Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Rabu, 23 Maret 2011

Keris Pusaka Minangkabau: (bgn-3)

hal 3

Di daerah Minangkabau lainnya, bukan keris yang dipusakakan secara turun temurun, tetapi diganti dengan sewah tumbak lado/sakin yakni sejenis pisau dengan ciri  tertentu. Keris juga dijadikan benda ikatan perjanjian adat perkawinan saat melaksanakan peminangan (timbang tando) di samping benda lainnya seperti " cincin pertunangan, kain songket, dan sebagainya.
Hal ini menimbulkan suatu pertanyaan kenapa benda itu diposisikan demikian. Keadaan ini tentu saja mempunyai alasan sendiri-sendiri.


Budibardjo dalam tesisnya 'Keris sebagai Ungkapan Seni Rupa' mengungkapkan setidaknya terdapat tiga kelompok pandangan yang berbeda dalam menilai benda keris itu tersendiri, seperti berikut ini. Pandangan pertama yang berkembang paling belakangan yang selain bersumber dari dunia tradisi juga sangat mungkin   telah dipengaruhi dunia pemikiran Barat, beranggapan bahwa keris  adalah   hasil   kebudayaan, kagunan, atau  hasil   kesenian. Kemudian pandangan kedua yang   telah sejak lama berkembang di kalangan masyarakat Jawa, secara umum  lebih meyakini  bahwa  keris merupakan senjata pusaka  lebih  dikarenakan daya gaib atau tuah yang dimilikinya. Sedangkan menurut pandangan ketiga yang berkembang di kalangan  lebih terbatas, keris merupakan pusaka dengan berbagai variasi pemaknaannya dan dinyatakan dengan istilah-istilah  yang banyak dikenali  oleh  kalangan tersebut. Terutama makna-makna sosial,  historis, filosofis, etis, dan religius-mistis" (Budihardjo Wirjodirdjo 1998:2).

Agaknya di kalangan masyarakat Minangkabau sendiri juga ditemukan adanya tiga kelompok pandangan di atas. Setidaknya  terlihat   dari pandangan yang dikemukakan oleh H. Dt Tuah yang mengatakan sebagai berikut.
"Keris kebesaran raja-raja di Minangtabau dahulunya dianggap memiliki kesaktian. Keris bernama Curak Simandang Giri bertakik seratus sembilan puluh digunakan untuk pembunuh setan si Katimuno. Kerisnya bersemangat baja sakti yang enggan disarungkan, dan gembira kalau dihunus, kelahirannya setaraf dengan cipta dunia". (Dt.Tuah,1985: 106-107).
Pendapat senada yang tentang keberadaan sebuah keris pusaka dalam penobatan seorang pengulu dahulunya dikemukakan  Mahmud sebagai berikut:
"Di Sungai Pagu   telah ditetapkan dan diangkat Datuk Maruhun Mangkuto Alam disumpah  oleh  Datuk Perpatih Nan Sebatang dengan meminumkan air keris si Ganjo Era". Selanjutnya dikatakannya: "Di Batu Nan Tigo penghulu dilantik oleh Datuk Suri Dirajo dengan sumpah berbunyi: berkata benar, berbuat baik, menghukum adil dan meminum air keris si Ganjo Era untuk penguat sumpah itu"    (Sutan Mahmud dan A. Manan Rajo Pangulu,1978:48).
Mencermati pandangan-pandangan itu,  terlihat   dengan jelas  bahwa  sebuah keris dipusakai karena pandangan yang dihubungkan dengan daya gaib atau tuah yang dimilikinya dan  pandangan yang terkait dengan makna-makna sosial, historis, filosofis, etis, dan terutama religius-mistis. Kedua pandangan ini sejalan dengan pandangan kedua dari ketiga yang dikemukakan oleh Budihardjo sebelumnya. Perihal keris dipandang sebagai hasil kebudayaan, kagunan, atau kesenian telah pula diungkap oleh Budihardjo dengan mengutip pendapat R. T. Waluyodipuro dalam pengantarnya pada buku Seserepan Bab Dhuwung, Wirjodirdjo (1998) mengemukakan sebagai berikut:
Yang menarik dari pandangan ini ialah bahwa selain menempatkan keris di dalam bingkai konsep tradisi yang disebut kagunan, juga sekaligus telah memadankannya dengan seni lukis, seni patung, dan seni bangunan sebagaimana yang ada di dalam bingkai konsep Barat tentang art dan seni" (Budihardjo Wirjodirdjo, 1998:3). Pertimbangan lain menurut Budi adalah pandangan yang dikemukakan oleh Garret dan Solyom, bahwa "bentuk keris sangat lekat dengan konsep estetik yang canggih dalam proses pembuatan keris". (Budihardjo Wirjodirdjo 1998::75).
Menurut Garret dan Solyom, dalam proses pembuatan keris seorang empu mempertimbangkan tiga aspek utama wujud keris, yaitu (1) silhouette (bayangan) dan surface (permukaan), (2) contour (kontur),  dan (3) surface pattern (pola permukaan). Aspek bayangan, permukaan dan kontur dalam istilah tradisi disebut dapur (shape), yaitu suatu bentuk spesifik dari keris yang dapat diidentifikasi berdasarkan kombinasi dari bagian-bagiannya (dalam bahasa Jawa di sebut: ricikan) dan batasan garis bentuk luar keris. Sementara aspek surface pattern yang setiap saat harus diperhitungkan oleh empu dalam pembuatan keris adalah pamor, yaitu suatu pola yang terdapat pada permukaan bilah keris, yang hanya akan nampak apabila keris diberi warangan atau arsen. Selanjutnya Budi mengatakan:
"Menurut keterangan yang mereka peroleh dari empu Jeno, terdapat beberapa konsep estetik penting yang selain terkait dalam setiap tahapan pemantapan dan penyempurnaan bentuk (dapur) keris yang khas. Setiap keris kecil atau besar memiliki wujud atau proporsinya sendiri, sedangkan bagian-bagiannya pun memiliki wangun-nya sendiri pula. Wangun adalah suatu kualitas keseimbangan atau keselarasan yang menjadi ciri keris, dan yang dinyatakan dalam ketepatan proporsi yang bisa diterima akal. Wangun sangat bervariasi dan tergantung pada anggapan dan kepekaan si Empu. Kemudian konsep lain yang juga dikemukakan adalah udawana, yaitu yang menunjukkan suatu gestalt dari keris yang sempurna atau sesuatu yang dapat ditangkap apabila efek total dari susunan bentuk dapat diamati. Hubungan saling menentukan antara pamor merupakan hal yang amat penting, yaitu secara visual saling mengisi, dan pamor mendukung udawana. Di samping itu di kalangan masyarakat Solo dikenal pula konsep guwaya, yaitu kesan kesan atau pengaruh dari keris yang sempurna, yang dapat ditangkap pengamatnya secara visual dan intuitif. Guwaya menyangkut keagungan, keindahan bentuk dan pesona magis.(Garret dan Solyom,1978:15 dalam Budihardjo Wirjodirdjo, 1998:76).

Dari  pandangan Jarret dan Solyom,  itu Budi mengetengahkan rumusan kesamaan dan perbedaan unsur-unsur estetik keris dengan karya seni rupa lainnya  sebagaimana terlihat pada tabel berikut.(sumber: Budihardjo  Wirjodirdjo, 1998:78)

Tabel 1.1 Pemadanan Bilah Keris dengan Karya Seni Rupa




Jadi, dari analisis dan temuan seperti itu, Garret dan Solyom memandang keris juga sebagai karya seni rupa (visual art) karena kewanguman bentuk keris dihasilkan melalui unsur-unsur kerupaannya. Konsep-konsep visual, yang terera pada tabel di atas selanjutnya akan dipakai untuk menguraikan unsur-unsur estetik keris keris sebagai tanda/bahasa rupa dengan isi/pesan yang dikandungnya.
Catatan : 
Ditinjau dari perkembangan sejarah seni rupa -- pada saat tertentu, dimana pandangan terhadap pembuatan barang tertentu misalnya senjata, atau lukisan  -- memiliki kesamaan antara orang Barat dan orang Timur.  Misalnya pada masa abad Tengah atau sebelum masa Renaisan di kebudayaan Barat. Tradisi di zaman Renaisan, adalah tradisi Gilda. Yaitu sebuah tradisi pembuatan barang sejenis sebagai sebuah ketrampilan yang dimiliki oleh serikat-serikat kerja tertentu yang disebut serikat Gilda/Gilde. Pada masa itu (renaisan) pembuatan barang seni  di Barat, tidak dibedakan dengan pembuatan jenis barang lainnya, misalnya sepatu atau patung.  Pemisahan barang seni dan bukan seni terjadi saat sejak munculnya konsep seni moderen di Barat,  yang menganggap seni adalah sesuatu penciptaan benda yang indah di pandang mata yang dibedakan dengan barang-barang yang dipakai (fungsional). Hal ini juga memunculkan konsep tentang visualisasi benda itu sendiri. Diantaranya tentang penataan, prinsip-prinsip, kaidah-kaidah, penyusunan material dan sebagainya yang ditujukan untuk keindahan dan ungkapan (ekspresi) yang diujudkan melalui karya seni itu, sehingga mendatangkan rasa indah/takjub bagi yang menikmatinya. Sementara itu, konsep seni menurut orang Timur masih tetap merupakan kelanjutan konsep ketrampilan membuat benda (di zaman Gilda Eropah), dan tentu saja juga juga dengan segala keistimewaannya dalam bentuk rupa  tertentu,  dan keistimewaan lain yang abstrak sebab tidak terlihat dengan mata (unsur-unsur isi yang tak kelihatan/mistis).

Artikel ini terdiri dari 7 halaman, klik hal berurutan

(1) Pendahuluan(2) sambungan(3) Permasalahan keris keris, (4) sambungan(5) Tipologi(6) Hasil analisis, (7) Lima Keris yang melegenda di Indonesia.
Poskan Komentar

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting