Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Minggu, 20 Januari 2013

4Naluri/Instinct dalam Seni: Teori dan Terapannya

Hal 4

Penutup

Memang penelitian dan tulisan Dutton ini menarik, antara lain.
  1. Ada perbedaan antara naluri manusia dan hewan, naluri hewan itu menetap, sedangkan naluri manusia  berevolusi (sesuai dengan teori Dutton). Naluri yang dimaksud pameran di atas mirip dengan apa yang dikemukakan oleh Freud, tetapi karena penulis belum pernah berdiskusi dengan kelompok mhs ini, maka ini hanya baru dugaan, dan tidak seluruhnya benar.
  2. Teori warisan budaya dan pemeliharaan budaya (yang menurut Dutton bersifat politis), jelas dapat bertentangan  dengan teori ini
  3. (catatan untuk butir 2) Jika kita mengikuti teori kelembagaan (intitusional George Dicky dan Howard Saul. Becker dengan teori interaksionalnya, maka jelas yang berperan dalam mematrikan budaya itu adalah lembaga dalam masyarakat, dunia pendidikan dan pemerintah dengan aktor-aktornya (lihat Bruno Latour). Tetapi teori lembaga lama ("Old institutionalism") ini memusatkan perhatian hanya pada norma.  teori ini telah diperbarui (new-institusionalism) oleh DiMaggio dan Powell (1991), DiMaggio (1991) memperkenalkan neo-institutional theory yang dipengaruhi pemikiran Max Weber dan Herbert Simon yaitu munculnya organizational fields yang lalu membatasi perilaku aktor. Artinya peran kelembagaan dalam seni,--jika kita mengikuti pemikiran baru ini-- lebih rumit dari yang dibayangkan orang, apalagi kemudian Bourdeau (dengan teori areanya) lebih menjelaskan peran lingkungan terhadap munculnya seni dan seniman.
  4. Nampaknya teori Dutton ini, lebih bernada universal, sebab menerobos batas-batas budaya. Misalnya, siapa yang dapat menjamin, bahwa seseorang dapat mengembangkan naluri seni secara evolusi  terhadap musik klassik Eropa? ketimbang seni budaya jawa, atau lagu dangdut
  5. Kita mempunyai panca indra sebagai alat persepsi, ekspresi, komunikasi yang  utama dalam hidup. Tetapi kenapa yang berkembang hanya mata dan telinga (seni musik dan rupa/visual) sebagai alat ekspresi seni. Pertanyaan ini dijawab (dari premis Dutton) berdasar teori evolusi
  6. Jika kita mengembangkan seni bau dan raba sebagai alat ekspresi, dapat dibayangkan, misalnya akan ada pameran kentut, atau pameran bau ketiak sebagai alat ekspresi
Teori Dutton ini tidak ada kaitannya dengan keyakinan atau kepercayaan, kaitannya adalah dengan penelitian yang diadakan oleh Dutton tentang perkembangan estetik manusia yang diduganya berasal dari evolusi juga. Sebab jika dikaitkan dengan keyakinan atau kepercayaan, sampai saat ini teori Darwin tentang asal manusia juga masih diperdebatkan. Berarti teori Dutton juga masih bisa di perdebatkan.
Catatan kaki
  1. http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/109523
  2. Umumnya pameran yang diadakan, untuk penutup kuliah di Padang seakan toko serba ada, apalagi tidak ada kurator (untuk mengarahkan), pembahasan karya, diskusi untuk mengembangkan pemahaman.
  3. http://skalanews.com/berita/detail/134334/Ekspresi-Naluri-Dalam-Dunia-Seni-Rupa
  4. Lihat Dutton, Denis. 2009. The Art Instinct: Beauty, Pleasure, and Human Evolution. New York: Bloomsbury Press. Dutton adalah seorang profesor filsafat seni di Universitas Canterbury di Selandia Baru, dan pendiri dan editor dari situs Web Arts  & Letter Daily. Gagasannya  diawali dari konsepnya tentang evolusi psikologi sejak 1990-an. Bahwa beberapa perilaku manusia sejak  jaman  batu secara psikologis dan genetik dapat memperlihatkan adanya instink ini.
  5. Pleistosen adalah suatu kala dalam skala waktu geologi yang berlangsung antara 1.808.000 hingga 11.500 tahun yang lalu. Namanya berasal dari bahasa Yunani πλεστος (pleistos, "paling") dan καινός (kainos, "baru"). Pleistosen mengikuti Pliosen dan diikuti oleh Holosen dan merupakan kala ketiga pada periode Neogen. Akhir Pleistosen berhubungan dengan akhir Zaman Paleolitikum yang dikenal dalam arkeologi. Pleistosen dibagi menjadi Pleistosen Awal, Pleistosen Tengah, dan Pleistosen Akhir, dan beberapa tahap fauna. Plestosen awalnya dikenal dengan diluvium, yakni formasi sekarang (holosen atau aluvium); bermula dari 1.750.000 tahun lalu dan berakhir sampai 10000 tahun lalu. kala pertama dalam zaman kuarter, dibawah satuan waktu geologi ini terdapat kala pliosen, dan diatasnya kala holosen. Pada kala plestosen bumi mengalami beberapa zaman es. Kala ini menyaksikan kelahiran homo sapiens yang pertama dan kepunahan berbagai jenis yang mendahuluinya, seperti pithecanthropus erectus. Di pulau Jawa, Sumatra, Nusa Tenggara, dan Sulawesi, kala ini dicirikan dengan kegiatan gunung berapi yang berlangsung hingga sekarang. Dari masa ini juga dikenal sebagai megaloceros (rusa besar), coelodonta antiquitatis (badak berbulu wol), mammuthus primigenius (mamut), ursus spelaeus (beruang yang hidup dalam gua), smilodon (semacam kucing besar), rusa kutub, bison, dll.
  6. Lihat blog:  http://www.aldaily.com/
  7. Stephen Davies adalah bagian  Profesor filsafat di University of Auckland, Selandia Baru.  Ia menulis terutama tentang estetika, terutama filsafat musik, tetapi juga bekerja pada filsafat politik. [2] Dia adalah mantan presiden dari American Society untuk Estetika (2007-2008), dan divisi Selandia Baru Asosiasi Australasia of Philosophy (2001). [3] Salah satu publikasi pertamanya adalah jurnal 'The Expression of Emotion di Music', diterbitkan di Mind tahun 1980 (Vol. 89, pp.67-86). Dalam artikel ini Davies pertama menguraikan teorinya bahwa musik adalah ekspresif/ungkapan  dari emosi, pada dasarnya mirip dengan cara kemunculan emosi manusia itu muncul. Teori ini mirip dengan yang diuraikan oleh Peter Kivy dalam bukunya The Corded Shell, yang diterbitkan pada tahun 1980. Namun, Davies mengembangkan pandangannya sendiri sebagai sarjana pada tahun 1970, dan teorinya adalah bagian dari tesis PhD-nya ditulisnya tahun 1976 dari  University of London.  Berbeda dengan Kivy., Davies juga menempatkan penekanan lebih besar pada kemiripan antara musik dan gerakan fisik, di mana Kivy cenderung menekankan kemiripan dengan ekspresif vokalisasi. Davies terinspirasi saat melihat sebuah iklan untuk sepatu Hush Puppies, dengan pikiran bahwa kita mengalami rasa sedih dalam menonton anjing Basset, meskipun tahu bahwa mereka tidak merasa sedih.
  8. Lihat bukunya: Definitions of Art. Ithaca & London: Cornell University Press, 1991.
  9. a.Lihat juga: http://www.nytimes.com/2009/02/01/books/review/Gottlieb-t.html?_r=0, teori Dutton ini juga sudah di filemkan, lihat di internet.
  10. 9b] Dr. Justine Kingsbury,  BA(Hons), MA VUW, PhD Rutgers , adalah Dosen, University of Waikato, Canada, Faculty of Arts & Social Sciences
  11. [10]  Tentang Hannah Rose Burgess, lihat http://denisdutton.com/burgess_review.pdf
  12. [11]  Lihat diskusi Dutton dengan Overing dalam http://denisdutton.com/weiner_review.htm
  13. [12] Is Aesthetics a Cross-Cultural Category? Lihat http://denisdutton.com/weiner_review.htm
  14. [13] Justine Kingsbury adalah dosen filsafat di University of Waikato, Selandia Baru. 
Poskan Komentar

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting