu apa. (2) karena ukuran-ukran keindahan pada lukisan, musik dan sastra misalnya bisa berbeda-beda. (3) Keindahan itu tidak hanya pada seni, pesawat terbang (karya desain) juga bisa indah, alam juga bisa indah. dsb. Kemudian jika pendapat orang yang dipakai tentang sesuatu yang indah dapat berbeda bagi setiap orang. Indah menurut Anda belum tentu indah menurut saya. Ukurannya relatif. Karena itu definisi ini sebaiknya jangan dipakai. Artinya jika Anda membicarakan "keindahan" Anda akan masuk ke wilayah filosofis. Yaitu membicarakan estetika dan hal itu tidak akan pernah selesai jawabannya.

Contoh kedua: friksi oleh kategorisasi
Contoh kedua di bawah mungkin lebih baik, dimana seni (arts) didefinisikan lebih luas, yang dikutip dari Barnes, Bernadine, (2009), tetapi juga bisa menimbulkan masalah karena Visual arts (bahasa Inggris) tidak bisa di terjemahkan langsung kepada "seni rupa" dalam bahasa Indonesia.
“Art, the product of creative human activity in which materials are shaped or selected to convey an idea, emotion, or visually interesting form. The word art can refer to the visual arts, including painting, sculpture, architecture, photography, decorative arts, crafts, and other visual works that combine materials or forms. We also use the word art in a more general sense to encompass other forms of creative activity, such as dance, drama, and music, or even to describe skill in almost any activity, such as “the art of bread making” or “the art of travel.” In this article art refers to the visual arts.”
"Art, produk dari aktivitas kreatif manusia di mana bahan dibentuk atau dipilih untuk menyampaikan ide, emosi, atau bentuk visual yang menarik. Seni kata dapat merujuk pada seni visual, termasuk lukisan, patung, arsitektur, fotografi, seni dekoratif, kerajinan, dan karya visual lainnya yang menggabungkan bahan atau bentuk. Kami juga menggunakan  kata seni  dalam arti yang lebih umum untuk mencakup bentuk-bentuk lain dari aktivitas kreatif, seperti tari, drama, dan musik, atau bahkan untuk menggambarkan keterampilan di hampir setiap kegiatan, seperti "seni pembuatan roti" atau "seni perjalanan. "seni dalam  artikel ini menunjuk atau mengacu pada seni visual." 
Diskusi: Contoh kedua ini dapat memperkuat arti  kamus di atas yang mendefinsikan "seni sebagai kegiatan manusia dalam berbagai material, yang dapat mengkomunikasikan ide (konsep-konsep) dan emosi manusia, disertai juga dengan ilustrasi dan kasus. Namun Barnes telah mengadakan kategorisasi seni sebagai seni visual. Dia  membatasi seni dalam uraiannya, agar tidak terjadi salah pengertian.Artinya  dia memagar permasalahannya "bahwa yang dibicarakannya dibatasi hanya pada "visual arts". Timbul pertanyaan, apa yang dimaksud dengan visual arts apakah sama dengan seni rupa? Apakah maksudnya seni pada seni visual?

Contoh ketiga: Friksi karena terlalu banyak ilustrasi/contoh
Contoh ketiga ini, kalau kita teliti maksudnya memiliki persamaan dengan yang kedua. Disini sedikit terlihat friksi, pergeseran konsep karena memberi penekanan bahwa arti seni itu adalah "seni visual" seperti yang tertera dalam baris  kalimat (t is a term broader than "art", which usually means the visual arts).
“The arts is a broad subdivision of culture, composed of many expressive disciplines. In modern usage, it is a term broader than "art", which usually means the visual arts (comprising both fine art, decorative art, and crafts). The arts encompasses visual arts, performing arts, language arts, and culinary arts. Many artistic disciplines involve aspects of the various arts, so the definitions of these terms overlap to some degree. (Wikipedia)
"Seni adalah sub bagian yang luas dari budaya, terdiri dari berbagai disiplin ilmu ekspresif. Dalam penggunaan modern, budaya (itu) adalah istilah yang lebih luas daripada "seni", yang biasanya berarti seni visual (terdiri di antara seni rupa, seni dekoratif, dan kerajinan). Seni meliputi seni visual, seni pertunjukan, seni bahasa, dan seni kuliner. Banyak disiplin artistik melibatkan aspek dari berbagai seni, sehingga definisi dari istilah-istilah ini tumpang tindih untuk beberapa derajat.
Diskusi: Contoh ketiga ini, menjelaskan bahwa penyebutan kata seni itu lazim dipakai untuk menunjuk yang seni yang visual (tangible). Kita dapat memahami seni itu adalah bagian dari budaya kita, tetapi mungkin kurang memahami bahwa yang ditunjuk seni itu adalah visual arts. Mungkin kita sedikit memahami bahwa semua buku yang memakai kata arts, maksudnya adalah “visual arts”. Misalnya History of Arts, yang dibahasnya adalah "seni visual" seperti lukisan, patung, keramik, dan tidak ada pembahasan mengenai musik, tari atau sastra dalam buku itu.

Sebelum kita melanjutkan, kita perlu berhenti sejenak dan merenungkan definisi-definisi di atas Apakah tidak terjadi friksi makna dengan definisi seni yang kita kutip selama ini? Jawabnya bisa tidak meyakinkan.

Contoh-contoh friksi makna itu, diperlihatkan pada bagian lanjut  tulisan ini. Contoh-contoh di bawah ini, dapat memungkinkan terjadinya friksi makna, misalnya.

Contoh keempat
"Berdasarkan asal katanya,  Sugiwa (1957)  berpendapat bahwa istilah seni berasal dari kata “sani” yang dalam bahasa Sanskerta yang berarti pemujaan,  pelayanan, pemberian/persembahan,  pemintaan atau pencarian dengan hormat dan jujur." 
Contoh ini memperlihatkan friksi makna seni sebagai "upacara pemujaan di kuil". Definisi ini ternyata tidak baik, kerena sesuai dengan petunjuuk Atmazaki di atas, definisi ini membatasi atas waktu, konteks dan kegiatan (dijelaskan di kuil), pembatasan ini menunjukkan definisi yang kurang baik.

Contoh kelima
"Ada juga yang mengatakan bahwa kata seni berasal dari bahasa Belanda “geniu” atau jenius. Selain daripada itu seni disebut “cilpa” yang berarti berwarna (kata sifat)  atau pewarna (kata benda),  kemudian berkembang menjadi cilpacastra yang berarti segala macam kekriyaan yang artistik (Soedarso,  1988)."
Contoh ini memperlihatkan friksi makna seni ke kriya" atau "jenius". Pergeseran makna terjadi karena kriya dianggap sama dengan seni atau sifat orang jenius. Disini baik konteks dan kegiatan yang dijelaskan berbeda dengan kegiatan seni yang akan kita jelaskan  Contoh lainnya lagi.

Contoh keenam
Herbert Read (1893-1968) mengemukakan seni itu adalah bentuk-bentuk yang menyenangkan
Contoh ini memungkinkan terjadinya pergeseran makna, karena jurang batas waktu yang lama, dan munculnya pendapat baru oleh ahli lain. Banyak definisi lainnya, seperti seni disamping bentuk ekspresi, juga bentuk-bentuk simbolik (Langer, S.K.). Contoh lainnya tidak usah disebutkan satu persatu. 

Lazimnya definisi yang dikemukakan tokoh terikat dengan tempat dan waktu, yang dikemudian hari muncul tokoh lain yang dapat membantah konsep itu.  Menurut penulis seni itu memiliki sejarah yang panjang, sepanjang waktu itu penulis dan pemikir telah mengkonsepsikan seni sesuai dengan motivasi dan latar filsafat yang berbeda-beda.

Pembicaraan teori menurut tokoh itu penting, jika kita memang membahas sejarah teori seni dari waktu ke waktu. Misalnya sejarah teori seni dalam konteks perkembangan pendidikan seni. Coba perhatikan kutipan, perhatikan dua baris kalimat terakhir dari uraiannya sebagai berikut. (Barnes, B, 2009)
"Kita juga dapat menggunakan kata seni dalam pandangan yang lebih luas dan berbagai bentuk kegiatan kreatif, seperti tari, drama dan musik, atau pada hampir semua kegiatan yang terkait dengan skill seperti seni memasak roti, seni perjalanan. Namun dalam artikel ini yang saya maksud adalah "seni visual"
Kesimpulan:

Apa yang penulis bicarakan di atas bukanlah untuk mencari arti seni, jika pembaca ingin mencari pengertian seni yang tepat baca artikel lainnya (di sini), yang menjelaskan seni itu adalah persepsi dan imaji manusia yang dapat melintasi pengertian ke semua jenis seni.

Namun contoh yang dikemukakan Barnes di atas cukup baik sebab memenuhi tiga syarat oleh Atmazaki, 2005) di atas. Strateginya adalah setelah mendefinisikan seni secara benar, langkah selanjutnya memberi penekanan, sebab harus jelas apa  yang menjadi pokok pembicaraan tentang seni itu.  Jadi jika yang dibicarakan adalah musik. Katakan definisi seni lebih dahulu, lalu pembicara harus memberi penekanan misalnya tentang musik.

2. Friksi dari "Arts" ke Visual Arts (Seni Visual)

Walaupun kata "Arts", dalam kelaziman budaya Barat-- seperti yang diterangkan di atas -- yang ditunjuk adalah "seni rupa" (buku-buku yang berlabel "arts" biasanya berisi tentang "seni rupa") namun hal ini tidak dapat menjelaskan secara tuntas tentang arti seni.

Hal ini disebabkan beberapa alasan, dalam hal ini penekanan pembahasan seni  adalah seni rupa, definisi seninya tidak dijelaskan. Ada pula yang beranggapan bahwa sebutan “seni rupa” sama artinya dengan “visual arts”. Tetapi pengertian ini kurang tepat, karena seni rupa dalam bahasa Indonesia adalah kata benda (noun), sedangkan visual arts dalam bahasa Ingrris adalah kata sifat (adjektiv). Kata seni rupa dalam bahasa Indonesia secara tradisional menunjuk pada produk patung, lukis, grafis dan keramik seni, Kata visual dalam bahasa Inggris menunjuk kepada sifat persepsi manusia dalam melihat sesuatu, mungkin disinilah kekeliruannya jika menjterjemahkan seni rupa sama dengan visual arts. Lihat definisi ini.
visual art: an art that represents subjects for visual appreciation, e.g. painting, sculpture, or architecture. Plastic art= three-dimensional art: a three-dimensional art, e.g. sculpture, modeling or bas-relief work, pottery, or ceramics  
Visual arts itu: represent subject (gambaran subjek), sesuatu yang bersifat plastis. Hal ini menunjukkan bahwa visual arts itu adalah hasil persepsi atau imajinasi.

Jika seni rupa diterjemahkan kepada visual arts maka artinya akan bergeser kepada: “ kreasi dan produksi manusia dalam bentuk imaji-imaji visual atau rupa yang diapresiasi secara alami seperti lukisan, fotografi, karya cetak, dan termasuk gambar bergerak seperti karya filem. Seni visual juga termasuk karya seni tiga dimensi seperti arsitektur, patung (yang disebut “seni plastis”). Seperti definisi ini.

Tentang friksi ini juga dijelaskan oleh Wikipedia, misalnya tentang Visual Arts (lihat kalimat: A changing concep) hal ini menunjukkan perubahan konsep dalam kelaziman pemakaian kata dalam tradisi Barat,  
"The visual arts are art forms that focus on the creation of works which are primarily visual in nature, such as traditional plastic arts - drawing, painting, sculpture, architecture, printmaking-, modern visual arts, photography, video and film making, design and crafts. Many artistic disciplines (performing arts, language arts, textile arts, and culinary arts) involve aspects of the visual arts as well as other types, so these definitions are not strict. 
A changing concept .The current usage of the term "visual arts" includes fine arts as well as crafts, but this was not always the case. Before the Arts and Crafts movement in Britain and elsewhere at the turn of the 20th century, "visual artist" referred to a person working in the fine arts (such as painting, sculpture, or printmaking) and not the handicraft, craft, or applied art disciplines. The distinction was emphasized by artists of the Arts and Crafts movement who valued vernacular art forms as much as high forms. The movement contrasted with modernists who sought to withhold the high arts from the masses by keeping them esoteric.Art schools made a distinction between the fine arts and the crafts in such a way that a craftsperson could not be considered a practitioner of art."
Kesimpulan: 

  • Mendefinsikan seni itu sulit, jika kita tidak memahaminya dari segi persepsi atau imajinasi manusia (lihat artikel tentang ini)
  • Jadi jika sekarang Anda mengartikan “seni rupa” sama dengan “Visual Arts” akan terjadi friksi dan atau diskrepansi makna. 
  • Tidak ada yang salah dalam mendefinsikan kata seni, seni rupa dan atau visual arts, jika maksudnya sama dengan yang dipakai secara internasional. 
  • Dalam istilah seni misalnya kita umumnya gampang mengutip tulisan asing tanpa memperhatikan apa lingkup seni yang dibicarakan, misalnya apakah berkenaan dengan semua seni (sastra, musik, seni rupa, arsitektur, drama), atau hanya “seni rupa saja” oleh buku itu. 
  • Untuk memahami definisi seni nampaknya kita mesti memahami juga konteks pemakaian kata ini dalam sejarah seni, misalnya“kapan”  dipakainya istilah ini dan oleh siapa. 
  • Antara seni rupa dan visual arts yang dipakai sekarang juga sudah berbeda konsepnya. Jadi ada kemungkinan terjadinya friksi diantara pemakaian diantara kata-kata itu. 
  • Sekarang ada pertanyaan khusus tentang seni rupa, apakah seni murni itu sama dengan seni rupa? ( yang dipakai di indonesia).
Poskan Komentar

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting