Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Sabtu, 26 April 2014

Pornografi dalam karya Seni, Grafis dan Desain-3


Halaman 3 (Terakhir)
Oleh
Nasbahry Couto
Klik kanan gambar untuk artikel (1,2) dan gallery (3,4,5)

 lukisan wanita
  erotika islam
  Untitled-1 copy
 erotika islam
  lukisan wanita

Artikel Teori Resepsi (Nasbahry Couto)

Artikel Kebangkitan Erotika Islam (Betwa Sharma) 2010

Gallery lukisan  Is. Erotik

Gallery Lukisan Wanita Indonesia

Galery Lukisan Alwins

Kasus Pornografi pada Karya Desain
Jika karya seni masuk ke ruang publik, maka karya itu akan masuk kepada "interpretasi luas", karya yang tadinya adalah masalah instrinsik seniman, dia kemudian dihakimi, dinilai dan dikritik sesuai dengan nilai-nilai etika sosial yang ada. Sebaliknya jika karya itu bersifat pornografi dan tidak masuk ke ruang publik, dia tidak menjadi masalah. Dan tidak ada yang peduli karya itu  porno atau tidak. Berbeda dengan seni, karya seni komesial seperti iklan, ilustrasi, poster, grafis majalah, buku, atau pesan-pesan informasi di WEB --atau karya desain -- seperti desain produk (mobil, motor dan lain-lain), menyajikan visualisasi wanita adalah dalam rangka komersialisasi dan bisa sekaligus pornografi.
Umumnya karya seni komersial dan desain industri ditujukan ke publik, kepada masyarakat dan bersifat massal. Karya ini menjadi komoditi dan bersifat komersial. Diantara sekian banyak karya ini ada saja diantaranya yang mengikutsertakan aspek pornografi. Misalnya dalam seni komersial seperti desain iklan, iklan mobil baru, atau merek baru dengan mengeksploitasi wanita untuk menarik konsumen. Disamping itu ada saja yang "menciptakan" konsumsi atau konsumen khusus dengan aspek pornografi.

Dalam iklan misalnya, biasa jika seorang "selebritis" dan atau "wanita cantik" dapat membentuk persepsi konsumen tentang barang yang di pasarkan, Selebritis adalah orang terkenal, dan mudah dikenali. Dengan memasang foto atau gambar selebriti dengan produk yang diiklankan akan cepat ditangkap oleh konsumen, dan diharapkan produk itu segera familarly" dengan konsumen. Sudah menjadi rahasia umum bahwa strategi ini dimanfaatkan oleh orang ekonomi dan industri, khususnya bidang/bagian periklanan  untuk kampanye sebuah produk.

Seperti yang diketahui, dalam sejarah diperlihatkan bahwa manusia tertarik kepada keindahan wanita cantik. Misalnya kisah seorang anak desa yang cantik menjadi perhatian sang Raja Cina. Cerita "Cinderella" yang asalnya dari Tiongkok itu-- karya Duan Chengshi 段成式 (800-863), yang ditulis hampir 900 tahun lebih dulu sebelum buku Cinderella-nya Charles Perrault (1697) terbit. Adalah tiruan. Pengakuan tentang hal ini juga sudah diberikan oleh ALA (American Library Association). Gejala-gejala ini menjelaskan hal yang sama yaitu  ketertarikan manusia terhadap wanita cantik. Kalau di masa kini, umumnya murid yang cantik akan menjadi perhatian guru dan kawan-kawannya.

Umumnya secara psikologis perempuan cantik dapat membentuk pusat perhatian dan asosiasi-asiosiasi lain dari persepsi yang ditimbulkannya. Wanita dipakai sebagai "figur dan latar" atau "latar dan figur" dari produk yang di iklankan. Dalam teori persepsi disebutkan bahwa figur adalah yang menjadi "pusat kesadaran" manusia pada suatu saat dan tempat tertentu, sedangkan "latar" adalah yang bukan "menjadi pusat kesadarannya". Pusat kesadaran ini bisa bolak-balik seperti gambar di bawah ini.

Persepsi bolak-balik, dari figur dan latar: apa yang disadari oleh pengamat adalah "apa yang menjadi pusat kesadarannya" (dua wajah atau sebuah bejana?)

Teori Persepsi : Teori Organismik Kurt Goldstein

Menurut Goldstein, keputusan persepsi pertama kita adalah apa yang gambar dan apa yang latar belakang. Figur adalah suatu bentuk yaitu setiap proses yang muncul dan menonjol dari suatu latar belakang. Dalam persepsi, figur adalah apa yang menjadi pusat kesadaran manusia. Figur adalah suatu bentuk yaitu setiap proses yang muncul dan menonjol dari suatu latar belakang.

Menurut Goldstein persepsi figur adalah apa yang menjadi pusat kesadaran, misalnya: seseorang melihat sesuatu di dalam kamar, persepsi terhadap objek itu adalah figur, sedangkan keadaan lain di dalam kamar itu adalah latar belakangnya. Di dalam tindakan, figur adalah aktivitas pokok yang sedang dilakukan oleh individu, misalnya : apabila orang membaca sebuah buku, maka membaca adalah figur (yang menonjol) dari aktivitas-aktivitas lain seperti menggigit pensil, mendengarkan suara radio dari rumah tetangga, dan bernafas (adalah latar belakang).

Teori Goldstein, sebenarnya adalah bagian dari pengaruh teori Gestalt yang besar pengaruhnya dalam persepsi manusia (psikologi persepsi). Khususnya dalam kognisi singkat, yaitu proses Bottom-up dalam dalam menerima sensasi (rangsangan) dari sebuah objek yang diamati. Sebagaimana yang diketahui persepsi Gestalt maupun persepsi Estetik, bisa membutuhkan skemata memori (bila ingin dimaknai), bisa tidak kalau hanya dilihat selintas. Untuk mengetahui lebih dalam baca artikel  tentang ini yang penulis tulis dalam Prinsip Kognisi dalam desain Informasi. Untuk memahami, artikel ini harus dibaca keseluruhannya (3 halaman)

Penerapan atau aplikasi teori figur dan latar ini seperti dapat kita lihat dari ilustrasi di bawah , misalnya pabrikan mobil asal Jepang menyandingkan mobil yang dipromosikannya dengan model cantik (sebagai figur) dengan pakaian renang Natasha Barnard, yaitu model pakaian renang yang muncul di Sports illustrated Swimsuit Edition tahun 2013. Kemudian mobil sebagai latar atau yang diiklankan, persepsi ini bisa bolak-balik sesuai dengan pusat kesadaran orang yang melihatnya. Pertama mungkin dia tertarik melihat model, kemudian berlih kepada ketertarikan kepada mobil, model kemudian akan menjadi latar persepsi.

Kecantikan dan keseksian dari Barnard dianggap setara dengan mobil berperforma tinggi milik Lexus. Contoh-contoh seperti ini banyak sekali kita temui dalam iklan, dalam bentuk poster, bilboard dan sebagainya dalam rangka kampanye produk (baik secara halus maupun vulgar). 

















Sumber gambar: http://oto.detik.com/read/2014/02/20/181715/2503976/639/ketika-lexus-rc-f-bersanding-dengan-model-cantik-pakaian-renang?o993304639


Kontrol sosial
Ada yang beranggapan bahwa dalam kasus pornografi yang dibutuhkan adalah "social control", seperti filosofi kepolisian. Polisi bukanlah untuk memberantas kejahatan, tetapi untuk menguranginya, sebab kejahatan itu selalu ada dan muncul dalam berbagai bentuk dalam sebuah masyarakat. Jadi pornografi akan menjadi masalah "pada saat tidak dapat dikendalikan lagi" oleh kelompok sosial itu pada saat tertentu. Undang-undang pornografi misalnya, banyak menimbulkan polemik tentang teori dan praktik mediasi dalam masyarakat termasuk di Indonesia.

*) Lihat juga berita tentang penyimpanan barang yang berbau pornografi di sini

Diantara akar Permasalahan
Praktik pornografi menurut penulis adalah masalah kejiwaan. Sama halnya dengan masalah “pelacuran”, kenapa pelacuran tidak pernah bisa diberantas tuntas? Pertanyaan ini sama dengan pertanyaan kenapa “pornografi” itu selalu ada sejak zaman “baheula”, jaman Yunani sampai sekarang dan bahkan jauh pada zaman sebelumnya. Bentuknya pun bermacam-macam, baik yang terang-terangan seperti majalah “playboy” atau majalah “khusus priya” Popular, gambar porno dan sebagainya. Oleh karena itu sebaiknya dilihat akar permasalahannya dari segi kejiwaan atau psikologi dan pengaruhnya terhadap manusia, dengan catatan bahan ini bisa menjadi pembahasan dalam teori seni dan desain.

Majalah khusus priya: "Popular" di Indonesia, desain cover majalah sejenis ini umumnya memanfaatkan persepsi figur dan latar. Isi majalah direpresentasikan melalui desain kover, adalah untuk memenuhi segmen pasar kebutuhan psikologis priya untuk berimajinasi.










Pornografi dalam Teori Lacan
Tentang kejiwaan dan hubungannya dengan  kebutuhan seks sebenarnya sudah di bahas oleh teori psikoanalisa Freud, dan jalan pemikirannya ini diteruskan oleh pemikir-pemikir selanjutnya diantaranya adalah Jacques Lacan (1901-1981).

Lacan [1]) adalah salah satu barisan para pemikir Perancis era  posstrukturalisme, yang memunculkan  sederatan nama pemikir seperti; Lévi-Strauss, Baudrillard, Bourdieu, Derrida, Lacan, dan Cixous. Lacan mengadopsi pemikiran psikoanalisa Freud dan mengembangkannya menjadi teori baru. Perkembangan pemikiran Lacan juga dipengaruhi oleh konsep semiotika (ilmu tanda) “penanda-petanda” Saussure dan antrotropolog penganut strukturalis Lévi-Strauss. Lacan meminjam teori kompleks Oedipus dari Freud dan menjelaskan bagaimana individu masuk dalam tatanan simbolik.

Dengan teori psikoanalisanya ini, Lacan mempengaruhi studi budaya dan kritik kebudayaan, dan menjelaskan bagaimana fenomena-fenomena sosial terjadi di sekitar kita. Salah satu teorinya yang berkaitan dengan studi budaya adalah pembahasan mengenai subjektivitas.  Teori psikoanalisis Lacan dianggap orang mampu untuk menjelaskan secara kritis tentang pembentukkan subjektivitas dari sudut perkembangan simbolisasi subjek yang terkenal itu yaitu: tahap real, tahap imajiner, dan tahap tatanan simbolik.

Mengutip buku Mark Bracher (2005) Jacques Lacan: “Diskursus, dan Perubahan Sosial: Pengantar Kritik-Budaya Psikoanalisis “terbitan  Jalasutra, Yogyakarta (hal. (39-40) “Sarana pornografi adalah sebuah praktik sosial dalam rangka penerapan kode-kode tertentu pada tubuh perempuan yang seakan teraniaya, diperkosa, dan terbunuh.” Dengan kata lain, pornografi menempatkan posisi perempuan “terdegradasi” karena mereka dijadikan objek hasrat (desire) dari laki-laki. Pornografi secara umum diperuntukkan bagi kaum laki-laki dan kelompok  heteroseksualCatatan : degradasi = kemunduran, kemerosotan, penurunan, dan sebagainya yang terkait dengan mutu, moral, pangkat dan sebagainya.

Menurut Bacher, Laki-laki telah ditempatkan dalam posisi subjek yang aktif dan perempuan dalam objek pasif. (ibid: hal 125) Bracher dengan mengutip buku Susan Itzin, Catherine dan Kappeler, Susan
(1992), berjudul “Pornography : Women, Violence And Civil Liberties”, menjelaskan bahwa yang ditunjukkan dalam analisis kaum feminis terhadap struktur pornografis adalah semata-mata objektifikasi perempuan demi kepentingan eksklusif subjektifikasi laki-laki.

Laki-laki adalah subjek murni dalam arti tidak dapat menjadi objek. (ibid: hal 50) Lacan memaparkan bahwa hasrat (desire) yang ditampilkan dalam pornografi adalah hasrat anaklitik [2]) atau hasrat yang semata-mata muncul untuk mendapatkan kenikmatan seksual, bukannya hasrat narsistik (istilah psikologi) yaitu hasrat untuk dicintai atau gangguan mental dimana seseorang merasa dirinya paling penting. Hasrat ini dijelaskan lebih rinci dalam tiga tahapan Lacanian: yang real, imajiner, dan simbolik.
  1. Dalam yang real (nyata), posisi perempuan ditempatkan sebagai Liyan [3]) yang menjadi objek bagi hasrat maskulin ataupun menjadi subjek yang berhasrat untuk menjadi objek hasrat maskulin. (mengenai istilah Liyan ini, lihat uraian di bawah)
  2. Dalam imajiner (khayalan), hasrat pada perempuan diperlihatkan sebagai bentuk tubuh indah semampai yang berfungsi sebagai objek seksual, dan khayalan kaum pria sebagai alter ego ataupun pesaing.
  3. Dalam simbolik, masyarakat, alam, dan Tuhan ditempatkan sebagai yang menghasratkan bentuk kenikmatan tertentu dan seakan memberi legitimasi pada setiap identitas seksual.
Dapat dilihat bahwa dalam setiap kasus pornografi akan ditemukan unsur-unsur yang membuktikan adanya degradasi nilai perempuan, fakta-fakta itu antara lain: setiap pornografi menampilkan perempuan sebagai sosok yang dikenai tindakan perkosaan, kenikmatan perempuan atas tindakan yang dilakukan laki-laki selama bersenggama, pemujaan penis, dan deskripsi rinci terhadap tubuh perempuan dan eksploitasi tubuh perempuan (Bracher, 2005: 128-129)

Diterangkan oleh Bacher, bahwa tatanan simbolik adalah yang mengatur masyarakat sedemikian rupa lewat norma-norma yang diberlakukan di masyarakat dan hal ini bisa tertanam di bawah sadar masyarakat. Individu ada di dunia dengan tatanan sosial yang sudah terbentuk dalam masyarakat, individu masuk sebagai subjek, dan harus ‘berbicara’ dengan bahasa yang sama (dalam artian mengikuti tatanan sosial itu) untuk dapat masuk dalam masyarakat. Bahasa yang bersifat maskulin membentuk subjektivitas dalam tataran simbolik phallogosentris sehingga subjek mendapatkan subjektivitasnya dalam tatanan simbolik untuk berbicara sebagai subjek dalam bahasa.

Setelah melewati ketiga tahapan perkembangan itu, subjek terpaku pada aturan-aturan yang berpusat pada maskulinitas atau nom-du-père dengan phallus sebagai penanda. Sebuah sistem sosial bahasa maskulin terbentuk dari budaya patriarkal, yang menjadikan perspektif laki-laki sebagai satu-satunya perspektif yang perlu diperhitungkan dalam dunia sosial, dan menempatkan perempuan pada posisi inferior dengan memperlihatkan adanya dominasi pada ‘Liyan’. Dalam nom-du-père, posisi dominan laki-laki terpaparkan dengan amat jelasnya membentuk stereotip dalam masyarakat pada setiap jenis kelamin dalam struktur sosialnya.

Melihat contoh kasus di atas, terlihat jelas bahwa adanya usaha atau praktek pornografi menempatkan perempuan dalam posisi yang tidak menguntungkan sebagai Liyan (the other). Setiap tindakan pornografi yang terjadi seharusnya menyadarkan publik bahwa perempuan dijadikan pihak yang dirugikan karena menjadi objek dari hasrat ‘imajiner’ laki-laki sebagai diri (self).

Konsep Liyan  oleh Simone de Beauvoir
Pemikiran Simone de Beauvoir tentang konsep the other (yang lain) dan sosial ethic yang bertumpu pada kebebasan. Beauvoir sendiri adalah seorang filsuf perempuan Perancis  yang menggugat terhadap institusi perkawinan. Menurutnya lembaga perkawinan sebuah lembaga penindasan terhadap perempuan. Beberapa kali Sartre (patnernya) meminta hubungan mereka diresmikan tetapi  ditolak oleh Simone de beavouir.[4]

Konsep yang paling terkenal dari Simone de Beauvoir ketika memulai mempertanyakan siapa  itu perempuan? Mengapa perempuan mengalami ketidakadilan itu?  Menurutnya Beauvoir perempuan tidak dilahirkan sebagai perempuan tetapi menjadi perempuan.

Ini berbeda dengan yang terjadi oleh laki-laki. Laki-laki sudah dilahirkan sebagai manusia (laki-laki). Karena itulah perempuan mengalami penindasan secara sistematis.  Perempuan lahir secara sistematis dijadikan perempuan, bukan lahir sebagai manusia seutuhnya (perempuan).  Akhirnya laki-laki (budaya partriaki) secara sistematis menilai perempuan adalah sosok "the other" atau liyan (yang lain). Karena perempuan dianggap menjadi the other maka  dampaknya laki-laki layak untuk melakukan penindasan atau ketidakadilan pada perempuan.

Beauvoir mengungkapkan bahwa pengalaman sebagai perempuan menjadi sahih untuk dijustifikasi dalam mendobrak ketidakadilan terhadap  perempuan. Sehingga teori ini juga dapat digunakan untuk mengungkapkan ketidakadilan oleh kelompok-kelompok lain. Beauvoir mengungkapkan bahwa manusia tidak selalu harus berpihak pada teori saja tetapi harus berpijak pada pengalaman individu dan ini adalah salah satu sumbangsih Beauvoir untuk gerakan perempuan di dunia.

Konsep Liyan atau the other ini juga diungkapkan oleh Sartre dengan sebutan “pasangan Beauvoir” yaitu dalam konteks penindasan yang dialami oleh orang Yahudi.  Kelompok anti semit (anti Yahudi) menganggap Yahudi sebagai kelompok the other.  Sehingga layak untuk diperangi atau ditindas.  Tetapi apa yang disampaikan oleh Sartre soal penindasan karena rasisme terhadap Yahudi menurut Beauvoir berbeda dengan penindasan yang dialami oleh perempuan oleh laki-laki.  Persoalan penindasan atau ketidakadilan Yahudi adalah masalah rasisme, dimana  kedua kelompok yang bertentangan secara rasis melakukan permusuhan, baik kelompok anti semit maupun kelompok Yahudi sendiri saling serang. Tetapi penindasan yang dialami oleh perempuan adalah oleh pemikiran dan konsep Liyan (the other).

Kesimpulan
  1. Pornografi, sesuai dengan asal katanya adalah "seks", hal ini berkaitan dengan seksualitas dan gender, dimana yang dieksploitasi adalah kaum wanita.
  2. Pornografi sudah di sejak ribuan tahun yang lalu, Kamasutra, misalnya yang berasal dari India, telah dibukukan sejak 400 tahun sebelum Masehi. 
  3. Pornografi dalam seni selalu mengundang diskrepansi makna, karena itu seniman harus berhati-hati dan tidak melukai hati pengamatnya.
  4. Pornografi selalu ada hubungannya dengan politik (kekuasaan), ekonomi (kapitalisme), karena kelompok yang kuat dalam masyarakat umumnya "kebal kritik". Umumnya wanita dalam dunia kapitalisasi dimanfaatkan sebagai komoditi untuk mencari keuntungan disatu pihak, dan mengorbankan gender di pihak lain.
  5. Eksploitasi seks, bukan hanya oleh pria, tetapi juga oleh keinginan pihak wanita untuk "menjual" aspek pornografi yang dimilikinya. Foto model, Model  atau artis porno cantik tidaklah gratis, mereka umumnya di bayar mahal. Dalam beberapa kasus, model-model untuk lukisan nudis, umumnya juga dibayar. (lebih lanjut lihat di sini)
  6. Dari sudut pandang psikologis, pornografi bukan semata eksploitasi wanita, tetapi muncul dari aspek anaklitik, yaitu kebutuhan atau ketergantungan laki-laki kepada wanita (seperti ibunya, untuk menyusui dsb) dimana dia merasa nyaman dan terlindung.
  7. Dari sudut pandang psikologi analisa, penggambaran wanita oleh pria bisa muncul dari sebuah kebutuhan seksualitas yang  real, imajiner dan simbolik, sesuai dengan teori Lacan.
  8. Evaluasi terhadap pornografi umumnya streotipe, karena proses persepsi umumnya bersifat "top down processing", yaitu berdasarkan pengetahuan yang telah ada (dimiliki) sebelumnya oleh pelaku maupun pengamat.Contoh nyata adalah, oleh karena orang Papua "hanya memiliki pengetahuan" berpakaian itu sudah sopan melalui "koteka" dan wanitanya pakai rok jerami dan  "tidak berpenutup dada". Cara berpakaian ini adalah adat dan tradisi mereka, maka apakah logis jika mereka menolak undang-undang pornografi?
Literatur:
  • Bracher, Mark. 2005. Jacques Lacan: Diskursus, dan Perubahan Sosial: Pengantar Kritik-Budaya Psikoanalisis. Yogyakarta: Jalasutra.
  • Hill, Philip. 2002. Lacan untuk Pemula. Yogyakarta: Kanisius.
  • Natalia W, Stephanie. 2009. Keterasingan perempuan di dalam subjektivitas maskulin: sebuah analisa kritis atas tatanan simbolik Jacques Lacan. DEPOK: Universitas Indonesia.
  • Robet, Robertus. 2011. “Provokasi Lacan terhadap Seksuasi dan Tindakan Etis”  dalam Kuliah Umum Seksualitas di Salihara.
  • George Legrady, Art & Technology  http://www.mat.ucsb.edu/~g.legrady/academic/courses/05f200a/WhatIsAnImage.html (2014)
  • Bahan-bahan kuliah "Psikologi Persepsi" tahun 2014, oleh Nasbahry Couto. 
  • Mengenai pornografi di internet dan aturannya lihat disini (Pdf)
Catatan Kaki.


[1] Jacques Lacan lahir di Paris, pada tanggal 13 April 1901. Ia berasal dari keluarga borjouis Katolik yang taat. Lacan berkuliah di Sorbonne, dalam bidang kedokteran, dan melanjutkannya di bidang psikiatri pada tahun 1920-an. Ia mendapatkan gelar doktornya dengan tesis mengenai psikosis paranoia. Pada tahun 1934, ia menjadi anggota La société Psychoanalytique de Paris (SPP), dan awal mula ia menjadi sosok kontroversial di kalangan komunitas psikoanalis internasional, karena hal itu juga ia dikeluarkan pada tahun 1962 karena dianggap menyimpang dari praktik psikoanalisa. Pada tahun 1963, ia mendirikan L’École Francaise de Psychoanalyse yang kemudian berganti nama menjadi L’École Freudienne de Paris. Lacan juga menuangkan pemikirannya dalam berbagai tulisan, esai pertamanya “On the mirror stage as formative of the I” terbit tahun 1936. Kumpulan esai-esai Lacan selanjutnya dibukukan pada tahun 1966 dalam Écrits: A Selection. Lacan menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 9 September 1981, di Paris.

[2] Anaklitic (anaklitik) adalah istilah psikologis untuk orang dewasa, yang memilih orang yang dicintainya mirip ibunya, atau orang dewasa lain tempat dia bergantung sebagai anak. Bisa juga ketergantungan bayi pada ibu atau ibu pengganti dimana dia merasa nyaman/sejahtera.

[3] Liyan adalah the other

Poskan Komentar

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting