Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Selasa, 08 Maret 2011

Memahami Klassifikasi Seni dan Seni Rupa Berdasar Budaya


Oleh Nasbahry Couto
Revisi: Agustus 2012 

A. Uraian Singkat



Tujuan memahami klasifikasi seni adalah untuk memudahkan pengembangan tema-tema seni dalam pembelajaran seni di sekolah dengan berbasis budaya. Yaitu tema-tema seni yang berasal dari budaya baik yang bersifat lokal, nasional maupun dari mancanegara. Tema-tema seni tidak dibatasi hanya kepada hal-hal yang menarik bagi murid, tetapi mereka diajak untuk masuk ke apresisasi seni lokal, nusantara dan atau mancanegara.

Misalnya murid di ajak untuk mempelajari seni lukis naturalisme, imitatif,  dan abstrak. Atau cara lain misalnya untuk mempelajari seni dari aspek teknik tradisional dan mengembangkannya kepada teknik modern. Dalam hal ini ada dikotomi seni yang sering menjadi sorotan dan dipertentangkan di Indonesia, misalnya seni murni dan seni terapan, seni nasional dan mancanegara, seni berdasarkan SARA dan sebagainya. Dengan pengembangan tema seni ini, dan atau memahami klassifikasi seni, akan memudahkan kita untuk mengaplikasikan tema-tema seni berdasarkan budaya.




Menurut Couto (2009: 108-118) masalah klassifikasi  seni dan seni rupa sebenarnya bersifat relatif. Hal ini karena klassifikasi seni atau apa saja yang termasuk seni itu  sering berbeda-beda pada sekolah atau akademi tertentu yang disebabkan oleh ajaran, sejarah dan tradisi akademiknya.

Misalnya, di Amerika ada sekolah yang namanya “liberal arts”sebagai kelanjutan tradisi akademi klassik Eropa, di Inggris misalnya ada Akademi “Arts and Design” dan banyak contoh lainnya. Seni Rupa bisa saja masuk dalam bagian Fakultas Seni, Bahasa dan Sastra, di tempat lain menjadi bagian dari Sekolah (fakultas) Seni Rupa dan Desain.


Di Indonesia berkembang istilah klassifikasi seni seni murni dan seni terapan. Apakah ini sebagai terjemahan dari ”fine arts” dan ”aplied arts”. Pembagiannya bukan dua (2) tetapi empat (3) sebab adalagi yang disebut dengan Performing Arts (Seni Pertunjukan), dan ”Commercial Arts”, apakah memang betul seni itu terbagi dua? Secara teoritik memang bisa diakui, tetapi praktiknya bisa terbagi tiga atau empat.

Menurut Atkins (1990) dan  Barnes (2003)  pengklassifikasian ini dalam seni modern menjadi rancu bukan saja karena tradisi akademiknya. Tetapi  karena banyak karya-karya yang tidak atau dapat dimasukkan ke dalam kategori tradisi akademi konvensional. 

B. Memahahami Pengelompokan Seni
1.Genre/Tipe


Dalam pengertian umum genre adalah tipe (type) atau kategori seni  seperti, musik, opera,  teater, tragedi, komedi; tari, seni visual, lanscape adalah sebuah genre. Dan secara umum dalam dunia pendidikan yang dimaksud dengan seni dapat berarti : musik, teater, Tari dan seni rupa.[1]

Istilah genre dalam seni rupa sering juga dipakai untuk menjelaskan jenis seni lukis yang menggambarkan pemandangan kehidupan sehari-hari (paintings of household scenes) jenis seni lukis seperti ini di sebut seni lukis genre.

Kata “genre” berasal dari bahasa Latin “genus”. Pada abad ke-19, muncul kata “type” (bhs. Perancis) yang artinya dalam bahasa Inggris “the category of artistic works”. Sinonim dari istilah genre adalah Type (tipe) yaitu sesuatu atau seseorang  yang memiliki kualitas yang sama.

Sebagai contoh menurut  Barnes (2003 a) yang termasuk genre (tipe) seni rupa adalah (1) lukisan dan seni dua dimensi, (2) seni patung, (3) arsitektur, (4) fotografi dan media baru dan (5) seni dekoratif.


Menurut Feldman (1967) ada empat  tipe karya seni rupa yaitu (1) seni rupa tipe imitatif, (2) tipe bentuk, (3) tipe emosi dan (4) tipe fantasi.  Namun pendapat Feldman ini dikoreksi oleh Barnes (2003) yang menjelaskan bahwa aspek-aspek imitatif, ekspresif, komposisi, gaya seni, pokok soal, abstraksi adalah elemen-elemen seni rupa saja.
Dari pendapat-pendapat ini saja kita melihat perbedaan-perbedaan dari cara mengklassifikasikan tipe seni rupa. Menurut Rathus (1994) kategori umum untuk semua jenis seni umumnya berdasarkan : 1) bentuknya (form), 2) gaya (style) atau 3) subject matter (pokok soal).

Artinya, istilah genre dalam konteks klassifikasi seni dalam pengertian yang luas tidak menjadi masalah karena sifatnya makro. Tetapi  jika  diterapkan kepada pengklassifikasian seni yang lebih spesifik dia menjadi masalah oleh karena seni membawahi bermacam-macam konsep, latar belakang teori dan cara membahasnya.


Seni visual (visual arts) mengambil konsep lain lagi.  Seni visual  adalah kegiatan yang terutama untuk memahami fenomena visualisasi benda-benda kreatif, oleh karena itu, dia memiliki preferensi (pilihan) untuk menstudi seni visual yang lebih luas dari seni rupa.

Seni visual sering  disebut dengan seni plastis. Pilihan studi visual arts misalnya: 1) studi pilihan warna, studi warna harmonis dan sifat-sifat pemakaian warna, 2) studi komposisi, studi aksentuasi, studi proporsi, 3) studi persepsi terhadap benda-benda seni, studi asumsi-asumsi estetik. 4) studi pokok soal (subject matter dsb). Sepintas seakan studi-studi pada seni visual,  mirip dengan studi seni rupa, namun tekanan seni visual adalah kepada aspek visual materialnya ketimbang kepada ungkapan atau ekspresi seniman. [2]

Klassifikasi genre atau gaya dalam seni rupa sama rumitnya dengan genre dalam sastra, misalnya sebuah genre dapat lahir dari konsep bentuk seperti konsep bentuk realis atau konsep bentuk abstrak.

Dari konsep teknik misalnya maka muncul klassifikasi karya seni realis dan karya representatif, karya ekspresif dan karya abstrak. Seni lukis abstrak, bisa menghasilkan sub-sub genre yang lebih spesifik misalnya abstrak ekspresionisme, abstrak liris, abstrak figuratif dan sebagainya.

Seni  realisme misalnya akan memunculkan klassifikasi seperti realis jalanan, realis jendela, realis perkotaan dan sebagainya. Karya realis jalanan akan memperlihatkan realitas seakan-akan si penonton dibawa ke jalanan, sedangkan realis jendela seakan-akan penonton melihat dari sebuah jendela.

Klassifikasi-klassifikasi seperti ini jarang di bahas dalam ujian-ujian tugas akhir karya seni mahasiswa, karena yang kurang memahami keunikan klassifikasi seni. Misalnya, jika sebuah karya seni dikatakan bercorak realistis, apakah tidak ada unsur ekspresif di dalamnya ? Jika karya seni espresionistik apakah tidak ada abstraksi atau kebenaran realitas di dalamnya, jika ada berapa kadarnya dan seterusnya.

Dari segi penilai, apakah yang menilai dan menganalisis itu kritikus atau kurator seni yang menentukan genre itu. Sulit untuk menjawabnya karena analisis  dan interpretasi bisa berbeda.
Kerja seni rupa sebenarnya adalah menciptakan ilusi dan fakta visual, mengarang bentuk secara kreatif, memberi makna bentuk atau sekedar ingin menyenangkan mata. Teknik yang digunakan oleh mereka mungkin melalui rekaman visual atau menata elemen visual pada sebuah bidang atau tempat. Namun anda dapat memakai satu atau beberapa klassifikasi seni di atas untuk menganalisis karya seni rupa.

Studi seni visual  lebih luas dari seni rupa murni karena tidak lagi terpaku kepada aspek  kreasi dan eskspresi subjektif, studi pada bidang ini difokuskan kepada fenomena visualnya yang lebih luas   ketimbang studi seni lukis, seni patung atau keramik. Studi seni visual  lebih luas dari seni rupa murni karena tidak lagi terpaku kepada aspek  kreasi dan eskspresi subjektif, studi pada bidang ini difokuskan kepada fenomena visualnya yang lebih luas   ketimbang studi seni lukis, seni patung atau keramik.


Sampai saat sekarang, tekanan studi pada seni murni masih kepada aspek subjektif seniman pada karyanya. Genre dan sub genre pada seni murni juga banyak masalah karena unsur pembedanya. Misalnya apakah pembeda klassifikasi itu adalah tipologi teknik, struktur seni, gaya sezaman (sejarah, mashab) atau makna/isi yang dikandung dalam karya seni itu? 



[1]   Lihat http://p3g.unm.ac.id/phocadownload/kisi_uka_2012/seni%20rupa.pdf dan lihat pula http://www.4shared.com/office/ZwKg87yU/Seni_Budaya.html.Untuk di mancanegara lihat Academic Standards for the Arts and Humanities, Pennsylvania Department of Education
[2]   Untuk mendalami bahan ini lebih dalam  lihat pengertian dan kegiatan pendidikan visual arts di internet yang berbeda dengan pendidikan  fine arts, dan berbeda pula dengan pendidikan Design. Istilah seni terapan sebenarnya kurang tepat untuk menterjemahkan kata design.

2. Penekanan Studi Seni


Akar permasalahan itu dimulai dari  hal penjabaran seni (art) itu sendiri (Atkins, 1990). Oleh karena itu, kita lazim melihat beberapa unsur pembeda dari seni itu, misalnya  ada seni yang menekankan aspek komersialnya dan ada pula yang menekankan aspek visual,  dan ada penekanan kepada makna dan fungsi seni rupa. 
Penjelasan mengenai kategori atau pengertian seni ini kalau kita pelajari dari sejarah seni akan berbeda-beda maksudnya. Namun, dalam seni modern, kita dapat melihat beberapa unsur pembeda atau kriteria seni itu sebagai berikut.
1)    Bidang seni yang distimulasi oleh kegiatan intelektual untuk pengamat (viewer) dan atau sensibilitas akademik. Misalnya, seni murni (fine arts).
2)    Tradisi seni  yang  distimulasi untuk membuat karya dengan  tingkat keterpakaian yang tinggi (utilitas), misalnya karya kerajinan (craft), karya desain tidak bisa dimasukkkan ke dalam kategori seni.
3)      Bidang kreatif yang ditujukan untuk pagelaran dan pertunjukan (performance arts).
4)  Bidang seni yang ditujukan untuk sejenis usaha komersial, misalnya seni komersial (commercial arts).
5)    Bidang seni yang ditujukan bukan untuk maksud memaknainya (tradisi akademik) tetapi untuk dilihat tampilannya pada lingkungan (alam). Misalnya seni visual (visual arts).

Sebagian besar tulisan ini adalah dalam rangka butir yang pertama yaitu untuk memahami seni sesuai dengan tradisi akademik, di mana tujuannya distimulir oleh konsep-konsep intelektual dengan referensi  hasil pengamatan yang sering disebut dengan “fine art”. Misalnya, bentuk-bentuk yang dihasilkannya melalui medium seni rupa secara konvensional. Hal ini akan berbeda dengan karya seni yang bertujuan untuk  tingkat utilitas yang tinggi, di mana yang dipentingkan bukan aspek intelektualitasnya tetapi fungsinya. Misalnya, desain pakaian, desain interior  dan sebagainya.

Hal ini akan berbeda pula dengan seni yang bertujuan untuk hanya dipertunjukan  atau yang sering disebut seni pertunjukan (performance art) seperti  seni teater dan tari. Seni komersial bertujuan untuk dikomersialkan, seperti musik pop,  film. Umumnya seni komersial ini mengambil  temuan-temuan dan keunggulan dari seni murni agar dapat diterima oleh usernya. Teori-teori dan temuan  di bidang  kegiatan seni lain seperti temuan yang ada pada seni pakai, umumnya dimanfaatkan untuk tujuan komersial. 


3. Kategori Berdasarkan Ujud (Perupaan)
Gagasan untuk fine arts/ seni rupa (versi barat) dapat ditelusuri  kembali kepada Akademi Perancis Fine arts/seni rupa abad yang 17-an , bagaimanapun sejak masa ini seniman, dan  banyak orang dapat bekerja dengan lancar, untuk kemudian terdapat perkembangan lain justru untuk merusak dan mengalihkan konsep seni ini. Kita mungkin berpikir tentang lukisan, patung, dan arsitektur terkait langsung dengan seni dua dan seni tiga dimensi, dan seni yang termasuk menggambarkan ruang. Sebagian dari bentuk seni yang lebih baru yang ditambah dengan gerak/motion, seperti  seni filem dan seni video kadang-kadang dikenal sebagai media yang didasari oleh waktu (time based media)


Seni dekoratif, seperti barang barang perhiasan dan tekstil, dan kerajinan, seperti pekerjaan tukang kayu dan seni pembuatan keranjang, didefinisikan terutama semata oleh penggunaan praktis mereka: sebagai contoh, fashion/ pakaian, mebel, atau materi rumah tangga. Singkatnya pengolongan seni berdasarkan perupaannya ini dpat disingkat sebagai berikut: 



Jenis Seni Rupa
Contoh
1
lukisan dan seni dua dimensi
lukisan dinding (fresco), lukisan cat minyak,  lukisan tempera,; dan cat air, di atas panel kayu, plester, kain layar, dan kertas, media dua dimensi lainnya yang dipakai untuk melukis ( tradisi Barat) antara lain  jambangan ( vase), Kaca-patri/stained glass, naskah iluminasi,   lukisan pasir, lukisan tinta, dan semua bentuk gambar dan hasil printmaking/seni cetak.
2
seni patung dan seni tiga dimensi
Seni yang menggambarkan ruang. Patung, dengan suatu kategori yang diluaskan, meliputi objek tiga dimensi, apakah yang freestanding ( tanpa adanya struktur pendukung lain) atau terkait dengan suatu latar belakang dan disebut dengan patung  relief. Atau patung dalam pengertian ruang yang bersatu dengan pengamatnya, atau menciptakan lingkungan utuh di mana orang-orang dapat bergerak sekelilingnya.
3
arsitektur,
Arsitektur adalah seni menciptakan struktur dan ruang dimana kita dapat tinggal/hidup, bekerja, dan bermain. Arsitek, lebih dari seorang pelukis atau pematung, karya arsitektur terkait dengan faktor fungsi/utilitas; seperti halnya dengan penampilan visualnya, kepadatan strukturnya, cara bangunan ditempatkan pada suatu lingkungan/ lanskap mempengaruhi manusia secara visual
4
Fotografi dan media baru
Fotografi, seni filem, seni video, media yang didasari oleh waktu (time based media)
5
Seni dekoratif
Kriya perhiasan, tekstil,  kayu, keranjang, fashion/ pakaian, mebel, atau materi rumah tangga


Alternatif pembelajaran :

Siswa diajak untuk memahami Klassifikasi berdasarkan perupaan dan berkarya berdasarkan tema ini. Pertanyaan pokok kepada murid adalah “ bagaimana perupaan karya seni rupa itu ? Ada lima bentuk perupaan, jelaskan kepada mereka. Apakah bangunan gedung adalah salah satu bentuk perupaan karya seni rupa? Stimuli kepada siswa adalah “ memilih bentuk perupaan” atau salah satu pilihan:“bagaimana bentuk bangunan yang bagus?

4. Kategori Berdasarkan Gaya Seni Rupa
Rathus (1994) menjelaskan bahwa dalam seni visual, gaya seni rupa  mengacu kepada karakteristik ekspresi (ungkapan) seniman dalam berkarya. Dalam sejarah diperlihatkan bahwa seniman melalui sejarahnya telah menggambarkan tema-tema yang familiar, namun karya mereka berbeda tidak saja dalam konteks sosial dan budaya, melainkan juga pada corak.
Pengertian corak, gaya  oleh Rathus  (1994) adalah klasifikasi  berdasarkan bagaimana teknik seniman dalam melukiskan sesuatu seperti berikut ini.
1) Realistis (pelukisan realitas). Menurut Rathus, Karya realisme mengacu kepada penggambaran manusia dan benda sebagaimana ia dilihat dengan mata atau dipikirkan, tanpa idealisasi, tanpa distorsi.
2)  Representatif/representation(penggambaran). Representasi artinya penggambaran, hal ini berbeda atau berlawanan dengan melukiskan sesuatu secara nyata (realistik). Perbedaan kedua lukisan atau gambar ini disebut oleh Rathus sebagai realis lawan representatif (realistic versus  representation) seperti yang diperlihatkan gambar  di bawah ini. Gambar kanan realistik, gambar kiri representatip
3)     Ekspresif (pengungkapan). Dalam  seni ekspresionistis, bentuk dan warna didistorsi secara bebas oleh seniman untuk maksud mencapai pengaruh emosional yang tinggi.
4)     Abstraksi. Istilah seni abstrak berlaku bagi seni yang menyimpang secara berarti dari penampilan sebenarnya suatu benda. Seni seperti ini bisa jadi sama sekali non-objektif  (seni yang tidak menggambarkan objek, tidak memiliki model atau pokok persoalan nyata) atau non-representasional (seni yang tidak menghadirkan objek alam dalam bentuk yang bisa dikenali) atau ia realitas bentuk yang berdiri sendiri, tidak ada kaitannya dengan bentuk lain yang telah ada.

Jadi  genre atau tipe Seni Rupa yang dimaksud Rathus (1994) adalah gaya (style) dengan menganalisis bentuk karya seni rupa seperti tabel di bawah ini


Alternatif pembelajaran 
Siswa diajak untuk memahami Klassifikasi Gaya Seni Rupa, dan berkarya berdasarkan tema ini. Misalnya berkarya berdasarkan (1) Gaya Realistis, (2) Gaya Representatif, (3) Gaya Ekspresif, (4) Gaya Abstrak. Tentu saja murid yang diajak untuk berkarya dengan  tema-tema seperti ini harus memahami terlebih dahulu apa bedanya tema realis dengan tema representatif. Misalnya, realis benar-benar harus serupa/mirip sekali dengan yang digambarkan, sedangkan arti representatif memang realis juga tetapi hanya sekedar menggambarkan, sedangkan ekspresif adalah gambar yang dapat mengungkapkan rasa tertentu misalnya mendramatisir ungkapan tertentu. Kadangkala hal ini yang sulit untuk menjelaskan atau menerangkan kepada siswa tanpa ada contoh-contoh yang benar dari lukisan yang dimaksud.


5.      Pembagian/Pengelompokan Seni Rupa Berdasarkan Content (Muatan/Isi Karya)

Isi karya seni rupa adalah segala sesuatu yang dimuat di dalamnya. Muatan karya mengacu tidak hanya kepada garis atau bentuknya. Namun, juga kepada pokok persoalan (subject matter) dan makna (pokok) yang mendasarinya atau tema. (Rathus 1994 ). Contoh level (tingkat) muatan seni rupa oleh Rathus (1994)
 Ada tiga tingkat (level) isi seni sebagai berikut ini.
1)      Elemen dan Komposisi,
2)      Pokok Persoalan (Subject Matter
3)      Makna dasar, Ide  atau tema seni.


Alternatif pembelajaran

Tentu saja siswa diajak untuk memahami content/muatan/Isi seni dan berkarya berdasarkan tema ini dan berkarya berdasarkan (1) Sebuah bentuk komposisi, (2) pokok soal, dan atau (3) makna. Siswa diajak untuk menganalisis muatan/ isi karya seni. Lukisan atau gambar yang mudah dijelaskan adalah lukisan naratif (yang mengandung unsur cerita).

6.      Pembagian/Pengelompokan Seni Rupa berdasarkan Maksud/ Tujuan Berkarya


Khusus untuk bidang seni rupa dan kalau kita kita percaya pada klassifikasi yang dibuat Barnes (2009) maka jika kita akan mengklasisikasikan karya-karya seni rupa ada empat model tujuan seni rupa yaitu sebagai berikut ini.

1)      Tipe seni rupa yang bertujuan merekam realitas atau penampilan
2)      Tipe seni rupa untuk memvisualisasikan imajinasi dan visi manusia
3)      Tipe seni rupa semata untuk menyenangkan (estetetik)
4)      Tipe seni rupa untuk tujuan mengkomunikasikan sesuatu gagasan atau pikiran

Dapat disimpulkan bahwa klassifikasi genre atau gaya dalam seni rupa sama rumitnya dengan genre dalam sastra, misalnya sebuah genre dapat lahir dari konsep bentuk seperti konsep bentuk realis atau konsep bentuk abstrak. Dari konsep teknik misalnya maka muncul klassifikasi karya seni realis dan karya representatif, karya ekspresif dan karya abstrak.  Seni lukis abstrak, bisa menghasilkan sub-sub genre yang lebih spesifik misalnya abstrak ekspresionisme, abstrak liris, abstrak figuratif dan sebagainya.



Alternatif pembelajaran :

Siswa diajak untuk memahami berdasarkan tema ini yaitu “tujuan berkarya”. Misalnya  berkarya berdasarkan (1) Untuk meniru alam, misalnya meniru bentuk kucing,(2) Untuk menampilkan khayalan murid, misalnya bentuk robot, bentuk komputer masa depan, (3) Untuk membuat sesuatu yang menimbulkan rasa senang, misalnya keindahan bunga, hiasan pesta dsb,(4) Untuk mengkomunikasikan sebuah ide murid misalnya sebuah poster.


7.      Pembagian Seni Rupa berdasarkan  Media, Alat,   

     Bahan Seni (Aspek Teknologi Seni dalam Budaya)

Yang termasuk kepada medium, alat dan bahan dalam seni adalah berikut ini.
1) Gambar, Tipe Media kering, media basah
2) Lukisan, Tipe lukisan: Fresko, encaustic, cat Minyak dst.
3) Patung, Tipe patung : Tanah liat, logam dst.
4) Grafis, cetak dalam, cetak tinggi Litografi, etsa, Silk Screen  dsb.
5) Fotografi dan Medium Baru, Seni Digital, Digital Imaging dsb
6) Dekorasi
7) Arsitektur
8) Dan sebagainya

Kita dapat membuat sebuah daftar tentang teknik yang dikembangkan dalam budaya tertentu di Nusantara, sebagai berikut.



Kategori kegiatan seni berdasarkan seni dan budaya serta pengembangan teknologinya di Indonesia

Seni dan Budaya
Teknologi
Tradisional (manual)
Teknologi
Moderen (komputerisasi)



Lokal
Ukiran pandai sikek


Perak Koto Gadang


Songket silungkang


Ukir Pahat, Patung, Relief


Seni lukis Kaca

Nasional
Batik


Cat Minyak
Melukis, menggambar, fotografi  dengan software  komputer, mis. Animasi dg komputer
dst

Cat Air


Pastel


Crayon


Spray brush


Fotografi


Grafis


Tembikar/porcelain
Porcelain dg mesin & komputer

Mosaik


Sablon manual
Sablon dengan mesin & komputer

dsb


Seni pahat, Patung


Seni ukir
Ukiran dg mesin & komputer

Seni patung manual
Seni Patung Robotics & komputer

Relief kayu, batu, tanah liat dst

Mancanegara
Seni Lukis Fresco


Mayolica


Seni lukis miniatur


Seni lukis gading


dsb


Daftar ini dapat diperpanjang lagi, klassifikasi berdasarkan teknologi seni yang dikembangkan dalam sebuah budaya, sumber : pribadi


Alternatif pembelajaran (1) :
Siswa diajak untuk memahami berdasarkan tema ini, “teknologi seni dalam budaya”, yaitu berbagai media, alat, teknik seni dan berkarya berdasarkan tema ini. Atau memindahkan, menukar teknik seni, tradisional ke moderen, dari moderen ke tradisional, dari teknik seni mancanegara ke lokal dsb. Yang populer adalah membuat karya seni lukis dengan teknik kering dan teknik basah. 


Alternatif pembelajaran  (2)
Siswa diajak untuk memahami berdasarkan tema ini, “Seni Nusantara”, yaitu berbagai media, alat, teknik seni dan berkarya berdasarkan tema ini. Yang populer adalah membuat karya seni lukis dengan teknik batik, seni wayang, merancang kriya nusantara dsb. Karya seni dapat dilihat dalam pembagian kegiatan pada tabel di bawah ini sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sosial budaya setempat.
Yang dimaksud  tema dalam hubungannya dengan karya seni adalah gagasan pokok atau hal pokok yang terkandung di dalam suatu karya seni. Sedangkan seni rupa murni nusantara adalah karya seni rupa yang hanya dinikmati keindahannya saja, yang terdapat di daerah-daerah wilayah nusantara, dari Sabang sampai Merauke. Dan ini menjadikan ciri khas seni rupa daerah tersebut. Di sini kita akan membicarakan jenis karya seni lukis dan patung, karena seni grafis dan seni keramik kurang menjadi corak khas kedaerahan. Beberapa contoh di bawah ini adalah sebagai berikut.

Contoh Seni Lukis

1. Seni lukis Papua
Biasa mengambil tema mahluk hidup (manusia dan binatang). Seni lukis Papua ini kebanyakan bercorak primitif, karena banyak mendapat pengaruh seni Abirigin. Media kayu lebih mendominasi karya seni rupa daerah ini.

2. Seni lukis  klasik Bali
Banyak mengambil tema Mahabarata, Ramayana, Dewa-dewi, dan juga mahluk hidup. Di daerah Ubud, Kintamani, banyak masyarakat yang menghasilkan lukisan klasik , yang cukup memberikan corak khas karya seni rupa daerah ini.

 3. Seni lukis wayang beber
Wayang beber merupakan karya seni lukis tertua di Jawa. Lukisan ini banyak mengambil tema cerita-cerita Panji. Dengan demikian jelas bahwa seni lukis wayang beber biasa mengolah objek cerita tentang sekitar Kerajaan Jenggala dan Kediri.

4. Seni lukis tradisional Yogyakarta
Banyak mengambil tema tentang kehidupan rakyat kecil, seperti pasar, penjual ayam, petani, dsb.

5. Seni lukis kaca Cirebon
Banyak mengambil tema cerita Tionghoa (China), Sejarah para Wali, dan sekitar penyebaran islam di Jawa. Di Yogyakarta juga terdapat seni lukis kaca dengan mengolah objek cerita India dan cerita Hindu, akan tetapi tidak cukup memberikan corak khas seperti Cirebon.

Contoh : Seni Patung

1. Seni patung Papua
Kebanyakan bertemakan mahluk hidup (manusia dan binatang). Dengan media kayu dan batu dapat diciptakan karya seni patung yang bercorak primitif, lekat dengan nuansa kesukuan yang kuat.

2. Seni patung Klasik Bali
Biasa mengambil tema dewa-dewi dan mahluk hidup seperti garuda atau jatayu, lembu, katak, dan kehidupan manusia.     Seni patung klasik  Bali banyak terbuat dari bahan batu dan kayu.

3. Seni patung tradisional Yogyakarta
Lebih dikenal dengan sebutan Loro blonyo. Banyak mengambil tema Raja dan Ratu, pengantin, abdi ( batur= Jawa ), punakawan dalam cerita pewayangan. Patung loro bloyo ini sebagian besar terbuat dari bahan tanah liat.

4. Seni patung Muntilan
Kebanyakan terbuat dari bahan batu kali atau batu hitam. Biasa dengan tema mahluk hidup, tokoh sejarah Hindu dan Budha seperti Sang Budha Gautama, Rorojonggrang, Ganesha, Trimurti, dsb.

5. Seni patung Juwana
Terbuat dari bahan logam kuningan dan perunggu. Kebanyakan objek dengan tema kebudayaan China seperti naga, Kwan Im, serta patung- bercorak China lainnya.

6. Seni patung Dayak Kalimantan
Biasa mengambil tema leluhur ( patung nenek moyang), hudoq, dan burung enggang. Bahan kebanyakan terbuat dari kayu dan ada pula yang terbuat dari bahan batu. Sejalan dengan perkembangan seni lukis dan seni seni patung yang semakin maju ( seni lukis modern, posmodern, kontemporer), sangat penting kiranya kita untuk mengenal, mengapresiasi serta tetap menjaga kekayaan seni budaya tersebut di atas sebagai tolok ukur bangsa yang besar dan berbudaya.

8. Tema dan Kreasi Seni Rupa berdasarkan Sejarah,   
    Langgam atau Aliran Seni dalam Sejarah Seni Barat

Beberapa teknik dan eksperimen dilakukan seniman untuk menghasilkan karya seni berbasis sejarah seni mancanegara. Kita dapat mempelajari beberapa karakter seni  berbasis budaya kemudian berusaha untuk  sebagai bahan pembelajaran. Misalnya seni zaman seni zaman renesan, gaya seni Barok, Rokoko, gaya Realis, Impresionisme, abstrak dsb. Salah satu di contohkan di bawah ini sebagai berikut.

Karakter Seni Zaman Renesan

Zaman renaisan adalah sekitar abad ke14 s.d 16 Masehi di Eropah. Salah satu contoh karakter lukisan di zaman ini adalah lukisan Madonna and Child, yaitu lukisan cat tempera di atas panel kayu oleh seniman Itali Fra Filippo Lippi, dilukis sekitar 1455.

 Karakter/Gaya  yang dipakai pada zaman Renesan
Dari analisis terhadap lukisan ini dapat diperoleh karakter seni lukis sebagai berikut.
a)       Komposisi geometris, tokoh manusia digambar dengan latar belakang dinding atau pigura
b)       Tokoh manusia berada dalam ruang yang gelap atau cahaya redup (pada saat itu belum ada listrik)
c)       Perhatian terhadap cahaya dan bayangan
d)       Belum mengenal teknik perspektif
e)       Mulai adanya perhatian terhadap anatomi manusia nyata
f)        Ide lukisan atau subjek materi adalah mitos klassik Yunani, agama Kristen, dan astrologi.
g)       Teknik utama fresko dan tempera, belum ada cat minyak.
h)       Warna monokrom (campuran warna dengan warna putih), terdiri dari dua atau tiga macam warna (putih-hijau-coklat atau biru, merah, putih, hijau) Komposisi simetris pada seni lukis zaman Renesan


C. Pembagian/Pengelompokan Seni Rupa di Indonesia 
    (Teori dan Praktik)
Di Indonesia dewasa ini (secara teoritik), seni rupa modern terbagi dan dipahami atas dua kelompok besar yaitu seni murni dan seni terapan. 
Seni terapan terdiri dari desain dan kriya. Desain dan Kriya bertujuan untuk mengisi kebutuhan masyarakat akan bidang estetis terapan.

a. Seni Murni (Fine Art)
Seni  rupa  murni  lebih  mengkhususkan  diri pada  proses  penciptaan karya   seninya   dilandasi   oleh   tujuan   untuk   memenuhi   kebutuhan   kreativitas dan  ekspresi  yang  sangat  pribadi  (lukis,  patung,  grafis,  keramik ).
Namun dalam hal tertentu, karya seni rupa murni itu dapat pula diperjualbelikan  atau memiliki fungsi sebagai benda pajangan dalam sebuah ruang.
a)     Seni  lukis  salah  satu  jenis  seni  murni  berwujud   dua  dimensi   pada umumnya dibuat di atas kain kanvas berpigura dengan bahan cat minyak, cat akrilik, atau bahan lainnya.
b)     Seni  patung  salah  satu  jenis  seni  murni  berwujud  tiga  dimensi.  Patung dapat  dibuat  dari  bahan  batu  alam,  atau  bahan-bahan  industri  seperti logam,serat gelas, dan lain-lain.
c)     Seni Grafis merupakan  seni murni dua dimensi dikerjakan dengan teknik cetak   baik   yang   bersifat   konvensional   maupun   melalui   penggunaan teknologi canggih. Teknik cetak konvensional antara lain:  1) Cetak Tinggi (Relief Print):   wood cut print, wood engraving print, lino cut print, kolase print; 2) Cetak Dalam (Intaglio):  dry point, etsa, mizotint,sugartint ; (3) sablon (silk screen).  Teknik Cetak dengan teknologi  modern,  misalnya offset dan digital print.
d)      Seni keramik termasuk seni murni tiga dimensi sebagai karya bebas yang tidak terikat pada bentuk  fungsional.

b. Seni Terapan, Kapan ada dan terjadinya?
Seperti yang telah di uraikan di atas, karya desain tidak bisa dikategorikan sebagai bagian dari seni. Namun karya kriya bisa saja mengandung unsur seni disamping bertujuan untuk mengisi kebutuhan fisik (utilitas).

Menurut penulis, istilah seni terapan (aplied arts) muncul semasa revolusi industri di Eropah, memang pada masa itu pengetahuan tentang melukis, menggambar, mematung dan sebagainya diterapkan ke produk industri yang masih bersifat semi manual. Hal ini terutama oleh adanya gerakan "art and craft movement", gaya seni Art Deco dan Srt Nouveau"


Oleh karena itu kalaupun istilah seni terapan dipakai, Istilah seni terapan menurut penulis hanyalah sebatas wacana teoritis, dalam praktiknya fakultas-fakultas Seni Rupa di Indonesia dibagi atas Seni Rupa dan Desain ( ITB, Trisakti, dan sebagian dari ISI) umumnya tidak ada jurusan seni terapan.Contoh tentang ini dapat kita lihat dari pembagian seni rupa itu sebagai berikut.

c.       Desain
Ilmu desain tidak bisa dianggap semata ilmu terapan dari seni, sebab dasar ilmu ini berbeda dengan ilmu seni. Tradisi ilmu desain berangkat dari tradisi logika yang dipelopori oleh sekolah Bauhaus di Jerman, sedangkan seni berangkat dari tradisi rasa, dan estetik. Yang penting bagi ilmu desain adalah argumen-argumen  logis dari sebuah karya desain, yang dicari bukan semata hal yang bersifat estetis. Jadi aneh jika dikatakan bahwa desain adalah terapan dari ilmu seni, apanya yang diterapkan? Bukankah terjadi sebaliknya ? Contoh: ilmu dasar desain  yang dipelopori oleh Paul Klee, sekarang menjadi ilmu dasar bagi seni rupa juga. 

d.      Kriya, Kerajinan Tangan dan Ketrampilan
Perkembangan   dalam   dunia   seni  rupa,   adalah   munculnya   kriya sebagai   bagian   tersendiri   yang   terpisah   dari   seni   rupa   murni.   Jika sebelumnya kita mengenal istilah   seni kriya sebagai bagian dari seni murni, kita mengenal istilah kriya atau ada pula yang menyebutnya kriya seni. Kriya merupakan   pengindonesiaan   dari   istilah   Inggris   Craft,   yaitu   kemahiran membuat produk yang   bernilai artistik dengan keterampilan  tangan, produk yang dihasilkan  umumnya  eksklusif  dan dibuat  tunggal,  baik atas pesanan ataupun  kegiatan  kreatif  individual.  Ciri  karya  kriya  adalah  produk  yang memiliki   nilai   keadiluhungan    baik   dalam   segi   estetik   maupun   guna. Sedangkan   karya  kriya  yang  kemudian   dibuat   misal  umumnya   dikenal sebagai barang kerajinan

Untuk di mancanegara lihat Academic Standards for the Arts and Humanities, Pennsylvania Department of Education
[2] Untuk mendalami bahan ini lebih dalam  lihat pengertian dan kegiatan pendidikan visual arts di internet yang berbeda dengan pendidikan  fine arts, dan berbeda pula dengan pendidikan Design. Istilah seni terapan sebenarnya kurang tepat untuk menterjemahkan kata design.

C. Penutup




  1. Untuk melihat genre seni, khususnya seni lukis yang lebih lengkap , lihat di wikipedia ( Klik disini (Wiki Painting)
  2. Stimulasi daya cipta yang diberikan guru diharapkan bisa membina kreativitas dengan mengembangkan berbagai pendekatan. Salah satunya adalah dengan mempelajari klassifikasi seni sebagai bahan stimulan, yang diutarakan dalam bentuk tema-tema seni, khususnya yang terkait dengan budaya. 
  3. Kita harus menyadari bahwa jika yang ingin dipelajari itu adalah seni berdasarkan budaya maka pengklassifikasian seni itu adalah berdasarkan produk dari daerah tersebut (wilayah), misalnya seni lukis Cirebon adalah klassifikasi yang benar, sebagai produk daerah tersebut.
  4. Sebagai perbandingan lihat contoh di bawah ini bagaimana Wikipedia mengklassifikasikan karya seni lukis dunia sebagai berikut di bawah ini.
Pengelompokan Seni Lukis Menurut Wikipedia (2013) 
  1. by alphabet (Alfabetis)
  2. by art movement (Gerakan Seni)
  3. by school or group ( Sekolah atau Kelompok)
  4. by genre (Tipe)
  5. by nationality (Kebangsaan)
  6. by century (Sejarah/Abad)
  7. popular (Popularitas)

Contoh Klassifikasi Seni Lukis Berdasarkan Genre (objek yang digambarkan) 
  1. abstract painting 
  2. advertisement 
  3. allegorical painting 
  4. animal painting 
  5. battle painting 
  6. bird-and-flower painting 
  7. capriccio 
  8. caricature 
  9. cityscape 
  10. cloudscape 
  11. design 
  12. figurative painting 
  13. flower painting 
  14. genre painting 
  15. graffiti 
  16. history painting 
  17. illustration 
  18. installation 
  19. interior 
  20. landscape 
  21. literary painting 
  22. marina 
  23. miniature 
  24. mosaic 
  25. mythological painting 
  26. nude painting (nu) 
  27. pastorale 
  28. performance 
  29. photo 
  30. portrait 
  31. poster 
  32. religious painting 
  33. sculpture 
  34. self-portrait 
  35. shan shui 
  36. still life 
  37. symbolic painting 
  38. tessellation 
  39. urushi-e 
  40. veduta 
  41. wildlife painting 
  42. yakusha-e  



Untuk jelasnya lihat WIKIPAINTING









Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting

Wacana Seni Visual

Loading...

Wacana Desain

Loading...