Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Kamis, 28 April 2011

Masalah Regionalisme dalam Desain Arsitektur


5. Peran Masyarakat
Peran masyarakat untuk memelihara arsitektur regionalisme  dapat dilihat dalam dua periode. Periode 1) adalah sejak tahun 65-an, dimana Pemda Sumatera Barat berusaha untuk mengonjongkan bangunan –bangunan moderen di kota –kota Sumatera Barat. Akibat nya terjadilah tempelan-tempelan yang tidak perlu pada bangunan moderen yang justru merusak karakter bentuk  AMK. Periode 2) berlangsung sejak tahun 80-an, yaitu sejak diadakannya MTQ ke 13 di kota Padang. Dimana para arsitek yang berperan untuk mendesain bangunan tidak lagi di bawah komando politik Pemda, tetapi berusaha untuk mengadakan penelitian, mencari akar arsitektur lokal (sisa-sisa eksperimen bangunan AML ke AMK dapat dilihat pada bangunan Mesjid Muhamadiyah dan GOR Haji Salim di Kota Padang), yang di prakarsai oleh Ir.Ismed Darwis (Alm.)
Bangunan Mesjid Raya (baru) di jalan khatib Sulaiman yang mengambil unsur atap sebagai badan bangunan mesjid ( usaha untuk mendamaikan unsu adat dengan agama?) sebab bangunan asli tradisi mesjid bukanlah seperti ini. Dapat dilihat dari gambar di bawah.
Lukisan tentang mesjid di pinggir danau singkarak oleh pelukis Belanda : L. J. (Leo) Eland 1884-1952. Dilukis pada abad ke 19. Ciri bangunan mesjid asli ini mulai menghilang. Sumber. http://www.geheugenvannederland.nl

6. Peran Desainer (Perancang) dan Steakholder

Peran arsitek lokal dalam arsitektur regional umumnya kecil dibandingkan dengan peran arsitek yang berasal dari luar komunitas. Hal ini dapat dipahami karena bangunan-bangunan AMK yang mengandung AML  yang di bangun di perkotaan di rancang oleh  desainer dari luar komunitas.

D. Simpulan
Sampai saat sekarang bagaimana ujud arsitektur lokal itu masih dalam wacana diskursus, antara lain wacana tentang mana arsitektur bentuk asli dan mana yang bentuk transformasi. Sebab dalam perjalanan arsitektur lokal itu yang muncul adalah model-model bangunan (beberapa model), diantaranya adalah bangunan beranjung, dianggap sebagai model bangunan tradisi Minangkabau yang unggul dalam bentuknya. Namun  dari penelitian, membuktikanbahwa jenis dan bentuk bangunan seperti ini adalah bangunan khusus, jadi bukan bangunan yang ada pada masyarakat Minangkabau. Apa yang terjadi di Sumatera Barat, mungkin sama dengan yang di tempat lain. Dalam hal ini kita dapat mengaca apa yang diungkapkan oleh Kenzo Tange (arsitek Jepang), bahwa selagi format arsitektur moderen-tradisional itu disuatu tempat belum ditemukan, yang muncul hanyalah karya eksperimen, atau dengan perkataan yang lebih tajam lagi, yaitu karya monster-monster arsitektur.

Khusus mengenai transformasi arsitektur regional (minangkabau), dapat dipastikan bahwa hal ini tidak hanya terjadi pada jaman setelah kemerdekaan, tetapi sudah berlangsung sejak jaman kolonial (gambar mesjid Sei.Puar, Bukittinggi)
Yang menjadi masalah adalah bagaimana membangun moderen tetapi mencerminkan arsitektur regional (khusus daerah Sumatera Barat). Salah satu masalah adalah, tempelan unsur AML jelas dapat merusak AMK, bukannya menyatu tetapi sangat kontras sebagai sebuah tempelan AML   yang berbahan dan ukiran kayu ke bangunan AMK yang berbahan beton dan bertingkat.
Masalah lain dalam penerapan bangunan regionalisme ini adalah jika terdapat beberapa bangunan bergonjong yang sangat berbeda-beda karakternya  di suatu lokasi ( kelompok bangunan). Yang terjadi adalah semacam pameran model bangunan lokal. Hal ini dapat di lihat di sepanjang jalan Khatib Sulaiman di Padang. Dapat dikatakan sepanjang jalan ini tidak ada pengaturan bentuk bangunan  baik untuk tujuan AMK maupun AML atau perpaduan antara keduanya.Hal yang sama dapat  terjadi di beberapa kota di Sumatera Barat, dimana karakter tradisionalnya hanya merupakan tempelan AML ke AMK.
Usaha untuk mempertahankan ciri arsitektur regional, sering membawa akibat tidak teraturnya kesan bangunan. Bagunan  bergonjong pada Pasar Raya Padang ini adalah contoh bahwa bentuk-bentuk gonjong tidak selalu cocok dalam kelompok bangunan dan tidak serasi dengan bangunan-bangunan umum lainnya.  (sumber, Couto, 2008)
Dapat dikatakan arsitektur regionalisme itu perlu ditertibkan penerapannya kembali apakah melalui sebuah peraturan atau kajian akademis, yang tidak hanya melibatkan para arsitek tetapi juga berbagai ahli lain seperti bidang seni visual, seni rupa dan kriya. Diantara yang menjadi masalah adalah jika sebuah bangunan bercorak bangunan regionalisme telah di bangun di suatu tempat, bagaimana desain bentuk bangunan di sekitarnya harus di desain ? Bagaimanakah penerapan unsur ornamen tradisi yang asli ? Bagaimanakah pemberian warna yang mengekpersikan arsitektur lokal, dan sebagainya yang berhubungan dengan regionalisme dalam. Jka hal ini tuntas setidaknya akan mengurangi praktek asal tempel untuk mengekspresikan arsitektur regional.




INBOX:  CONTOH PERAN PELAKU ARSITEKTUR REGIONAL


(a) Pelaku pembangunan (sumber: http://www.bakinnews.com/index.php?option=com_content&view=article&id=3561:menyoal-anggaran-tahap-ii-pembangunan-mesjid-raya-sumbar-&catid=35:kota-padang&Itemid=56

Padang (Sumbar), BAKINNews---Tumpang-tindihnya anggaran tahap II untuk pembangunan mega proyek Mesjid Raya Sumbar, ternyata telah menjadi isu tidak sedap yang dialamatkan kepada Panitia Anggaran (Panggar) di DPRD Sumbar. Hal tersebut dipicu dengan tidak jelasnya berapa angka-angka yang akan dianggarkan di APBD Sumbar 2011 ini untuk pembangunan Mesjid Raya tersebut. Diduga dalam pembahasan anggarannya ditenggarai permainan ala mafia.
Hal tersebut dipicu, ketika diawal pembahasan KUA-PPAS dalam pengajuan anggaran untuk tahap II pembangunan Mesjid Raya tersebut ditemukan berbagai versi pada mata anggarannya di APBD Sumbar 2011 ini. Lucunya lagi, Mesjid Raya Sumbar yang katanya akan menghabiskan dana sebesar Rp. 500 Miliar, dan pada tahap I telah menghabiskan anggaran sebesar Rp. 103,87 Miliar, kini proyek pembangunan Mesjid tersebut masih berharap dari APBD Sumbar. (Baca BAKINNews edisi 254-Red).
Permasalahan utama tentang terkuaknya dan amburadulnya pembahasan anggaran tahap II pembangunan Mesjid Raya tersebut, menjadi cambuk bagi Martias Tanjung yang baru bergabung di Komisi III DPRD Sumbar. Ia sangat memperhatikan kinerja dan tugasnya sebagai fungsi control terhadap pelaksanaan perkerjaan Eksekutif. Kalau menyangkut Komisi III  otomatis tentu yang berkaitan dengan dengan berbagai pembangunan, dampak lingkungan, perhubungn dan sebagainya, jelasnya.
Dalam pembangunan Mesjid Raya Sumbar yang akan dianggarkan di APBD Sumbar di Tahun 2011 ini,” Saya diprioritaskan oleh fraksi untuk menyingkapi adanya keganjilan terhadap penggodokan anggarannya pada tahap II, yang dialokasikan sebesar Rp. 31 Miliar. Padahal, sebelumnya Gubernur berharap dianggarkan Rp. 16 Miliar. “Saya sangat menyayangkan dalam merumuskan anggaran tahap II untuk pembangunan Mesjid itu, Panggar tidak transparansi dengan jumlah anggaran yang akan disahkan pada APBD Sumbar 2011 ini, ujarnya beberapa hari yang lalu.
Kesimpang siuran realisasi anggaran pada tahap II di APBD Sumbar untuk pembangunan Mesjid Raya itu, disingkapi oleh H. Murlis Muhammad, SH. M.Hum., Pengamat Hukum Tata  Negara, Sabtu (12/2) kepada Koran ini Ia berujar, persoalan anggaran pembangunan Mesjid Raya Sumbar ini, kiranya tidak perlu diributkan, asal tak mengganggu anggaran kebutuhan dasar publik, dikarenakan Mesjid tersebut jika selesai akan menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) termasuk yang ada diperantauan.
Bukan itu saja, ujar mantan Camat Lubuk Kilangan Pemko Padang ini lagi, disamping itu perlu juga disadari, bahwa anggaran masing-masing SKPD tak mutlak naik setiap tahunnya. Ini artinya bisa saja anggarannya dihapus bila tidak terlalu penting untuk rakyat. Nah untuk itu, TAPD dan Panggar di DPRD harus teliti dan jeli menyusun dan membahas RAPBD sebelum disahkan.
Dalam hal anggaran tahap II untuk Mesjid Raya tersebut hendaknya, Panggar harus lebih bertangung jawab dalam proses pembebanan semua anggaran pada APBD, termasuk untuk anggaran lanjutan pembangunan Mesjid Raya, karena APBD itu direncanakan ditahun anggaran daerah yang harus dapat diketahui oleh rakyat melalui wakil rakyat didaerah.
Oleh karena itu, didalam penganggaran tahap II untuk pembangunan Mesjid yang dibangun saat Gamawan Fauzi sebagai Gurbenur Sumbar, kita berharap jangan sempat terjadi kongkalikong dalam merumuskan anggarannya, jika itu terjadi imbasnya tentu akan merugikan keuangan Negara. Apa lagi pada tahap I pembangunan Mesjid itu telah menghabiskan dana Ratusan Juta Rupiah lebih yang sebagian diambil dari APBD Sumbar.
Kita menghimbau kepada panitia anggaran pembangunan Mesjid Raya tahap II yang disitu bercokol anggota Komisi III agar transparansi ke publik dalam menggolkan anggaran untuk pembangunan Mesjid itu dari APBD Sumbar 2011, tujuannya agar tidak menimbulkan image yang kurang sedap dikemudian hari, ujar Murlis. BIN Yose

b. Contoh masalah pelaku desain bangunan
(sumber: http://bambangsb.blogspot.com/2006/09/sayembara-masjid-raya-sumbar.html
Sayembara Desain Masjid Raya Propinsi Sumatera Barat
Masyarakat Minangkabau yang sebagian besar adalah penduduk wilayah Propinsi Sumatera Barat dalam menjalankan kehidupan sosial budayanya tetap berpegang teguh pada adagium adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah (ABS-ABK). Oleh karena itu sejak dulu sampai sekarang, masjid sebagai representasi kehidupan merupakan salah satu ikon budaya yang penting. Masjid tidak saja dapat dijadikan ukuran dari keberhasilan masyarakat suatu wilayah/ nagari, tetapi sekali gus menjadi sebuah kebanggaan masyarakat di nagari tersebut. Itulah sebabnya sampai sekarang, setiap orang Minangkabau baik yang di kampung maupun yang di rantau selalu bergairah dan berlomba-lomba membangun dan memakmurkan masjid. Dengan demikian, masjid menjadi sentra kegiatan sosial kemasyarakatan. Di dalam adatnya disebutkan, sebagai salah satu syarat bagi sebuah nagari antara lain adalah babalai bamusajik. Adanya balai tempat bermusyawarah ninik mamak dan adanya masjid untuk aktivitas keagamaan dan ilmu pengetahuan.
Dalam perkembangan berikutnya dengan pesatnya perkembangan kota dalam wilayah Sumatera Barat, mempunyai dampak tersendiri pula. Nagari-nagari yang masing-masingnya memiliki masjid kini beralih pula pada setiap kota mendirikan masjid. Walaupun belum menyeluruh, tetapi pemerintah telah berusaha ke arah itu, mendorong masyarakat kota mendirikan mendirikan masjid-masjid yang representatif dengan fasilitas yang memadai untuk melengkapi sebuah kota. Begitu juga dengan Padang sebagai ibukota propinsi Sumatera Barat sudah sepatutnya mempunyai masjid yang representatif dengan fasilitas-fasilitas umat yang memadai. Dalam konteks inilah gubernur Sumatera Barat mendorong dan menghimpun potensi masyarakat untuk mendirikan sebuah Masjid Raya Sumatera Barat.
Pemenang Utama    : Rp. 150.000.000,-
Pemenang Harapan I    : Rp. 75.000.000,-
Pemenang Harapan II     : Rp. 50.000.000,-
Pemenang Harapan III     : Rp. 25.000.000,-

Selengkapnya silahkan buka situsnya di http://www.masjidraya-sumbar.com/
Kita tunggu para pemenangnya dari keputusan Dewan Juri.

Kepustakaan


  1. Budihardjo, Eko. "Kepekaan Sosio-Kultural Arsitek", dalam Perkembangan Arsitektur dan Pendidikan Arsitektur di Indonesia, Eko Budihardjo (ed), Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1997.
  2. Couto.1998. Makna dan Unsur-Unsur Visual Pada Bangunan Tradisional Minangkabau: Suatu Kajian Semiotik (Studi Kasus: Bangunan Rumah Gadang di Sehiliran "Batang Bengkawas"  Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat). Thesis, (Tidak diterbitkan). Perpustakaan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung
  3. Couto.2008. Budaya Visual pada Seni dan Tradisi Minangkabau, Padang: UNP Press
  4. Curtis, William, "Regionalism in Architecture", dalam Regionalism in Architecture,  Robert Powel (ed), Concept Media, Singapura, 1985.
  5. Darwis, Harmaini. 1981. Sebuah Tinjauan Tentang Arsitektur Moderen dengan ciri Tradisional Minangkabau (Seminar Jurusan Arsitektur STT-SB, tidak diterbitkan)
  6. ………..& Couto, Nasbahry. 2003. “Peran ilmu sosial dan budaya dalam arsitektur”, (Seminar Pendidikan Arsitektur, Yogyakarta, 2003 (tidak diterbitkan)
  7. Jenks, Charles.1977. The Language of Post Modern Architecture, Rizzoli, New York,
  8. Koentjaraningrat. 1974.Kebudayaan, Mentalitet, dan Pembangunan, Gramedia, Jakarta,
  9. Krier, Rob.1988. Architectural Composition, Rizzoli, New York
  10. Ozkan, Suha.1988. "Regionalism within Modernism", dalam Regionalism in Architecture, editor Robert Powel, Concept Media, Singapura
  11. Prijotomo, Josef.1988. Pasang Surut Arsitektur Indonesia, CV Ardjun, Surabaya
  12. Wondoamiseno, R.A.1991. Regionalisme dalam Arsitektur Indonesia : Sebuah Harapan, Yayasan Rupadatu, Yogyakarta
   Perlu juga di baca
Pembukaan Pameran dan Launching Buku “New Regionalism In Bali Architecture By Popo Danes” Di Bentara Budaya Bali Agustus 1, 2011
 (tulisan ini telah dimuat di Koran Renon, No.44, edisi 29 Juli-14  Agustus 2011)

Lebih dari 350 undangan hadir dalam pembukaan pameran retrospektif Popo Danes (22/7/2011), bertajuk “New Regionalism in Bali Architecture” di Bentara Budaya Bali. Pameran ini selain memamerkan karya-karya Popo Danes sedari kurun tahun  1990-an hingga yang terkini, dirangkaikan pula dengan launching buku arsitektur Popo Danes yang ditulis oleh konsultan interior mumpuni, Imelda Akmal serta foto-foto oleh Sonny Sandjaya.
Pembukaan pameran dan launching buku ini dihadiri oleh para seniman, budayawan, sahabat serta kolega Popo Danes. Antusiasme undangan yang hadir menegaskan posisi Popo di ruang publik yang nyaris tidak berjarak, hangat dan bersahabat. Popo Danes yang telah menghasilkan karya arsitektur pertamanya sedari usia 17 tahun  ini senantiasa berupaya menjaga pergaulan sosial maupun kreatifnya dengan publik, salah satunya dengan membuka Danes Art Veranda, sebuah ruang diskusi kesenian dan kebudayaan di Denpasar.
Bahkan, sebagai bentuk penghargaan Popo terhadap para sahabat serta pihak yang berperan dalam pencapaiannya selama ini, bersamaan dengan launching karya-karyanya, Popo Danes juga menyerahkan buku kepada beberapa tokoh diantaranya Ibu Setyasih Danes (Ibunda Popo Danes), Ketut Rana Wiarcha (Ketua IAI Bali), Ir. Ni Kt. Ayu Siwalatri (Kajur PS Teknik Arsitektur UNUD), Kajur PS Teknik Arsitektur Unwar, serta beberapa rekanan.
”Sebuah karya arsitektur dinilai berhasil bila kuasa menyelaraskan antara capaian estetik dan fungsinya secara keseluruhan. Rancangan yang dibuat tidak hanya tepat guna, namun juga tepat makna karena merangkum keunikan dan acuan filosofis dari bangunan dimaksud. Sehingga sebuah karya arsitektur tidak melulu merangkum keelokan dan kemolekan, sekaligus pula keunikan.“ ungkap Popo Danes dalam sambutannya.
Regionalism adalah istilah yang tepat menggambarkan pola perancangan arsitek Popo Danes. Karya-karya arsitekturnya juga mencerminkan begitu luwesnya masyarakat Bali dalam bersentuhan dan menerima modernisasi, namun tetap terlihat upaya mempertahankan identitas ke-Bali-annya.
Pameran yang berlangsung sedari tanggal 22 hingga 31 Juli 2011 ini, selain menampilkan karya-karya Popo Danes dalam bentuk fotografi, maket proyek 3D, turut pula menyuguhkan seni instalasi, candi, koleksi antik Danes,  patung dan bangunan khas Bali. Para hadirin juga berkesempatan menyaksikan pemutaran film dokumenter Popo Danes yang berjudul Rumah Angin serta Bauhaus – Model and Myth, produksi Pusat Dokumentasi Arsitektur dan Goethe Institute.
Nyoman Popo Danes lahir di Denpasar, 6 Februari 1964. Karya-karyanya tidak hanya bisa disaksikan di tanah air, akan tetapi juga terdapat di berbagai kota penting di penjuru dunia. Popo memperoleh berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri, antara lain Nominasi The Aga Khan Award for Architecture 2004, Pemenang Pertama ASEAN Energy Award untuk Kategori Bangunan Tropis pada 2004 dan 2008, dan sebagainya. Popo juga membuka ruang publik kesenian dan kebudayaan di Denpasar, yakni Danes Art Veranda.
“Pak Popo merupakan salah seorang arsitek Bali yang terbukti memberi sumbangan dan turut membentuk karakter Bali dalam menyikapi kekinian. Melalui karya-karyanya, Popo Danes tidak semata menghadirkan arsitektur yang indah dan estetis  namun tetap menunjukkan filosofi serta kultur Bali yang kuat.” ujar Riri Prabandari, penanggungjawab acara.
Buku berjudul New Regionalism in Bali Architecture by Popo Danes secara khusus akan didiskusikan pada Minggu, 31 Juli 2011 di Bentara Budaya Bali, pukul 18.30 Wita. Diskusi menghadirkan pembicara Popo Danes, Imelda Akmal serta Sonny Sandjaya.  Buku setebal 208 balaman ini berisi karya-karya Popo Danes termasuk gambar site plan, gambar potongan, denah serta foto  ilustrasi proyek terbangun serta dilengkapi dengan lebih dari 400 ilustrasi gambar berwarna dalam dua bahasa.
Imelda Akmal, penulis spesialis arsitektur dengan reputasi yang telah teruji, memulai karirnya sebagai penulis bidang arsitektur dan interior pada tahun 1993 di Majalah Femina. Lulusan Teknik Arsitektur Universitas Trisakti ini telah membuat lebih dari 50 buku, dan pernah meraih penghargaan dari IKAPI. Kini, ia juga bekerja sebagai kontributor untuk artikel arsitektur dan interior pada majalah dalam dan luar negeri, seperti Home Décor, ISH Magazine, Femina Pesona, A+, serta menjadi konsultan untuk program televisi Home Beauty.
Sonny Sandjaya mulai menekuni kariernya sebagai fotografer dari sebuah harian ibukota, lalu majalah wanita terkemuka di Indonesia. Dengan menyandang gelar Bachelor of Art in Photography dari Royal Melbourne Institute of Technology, Australia, Sonny Sandjaya telah menghasilkan banyak karya-karya fotografi arsitektur dan interior. Hasil karyanya selama 15 tahun diakui secara nasional dan internasional. Foto-fotonya dimuat beberapa media internasional seperti Architectural Digest (USA), A+U (Jepang), Thames & Hudson, dan Taschen. Di Indonesia, foto-fotonya mengisi puluhan buku serta majalah arsitektur dan interior, termasuk buku yang disusun IAAW Studio.
Artikel ini terdiri dari 3 halaman, klik hal berurutan

Poskan Komentar

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting