Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Selasa, 08 Maret 2011

Memahami Klassifikasi Seni dan Seni Rupa Berdasar Budaya


Oleh Nasbahry Couto
Revisi: Agustus 2012 

A. Uraian Singkat



Tujuan memahami klasifikasi seni adalah untuk memudahkan pengembangan tema-tema seni dalam pembelajaran seni di sekolah dengan berbasis budaya. Yaitu tema-tema seni yang berasal dari budaya baik yang bersifat lokal, nasional maupun dari mancanegara. Tema-tema seni tidak dibatasi hanya kepada hal-hal yang menarik bagi murid, tetapi mereka diajak untuk masuk ke apresisasi seni lokal, nusantara dan atau mancanegara. Misalnya murid di ajak untuk mempelajari kegiatan seni lukis, musik, tari yang konvensional (lazim). Atau cara lain misalnya untuk mempelajari seni dari aspek ekspresi budaya lokal, tradisional.
Bentuk Pengklassifikasian berdasar budaya, yang dipelajari di tingkat dasar adalah tentang jenis seni, tipe produk seni  dan  karya.
Pengklassifikasian yang dipelajari di tingkat dasar, misalnya gaya lukisan,misalnya gaya seni realis dan abstrak dsb. yang terdapat dalam sejarah seni, atau dapat dibandingkan dengan yang terdapat dalam sejarah seni Indonesia. Pengklassifikasian patung atau keramik atau lainnya kurang lazim ditemukan. Biasanya mengikuti apa yang terdapat pada karya lukis. Namun, ada pengklassifikasian lain yang tidak terikat dengan seniman, dengan tempat, waktunya seperti “maksud seni” yang dapat terpakai ke semua jenis seni. Walaupun pengklassifikasian ini masih dasar, namun pengklassifikasian ini tetap dinamakan pengklassifikasian dalam konteks budaya, yaitu cara berpikir kebudayaan manusia dalam memahami seni. Cara berpikir ini adalah salah satu aspek kebudayaan. Pengklasifikasian berdasarkan budaya yang lebih rinci, terurai ada pada buku teori seni karangan penulis (2009) “Seni Rupa Teori dan aplikasi” yang rencananya akan akan dicetak ulang (2014-2015) (400 halaman).

Seni berdasarkan budaya (multikulturalisme), berarti mempelajari seni dalam konteks ragam budaya. Setiap budaya memiliki  cara berpikir, kesenangan, ideal tentang  keindahan, simbol-simbol budaya yang berbeda. Karya seni, ciri-ciri seni, penting diketahui yang mungkin berbeda di tempat lain. Hal ini dapat dipelajari dengan menganalisis  artefak yang ada, demikan juga latar belakang sejarahnya. Dari sejarah seni dan sosiologi seni dapat dipelajari kelompok pemrakarsa, penyokong seni. Seni kota (urban) atau pedesaan (rural), seni istana atau seni rakyat (folk culture), Demikian juga tradisi seni yang dikembangkan pada sekolah atau akademi yang berlangsung pada sepotong sejarah.

Pada dasarnya pengkelasan atau pengklassifikasian seni itu adalah berdasarkan wacana dikursus seperti.1) hanya sebatas wacana karya, 2) wacana  karya sejenis dalam tempat atau sepotong waktu dalam sejarah (langgam seni, aliran seni, 3) tipe karya seni tanpa membedakan waktu dan tempat seperti jenis seni visual (visual arts), produk seni, karya rancangan, karya kriya dsb. 4) karya seni berdasarkan budaya, seperti ekspresi budaya (ekspresi seni tradisi lokal, dsb), ekspresi budaya visual (budaya visual), dan imaji-imaji budaya visual dsb.

Dengan memahami karya seni rupa dan desain, seorang arkeolog, ahli sejarah, kritikus, pengajar seni dan lainnya akan mudah membahas  sebuah karya seni dalam konteks sosial dan budaya. Dalam konteks ini, peran lain  seni adalah sebagai alat komunikasi sosial seperti ekonomi, penyebaran pengetahuan dan teknologi. Pengetahuan sejarah seni dan kategori seni berperan bagi pengajar seni. Dalam membahas karya seni pebelajar, dapat mengenal metoda-metoda produksi seni maupun konsep-konsep seni masa lalu dapat menjadi inspirasi untuk membuat karya seni baru untuk masa kini dan kegunaan tertentu.

Menurut Couto (2009: 108-118) masalah klassifikasi  seni dan seni sering berbeda-beda pada sekolah atau akademi tertentu yang disebabkan oleh ajaran, sejarah dan tradisi akademiknya. Misalnya, di Amerika ada sekolah yang namanya “liberal arts”sebagai kelanjutan tradisi akademi klassik Eropa, di Inggris misalnya ada Akademi “Arts and Design” dan banyak contoh lainnya. Seni bisa saja masuk dalam bagian Fakultas Seni, Bahasa dan Sastra, di tempat lain menjadi bagian dari Sekolah (fakultas) Seni Visual dan Desain.

Menurut Atkins (1990) dan  Barnes (2003)  pengklassifikasian ini dalam seni modern bisa menjadi rancu bukan saja karena tradisi akademiknya. Tetapi  karena banyak karya-karya yang tidak atau dapat dimasukkan ke dalam kategori tradisi akademi konvensional. 

B. Kategori dan Klassifikasi
1.Genre/Tipe

a. Pengertian genre secara umum

Kata “genre” berasal dari bahasa Latin “genus”. Pada abad ke-19, muncul kata “type” (bhs. Perancis) yang artinya dalam bahasa Inggris “the category of artistic works”. sebuah genre adalah seperangkat konvensi dan gaya dalam media tertentu. Dalam pengertian umum genre adalah tipe (type) atau kategori seni dengan medium tertentu seperti, musik, opera, teater, tragedi, komedi; tari, seni visual, lanscape adalah sebuah genre. Genre dalam lukisan termasuk stil life dan lanskap. Sebuah karya seni tertentu dapat berbelok atau tergabung kepada genre terentu, tapi setiap genre memiliki kelompok yang mudah dikenali dari konvensinya. Secara umum dalam dunia pendidikan yang dimaksud dengan genre seni dapat berarti : musik, teater, tari dan seni visual.[1]
Lukisan Genre, artinya lukisan yang memperlihatkan adegan kehidupan sehri-hari. Seniman Perancis Jean François Millet memfokuskan lukisan pemandangan kehidupan pedesaan (scenes of rural life), salah satu yg terkenal adalah The Gleaners (Penanam bibit) (1857). Karyanya yg dibuat saat berada di sekolah seni Barbizon school, yg bernuansakan naturalistis
Kata genre memiliki arti kedua yang lebih tua, sebab kata ini dipakai untuk menunjukkan jenis lukisan yang memperlihatkan adegan kehidupan sehari-hari dan sekarang istilah ini masih digunakan. Lukisan bergenre adalah ucapan yang digunakan dalam abad ke-17 sampai abad ke-19.
Klassifikasi genre dalam seni visual sama rumitnya dengan genre dalam sastra, misalnya sebuah genre dapat lahir dari konsep bentuk seperti konsep bentuk realis atau konsep bentuk abstrak.Dari konsep teknik misalnya maka muncul klassifikasi karya seni realis dan karya representatif, karya ekspresif dan karya abstrak. Seni lukis abstrak, bisa menghasilkan sub-sub genre yang lebih spesifik misalnya abstrak ekspresionisme, abstrak liris, abstrak figuratif dan sebagainya.Seni realisme misalnya akan memunculkan klassifikasi seperti realis jalanan, realis jendela, realis perkotaan dan sebagainya. Karya realis jalanan akan memperlihatkan realitas seakan-akan si penonton dibawa ke jalanan, sedangkan realis jendela seakan-akan penonton melihat dari sebuah jendela.Artinya, istilah genre dalam konteks klassifikasi seni dalam pengertian yang luas tidak menjadi masalah karena sifatnya makro. Tetapi jika diterapkan kepada pengklassifikasian seni yang lebih spesifik dia menjadi masalah oleh karena seni membawahi bermacam-macam konsep, latar belakang teori dan cara membahasnya.

C.Tipe

Sinonim dari istilah genre adalah Type (tipe) yaitu sesuatu atau yang memiliki kualitas yang sama. Dalam KBBI, dijelaskan bahwa tipe (1) model; contoh; corak: (2) dalam bahasa (linguistik) adalah jenis yang oleh klasifikasi tipologis dianggap mempunyai kemiripan struktural, lepas dari sejarah dan lokasi pemakaiannya. Jadi tipe adalah sebuah klassifikasi/kategori yang bertolak belakang dengan langgam. Sebab langgam, adalah gaya seni yang terikat dengan lokasi, tempat dan waktu. Sebab langgam seni adalah kategori seni yang terkait dengan lokasi, tempat dan waktu tertentu, sedangkan istilah gaya terikat dengan karakter seni yang dihasilkan individu.
Gaya seni lukis Bali adalah sebuah langgam (gaya seni) yang khusus hanya di Bali, langgam seni Kalasan, hanya ada di Kalasan. Namun juga tidak salah jika memakai kata gaya seni saja saat membicarakan sebuah langgam seni. Namun karya seni van Gogh adalah sebuah gaya seni yang memiliki karakter individual yang khas van Gogh.

D. Kriteria Klassifikasi

Kritéria adalah patokan, tolok ukur atau yang  menjadi dasar penilaian atau penetapan sesuatu; misalnya penetapan klassifikasi seni. Sedangkan pendekatan adalah cara atau proses untuk mendekati pemecahan masalah, misalnya masalah klassifikasi seni. Dengan demikian ada beberapa kriteria yang dipakai di bawah ini untuk mengklassifikasikan  karya seni.
  • Kriteria jenis yaitu apa saja yang menjadi jenis karya seni rupa, dalam hal ini adalah yang termasuk seni visual. Seni visual lebih luas dari pada seni rupa.
  • Kriteria  hasil atau produk, apa saja  yang menjadi produk seni visual itu, dalam konteks klassifikasi, yaitu tipe-tipe seni yang dihasilkan seni visual
  • Kriteria Gaya dan Corak karya seni, gaya yaitu Style adalah sebuah kekhasan (distinctive) dan atau identitas, indentifikasi (identifiable) dari bentuk (form) pada medium seni , misalnya gaya karya Seni Rembrand, Raden Saleh dan sebagainya
  • Kriteria Maksud, yaitu apa saja yang menjadi Maksud karya seni itu
Secara umum untuk memahami seni, kita dapat mengadakan beberapa pendekatan untuk memahami fenomena seni visual, walaupun yang dibicarakan bukan klassifikasi/ tipologi seni, pendekatan itu adalah.
  • Pendekatan ekstrinsik pendekatan karya seni dengan menggunakan ilmu bantu yang bukan seni  seperti  filsafat, sejarah, sosiologi, dan psikologi;
  • Pendekatan Konseptual (gagasan) pendekatan yang  menekankan kepada pencarian kaidah ideal; konsep-konsep seni.
  • Pendekatan intrinsik pendekatan karya seni dengan menerapkan teori dan kaidah seni yang  penelaahannya bertolak dari karya seni itu sendiri; misalnya teori komposisi.
  • Pendekatan sejarah  yaitu pemahaman seni  berdasarkan waktu tertentu dengan pengelompokan dan penafsiran berbagai keterangan secara kronologis. Misalnya berdasarkan gaya surealistik yang berkembang di Eropah
Contoh-contoh dalam klassifikasi ini diambil secara acak saja dari beberapa buku, tetapi pengklassifikasian ini tidak terlepas dari kriteria dan pendekatan yang diambil. Walaupun ada buku lain, dengan mengikat kepada kriteria dan pendekatan di atas , hasilnya tidak akan berbeda banyak.


Catatan penulis. Mungkin ada kekurangan dari bagan terdahulu, yang bisa disalah tafrsirkan terhadap judul laman ini sehingga bagannya di revisi dan ditambahkan bahan ini.

Dari pendekatan teori dan Filsafat, seni  itu dapat dicerap melalui (1) mata, (2) telinga dan (3) campuran. Sehingga lahir kelas seni (1) visual arts, (2) Verbal arts/ seni melalui bahasa, (3) auditory arts (seni melalui pendengaran), dan (4) campuran diantaranya, misalnya seni drama dan film.
Dari teori ini muncul pengklassifikasian seperti: seni musik atau seni suara, seni visual (rupa), seni sastra atau campuran seni ini seperti seni drama.

Dari teori budaya, budaya manusia dianggap menghasilkan seni, sehingga lahirlah Ekspresi Budaya (Culture Expression), sesuai dengan masing-masing budaya yang ada di dunia. Dari teori budaya ini muncullah istilah atau klassifikasi:  seni budaya lokal, seni tradisional, tari moderen, tradisional dan sebagainya. Teori ekspresi budaya visual memunculkan klassifikasi: budaya visual (Visual culture), dan yang lebih khusus adalah kelas Visual Arts. 
Yang terakhir ini sering disalah artikan sebagai Seni Rupa, padahal tidak. Seni Rupa, secara tradisi akademik adalah seni-seni yang masuk kelas yang membahas pengalaman seni, seperti pengalaman berekspresi dan estetik. Hal ini berbeda dengan kelas Desain yang tujuan utamanya memberikan pengalaman merancang (designing). Tujuan kelas desain bukan memberikan pengalaman berekpresi dan estetik, walaupun juga ada pengalaman persepsi estetik di dalamnya.

Dari pendekatan kelas produk, atau hasil Budaya Visual, dapat dilihat dari tiga kelompok kelas, yaitu sebagai kelas (1) produk ekspresi,  (2) produk ketrampilan dan (3) sebagai produk rancangan (desain). Di sini terdapat pembatasan, misalnya ketrampilan bisa berperan dalam seni rupa dan kriya dan sebaliknya, sedangkan rancangan berperan ke tiga kelompok kegiatan itu. Hasil desain bisa dilihat misalnya patung bisa didesain untuk produk industri massal misalnya patung yang dipakai untuk menggantung pakaian di toko pakaian atau supermarket. Filem termasuk karya desain dan sebagainya. Untuk lebih  jelasnya lihat artikel ini.

Budaya itu secara teoritik meninggalkan warisan budaya, sehingga dapat dilihat  dua kelas warisan budaya yang diakui secara internasional. Dapat dibagi sebagai "Peninggalan budaya berwujud dan tidak berwujud" "tangible culturan heritage" dan "Intangible cultural heritage", sebuah tari tradisional dan ilmu silat termasuk "warisan budaya takbenda" karena hanya bisa dilihat jika ditampilkan. Definisi ini dapat dari WIPO sebagai berikut ini.Jika diterjemahkan makanya adalah berikut ini.
"Warisan budaya tak berwujud" didefinisikan dalam Konvensi UNESCO untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda (2003) sebagai "praktek, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan - serta instrumen, obyek, artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya - bahwa masyarakat, kelompok dan, dalam beberapa kasus, individu mengakui sebagai bagian warisan budaya mereka. Ini warisan budaya takbenda, ditransmisikan dari generasi ke generasi, terus diciptakan oleh masyarakat dan kelompok dalam menanggapi lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam dan sejarah mereka, dan memberikan mereka rasa identitas dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.
Untuk tujuan Konvensi ini, pertimbangan akan diberikan hanya kepada warisan budaya takbenda seperti kompatibel dengan instrumen HAM internasional yang sudah ada, serta dengan persyaratan saling menghormati di antara masyarakat, kelompok dan individu, dan pembangunan berkelanjutan. "Konvensi ini juga menyatakan bahwa "warisan budaya takbenda" diwujudkan antara lain dalam domain berikut: a) tradisi lisan dan ekspresi, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda; b) seni pertunjukan; c) praktek-praktek sosial, ritual dan acara meriah; d) pengetahuan dan praktek tentang alam dan alam semesta; e) keahlian tradisional.

1. Tipe Karya dengan Kriteria  Jenis  Visual (Barnes)

Yang dimaksud dengan jenis visual disini adalah karya yang terlihat dengan kategori imaji visual.Apakah imaji (image) itu?. Imaji adalah sesuatu yang dibayangkan dalam pikiran; bayangan; Imaji visual adalah segala sesuatu yang mewakili visual.   Misalnya grafis (gambar arsitektur, gambar interior, produk), peta-peta, lukisan dan gambar, hasil foto dan segala sesuatu yang nampak kelihatan. Untuk tidak salah pengertian karya desain arsitektur adalah gambar-gambar grafis arsitektur, demikian juga desain produk dan interior. Dalam sejarah, teknik awal dalam menggambarkan imaji itu, melalui gambar perspektif, cat minyak, dan lensa. Ciri dari imaji visual itu adalah cerminan, (mirror), santir dari realita atau benda (objek).

Pendekatan budaya terhadap seni visual yang lain adalah "tangible cultural" dan "intangible cultural heritage" yang artinya "budaya benda" dan "budaya takbenda", yang bisa juga diartikan "budaya rupa/berwujud" dan budaya takberwujud". Budaya visual bisa disalah artikan sebagai "tangible cultural heritage". Maaf pembaca, saya agak bingung membaca buku "Budaya visual Indonesia", pengarangnya tidak usah saya sebutkan, isinya sebenarnya Gaya Desain, dan tidak bersinggungan dengan konsep-konsep asli dari budaya visual. Ini salah satu friksi dari pengertian "budaya visual" yang bergeser maknanya kepada "tangible cultural heritage" dan intangble cultural heritage (keduanya berpasangan).


Salah satu kajian budaya visual zaman Byzantium, oleh Emmanuel Alloa, april, 5-5-2013, yang mengkaji imaji-imaji visual/budaya visual di zaman Byzantium, dalam Journal of Visual Culture, dari :http//vcu.sagepub.com/

Teori Persepsi terhadap imaji.
“Images are analogous to visually perceived scenes in the world [Archigram]; But the observer's psychological [Mark Cohen], physiological [Jonathan Crary] ; perceptual [Eckstein] and mental operations [Julesz] all impact on meaning”(Art & Technology George Legrady)
Bahasa Imaji (Language of the Image)
  • Bahasa Imaji. Lihat “Roland Barthes asks if the image is a language (yang memandang imaji sebagai bahasa visual)
  • Bahasa imaji juga dapat dipelajari dari retorika Visual ( Hugh , The Rhetoric Of The Image – Roland Barthes (1964), December 21, 2009.http://tracesofthereal.com/2009/12/21/the-rhetoric-of-the-image-roland-barthes-1977/

Sintaksis Visual (Visual Syntax)/ Tata Kalimat Visual)

  • Makna yang disalurkan melalui melalui organisasi bentuk, lihat teori-teori Cartier-bresson, Images à la sauvette (1952; The Decisive Moment) dan Max Bill tentang organisasi visual imaji fotografi
  • Makna yang dikembangkan melalui komposisi elemen visual, lihat: Winogrand, Friedlander, Baldessari tentang organisasi dan komposisi elemen fotografi 
  • Dalam sejarah seni “pokok soal” (subject matter)  seni semata-mata adalah dari bentuk yang diekplorasi
  • Makna dari imaji-imaji visual adalah hubungan timbal balik antara encoded (cara tanda /pesan dibuat) dan decoded atau cara pembacaan pesan/tanda (Information Theory).
  • Makna imaji: kadang-kadang imaji gambar adalah tanda yang kosong (tidak bisa diduga), sebab menunjuk sesuatu yang lain.
  • Makna adalah hasil budaya dan pembelajaran, makna adalah sistem kognisi. 

Fotografi dan Seni digital, termasuk  Visual arts. Sumber. Wallpaper.

Seni visual adalah imaji-imaji  visual yang mengandung keindahan. Karya seni rupa juga terlihat (visual), tetapi membatasi diri pada aspek ekspresi manusia terutama emosi, visual arts tidak. Itulah sebabnya arsitektur, filem, fotografi, dimasukkan kedalam kategori jenis seni visual. Filem, animasi, kartun, video seni misalnya, adalah gambar bergerak yang dipersepsi melalui imaji-imaji visual. Jadi  visual arts  adalah kategori seni visual yang mementingkan imaji (image). Pembatasan seperti ini berbeda dengan kriteria tradisi seni rupa akademik yang membatasi seni hanya  pada lukisan, patung, grafis dan keramik sebagai alat ekspresi dan emosi.
 Gambar grafik arsitektur termasuk visual arts.

Untuk klassifikasi Visual arts dipakai kriteria produk hasil seni visual. Sebagai contoh kriteria yang dipakai  misalnya jenis imaji visual tiga dimensi yang dibedakan dengan imaji visual dua dimensi, imaji lukisan dibedakan dengan imaji visual arsitektur. Perkembangan  jenis imaji visual ini dapat diketahui melalui pendekatan sejarah dan konseptual.  Dalam sejarah, secara konseptual, yang disebut seni (arts)  adalah yang visual (kategori tangible). Dari sejarah terlihat, selalu ada ada jenis-jenis  produk seni baru yang dapat menjadi bagian dari seni visual lama, misalnya fotografi dan karya komputasi. Diantaranya adalah:
  • Gambar grafis
  • Karya berbasis lensa (Optical/lens based)
  • Seni optikal dan komputasi, lapangan cahaya (light space)
  • Komputasi, algorithmic
  • Data Visualization
  • Optical time-space [Art + Com] 

Yang lebih luas dari seni visual adalah budaya visual (visual culture) mirip dengan visual arts, tetapi penekanannya kepada sosial dan budaya. Yang dilihat tetap imaji-imaji visual yang dimaksud. Misalnya komik “manga” adalah ekspresi budaya (Cultural Expression Jepang. Sedangkan “Tom and Jerry” adalah imaji visual ekspresi budaya Amerika. Jadi Budaya visual adalah dalam konteks ekspresi budaya yang berlainan. Budaya visual bukanlah sekedar wujud kebudayaan konsep. Budaya visual Indonesia yang baru dikenal internasional ada pada keragaman bentuk bangunan dan ukiran serta seni batik yang juga memperlihatkan ekspresi budaya yang khas Indonesia. Dan juga sudah banyak karya seni visual lainnya tetapi popularitasnya belum luas.Dalam budaya visual di bedakan antara yang tangible dengan yang intangible (intangible cultural  heritage). Budaya visual hanya membahas “tangible cultural heritage”. Umumnya bidang seni budaya mempelajari dan menguasai keduanya. 


Budaya Visual: Komik “manga” Jepang,  dan “komik “cowboy” Amerika, sumber: Wikipedia.2014. Perbedaan budaya terlihat dengan jelas dari imaji yang ditampilkan.

Singkatnya penggolongan seni berdasarkan jenis  visual ini sebagai berikut: 


Jenis Seni 
Contoh
1
lukisan dan seni dua dimensi
lukisan dinding (fresco), lukisan cat minyak,  lukisan tempera,; dan cat air, di atas panel kayu, plester, kain layar, dan kertas, media dua dimensi lainnya yang dipakai untuk melukis ( tradisi Barat) antara lain  jambangan ( vase), Kaca-patri/stained glass, naskah iluminasi,   lukisan pasir, lukisan tinta, dan semua bentuk gambar dan hasil printmaking/seni cetak.
2
seni patung dan seni tiga dimensi
Seni yang menggambarkan ruang. Patung, dengan suatu kategori yang diluaskan, meliputi objek tiga dimensi, apakah yang freestanding ( tanpa adanya struktur pendukung lain) atau terkait dengan suatu latar belakang dan disebut dengan patung  relief. Atau patung dalam pengertian ruang yang bersatu dengan pengamatnya, atau menciptakan lingkungan utuh di mana orang-orang dapat bergerak sekelilingnya.
3
arsitektur,
Arsitektur adalah seni menciptakan struktur dan ruang dimana kita dapat tinggal/hidup, bekerja, dan bermain. Arsitek, lebih dari seorang pelukis atau pematung, karya arsitektur terkait dengan faktor fungsi/utilitas; seperti halnya dengan penampilan visualnya, kepadatan strukturnya, cara bangunan ditempatkan pada suatu lingkungan/ lanskap mempengaruhi manusia secara visual
4
Fotografi dan media baru
Fotografi, seni filem, seni video, media yang didasari oleh waktu (time based media)
5
Seni dekoratif
Kriya perhiasan, tekstil,  kayu, keranjang, fashion/ pakaian, mebel, atau materi rumah tangga


Alternatif pembelajaran 
Jelaskan garis besar karya visual, (visual arts) dan adanya produk ungkapan dan produk desain di dalamnya. Pertanyaan pokok kepada pebelajar adalah apakah yang dimaksud dengan karya visual, apa bedanya dengan seni rupa?“ Apa karya ungkapan, dan apapula karya rancangan, berikan contoh. Ada lima bentuk jenis karya imaji visual, manakah yang yang mereka kenal. Apakah bangunan gedung dan contoh lain adalah salah satu bentuk seni murni atau desain? 

2. Tipe Seni Rupa dengan Kriteria  Hasil Seni  (Tipe Seni Feldman)

Untuk klassifikasi ini Feldman dalam bukunya “Arts as image and  Idea”(1967), jelas sekali beliau tidak membatasi seni itu hanya “seni rupa” saja, sesuai dengan judul bukunya “seni sebagai imaji-imaji visual dan gagasan-gagasan”, dia membahas asritektur, karya desain dan kriya sebagai  bagian dari pembahasan bukunya.
Menurut Feldman (1967), ada tiga fungsi seni visual yaitu (1) fungsi imaji visual untuk alat ekspresi individu (2) fungsi imaji visual dalam masyarakat (sosial) dan fungsi fisik visual. Dari  ketiga fungsi “imaji visual” ini maka lahir karya seni visual, yang produknya dapat dilihat empat tipe. Yaitu tipe karya visual imitatif, tipe karya visual bentuk,tipe karya visual emosi dan tipe karya visual fantasi.
  1. Karya visual Tipe imitatif, menurut Feldman yaitu kelompok seniman dan karya seni yang ingin menggambarkan bentuk apa yang dilihat oleh manusia. Oleh karena mata adalah alat utama dalam mengamati alam, maka cara menggambarkan alam itu dipengaruhi oleh kecermatan mata, ketepatan mata melihat dan kemudian menggambarkannya. Hasilnya adalah karya yang mulai dari yang sangat persis (realistis), impresionistik, sampai kepada mengabstraksikan objek yang digambarkannya. Tipe imitatif umumnya beranggapan bahwa keindahan itu ada di lingkungan alam, dan objek. Peniruan ini kemudian  diangkat menjadi konsep-konsep  karya seni seperti realistis, naturalisme, impresionistis, super realistik, lukisan genre dan sebagainya.
  2. Karya visual Tipe bentuk, yaitu kelompok seniman yang ingin  menggambarkan bentuk saja, mencari keindahan dari bentuk, berbeda dengan imitasi yang juga menggambar bentuk, imitasi hanya meniru. Sedangkan tipe bentuk memfokuskan diri kepada pencarian bentuk-bentuk estetik. Oleh karena bentuk itu di temukan pada makhluk hidup (biomorfis) maupun yang tidak alamiah seperti (geometrik) cara penggambarannya tidak selalu realistik, misalnya yang menggambarkan struktur bentuk biomorfis (makhluk hidup). Bentuk-bentuk di alam cukup banyak, demikian juga bentuk-bentuk yang buatan manusia seperti benda-benda, bangunan, objek  dan sebagainya. Penggambaran bentuk ini kemudian diangkat menjadi tema-tema seni seperti konstruktivisme, kubisme dan sebagainya.
  3. Karya visual Tipe emotif, yaitu kelompok karya seni yang memfokuskan diri kepada emosi diri manusia. Manusia adalah makhluk yang diciptakan manusia memiliki perasaan, dan sepanjang hidupnya dia merasakan ragam perasaan seperti perasaan dalam cinta, perkawinan, dan rasa takut, cemas, menghadapi kematian, demikian juga atas hubungannya dengan Tuhan. Penggambaran emosi ini kemudian diangkat menjadi tema-tema seni yang sifatnya emotif. Gambaran-gambaran emosi ini juga mengandung keindahan, misalnya ekspresi cinta kasih yang banyak sekali diungkapkan dalam seni. Tipe emosi ini kemudian diangkat menjadi tema-tema seni yang terkait dengan perasaan manusia, misalya tema rasa takut, cemas, cinta dan sebagainya.
  4. Karya visual Tipe fantasi, yaitu kelompok seniman dengan karya seni yang memfokuskan kepada imajinasi, halusinasi, ilusi. Pada umumnya manusia tidak selalu hidup dengan alam nyata. Tidur misalnya memungkinkan manusia mengalami imaji-imaji atau khayalan yang tidak ada di alam sadar. Dalam sadar manusia bisa juga berkhayal, berimajinasi dan menggambarkan khayalannya itu pada karya seni, misalnya hasil karya arsitektur, rancangan atau desain, sebenarnya adalah khayalan yang terencana secara matang.  Kayalannya itu baru bisa dilihat hasilnya jika gambar rancangan itu diibuat. Penggambaran imaji, ilusi, dan fantasi ini kemudian diangkat menjadi tema-tema atau konsep seni seperti seni surealisme, lukisan fantastik, bahkan dalam bentuk filem futuristik.
Alternatif pembelajaran.
Pebelajar diajak untuk memahami hasil karya visual menurut kriteria produk visual menurut konsep Feldman ini, bahwa dalam karya visual manusia (1) melihat lingkungan untuk di jadikan inspirasi seni, dengan contoh-contohnya (2) melihat bentuk-bentuk saja sebagai sumber inspirasi seni, dengan contohnya dan berbeda dengan yang pertama yang tidak menghiraukan bentuk, (3) melihat perasaan dan emosi manusia sebagai sumber inspirasi seni, (4) dan khayalan sebagai sumber inspirasi seni, dengan contoh-contohnya. Khayalan itu bukan tidak penting, sebab dalam merencanakan sesuatu, manusia juga mengkhayal. Dalam praktik bisa dilakukan dua cara, kalau dalam apresiasi seni dan praktik, pebelajar disuruh mencari kata-kata, kosa kata yang berhubungan dengan ke empat ciri produk karya visual itu. Kemudian baru di minta menggambarkannya. Dalam kegiatan apresiasi bisa dieri tugas kelompok untuk mencari hasil seni ke 4 tipe itu, baru membahasnya.

3. Kategori Seni Berdasarkan Kriteria  Gaya dan Corak Visual Seni (Rathus)

Gaya SeniSekarang kajian tipe seni masuk kepada yang lebih khusus yang melihat kepada masing-masing tipe karya visual itu, misalnya klassifikasi yang dipakai untuk membahas karya lukisan, patung atau karya visual dua dimensi (karya seni rupa).
Karya visual Tipe imitasi misalnya, adalah salah satu tipe seni yang mengimitasi bentuk, namun imitasi ini dapat berbeda dalam cara seniman menggambarkannya. Misalnya  sangat realistis (seperti lukisan Basuki abdullah), atau hanya sekedar representasi seperti pada sebuah gambar, atau dengan cara ekspresif (seperti  lukisan Afandy), atau cara abstraksi seperti lukisan Sadali (abstrak lyris), dimana masih imitatif tetapi di abstrakkan. Atau juga seperti ornamen dimana bunga digambarkan menjadi dekorasi.
Rathus (1994) menjelaskan bahwa dalam seni visual, gaya seni rupa  mengacu kepada karakteristik ekspresi (ungkapan) seniman dalam berkarya. Dalam sejarah diperlihatkan bahwa seniman melalui sejarahnya telah menggambarkan tema-tema yang familiar, namun karya mereka berbeda tidak saja dalam konteks sosial dan budaya, melainkan juga pada corak.  Pengertian corak, gaya  oleh Rathus  (1994) adalah klasifikasi  berdasarkan bagaimana teknik seniman dalam melukiskan sesuatu seperti:
  1. Gaya Realistis (pelukisan realitas). Menurut Rathus, Karya realisme mengacu kepada penggambaran manusia dan benda sebagaimana ia dilihat dengan mata atau dipikirkan, tanpa idealisasi, tanpa distorsi.
  2. Gaya Representasi/representation (penggambaran). Representasi artinya penggambaran, hal ini berbeda atau berlawanan dengan melukiskan sesuatu secara nyata (realistik). Perbedaan kedua lukisan atau gambar ini disebut oleh Rathus sebagai realis lawan representasi (realistic versus  representation) seperti yang diperlihatkan gambar di bawah.
  3. Gaya Ekspresi (pengungkapan). Dalam  seni ekspresi onistis, bentuk dan warna didistorsi secara bebas oleh seniman untuk maksud mencapai pengaruh emosional yang tinggi.
  4. Gaya Abstrak. Istilah seni abstrak berlaku bagi seni yang menyimpang secara berarti dari penampilan sebenarnya suatu benda. Seni seperti ini bisa jadi sama sekali non-objektif  (seni yang tidak menggambarkan objek, tidak memiliki model atau pokok persoalan nyata) atau non-representasional (seni yang tidak menghadirkan objek alam dalam bentuk yang bisa dikenali) atau ia realitas bentuk yang berdiri sendiri , tidak ada kaitannya dengan bentuk lain yang telah ada


Alternatif pembelajaran 
Pembelajan materi ini tingkat kesulitannya lebih tinggi dari yang pertama dan kedua. Karena itu tidak selalu dapat dilakukan untuk berkarya jika konsepnya tidak dipahami. Lebih cocok untuk apresiasi atau kritik seni. Pengajar dan guru harus memahami bahwa yang dimaksud gaya ini adalah karater visual sebuah karya yang individual. Ambil salah satu contoh karya tipe tertentu dari kategori Feldman. Misalnya tipe imitatif. Dalam menggambarkan tipe ini gaya seniman dapat berbeda-beda visualisasi karyanya. Perbedaan ini menurut rentang (1) Realistis, (2) Representatif, (3) Ekspresif, dan (4)  Abstrak. Tipe imitatif dapat dibawakan realistis misalnya lukisan Rembrand, atau Abdullah, gaya representatif misalnya lukisan -lukisan bergaya Bali atau gambar dengan pensil.Gaya ekspresif misalnya lukisan Van Gogh atau Afandi, berbeda dengan imitasi lukisan Sadali yang realitas itu diabstraksikan. Semuanya masuk kategori imitatif (Feldman). Demikian juga dalam pengucapan tipe bentuk yang dikemukakan Felman di atas.

Tentu saja pebelajar bisa diajak untuk berkarya dengan  tema-tema seperti ini harus memahami terlebih dahulu apa bedanya konsep realis, representatif. Misalnya, realis benar-benar harus serupa/mirip sekali dengan yang digambarkan, sedangkan arti representatif memang realis juga tetapi hanya sekedar menggambarkan, sedangkan ekspresif adalah gambar yang dapat mengungkapkan rasa tertentu misalnya mendramatisir ungkapan tertentu. Kadangkala hal ini yang sulit untuk menjelaskan atau menerangkan kepada Pebelajar tanpa ada contoh-contoh yang benar dari lukisan yang dimaksud. Yang penting semua tipe (4) tipe kategori seni Feldman di atas dapat di bawakan menurut keempat gaya tersebtut dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda.

4.     Kategori Seni Berdasarkan Kriteria Maksud Sen(Barnes)


Maksud Seni. Melalui sebagian besar sejarahnya, seni telah melayani berbagai tujuan: untuk menghormati orang mati, mengingat penampilan penguasa atau kerabat  (patung monumen), untuk memberikan bentuk visual untuk dewa, untuk menciptakan tempat-tempat suci, untuk menampilkan kekayaan (istana benda-benda), untuk mengajar (seni untuk pendidikan), dan memberi kesenangan (untuk keindahan). Bahkan bermaksud untuk membuat seni hanya untuk seni. Sejarawan melacak sikap tersebut pada filsuf abad ke-18 yang berharap untuk menemukan landasan intelektual bagi persepsi kita tentang keindahan dan dengan demikian memisahkannya dari kegiatan lain. Pandangan mereka dikenal sebagai "seni untuk seni." Di zaman sekarang  tentu pendapat ini telah berubah.

Menurut Barnes (2003) menjelaskan bahwa aspek-aspek imitatif, ekspresif, komposisi, gaya seni, pokok soal, abstraksi adalah elemen-elemen seni saja, di luar maksud seni. Maka dia mengklasisikasikan karya-karya seni rupa atas empat model maksud seni yaitu sebagai berikut ini.
  1. Seni rupa yang bermaksud untuk merekam realitas atau penampilan, ini sama dengan tipe imitatif (Feldman), dan gaya realistik
  2. Seni rupa untuk memvisualisasikan imajinasi dan visi manusia, ini sama dengan tipe Fantasi (Feldman)
  3. Seni rupa semata untuk menyenangkan (estetetik)
  4. Seni rupa untuk tujuan mengkomunikasikan sesuatu gagasan atau pikiran
Alternatif pembelajaran 
Pembelajaran ini tingkat kesukarannya lebih tinggi dari kriteria 1, 2, dan 3. Sebab yang dipelajari adalah maksud seniman dalam berkarya, atau motif-motif yang melatar belakangi karya seni. Untuk memahami ini lebih dalam telah di bahas di sini. atau
http://nasbahrygalleryedu.blogspot.com/2014/09/fungsi-seni-motif-motif-yang-tidak.html
Jika pengajar tidak memahami maksud sebuah karya seni, akan lebih sukar lagi. Jadi klassifikasi seni ini hanya diberikan kepada tingkat kelas yang lebiih tinggi, misalnya untuk pembelajaran kritik seni atau apresiasi seni. Untuk memahami maksud seni hanya bisa melalui tahap interpretasi atau evaluasi.Oleh karena tingkat kesulitan tinggi di bawah ini diberikan beberapa contoh pembahasan maksud seni.Setelah membaca tulisan di bawah coba pebelajar memasukkan pokok-pokok soal di bawah ini kepada empat kategori maksud seni tsb.
(1) mengungkap keindahan, (2) menghias, (3) menata atur, (4) mengungkap kebenaran,(5) mengadikan, (6) mengungkap nilai agama, (7) berfantasi, (8) menstimulir pemikiran, 9) mengungkap kekacauan, (10) merekam pengalaman, (11) merekam sosial budaya, (12) memprotes, (13) mengungkapkan hal yang umum, (14) memenuhi kebutuhan seniman (manusia). Masukkan tema-tema ini ke dalam 4 kategori maksud seni di atas.
 Contoh-contoh untuk kegiatan apresiasi seni/ Kritik seni.

Contoh 1. Maksud seni rupa untuk merekam realitas atau penampilan. Kemampuan Seorang seniman untuk mereproduksi penampilan hal di dunia kita yang ada di balik beberapa dari pemakaian awal seni. Orang prasejarah mungkin memiliki ukiran dibuat dan lukisan gua hewan untuk memastikan kesuburan kawanan atau untuk digunakan dalam ritual yang ditujukan untuk menjamin berburu yang baik.

Mengungkapkan Kebenaran
Apakah kebenaran itu ? Semua makhluk yang berilmu dikatakan para ahli mencari kebenaran di atas dunia. Untuk tidak salah tafsir tentang kebenaran itu maka salah satu prinsip ilmu pengetahuan adalah membebaskan dirinya dari berbagai nilai-nilai. Kebenaran didekati dengan pikiran logis, faktual dan membebaskan diri dari interpretasi. Seorang seniman bisa berpikir seperti seorang ilmuan, dia hanya mengungkapkan fakta dengan sejelas-jelasnya. Sering pula seniman itu ingin mengungkapkan kebenaran tentang dirinya, terlepas dari segala macam interpretasi dan nilai.

Seni rupa merupakan alat yang ampuh yang dapat digunakan untuk menggambarkan realita dengan detail yang  paling sempurna. Seni rupa juga dapat mengelabui mata, sehingga merasakan kebenaran tiruan. Orang-orang Yunani purba, para seniman Renesans, pelukis-pelukis foto-realis, mengejar dan mengungkapkan kebenaran dalam cara yang mereka sendiri, sehingga dunia benar-benar tampak seperti yang terlihat oleh semua orang. Seniman sering ingin menggambarkan kebenaran tentang dirinya. Kadangkala dalam mengejar kebenaran itu dia memperoleh kebenaran yang disertai keindahan. Pada saat lain terungkap kebenaran yang  memalukan dan biadab. Misalnya, ‘Kebenaran yang buruk’, sebagaimana kebenaran yang indah, kebenaran ini sama posisinya dengan kebenaran yang indah, tetapi sering manusia mencoba untuk menutupi “kebenaran yang buruk” dan menghindarinya.
Gambar. Frida Kahlo (Self-Portrait) Sumber: Encyclopaedia, 2003.
Lukisan potret diri Frida Kahlo dari Mexico memanfaatkan kehidupan tragisnya sebagai tanda penderitaan manusia (gbr kanan). Ia terluka dalam kecelakaan tabrakan antara trem dan mobil yang ditumpangninya pada usia 18 tahun. Kejadian itu meninggalkan beberapa luka serius, termasuk pada pelvis dan tulang belakangnya yang patah, dia menderita bertahun-tahun lamanya mengidap penyakit kronis. Perkawinan Kahlo dengan pelukis Diego Rivera juga menyakitkannya. Suatu ketika ia berkata kepada temannya, “Saya menderita karena dua peristiwa serius dalam hidupku, satu ketika trem melindasku….Kejadian lain adalah Diego.” Sebenarnya seluruh karyanya menggambarkan kesedihan mendalam dalam kehidupannya. Kahlo mengungkapkan keadaan dirinya melalui lukisan Self Portret with Monkey yang dilukis bertopi. Wajahnya sering dilukis dengan realisme yang ekstrim, dengan latar belakang yang gelap, sempit untuk mengesankan kesesakan. Hal ini menjadi pertanyaan bagi pengamat lukisannya: “ apa yang sebenarnya terjadi ? Ketika ditanya mengapa ia melukis seperti itu, ia jawab “Porque estoy muy sola” (karena saya kesepian). Siapa mengira jika Kahlo berpikir seperti itu, dia bermaksud agar “hidup bisa bertahan, bertahan mengatasi kematian.”
Gambar .  Robert Mapplethorpe “Self Portait” (1988) Sumber Rathus, 1994
Contoh lain tentang penggambaran kebenaran dapat dilihat dalam karya Self Portret versi Robert Mapplethorpe. Medium “gambarannya” jujur; pengamat digiring kepada pandangan menyedihkan. Potret ini juga menyingkap kebenaran perjuangan Mapplethorpe oleh penyakit AIDS dan mungkin menekankan kepada maksud menerima nasib kematiannya yang tidak bisa dielakkan lagi. Kepalanya tenggelam  ke latar belakang lukisan, jemarinya mengepal erat menggenggam tongkat dengan sebuah tengkorak dan menonjol ke depan dengan fokus yang tajam. Kemarahan dan sikap menantang buku jari Mapple yang memutih kontras dengan kelembutan, ekspresi wajahnya yang kesakitan.

Contoh 2. Maksud seni rupa untuk memvisualisasikan imajinasi dan visi manusia. Seni juga bisa membuat sesuatu yang terlihat biasanya kita tidak bisa melihat. Efek khusus yang luar biasa dalam film memiliki asal-usul mereka dalam kemampuan manusia untuk membayangkan dan mengubah imajinasi tersebut menjadi bentuk substansial. Mimpi dan visi adalah tema dominan dalam beberapa gaya seni-simbolisme (gerakan simbolis) dan surealisme, misalnya.

Mengekspresikan Fantasi
Dalam usaha menangkap imaji diri yang terdalam itu, beberapa seniman abad ke -20 telah mempelajari teks psiko-analisis  Sigmund Freud dan Carl Jung,  yang menegaskan bahwa adanya sebuah kekuatan dari zaman purba dalam dunia ketidaksadaran diri manusia (unconciousness). Para seniman memakai berbagai media sebagai penyalur kekuatan-kekuatan alam bawah sadar itu.
 
Gambar . Marc  Chagall (I and the Village, cat minyak) dan Max Beckmann (The Dream, cat minyak) Sumber Rathus, 1994
Contoh lain adalah potret diri Marc Chagall yang berjudul I and the Village yang memuat gambar-gambar fragmen seniman di tengah  objek fantasi yang terlihat mengapung satu sama lainnya ke dalam dan  ke luar. Berlalunya memori kehidupan dengan cepat di kampung Rusianya ditambahkan sebagaimana halnya kepingan teka-teki yang menyerupai mimpi yang merefleksikan alam terpisah-pisah dari memori itu sendiri. Lukisan Chagall ini merupakan sebuah dunia yang menyenangkan yang sifatnya pribadi. Dia menjajarkan gambaran yang aneh,  sesuatu kedamaian yang hanya ada dalam pikiran seniman itu sendiri. Proses fragmentasi dan penjajaran yang sama dilakukan oleh seniman Jerman, Max Beckmann dalam karya The Dream,tetapi dengan efek yang sangat berbeda. Ketegasan ruang dan  atmosfer  dalam karya Chagall memberikan rasa seperti menuju ruang kecil dan sempit, figur-figur dimampatkan  ke dalam    kelompok bentuk yang  zig-zag. Bukit-bukit lembut berombak dan garis keriting yang tersusun dalam lukisan itu, memberi kesan menyenangkan. Ada kualitas rasa mimpi, kekerasan, rupa yang kaku dan perubahan bentuk yang melenyap. Ada perasaan horor yang tersembunyi di setiap sudut dan celah-celah tangan lelaki yang diamputasi dan perban pita merah, imaji  pemusik jalanan yang buta.

Contoh 3.Maksud seni rupa untuk menyenangkan (estetetik). Sebuah tujuan penting dari seni adalah untuk menyenangkan. Beberapa karya seni yang indah atau menarik dalam diri mereka. Lainnya menyenangkan kita melalui kerumitan visual mereka, dengan mengingatkan kita dari pola di alam, dan dalam banyak cara lain. Beberapa karya seni bahkan menyenangkan dengan menakut-nakuti kita dengan pemandangan mengerikan, yang tidak benar-benar menakutkan karena kita tahu mereka hanya ada di karya seni.

Mengungkap Keindahan
Manusia tidak dapat hidup tanpa keindahan (beautiful) atau sesuatu yang indah adalah bagian keseharian hidup manusia, walaupun hal itu tidak disadarinya. Bidang pengetahuan seni rupa dapat memperkaya keindahan yang ada pada manusia. Orang Yunani Klasik terobsesi dengan gagasan tentang keindahan dari formula matematis yang disebut golden section atau golden ratio (perbandingan keemasan)  yang diciptakan untuk menciptakan bangunan, patung dan benda-benda, sehingga dapat meningkatkan kesempurnaan bentuk benda yang tidak dikenal di alam. Contoh lain, misalnya suatu ketika, seniman melihat objek alam yang indah, kemudian menirunya untuk dipakai.
Gambar  Leonardo da Vinci, “Monalisa” (1503) dan Standar Keindahan Wanita Kenya. Sumber Feldman (1967) 
Pada waktu lain seniman mengambil unsur alami itu dan menjadikannya sebagai keindahan yang  ideal, misalnya kecantikan seorang wanita. Namun, keindahan itu sifatnya relatif, walaupun ada yang bersifat universal, sebab tergantung individu dan kebudayaan.Seniman abad ke-16 Leonardo da Vinci, misalnya terkenal dengan keindahan abadi dan kemisterian senyuman Monalisa-nya Namun, ini kecantikan ukuran orang Barat. Penghargaan estetik dengan ciri ketenangan, keagungan dan  kesopanan gadis Italia belum tentu disukai oleh orang Timur. Di manapun di dunia, ada saja perdebatan tentang hal yang menarik (estetik) atau tidak sesuai ukuran kultur masing-masing. Pada masarakat Timur estetik itu bisa lain lagi, misalnya  sesuatu yang mengerikan, lukisan tubuh, tato dan hiasan dapat dianggap estetik sekaligus sakral. Hal seperti ini mungkin tampak lucu dan aneh bagi seseorang yang berasal dari dunia barat. Secara intrinsik. sebuah bentuk karya seni. Sesuatu yang menarik (estetik) itu dibutuhkan oleh manusia dan lingkungan hidupnya. Namun, estetik itu relatif sifatnya, tergantung individu, pendidikan, sosial dan budaya

Contoh 4. Maksud seni rupa untuk mengkomunikasikan sesuatu gagasan atau pikiran. Seni dalam segala bentuknya dapat menampilkan kekayaan, kekuasaan, dan gengsi. Karena tingginya nilai seni, hal itu mungkin tampak terjangkau hanya kelas elit pelanggan dan kolektor. Beberapa karya seni, bagaimanapun, diciptakan khusus untuk menarik masyarakat umum. Misalnya, seni yang menghiasi gereja dikomunikasikan keyakinan agama untuk jamaah. Potret para pemimpin atau gambar dari peristiwa bersejarah terkadang membawa sudut pandang politik. Sebelum surat kabar menjadi tersedia secara luas seni juga menyampaikan berita kepentingan umum. Bentuk seni Mudah direproduksi, seperti foto atau cetakan, adalah media yang sempurna untuk seni yang mengajarkan atau membujuk.

Merefleksikan Konteks Sosial dan Budaya
Gambar . Faith Ringgold (Tar Beach, acrylic dan kain ) Sumber Feldman (1967)

Karya Tar Beach  dari Faith menceritakan kepada kita tentang kisah tumbuh-berkembangnya gadis muda di Harlem. Pengalamannya berlangsung dalam konteks sosial dan budaya yang khusus. Dalam pengalamannya, seniman merekam kegiatan dan objek yang terjadi pada waktu itu dan di tempatnya, gambaran itu merefleksikan kebiasaan dan kepercayaan, yang dapat menggambarkan tingkat keterampilan tangan dan ilmu pengetahuan yang ada di lingkungan budaya itu.
 
Gambar  Edward Hooper, Nighthawks, cat minyak. Sumber:  Feldman 1967
Karya Edward Hopper yang berjudul Nighthawks. Kelihatan dalam lukisan ini gaya arsitektur, gaya rambut, gaya topi dan bantalan bahu, bahkan harga rokok hanya 5 sen. Pemandangan ini terjadi di sebuah kota wilayah Amerika pada akhir tahun 1930-an atau 1940-an. Subjeknya orang biasa saja dan tidak memperlihatkan banyak peristiwa. Di dalam karya terlihat ketegangan antara ruang makam malam yang sunyi di pojok dan jalan yang sepi. Objek yang familiar terlihat jauh di belakang Potongan kecil cahaya yang hangat terlihat sangat berharga, seolah seperti potret malam hari yang menyimbolkan kehidupan yang tidak teratur dan terancam dan karena itu orang terpaksa mengasingkan diri ke restoran/kave ini. Lukisan ini tepat untuk mengkomunikasikan perasaan sepi, sesuatu yang tidak pasti dan sebuah pengalaman agar hati-hati jika berada di luar rumah. Hopper berhasil dalam lukisan ini untuk menggambarkan sebuah keadaan sosial-budaya yang spesifik dan menarik.

5.  Muatan/Isi Karya

Isi karya seni rupa adalah segala sesuatu yang dimuat di dalamnya. Muatan karya mengacu tidak hanya kepada garis atau bentuknya. Namun, juga kepada pokok persoalan (subject matter) dan makna (pokok) yang mendasarinya atau tema. (Rathus 1994 ). Contoh level (tingkat) muatan seni rupa oleh Rathus (1994).Menurut Rathus (1994) kategori umum untuk semua jenis seni umumnya berdasarkan: 1) bentuknya (form), 2) gaya (style) atau 3) subject matter (pokok soal). Ada tiga tingkat (level) isi seni sebagai berikut ini.
  1. Elemen Visual dan Komposisi, Elemen Visual adalah hal-hal yang nampak sebagai unsur terkecil dari seni, misalnya titik, garis, warna,  tektur. Komposisi adalah susunan unsur-unsur dalam sebuah karya seni. Semua karya seni memiliki urutan semacam ditentukan oleh seniman: Mereka mungkin seimbang dan simetris, berputar-putar dan dinamis, atau bahkan kacau dan acak. Kita bisa menggambarkan beberapa komposisi dengan mengacu pada sosok-misalnya geometris, angka dapat dikelompokkan untuk membentuk segitiga-tetapi tidak semua karya dirancang dengan cara ini. Kadang-kadang membantu untuk menyipitkan mata di tempat kerja atau mundur dari itu untuk melihat komposisinya. Mencari pola umum organisasi, tidak peduli apa bentuk mereka. Untuk membahas lebih dalam lihat di sini
  2. Pokok Persoalan (Subject Matter) Semua elemen formal seni dan ide yang lebih umum gaya terpisah dari subyek. Seniman yang bekerja di abad ke-16 Italia dan abad ke-19 Prancis dapat melukis subjek mitologi yang sama, tapi gaya mereka akan sangat berbeda. Sumber-sumber sastra, seperti tulisan-tulisan klasik atau Alkitab, dapat membantu kita memahami subyek dari banyak karya seni. Bahkan ketika kita menyadari subyek sebuah karya, interpretasi lebih lanjut oleh para ahli sering mengungkapkan pesan tambahan tentang pekerjaan atau waktu artis. Untuk menunjang masalah ini lihat disini
  3. Makna, adalah  arti luas atau pengembangan interpretasi dari pokok soal yang  dipercakapkan dalam seni lukis 


Alternatif pembelajaran

Pembelajaran ini tingkat kesukarannya lebih tinggi dari kriteria 1, 2, 3 dan 4 Sebab yang dipelajari adalah isi dan makna karya seni. Jika pengajar tidak memahami maksud sebuah karya seni, akan lebih sukar lagi. Jadi klassifikasi seni ini hanya diberikan kepada tingkat kelas yang lebiih tinggi, misalnya untuk pembelajaran kritik seni atau apresiasi seni. Untuk memahami maksud issi dan makna karya seni, hanya bisa melalui tahap interpretasi atau evaluasi dalam kritik seni

6.      Pembagian Seni Rupa berdasarkan  Kriteria Media, Alat,   

     Bahan Seni (Aspek Teknologi Seni dalam Budaya)


Feldman (1967:308) menjelaskan jika teknologi baru dalam bidang komunikasi dengan ditemukannya kertas alat cetak oleh Gutenberg (1450) di Jerman.  Maka seni rupa dimulai dengan penemuan cat minyak dan kanvas pada abad ke-15 di daerah Flam Belanda, telah mengubah seluruh persepsi seniman dalam melukis. Sebelumnya mereka mempergunakan teknik lukis tempera atau fresco untuk melukis dengan dinding sebagai kanvasnya. Selanjutnya dia menjelaskan adanya eksperimen dan penemuan teknik kolase, atau coller (bahasa Perancis = melem) mengubah cara melukis orang Eropa. Kemudian di zaman kubisme (Picasso, 1881-1975), merubah cara pandang melukis tradisional teknik cat minyak; yang semata bertujuan imitatif (meniru alam).

Cara ini berobah sebab yang penting sekarang adalah apa yang terjadi di permukaan kanvas, bukan semata meniru apa yang tampak oleh mata. Selanjutnya, penemuan cat enamel untuk keperluan rumah tangga, yang diproduksi secara besar-besaran oleh pabrik, memberi kesempatan bagi Jackson Pollck (1912-1956), menciptakan teknik dan sekaligus gaya melukis yang khas yang disebut dengan abstrak-ekspresionisme.

Demikian juga teknik otomatisme Max Ernst (1891-1976), yang dia sebut : Collage yaitu teknik menempel, memberikan kesan ilusi atau Ilusionisme. Frottage yaitu teknik menggosok dengan meletakkan sebuah benda di bawah kertas atau kanvas kemudian gosokkan itu menghasilkan gambar otomatis.

Grattage yaitu menggoreskan cat dengan pisau palet. Occilation, yaitu mengucurkan cat melalui kaleng yang dilobangi dengan mengayun-ayunkan kaleng tersebut yang tergantung pada tali. Di samping itu Ernst memakai pita rekat (adhesive tape) menciptakan garis-garis yang lurus.

Teknik-teknik ini mengotomasisasikan penciptaan yang disebut lukisan. Di Indonesia, Mustika (2001) menjelaskan tentang pelukis Afandi (1907- ) yang melukis dengan cara menggantikan kuas dengan jari-jari tangannya. Teknik celup batik, dipergunakan oleh pelukis untuk melukis, dan banyak contoh lainnya di tanah air kita dalam mengembangkan teknik melukis, misalnya melukis dengan bulu ayam, melukis di atas kulit dan seterusnya.

Teknik dan media yang dipakai dalam seni rupa sangat bervarisi, dan menarik untuk dikaji ulang. Kini orang dapat melukis dengan bantuan teknik fotografi dan komputer untuk menghasilkan sebuah lukisan atau gambar. Namun teknologi dalam seni tidak sama dengan teknologi dalam enginering yang dapat berkembang tanpa batas. Kemudian dapat pula dipertimbangkan bahwa tradisi seni rupa yang telah berlangsung berabad lamanya masih berlaku sampai sekarang. Sebab teknik hanyalah alat yang dipakai dalam berseni. Oleh karena itu teknologi tradisional dalam seni masih dipelajari sampai sekarang oleh negara yang paling maju sekalipun teknologinya.

Herberts, Kurt; dalam tulisannya Artists Technique 1958); mencatat ada 38 teknik dalam seni rupa, namun harus dicatat pengertian teknik dalam hal ini adalah media, bukan medium dalam pengertian konsep seniman yang ingin diungkapkan. Teknik yang dimaksud, mulai dari teknik lukisan gua prasejarah sampai ke teknik-teknik yang lebih baru di Eropah. Dia membagi atas tiga kategori teknik.
  1. Teknik-teknik seni rupa yang ditunjang oleh latar belakangnya, seperti teknik lukisan kapur (Fresco-Secco, Buon-fresco); majolica, gelas, porselen. Pada teknik ini yang terpenting adalah tempat atau bidang untuk melukis atau menggambar. Misalnya dinding bangunan. Melukis pada dinding bangunan memerlukan keahlian yang khusus. Umumnya bahan melukis dinding atau bidang bangunan, mirip dengan bahan yang dipakai untuk bangunan. Misalnya kapur atau semen berwarna.
  2. Teknik seni rupa yang utama sekali ditunjang oleh materialnya seperti pastel, tempera, cat minyak, lukisan tinta Cina, lak, mosaik, dan kemudian kita kenal pula cat acrilik. Golongan yang kedua ini memberi tekanan pada material yang dipakai untuk mengecat pada sebuah bidang yang akan di lukis
  3. Kemudian, teknik-teknik seni rupa yang utamanya ditunjang oleh alat seperti gambar pena, etsa, litografi, cetak kayu dan sebagainya, yang utama adalah alat (bukan material dan latar). Berbeda dengan ke dua teknik di atas, maka teknik yang terahir ini semata tergantung kepada alat yang dipakai untuk melukis atau menggambar.

7.Teknik-Teknik dan Media Seni yang berkembang berdasar Budaya Indonesia Pada Seni Masa Kini


Kita dapat membuat sebuah daftar tentang teknik yang dikembangkan dalam budaya tertentu di Nusantara, sebagai berikut.

Kategori kegiatan seni berdasarkan seni dan budaya serta pengembangan teknologinya di Indonesia

Seni dan Budaya
Teknologi
Tradisional (manual)
Teknologi
Moderen (komputerisasi)



Lokal
Ukiran pandai sikek


Perak Koto Gadang


Songket silungkang


Ukir Pahat, Patung, Relief


Seni lukis Kaca

Nasional
Batik


Cat Minyak
Melukis, menggambar, fotografi  dengan software  komputer, mis. Animasi dg komputer
dst

Cat Air


Pastel


Crayon


Spray brush


Fotografi


Grafis


Tembikar/porcelain
Porcelain dg mesin & komputer

Mosaik


Sablon manual
Sablon dengan mesin & komputer

dsb


Seni pahat, Patung


Seni ukir
Ukiran dg mesin & komputer

Seni patung manual
Seni Patung Robotics & komputer

Relief kayu, batu, tanah liat dst

Mancanegara
Seni Lukis Fresco


Mayolica


Seni lukis miniatur


Seni lukis gading


dsb


Daftar ini dapat diperpanjang lagi, klassifikasi berdasarkan teknologi seni yang dikembangkan dalam sebuah budaya, sumber : pribadi


Alternatif pembelajaran (1) :
Pebelajar diajak untuk memahami berdasarkan tema ini, “teknologi seni dalam budaya”, yaitu berbagai media, alat, teknik seni dan berkarya berdasarkan tema ini. Atau memindahkan, menukar teknik seni, tradisional ke moderen, dari moderen ke tradisional, dari teknik seni mancanegara ke lokal dsb. Yang populer adalah membuat karya seni lukis dengan teknik kering dan teknik basah. 
Alternatif pembelajaran  (2)
Pebelajar diajak untuk memahami berdasarkan tema ini, “Seni Nusantara”, yaitu berbagai media, alat, teknik seni dan berkarya berdasarkan tema ini. Yang populer adalah membuat karya seni lukis dengan teknik batik, seni wayang, merancang kriya nusantara dsb. Karya seni dapat dilihat dalam pembagian kegiatan pada tabel di bawah ini sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sosial budaya setempat.
Yang dimaksud  tema dalam hubungannya dengan karya seni adalah gagasan pokok atau hal pokok yang terkandung di dalam suatu karya seni. Sedangkan seni rupa murni nusantara adalah karya seni rupa yang hanya dinikmati keindahannya saja, yang terdapat di daerah-daerah wilayah nusantara, dari Sabang sampai Merauke. Dan ini menjadikan ciri khas seni rupa daerah tersebut. Di sini kita akan membicarakan jenis karya seni lukis dan patung, karena seni grafis dan seni keramik kurang menjadi corak khas kedaerahan. Beberapa contoh di bawah ini adalah sebagai berikut.

Contoh Seni Lukis

1. Seni lukis Papua
Biasa mengambil tema mahluk hidup (manusia dan binatang). Seni lukis Papua ini kebanyakan bercorak primitif, karena banyak mendapat pengaruh seni Abirigin. Media kayu lebih mendominasi karya seni rupa daerah ini.

2. Seni lukis  klasik Bali
Banyak mengambil tema Mahabarata, Ramayana, Dewa-dewi, dan juga mahluk hidup. Di daerah Ubud, Kintamani, banyak masyarakat yang menghasilkan lukisan klasik , yang cukup memberikan corak khas karya seni rupa daerah ini.

 3. Seni lukis wayang beber
Wayang beber merupakan karya seni lukis tertua di Jawa. Lukisan ini banyak mengambil tema cerita-cerita Panji. Dengan demikian jelas bahwa seni lukis wayang beber biasa mengolah objek cerita tentang sekitar Kerajaan Jenggala dan Kediri.

4. Seni lukis tradisional Yogyakarta
Banyak mengambil tema tentang kehidupan rakyat kecil, seperti pasar, penjual ayam, petani, dsb.

5. Seni lukis kaca Cirebon
Banyak mengambil tema cerita Tionghoa (China), Sejarah para Wali, dan sekitar penyebaran islam di Jawa. Di Yogyakarta juga terdapat seni lukis kaca dengan mengolah objek cerita India dan cerita Hindu, akan tetapi tidak cukup memberikan corak khas seperti Cirebon.

Contoh : Seni Patung

1. Seni patung Papua
Kebanyakan bertemakan mahluk hidup (manusia dan binatang). Dengan media kayu dan batu dapat diciptakan karya seni patung yang bercorak primitif, lekat dengan nuansa kesukuan yang kuat.

2. Seni patung Klasik Bali
Biasa mengambil tema dewa-dewi dan mahluk hidup seperti garuda atau jatayu, lembu, katak, dan kehidupan manusia.     Seni patung klasik  Bali banyak terbuat dari bahan batu dan kayu.

3. Seni patung tradisional Yogyakarta
Lebih dikenal dengan sebutan Loro blonyo. Banyak mengambil tema Raja dan Ratu, pengantin, abdi ( batur= Jawa ), punakawan dalam cerita pewayangan. Patung loro bloyo ini sebagian besar terbuat dari bahan tanah liat.

4. Seni patung Muntilan
Kebanyakan terbuat dari bahan batu kali atau batu hitam. Biasa dengan tema mahluk hidup, tokoh sejarah Hindu dan Budha seperti Sang Budha Gautama, Rorojonggrang, Ganesha, Trimurti, dsb.

5. Seni patung Juwana
Terbuat dari bahan logam kuningan dan perunggu. Kebanyakan objek dengan tema kebudayaan China seperti naga, Kwan Im, serta patung- bercorak China lainnya.

6. Seni patung Dayak Kalimantan
Biasa mengambil tema leluhur ( patung nenek moyang), hudoq, dan burung enggang. Bahan kebanyakan terbuat dari kayu dan ada pula yang terbuat dari bahan batu. Sejalan dengan perkembangan seni lukis dan seni seni patung yang semakin maju ( seni lukis modern, posmodern, kontemporer), sangat penting kiranya kita untuk mengenal, mengapresiasi serta tetap menjaga kekayaan seni budaya tersebut di atas sebagai tolok ukur bangsa yang besar dan berbudaya.

C. Penutup
  1. Untuk melihat genre seni, khususnya seni lukis yang lebih lengkap , lihat di wikipedia ( Klik disini (Wiki Painting)
  2. Stimulasi daya cipta yang diberikan guru diharapkan bisa membina kreativitas dengan mengembangkan berbagai pendekatan. Salah satunya adalah dengan mempelajari klassifikasi seni sebagai bahan stimulan, yang diutarakan dalam bentuk tema-tema seni, khususnya yang terkait dengan budaya. 
  3. Kita harus menyadari bahwa jika yang ingin dipelajari itu adalah seni berdasarkan budaya maka pengklassifikasian seni itu adalah berdasarkan produk dari daerah tersebut (wilayah), misalnya seni lukis Cirebon adalah klassifikasi yang benar, sebagai produk daerah tersebut.
  4. Sebagai perbandingan lihat contoh di bawah ini bagaimana Wikipedia mengklassifikasikan karya seni lukis dunia sebagai berikut di bawah ini.
Pengelompokan Seni Lukis Menurut Wikipedia (2013) 
  1. by alphabet (Alfabetis)
  2. by art movement (Gerakan Seni)
  3. by school or group ( Sekolah atau Kelompok)
  4. by genre (Tipe)
  5. by nationality (Kebangsaan)
  6. by century (Sejarah/Abad)
  7. popular (Popularitas)

Contoh Klassifikasi Seni Lukis Berdasarkan Genre (objek yang digambarkan) 
  1. abstract painting 
  2. advertisement 
  3. allegorical painting 
  4. animal painting 
  5. battle painting 
  6. bird-and-flower painting 
  7. capriccio 
  8. caricature 
  9. cityscape 
  10. cloudscape 
  11. design 
  12. figurative painting 
  13. flower painting 
  14. genre painting 
  15. graffiti 
  16. history painting 
  17. illustration 
  18. installation 
  19. interior 
  20. landscape 
  21. literary painting 
  22. marina 
  23. miniature 
  24. mosaic 
  25. mythological painting 
  26. nude painting (nu) 
  27. pastorale 
  28. performance 
  29. photo 
  30. portrait 
  31. poster 
  32. religious painting 
  33. sculpture 
  34. self-portrait 
  35. shan shui 
  36. still life 
  37. symbolic painting 
  38. tessellation 
  39. urushi-e 
  40. veduta 
  41. wildlife painting 
  42. yakusha-e  

Untuk jelasnya lihat WIKIPAINTING









Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting

Wacana Seni Visual

Loading...

Wacana Desain dan Arsitektur

Loading...