Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Rabu, 21 September 2011

Memahami Seni Sebagai Refleksi Budaya Visual

Oleh Nasbahry Couto
Revisi 14-11-2011
Kita melihat di TV bagaimana sebuah patung di hancurkan oleh masyarakat Purwakarta, di Indonesia  baru-baru ini. Hal ini bisa terjadi karena pandangan streotipe masyarakat (bahwa patung adalah berhala). Anak-anak SMA tawuran karena kecemburuan sosial (antara yang miskin dan kaya, antara bebas dan tidak bebas). Sinetron dan TV nampaknya getol menggali pandangan streotipe dan ketimpangan sosial dalam masyarakat, apakah media ini yang memicu kecemburuan sosial?


Ada yang mengisukan, wartawan (tulis, elektronik) cendrung memanaskan suasana atau berpihak. Kelihatan bahwa pendidikan karakter saja tidak mampu untuk mengatasi masalah sosial di Indonesia. Sebab ada yang luput dari perhatian kita selama ini, misalnya  peranan budaya visual dan efeknya dalam masyarakat kita. 
Catatan: Artikel ini adalah cuplikan isi buku Budaya Visual seni dan Tradisi Minangkabau, karangan penulis (2008). Artikel ini ingin mengungkap sedikit tentang budaya visual sebagai bagian dari seni dan budaya. Pendidikan seni dan budaya visual jarang disadari dan diketahui. Pada hal hal-hal yang nampak dari perbuatan manusia dapat menjadi bahasa tersendiri, sebagaimana bahasa verbal. 
Kedua bahasa itu (visual dan verbal) dipakai dalam kehidupan sehari hari. Umumnya orang jarang berpikir kearah itu. Yang dikenal oleh orang, umumnya adalah bahasa verbal.(lihat catatan akhir. Pemerintah bingung dalam mengelola pendidikan seni dan budaya ? Ada bahayanya jika mencampurkan pendidikan seni dan budaya, pandangan komunitas, kelompok sosial maupun etnik bisa jatuh pada streotipe sosial budaya, hal ini jika dipelihara sama halnya dengan memelihara bom waktu yang sewaktu-waktu bisa memicu konflik sosial di Indonesia. Menurut penulis pendidikan seni, akan lebih aman jika mengikuti standar pendidikan seni dunia. Kebudayaan asli Indonesia itu memang harus di lestarikan, tetapi ada cara lain yang lebih efektif dalam memelihara kebudayaan lama itu.
Misalnya, baru-baru ini di galery seni FBSS UNP Padang, (oktober 2011) diadakan diskusi tentang bedah buku dari komunitas seni "Taring Padi" dari Yogya, apa komentar dari "pembedah buku" (dosen dari jurusan bahasa Inggris) tentang ekspresi seni komunitas dari Yogya ini, dia sangat tidak setuju dengan cara berpakaian wanita yang digambarkan oleh hampir semua karya komunitas seni Taring Padi dari Yogya dalam buku ini. Kenapa, katanya terlalu jawa sentris, dan melecehkan wanita, karena "baju kebaya itu" menggambarkan lekuk tubuh, tidak cocok dengan budaya Minang, apalagi Islam kata pembicara yang bukan bidang seni rupa ini. Lebih bagus baju "kurung basiba" katanya. 
Baju kebaya ini dijadikan baju nasional sejak jaman ibu Tien Suharto, dan dia tidak setuju. Apalagi setiap menggambarkan wanita selalu menggendong anak. Apakah memang wanita itu kerjanya hanya mengasuh anak? Katanya. Disini kita melihat bahwa si pembahas karya Taring sudah masuk ke masalah gender dan juga konflik budaya visual, yaitu sreotipe budaya visual suku Jawa dan Minangkabau. Komentar penulis: Apakah kita harus merubah cara berpakaian budaya Jawa kepada Minang atau sebaliknya? Streotipe sosial ini akan semakin melebar jika masing-masing daerah dalam pendidikan seninya mencampurkan antara pendidikan seni dengan pendidikan budaya, yang sekarang sedang marak-maraknya di adakan di berbagai perguruan tinggi dan pendidikan umum di Indonesia. Yang berbahaya adalah jika timbul pandangan bahwa budaya visual masing-masinglah yang paling baik, seperti disinyalir hal ini ada, karena pendidikan seni yang berorientasi kepada budaya visual masing-masing daerah.

Literatur tambahan
1.Approaches To Understanding Visual Culture by Malcolm Barnard - 5 Star Review 
2.Rampley:Exploring visual culture
3.Japanese Visual Culture Explorations in the World of Manga and Anime

A. Pendahuluan
Penulis pernah membawa rombongan dari Universitas Malaya tahun 2006, yang dipimpin oleh profesor pensiunan untuk melihat bangunan tradisional di sebuah nagari[1], yang memperlihatkan keasliannya. Hampir semua anggota rombongan merasa terkejut karena menyangka bangunan asli itu, mirip dengan bangunan Melayu (lihat gambar 1.0) Pimpinan rombongan memberikan komentar bahwa yang dilihatnya sangat berbeda dengan bangunan asal budaya Melayu. Selama ini mungkin beliau terpengaruh oleh anggapan bahwa antara kebudayaan Melayu-Minang dan Malaysia itu memiliki kemiripan, terutama kemiripan bahasa sebagai alat komunikasi atau dalam hal sastra. Sebenarnya cukup banyak seminar dan tulisan, buku-buku untuk meyakinkan tentang kesamaan unsur budaya kedua belah pihak itu.



Contoh lain sewaktu penulis masih kuliah di Bandung (1973). Seorang teman dari Sulawesi memperlihatkan sekeping uang logam seratus rupiah yang pada satu sisinya menggambarkan rumah adat beranjung Minangkabau. Kemudian terjadilah perdebatan yang panjang, sebab menurut teman Sulawesi itu, gambar di atas kepingan uang itu adalah gambar rumah adat Toraja. Pertengkaran kemudian diakhiri, karena menganggap hal itu tidak ada gunanya. Lama sesudahnya penulis akhirnya mengetahui, bahwa hal ini terjadi karena latar perbedaan persepsi yang disebabkan perbedaan kultur dan cara melihat sesuatu.


Lainnya lagi sewaktu penulis membuat sebuah illustrasi untuk cover sebuah buku, yang memperlihatkan gambar wanita cantik, yang bagian atas badannya sedikit menonjol. Lukisan itu dilukis oleh pelukis Jawa terkenal yang sudah lama meninggal. Dimana cara berpakaian seperti itu hal yang biasa bagi wanita Jawa. Tetapi teman pria sekantor mengkritik bahwa itu tabu dipakai untuk sebuah illustrasi buku dan dianggap vulgar. Lain waktu, beberapa rekan wanita yang melihat cover itu, mengatakan desain itu bagus dan pantas. Contoh-contoh di atas memperlihatkan bahwa cara seseorang melihat sesuatu bukan sekedar respons subjektif, tetapi persepsi yang dilandasi oleh tafsiran berdasarkan streotipe, prasangka dan juga gaze
Kasus yang pertama dapat menjelaskan sebuah pandangan streotype.[2] Tentang kemelayuan Minang didukung oleh kesamaan unsur bahasa, sejarah dan didorong pula oleh unsur politis. Ketika melihat bangunan tradisi Minangkabau yang asli, imaji pengamat tentang kesamaan Melayu Minang dan Malaysia menjadi hilang. Pengamat  kemudian membayangkan dua cara hidup yang berbeda antara masyarakat agraris yang hidup di pegunungan (Minang darat) dan yang di kawasan pesisir (Melayu Semenanjung). Mungkin beliau terpengaruh oleh pandangan klise, karena terlalu sering mendengar kesamaan verbalistik itu.
Gambar 1.1. Kode-kode visual sosial Minangkabau yang streotip
Untuk menyatakan diri sebagai orang Minang, dipakai kode ikon dan kode indeks atap gonjong. Dua kode visual yang dipakai yang pertama indeks turunan bentuk gonjong. Contoh di atas adalah huruf-huruf yang digonjongkan (B), yang kedua adalah ikon (tanda yang menyerupai) gonjong (A-C-D ). Sumber: Dokumentasi penulis. Digambar kembali (2008)
Yang kedua, sebenarnya kesalahan persepsi, dimana imaji-imaji visual yang ada di kepala pengamat hanya dibentuk oleh referensi kultur asalnya. Saat melihat bangunan tradisi berbentuk tanduk pada sekeping uang logam itu, dia menduga itu adalah bangunan tradisi Toraja Sa’adan. Interpretasi seperti ini dapat disebut denotatifyaitu merujuk kepada referensi yang ada pada kepala pengamat. Sedangkan interpretasi konotatif, apabila interpretasi itu diluaskan kepada referensi lain yang tidak berhubungan dengan apa yang dilihat. Misalnya saat melihat sekuntum bunga, seorang ulama ingat akan kebesaran Tuhan. Lain halnya dengan seorang pemuda, saat melihat bunga yang sama, yang teringat oleh dia adalah kekasihnya. Penafsiran seperti ini disebut konotatif.
Kasus yang ketiga, adalah imaji-imaji visual yang terbentuk saat seseorang melihat manusia. Yaitu bagaimana cara seseorang memandang orang lain. Produk film, animasi atau video umumnya dibuat untuk melihat bagaimana tampilan visual orang-orang. Demikian juga saat melihat seorang tokoh pimpinan, melihat potret, gambar atau lukisan pada dasarnya yang kita nilai atau pandang adalah visualisasi manusia. Jika kita menafsirkan orang-orang kurang tepat jika dipakai istilah denotatif atau konotatif.
Umumnya interpretasi terhadap benda dan orang tidak pernah sama. Dalam melihat benda-benda, umumnya kita menipiskan semua perbedaan yang ada. Sehingga kita mencari peluang untuk kesatuan pendapat tentang yang terlihat, misalnya dalam kegiatan ekonomi.
Dalam menafsirkan tampilan orang, kita dipengaruhi oleh gender, usia dan pandangan kelompok. Misalnya dalam hal pria melihat wanita atau wanita melihat wanita akan berbeda tafsirannya. Dalam hal ini kita dipengaruhi oleh respons-respons psikologis dan fisiologis yang kuat mempengaruhi pendapat kita tentang orang-orang.
Cara melihat sesuatu tergantung persepsi seseorang, sumber: clip arts.

Kelompok sosial seperti kelompok agama, pedagang, pendidik akan berbeda pandangannya dalam menonton film yang sama, dimana yang ditonton pada hakikatnya adalah tampilan manusia. Masing-masing kelompok mempunyai nilai dan kode sosial terhadap orang.
Seorang pedagang misalnya, dia mungkin tidak peduli dengan cara berpakaian seseorang, tetapi yang penting bagi dia adalah orang yang akan membeli punya uang atau tidak, dia menangkapnya dari gerak-gerik (bahasa visual tubuh) seseorang. Bahkan seorang pedagang yang telah terlatih bertahun-tahun sudah mengetahui apakah orang itu akan membeli atau hanya menawar saja, atau orang itu akan meminjam uang, hal itu dapat dirasakannya tanpa orang itu bicara sepatah-katapun (Lih. Mulyana, 2005:346-352).
Jadi dalam bahasa visual atau imaji visual, seseorang membaca dan memaknai apa yang dilihatnya, dia menafsirkan sesuai dengan pengalaman visualnya atau pembelajaran yang diperolehnya dari melihat. Sama halnya dengan seseorang belajar melalui bahasa dan lambang-lambang abstrak seperti matematik. Kalau pada bahasa abstrak disebut dengan bahasa verbal, maka pada bahasa rupa disebut dengan bahasa visual. Melalui bentuk-bentuk visual dan imaji visual kita mengartikan sesuatu hal yang kita lihat sesuai dengan referensi yang dimilikinya. Hal yang sama juga terjadi dalam bahasa verbal. Banyak contoh lain, seperti pendapat orang tentang apa yang dilihatnya di televisi, tidak lain adalah respons seseorang atas imaji-imaji visual dengan referensi tertentu.[3]
Kecendrungan pendidikan kita umumnya dilatih untuk bahasa simbol*) dan berpikir abstrak (pentingkan belahan otak kiri), dan jarang yang memahami bahwa bahasa visual itu juga harus dipelajari (melatih belahan otak kanan). Misalnya, karena orang primitif tidak punya pengalaman visual, dia menganggap pesawat terbang itu sama dengan burung, atau bulan dianggapnya tempat dewa. Anak-anak bisa menafsirkan matahari seperti manusia yang bisa ketawa. 
*) Catatan (10-10-2015) : Saya tidak mengerti, apa yang ,menyebabkan buku guru dan siswa dalam mata pelajaran : seni budaya" khususnya materi seni rupa di kelas XII (kurikulum 2013-2015 yang direvisi) untuk SMA, SMK sederajat, harus mempelajari "simbol" dalam lukisan.  (Lihat tulisan ini)
Fenomena sosial dalam hal budaya visual memang unik perlu dipelajari lebih dalam. Sebab sering masyarakat menafsirkan tampilan visual secara streotip dan negatif. Perbedaan kebudayaan dapat menyebabkan produk visual seperti hasil seni, desain, bangunan, pakaian ditafsirkan dengan cara berbeda. Untuk melihat permasalahan budaya visual, kita dapat memulainya dengan berbagai pertanyaan misalnya apakah seni visual itu atau apakah budaya visual itu?
Teori-teori untuk menjelaskan fenomena di atas cukup banyak, misalnya teori psikologi sosial menjelaskan kenapa pandangan wanita berbeda dengan pria terhadap seorang wanita yang sama. Bidang psikologi sosial misalnya, bisa menjelaskannya tentang persepsi sosial (social perception), pandangan klise (streotype), prasangka sosial (prejudice)  dan sebagainya.[4] Berbagai penelitian psikologi sosial menunjukkan bahwa dalam komunitas yang sifatnya komunalistik, prestasi individu kurang mendapat tempat, dan prejudice akan muncul apabila ada anggota yang berbeda atau berbeda pendapatnya. Umumnya orang dalam kelompok akan menyamakan pendapatnya. Dalam kelompok sosial seperti ini umumnya terjadi stagnasi.
Salah satu teori budaya visual misalnya mengemukakan teori “gaze”, yaitu bagaimana cara seseorang melihat orang lain berdasarkan gender, usia, posisi yang melibatkan aspek kejiwaan.[5]
Menurut Daniels (2008) gaze, adalah bagian budaya visual yang menekankan aspek visual penampilan manusia. Gaze terkait dengan cara manusia atau tokoh mirip manusia untuk ditonton atau ditampilkan.
Studi visual seperti ini dapat menjadi kajian yang menarik seperti studi animasi, film, video,  dan sebagainya. Bidang lain misalnya bagaimana lukisan, patung, boneka, robot manusia mesin ditampilkan. Bagaimana posisi lukisan potret yang baik melalui profilnya, atau bagaimana pendapat anda sewaktu melihat tampilan orang Papua memakai “koteka”. Banyak contoh tentang ini. Misalnya, dalam sejarah tercatat bahwa saat orang Cina pertamakali melihat orang Eropah, mereka mengatakan orang Barat itu jenis manusia barbar.

Dalam masyarakat ternyata ada bahasa kode-kode/tanda tertentu yang terlihat, atau melihat kode-kode tertentu (the social codes of looking). Misalnya, jangan melihat hal yang tabu, alihkan mata anda saat bertatapan, bagaimana melihat dengan sopan, anda harus ikut aturan jika melihat raja, gubernur atau pimpinan kantor  dan sebagainya. Jadi tidak heran jika orang Barat yang menatap mata raja Cina itu dikatakan orang barbar.
Dalam film atau video, gaze dipelajari agar sutradara dapat menampilkan tokoh film sehingga akting dan penampilan seseorang sesuai dengan naskah film dan gaze konsumen film. Dalam dunia pendidikan, bagaimana cara seorang guru memperlihatkan diri di depan kelas atau sebaliknya, bagaimana tampilan visual murid adalah gaze edukatif (Argyle,1975:158). Namun bagaimana sebuah karya seni ditata bentuknya untuk ditampilkan adalah masalah yang berkaitan dengan pameran seni, dan bukan gaze.

Seni Visual sebagai Refleksi sejarah Budaya
Sebagai contoh dalam buku ini dijelaskan bahwa perjalanan sejarah etnik Minangkabau umumnya yang dipengaruhi oleh berbagai gelombang budaya visual tertentu, disamping elemen budaya lainnya yang diterimanya. Disamping itu produk kreatifnya juga memancarkan atau memantulkan kembali gelombang budaya luar itu dalam bentuk kreasi baru yang ditanggapi secara pragmatis (lihat gambar 1.1 dan gambar 2.20).

Gambar 1.2. Mesjid Raya Rao, Sungai Tarab. Kab. Tanah Datar, provinsi Sumatera BaratImaji-imaji kultur visual Minangkabau tidak jarang campur aduk, hal ini dapat difahami karena dalam menerima pengaruh luar itu hanya sebagai refleksi budaya akibat isolasi geografis, dan akibat sikap pragmatis terhadap budaya visual. Jika diperhatikan pakaian penganten Minangkabau, mungkin saja ada unsur Cina atau India. Sumber. Dokumentasi penulis 1997. Dan analisis bentuk visual elemen Mesjid. Untuk melihat lokasi klik Wikimapia ini
Tentu timbul pertanyaan, kenapa bisa begitu atau begini ? Umumnya para ahli budaya Minang sependapat bahwa daerah ini (Minangkabau) pada zaman lampau terisolasi oleh pegunungan Bukit Barisan, hutan lebat yang susah dimasuki. Daerah ini hanya sedikit saja menerima riak gelombang kebudayaan besar dari luar. Kebudayaan besar seperti kebudayaan Hindu, Islam, Barat, Cina dan banyak lainnya lagi, tidak pernah mendominasi daerah ini secara langsung, kecuali menerima pantulan-pantulan budaya yang kecil, yang kadang-kadang juga bisa mengubah kebudayaan dasarnya secara drastis. Dan dapat dikatakan, bahwa kolonialis Belanda baru dapat menguasai Minangkabau seluruhnya pada pertengahan akhir abad ke 19, terutama kawasan daerah pedalaman Minangkabau.[6]
Jadi apa yang kita lihat sekarang pada kebudayaan Minangkabau adalah sebuah refleksi kebudayaan masa lampau yang bercampur dengan kebudayaan Islam yang datang kemudian. Yang terakhir ini kelihatan lebih berpengaruh walaupun cara maupun pegembangannya masih sama dengan kebudayaan lain yang datang ke Minangkabau. Yaitu sebagai pengaruh yang tidak langsung yang datang dari India, Cina, Arab, kemudian Belanda (Eropah) yang kemudian dipelihara sebagai sebuah tradisi sampai saat ini. Bagaimana bentuk pengaruh itu mungkin dapat diperlihatkan dengan nyata pada bangunan mesjid raya Rao (gambar 1.2), dimana berbagai unsur budaya luar yang masuk itu terlihat pada berbagai elemen mesjid yang ada.
Bahasa Visual masa lalu. Bahasa Visual Indonesia  atau Jawa-Hindu ? Sekarang umumnya diakui sebagai bahasa visual Indonesia

Sebuah kebudayaan tidak pernah statis, dia berubah dan berkembang karena berbagai pengaruh, tidak ada kebudayaan itu yang mundur ke belakang. Jika kebudayaan Minangkabau diteliti, maka berbagai pengaruh yang datang sebagai pembentuk kebudayaannya mirip dengan yang terdapat pada kebudayaan Jawa, Bali dan sebagainya. Daerah ini pernah menerima pengaruh kebudayaan Hindu dan Budha, kebudayaan besar lainnya seperti kebudayaan Cina, India, Arab dan  juga kebudayaan Barat yang di bawa oleh kolonial Belanda. Sisa-sisa pengaruh kebudayaan tersebut dapat kita lihat pada bahasa, pakaian dan sebagainya (lihat bab 4 dan 5). Unsur-unsur kebudayaan yang datang dari luar kemudian diadaptasi dan bercampur dengan unsur lokal, dimana unsur lokal yang terbentuk itu lebih menonjol sehingga unsur luar itu tidak dapat terlihat lagi dengan nyata.
Demikianlah kebudayaan yang terbentuk itupun juga berubah sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga akar kebudayaan itu tidak lagi terlihat dengan jelas. Kebudayaan tradisional ini menurut Sutikno (2008) gampang punah jika tidak didokumentasikan dan dilindungi. Kebudayaan yang bersifat fisik sering hancur oleh ulah manusia atau bencana alam, seperti gempa bumi, banjir  dan sebagainya.[7]

Ketakutan dalam berbahasa visual, gambar monyet yang disamarkan 
(menuju bahasa visual yang Islami ?)

B. Persepsi dan Bahasa Visual
Elemen Dasar Komunikasi Visual
Nilai produk kreatif seni dan desain adalah dari aspek komunikatifnya, di samping nilai artistik dan skill. Produk seni sebagai media, dapat ditangkap penatatangamat atas pesan (massage) yang dimilikinya. Hal ini terjadi karena manusia juga berpikir melalui bahasa visual. Mengenai hal ini tidak mudah untuk menjelaskannya, namun dapat disederhanakan.
Bahasa kata menurut Jirousek (2001) berbeda dengan bahasa visual. Bahasa kata tidaklah menunjuk dirinya sendiri, dan bisa berubah artinya menurut waktu. Sedangkan bahasa visual (visual language) menunjuk dirinya sendiri. Seperti yang dikatakannya.[8]
“The phrase visual language refers to the idea that communication occurs through visual symbols, as opposed to verbal symbols, or words. Words are also symbols, of course. They are not the thing itself, although traditional religious ideas have often centered around the idea that the word and the thing are the same. It is for this reason that, for example, in more than one religion it is forbidden to speak or write the name of God, and in most faiths great reverence is given to the written scripture. Also, words can take on symbolic meanings that may go beyond the literal definition. The word black, for example, became a highly charged symbol of political and social realities for African Americans in the 1960's. The meaning and use of this term has shifted somewhat since that time, though it continues to carry meanings that might not be apparent to someone just learning English“
Sebuah bahasa visual adalah hasil praktik yang diatur, dimana imaji –imaji visual dapat digunakan untuk mengomunikasikan konsep-konsep. Sebaliknya produk kreatif atau sebuah imaji yang ingin dipakai untuk mengomunikasikan sebuah ide mensyaratkan penggunaan bahasa visual.
Sama halnya dimana manusia dapat menyatakan secara lisan pemikiran mereka, dan mereka dapat mengkhayalkan itu. Unsur-unsur di dalam sebuah gambaran menghadirkan konsep di dalam sebuah konteks ruang dan waktu, ketimbang bentuk linier seperti penggunaan kata-kata. Ucapan kata dan komunikasi visual adalah sesuatu yang paralel saling tergantung saat manusia menukar informasi. Contohnya adalah sebuah diagram, sebuah peta, atau sebuah lukisan adalah contoh fungsi bahasa visual. Unit yang menstukturkannya meliputi garis, bentuk, warna, gerakan, struktur, pola, arah, orientasi, skala, ruang dan proporsi.

Persepsi Visual dan Berpikir Visual
Untuk lebih jelasnya dapat diterangkan bahwa manusia menangkap semua yang terlihat dalam bentuk imaji-imaji yang dikirimkan oleh mata ke otak. Imaji atau Image, artinya secara tidak langsung adalah gambaran dalam pikiran. Istilah ini juga dipakai dalam seni musik, dengan nama yang sama, demikian juga dalam bidang sinematografi. Imaji, citra atau image ditangkap dari sebuah bentuk, seperti sebuah kamera yang dapat menangkap (capture) image bentuk, hasil tangkapan itu adalah sebuah potret/foto. Definisi image dan imagery, pertama kali dikemukakan oleh Thomas Blount's dalam Glossographia Anglicana Nova, tahun 1707.
Dalam komunikasi manusia tidak hanya memakai bahasa lambang kata, tetapi langsung melalui imaji-imaji yang ditangkap itu untuk memahami sesuatu yang ada di luar dirinya. Imaji-imaji itu juga dapat dilihat sebagai hasil sensasi, khusus untuk sensasi penglihatan disebut dengan sensasi-persepsi.
Persepsi itu dapat dibagi lagi misalnya:[9]
  1. Depth perception (Persepsi kedalaman) 
  2. Object perception (Persepsi bentuk objek/figur) dan konfigurasinya, termasuk persepsi Gestalt 
  3. Color vision (Visi mengenai warna) 
  4. Black and white vision (Visi mengenai hitam dan putih/termasuk persepsi warna) 
  5. Motion perception (Persepsi gerak) 
  6. Multimodal perception (Multimodal persepsi)
Secara psikologis persepsi adalah suatu proses dimana organisme menginterpretasikan dan mengorganisasikan sensasi yang diterimanya menjadi suatu yang bermakna. Sensasi itu sendiri adalah sesuatu yang tidak tunggal, dia boleh berupa gabungan sensasi yang berasal dari mata, telinga, hidung, atau kulit. Persepsi, dengan perkataan lain, dapat digambarkan sebagai satu hasil pengalaman manusia terhadap dunia dan khususnya yang diproses melalui sensori-persepsi.
Dalam praktik, sensasi dan persepsi adalah dua unsur yang tak terpisah, sebab satu dengan yang lainnya merupakan bagian dari suatu proses yang berkelanjutan. Adanya persepsi karena adanya sensasi (rangsangan). Objek-objek yang dilihat oleh manusia dibagi dalam tiga sudut pandang: (Couto, 1998)
  1. Objek sebagai imaji atau citra, yaitu pembentukan kesan yang diterima manusia dalam menangkap sesuatu (bentuk, bunyi, suara, rasa dsb),
  2. Objek sebagai fenomena psikologi, yaitu objek yang di respons sebagai reaksi psikologis manusia.
  3. Objek sebagai tanda yang diberi makna tertentu, adalah objek yang dihubungkan dengan wahana hubungan sosial dan budaya.
Dua dari yang pertama berhubungan dengan psikologi persepsi, sedangkan yang terakhir berhubungan dengan budaya visual. Yang akan dijelaskan pada bagian ini adalah bagaimana objek dipersepsi oleh manusia sebagai landasan teori untuk pertimbangan konsep seni dan desain

Berpikir dan Melihat
Menurut McKim (1980), proses memahami sesuatu bentuk itu tidak hanya secara verbal tetapi juga secara visual. Demikian juga jika kita membicarakan ungkapan bentuk dalam seni dan desain. Ungkapan bentuk itu bukan yang ingin diucapkan dalam bentuk konsep kata, tetapi juga apa yang ingin diungkapkan melalui rupa, misalnya bagaimana cara menampilkan diri adalah visual. Kedua ungkapan itu akan membentuk pengertian kita tentang komunikasi visual. Oleh karena itu kita perlu memahami bagaimana berpikir visual, disamping bagaimana kita berpikir melalui bahasa (McKim, 1980:11).[10]

Menurut McKim (1980:12), secara tradisional, berpikir kadang-kadang hanya dianggap sebagai sebuah kegiatan simbol-simbol, yang terpisah dari kegiatan melihat. Menurut pandangan itu, melihat adalah menyensor (memilih) terhadap informasi yang diterima (mengumpulkan-informasi); dan kegiatan mental yang tertinggi adalah pemrosesan informasi verbal atau matematik.

Selama berpikir, orang dapat melihat ke luar jendela atau mengamati kuku-kuku tangannya, ini adalah bukti lebih lanjut tentang perbedaan antara melihat dengan berpikir. Tetapi apakah hal ini sungguh-sungguh berbeda secara psikologi? Banyak kegiatan-kegiatan visual seperti pengkategorian, klasifikasi, hubungan sebab-akibat terkait dengan berpikir verbal (bahasa) dan visual sekaligus.

Menurut McKim, .[11]Banyak para pemikir masa kini dalam sains dan teknik sama baiknya dengan seniman dan desainer, mereka memperhatikan perkembangan yang dihargai dari berpikir visual. Ada persamaan antar-eksternalisasi berpikir visual dan ungkapan berpikir visual. Misalnya seorang ahli kimia mengembangkan pikirannya tentang model molekul, namun tidak sama prosesnya dengan seorang ahli kimia yang menggunakan model molekul yang kemudian dikomunikasikan sepenuhnya bagi pembentukan ide-ide (konsep verbal). Jadi berpikir eksternal adalah kegiatan untuk memanipulasi sebuah struktur aktual dunia nyata, namun seakan-akan hal ini terjadi karena hanya manipulasi struktur pikiran tanpa melibatkan berpikir visual, pada hal tidak seluruhnya benar.


Contoh kaitan konsep (berpikir) visual dan konsep (berpikir) verbal. Setiap orang mungkin dapat melihat gambaran yang sama pada gambar ini. Namun dapat dipastikan pengetahuan setiap orang berbeda, makin miskin konsep verbalnya maka makin miskin ilmu pengetahuannya tentang ini atau kosa kata bahasa untuk menjelaskan elemen desain ini. Lihat kosa kata bahasa Inggris untuk menjelaskan elemen desain gambar ini (Sumber: Couto, Ringkasan Perkembangan Desain Grafis, 2008).
 Untuk menguji statemen di atas, coba Anda ambil sebuah karya lukisan atau grafis, coba Anda jelaskan yang Anda lihat itu dengan kata-kata verbal, jika Anda dapat menjelaskan dengan tepat berarti Anda telah menggunakan cara berpikir visual sekaligus verbal, artinya Anda memiliki pengetahuan yang ada terhadap yang Anda lihat. Jika tidak, artinya Anda masih belum berpengetahuan atas yang Anda lihat. Untuk jelasnya kita masuk lebih dalam tentang memahami makna yang dilihat.

Pandangan Streotip Terhadap yang Dilihat
Barangkali cara berpikir  di atas perlu diulas lagi dalam bentuk lain tetapi maknanya sama, yaitu yang dalam psikologi disebut dengan pikiran streotip. Contoh di bawah ini memperlihatkan hal itu. 
Seorang mahasiswa diberi tugas untuk membuat desain sebuah bangunan,dengan sangat baik dia mampu untuk menyusun program ruang, tetapi gambar-gambar yang dihasilkannya sama sekali tidak kreatip, karena meniru bentuk-bentuk yang sudah ada, atau yang pernah dilihatnya dalam buku, desainnyabahkan jauh dari yang diharapkan. Dan kemungkinan dia terpaku dalam visi streotip.
Sebagaimana orang dewasa, James mengatakan berikut ini. 
Kebanyakan kita sangat diperbudak dan tumbuh dengan konsep-konsep yang ada, dan sangat akrab dengannya, serta sangat kurang memiliki kemampuan untuk menggabungkan impresi-impresi selain hanya dengan cara lama. Kenapa hal ini terjadi? Salah satu adalah karena kemalasan dan keinginan yang besar untuk menggampangkan sesuatu, dan ini sudah menjadi sifat (inherent) dalam make-up visual kita. Untuk membantu kita menghindari khaos persepsi, alam membekali kita dengan mekanisme seleksi yang dapat dipakai untuk memfokuskan atensi atau perhatian hanya kepada yang kita perlukan atau yang ingin kita dijauhi. Misalnya ketika kita ingin duduk, kita dengan cepat menempati kursi dan duduk. Biasanya penglihatan dan rasa keingintahuan kita tidak muncul pada saat itu (tentang kursi itu), sebab beberapa jam kemudian, jika ditanya, kita tidak bisa menjelaskan kursi ini secara benar. Karena sebenarnya kita tidak melihat kursi itu. Kita hanya melihat sekilas. Yang kita lihat hanya konsep kursi yang lazim atau streotip, dan ini adalah hasil masukan dari imaji-memori kita, dan boleh jadi hal ini dipertahankan karena sifat malas kita.
Visi streotip dapat dilihat dalam masyarakat. Yaitu suatu keadaan, di mana jika sebuah visi sudah melekat secara sosial. Kita biasanya ingin membagi nilai-nilai visi yang kita miliki itu
kepada orang tua dan tetangga. Orang tua, berikut tetangga pun ingin membagi nilai-nilai yang dimilliki mereka ; walaupun dengan cara kekerasan sekalipun. Nilai-nilai konservatif ini dipakai karena kita malas berpikir, dan tidak berusaha untuk melihat sebuah masalah dengan pandangan yang baru atau lateral. Dan ini disebut dengan visi streotip. Visi streotip ini terlihat dalam interaksi sosial, misalnya munculnya prasangka saat berkomunikasi dengan orang lain, kita berpikir tentang warna kulit, tentang sifat orang, keburukan dan kejahatan. Prasangka semacam ini dapat menyebabkan ketakutan dalam diri seseorang. Seperti ketakutan melanggar sesuatu aturan norma-norma dan daya tarik yang kuat dari moral sosial tertentu, misalnya terhadap ketelanjangan, warna kulit, bentuk mata dan sebagainya. Menurut McKim (1980), kita dapat menciptakan perang dan musuh, dan yang paling mudah adalah melalui visi streotip. Dari uraian di atas ada beberapa hal penting yang dapat di catat sebagai berikut ini.
  1. Stereotip adalah cara berpikir yang bisa muncul dalam hubungan sosial dan juga secara individual ketika berhadapan dengan benda-benda.
  2. Stereotip muncul karena sifat malas untuk berpikir dan cendrung berpikir dengan pola yang ada dan yang telah dimiliki.
  3. Stereotip adalah cara berpikir yang tidak kreatip, apa yang dibuat mungkin berbeda, tetapi selalu diartikan dengan pola pikir lama.
 Contoh pikiran streotip itu banyak sekali seperti berikut ini.
  1.  Orang Cina pandai memasak.
  2.  Orang Batak kasar.
  3.  Orang Padang pelit.
  4. Orang Jawa halus pembawaannya.
  5. Lelaki Sunda suka kawin cerai dan pelit memberi uang belanja.
  6. Orang Tasikmalaya tukang kredit.
  7.  Orang berkacamata minus jenius (Mulyana, 2005:219).
Sering juga streotip itu berbentuk lelucon, seperti berikut ini.
Tiga Kelompok orang yang dari bangsa-bangsa yang berbeda mengomentari seekor hewan yang lewat di depan mereka. 
  1. Orang Amerika berkata: “Bagaimana kita mengembangbiakkan hewan ini agar jumlahnya bertambah banyak dan kita memperoleh laba dari bisnis perternakan ini?” (karena orang amerika itu pebisnis)
  2. Orang Cina: “Bagaimana cara memasak daging hewan ini agar enak dimakan” (karena orang Cina itu biasanya pandai memasak)
  3. Orang Indonesia: “Apakah hewan ini menggigit atau tidak? (karena umumnya orang Indonesia itu penakut)
 Adalagi streotip yang lain yang lucu dan seakan dilagukan, sebagai berikut ini.
"Orang Padang pintar dagang, orang Pasundan pintar dandan, orangJawa jaga wibawa, orang Medan memang edan"
Jadi tidak heran jika ada pandangan sterotip tentang "patung adalah berhala", tidak jarang kemudian orang berusaha untuk menghancurkannya



Pembahasan tentang persepsi ada dalam buku Persepsi dalam Kawasan Desain KomunikasiVisual
, karangan penulis tahun 2010-2011 (terbitan UNP Press), Gambar ini  menjelaskan peristiwa imajinasi dalam diri manusia mulai dari (1) sensasi persepsi; (tampa interogasi memori), (2) persepsi kreatif; (3) persepsi tidak kreatip (streotipe); (4) ilusi dan halusinasi  disebabkan hanya (mengandalkan memori). Keempat aspek ini dapat menjelaskan perbedaan antara imagi dan imagination

C. Konsep Kebudayaan dan Seni Visual
Konsep-konsep yang dipakai dalam istilah kebudayaan masih sangat umum dan teori budaya sering berubah sesuai dengan tuntutan zaman, terutama dalam rangka menjelaskan fenomena budaya yang juga cepat perubahannya.
Misalnya teori kebudayaan dari Yohanes Lubbock abad ke 18, dengan teori perkembangan teknologi masyarakat menjelaskan kebudayaan dari aspek evolusi teknologi batu, logam  dan sebagainya. Kemudian Herbert Spencer tahun 1860-an, yang dipengaruhi teori Darwin mengemukakan teori biologi dan evolusi budaya, bahwa budaya itu menuju kesempurnaan melalui evolusi. Kemudian Morgan, pada akhir abad ke 18, dan Tylor, sebagai pendiri ilmu antropologi modern mencoba untuk menunjukkan bagaimana semua aspek kebudayaan berubah bersamaan dengan evolusi sosial. Pada awal 1900-an, sarjana sosiologi Perancis Mil Durkheim, mengembangkan suatu teori kebudayaan dengan konsep religi yang difungsikan untuk menguatkan kesetiakawanan sosial (teori fungsionalisme).
Ahli antropologi Amerika Alfred Kroeber, dengan teori ekologis dan ekonominya. Kemudian Steward dan banyak para muridnya tahun 30-60 dikenal sebagai ekologi budaya. Teori Harris dan ahli antropologi lainnya tahun 60-70-an memusatkan perhatian pada aspek budaya yang berdasar ekonomi, dikenal sebagai paham budaya materialisme.
Kemudian ahli antropologi Perancis Claude Levi-Strauss mencoba untuk memeroleh suatu pemahaman kebudayaan emik tertentu dengan mencari pola atau struktur yang konsisten pada mitos, upacara agama, dan tradisi sebuah masyarakat.
Ia mengusulkan sebuah sistem logika yang kuat, yang mendasari pola budaya, walaupun sebuah masyarakat tidak sadar akan logika itu. Ia juga merasakan bahwa, logika yang mendasari pola budaya bagaimanapun juga dapat dipakemkan; karena berakar dan terstruktur dalam pikiran manusia. Melalui hal itu ia menunjuk sebuah bentuk dan analisis budaya sebagai strukturalisme.

Tangible dan Intangible Cultural Heritage
Pada awal akhir abad ke 20 cara melihat kebudayaan mulai disederhanakan, misalnya dengan membagi kebudayaan masa kini yang sedang berjalan dan kebudayaan masa lalu. (Sedyawati, Edi, 2003). Kebudayaan masa lalu dibagi lagi atas warisan budaya yang dapat dilihat (tangible cultural heritage) dan warisan budaya yang tidak terlihat (intangible cultural heritage). Lih. teorinya.
Dalam pengertian yang lama, warisan budaya yang tidak terlihat adalah warisan budaya ideologi atau warisan ilmu pengetahuan, ide-ide. Yaitu warisan produk kreatif pemikiran manusia yang hanya bisa diketahui atau dilihat kalau ditampilkan. Misalnya sesuatu produk budaya yang bisa dikecap dan dibaui (makanan), didengar (musik), dibaca dan diingat (tulisan), dipertunjukkan (drama, film, video dsb) yang semuanya itu adalah hasil pengetahuan lama yang dimiliki sebuah masyarakat.[12]
Warisan produk kreatif ini kehadirannya hanya bisa dinikmati jika diperlihatkan. Jika tidak dia tidak ada dan lenyap dari pandangan. Warisan ilmu pengetahuan tradisional seperti ilmu silat, pengobatan, urut, termasuk intangible cultural heritage yang kelestariannya terancam jika tidak didokumentasikan.
Warisan budaya tangible Minangkabau adalah warisan budaya yang kehadirannya bisa dilihat sepanjang waktu seperti arsitektur, seni rupa, ukiran, patung  dan sebagainya. Benda-benda artefak ini bisa dianggap sebagai pusaka budaya sebagai artefak dalam lingkungan kehidupan sehari-hari komunitas Minangkabau. Ada pula artefak yang lain seperti pakaian adat, yang hanya nampak pada saat upacara adat, maka dia dapat dikategorikan sebagai warisan budaya intangible, sama halnya seperti musik tradisi, yang mana hanya dapat dilihat jika dipertunjukkan. Tangible cultural heritage dapat terancam kepunahannya karena manusia dan bencana alam, dan kelestariannya bisa tampak dan jelas di banding yang pertama Pengertian pusaka (heritage) dalam istilah ini menunjukkan bahwa produk budaya itu asalnya dari masa lampau. Dan berpretensi tidak terpakai dalam kehidupan. Oleh karena itu, dia cendrung akan punah, atau yang gampang punah. (Sediyawati, 2003:viii).[13]

D. Budaya Visual (Visual Culture)
·         Kapan muncul konsep budaya visual dan siapa tokohnya, dan apa kira-kira konsep pemikirannya?
Perkembangan dibidang lintas ilmu budaya mendefinisikan semua produk budaya tangible sebagai budaya visual (visual culture). Dalam kamus Ecyclopedia Encarta Budaya visual didefinisikan sebagai bidang studi yang biasanya meliputi kombinasi studi budaya, sejarah seni, dan ilmu antropologi, dengan memusatkan pada aspek budaya yang berdasar gambaran visual (imaji visual).
Beberapa pemikir pemula dari budaya visual dapat dikemukakan antara lain Yohanes Berger dengan bukunya yang terkenal “Ways of Seeing” (1972), Laura Mulvey dengan “Visual Pleasure and Narrative Cinema, (1975), Kemudian diikuti oleh Jacques Lacan's dengan studinya tentang teori alam bawahsadar sosial (social unconciousnessarchetipe).
Karya yang lebih luas membahas tentang budaya visual terdapat pada kumpulan karangan W. J. T. Mitchell, terutama sekali di dalam cabang ilmu ikonologi dan teori gambar, kemudian sejarahwan seni dan ahli teori budaya Griselda Pollock. Lain-lain pemikir budaya visual yang penting adalah Stuart Hall, Jean-François Lyotard, Rosalind Krauss, Bracha Ettinger dan Slavoj Zizek.
Studi awal budaya visual memperlihatkan bahwa bidang ini berangkat dari analisis pengaruh imaji-imaji visual terhadap sosial. Misalnya analisis tentang pengaruh TV terhadap masyarakat. Pemikir selanjutnya mengembangkan analisisnya ke berbagai disiplin seperti teori psikologi analisis, strukturalisme dekonstruksi, gaze, gender dan sebagainya, yang melihat bagaimana fenomena imaji visual dalam sosial budaya dan pengaruhnya dalam kebudayaan manusia secara umum. Bidang lain seperti seni rupa dan arsitektur kemudian mengikuti pola pemikiran dikembangkan para ahli budaya visual untuk menganalisisnya dari payung budaya visualHal ini mengindikasikan bahwa produk kreatif benda budaya tidak lagi fragmentaris, terkotak pada bidangnya masing-masing, tetapi dilihat dalam kerangka berpikir yang berbeda tentang kebudayaan visual.
Walaupun sampai sekarang para ahli masih berdebat bahwa budaya visual itu hanya terbatas sebagai imaji-imaji visual yang dipakai sebagai alat analisis untuk produk media yang bersifat massal seperti film, kartun, animasi, video dan web design  dan sebagainya. Banyak ahli yang menganggap bahwa pembatasan seperti itu sia-sia karena imaji tidak hanya terbentuk oleh mass media, imaji visual itu ada selagi manusia dapat melihat apapun.
Studi psikologi menjelaskan bahwa imaji-imaji atau stimuli dan respons visual dapat berkenaan dengan benda-benda, objek-objek visual lainnya seperti karya seni, arsitektur dan desain. Objek-objek visual itu terekam dalam ingatan manusia dalam bentuk memori-imaji.
Oleh karena itu pernyataan ahli budaya visual seperti Morgan (1998) tentang imaji–imaji visual cukup menarik untuk dikaji. Dia berpendapat bahwa yang penting dalam visual culture bukan ada atau tidak ada objek visual itu, tetapi imaji visual sebagai sebuah struktur yang menyebar secara sosial. Dia memberikan contoh tentang imaji Leonardo da Vincy (tokoh seniman), imaji tokoh ini telah menyebar ke seluruh dunia tanpa dapat dihitung lagi siapa yang memiliki imaji tentang dia.
Leonardo da Vincy bukanlah lembaran kertas foto atau lukisan, dia adalah orang atau dia adalah seniman terkenal sepanjang masa. Tetapi imaji visual tentang dia menyebar melalui gambar atau lukisan. Dahulu lukisan itu hanya satu atau beberapa buah (bukan massal), tetapi melalui media terbatas itu dan juga cara penyebarannya menjadi tak terbatas, dia menyebar melalui informasi buku, internet dan sebagainya sehingga orang memiliki imaji visual tentang dia.
Kajian budaya visual di Indonesia memang masih prematur, sebagai contoh, di Indonesia karangan terbaru, tentang Budaya Visual Indonesia menguraikan produk seni rupa, produk desain termasuk arsitektur sebagai kategori budaya visual. Karangan ini telah membuka mata tentang produk-produk Indonesia secara visual. Tetapi timbul pertanyaan, apakah imaji-imaji visual produk itu bukan hanya yang terdapat di pulau Jawa (Jakarta, Bandung Yogya, dsb)?[14]
Apakah produk-produk itu dapat membentuk sebuah garis merah hubungannya dengan makna-maknanya imaji visual multi kultural Indonesia? Memang tidak mudah untuk menggeneralisir sebuah fenomena produk kreatif menjadi bermakna budaya visual Indonesia (nasional), atau bermakna budaya visual Minangkabau (regional).

E. Redefinisi Budaya Visual
  •  Apakah seni itu bukan hanya ekspresi pribadi dibandingkan dengan budaya visual yang merupakan imaji dan ekspresi sosial?
  • Bukanlah budaya visual itu imaji produk masal seperti film atau komik, bagaimanakah  seni dapat dianggap sebagai bagian budaya visual?
  •  Apakah karya seni dan desain seperti arsitektur yang sifatnya tidak massal dapat dianggap sebagai bagian budaya visual?
Tokoh pemikir budaya visual seperti Morgan (1998) atau Burke (2001) mungkin lebih jernih dalam menjelaskan fenomena budaya visual sebagai produk refleksi sebuah budaya, dimana di dalamnya terkandung maksud untuk menjelaskan fenomena visual sebagai bagian dari cara berpikir dan berimajinasi secara sosial.
Pemikiran mereka ini mungkin relevan sewaktu kita membahas bagaimana budaya visual tradisi Minangkabau sebagai cerminan dari kepercayaan, mitologi, pengetahuan (intangible cultural heritage) yang dapat dikonstruksikan sebagai imaji–imaji visual sosial tertentu.
Menurut Morgan (1998) jika dalam kajian sejarah yang mapan, pendekatan sejarah seni telah berkonsentrasi untuk menentukan mengapa imaji visual itu timbul. Kemudian ahli sejarah seni juga mencari dan menyelidiki gaya seni, ikonografi (studi tentang ikon), konteks budayaannya, patron-patron ikatan sosial, maksud artistik, dan atensi artistik.
Tetapi pendekatan teori budaya visual menurut Morgan, mengambil payung yang lain lagi, yaitu lebih mempedulikan tujuan (purpose) sosial dan efek imaji yang berlangsung dalam kehidupan dan aturan sosial (sosial order), seperti dalam hal memodifikasinya, menentangnya, atau mentransformasikannya.
Menurut Morgan, dasar pertanyaan untuk kelompok kulturalis visual adalah: bagaimana cara imaji mengambil bagian konstruksi kenyataan sosial? Oleh karena itu sarjana budaya visual manapun akan tertarik dan terdorong keberbagai media-media visual seperti halnya juga berbagai metodologi berusaha untuk menginterpretasikan bentuk yang berbeda tentang bukti visual.

Morgan (1998) menjelaskan bahwa seorang sarjana visual tidak menyelidiki hanya tentang imaji itu sendiri, tetapi juga perannya di dalam narasi, persepsi dan di dalam kategori intelektual dan ilmiah, dan dalam semua cara upacara praktik agama, pemberian hadiah, perdagangan, memorialisasi, migrasi, dan penyajiannya dimana pemahaman tentang imaji sebagai bagian dari kerangka kenyataan sosial. Kenyataan itu dapat direkam oleh seniman fotografi, seni lukis atau wartawan dan menyebar sebagai sebuah kesadaran publik.
Lebih dari itu, studi tentang budaya visual akan melihat imaji itu sebagai bagian dari sebuah sistem produksi budaya dan sistem resepsi (penerimaan budaya), di mana niat asalnya bukanlah untuk memudarkan imaji itu untuk disimpan oleh orang yang bukan membuatnya, misalnya dalam koleksi atau museum.
Imaji diproduksi dan pada gilirannya membantu membangun kenyataan sosial yang membentuk hidup manusia. Studi tentang penelitian budaya visual tidak hanya imaji visual tetapi praktik tentang cara imaji visual itu dipakai. Ini berarti bahwa masyarakat, budayawan, intelektual, dan praktik artistik akan membantu untuk  membuat imaji visual itu menjadi bermakna. Karena itu praktik sejumlah besar sarjana tentang studi budaya visual hari ini bukanlah sebuah disiplin yang otonom atau terfragmentasi, tetapi sebuah interaksi antara dua atau tiga bidang atau disiplin ilmu yang ada.
Sebagai ringkasan, Morgan (1998) menjelaskan beberapa maksud budaya visual:[15]
a)  Budaya visual adalah imaji itu sendiri, budaya visual timbul dari tindakan dan perhatian atas melihat sesuatuatensi intelektualemosional, dan sensibilitas persepsi yang dilaksanakan untuk membangun, memelihara, atau mengubah bentuk dunia itu di mana orang-orang hidup. Studi tentang budaya visual adalah analisis dan penafsiran imaji dalam konteks agen-agen, praktik, konsepsi, dan institusi yang memelihara imaji itu dapat bekerja. Maka, studi budaya visual akan ditandai oleh beberapa atensi (perhatian). Pertama, sarjana budaya visual akan menguji apapun dari semua gambaran-gambaran baik yang tinggi atau rendahnya gambaran itu, apakah itu seni atau tidak seni. Mereka tidak akan membatasi diri mereka ke objek estetik atau artistik atau estetik tertentu saja. Tentu saja, segala hal yang bersifat metafora mungkin saja ditemukan untuk memberikan bukti atas konstruksi kenyataan visual seperti itu, sarjana tidak akan membatasi diri mereka pada ilmu seni, tetapi tidak berkehendak untuk mengabaikannya. [16]
b) Tujuan budaya visual bukanlah untuk memuji, menghargai, atau mendokumentasikannya. Budaya visual meneliti praktik visual dan bukan untuk mengurangi imaji diri mereka, tetapi menanyakan imaji apa yang berlangsung ketika mereka diterapkan. Sebagai contoh, tidak seorangpun yang dapat menjawab berapa jumlah orang yang telah dipengaruhi oleh imaji tentang Michelangelo atau Leonardo da Vinci.[17]
c)   Budaya visual dapat dipelajari dengan baik tetapi tidak harus memusatkan kepada interpretasi pada kehidupan manusia dengan menguji imaji, praktik, teknologi visual, rasa, atau gaya artistik sebagai tuntutan konstitusi hubungan sosial. Tugasnya hanya adalah untuk memahami bagaimana imaji artefak dan artefak berperan untuk menstukturkan sebuah masyarakat atau dunia budayanya.[18]
d)  Sarjana bisa menerima penghargaan ketika mereka meneliti sebuah visi, sebuah struktur persepsi proses fisiologis, yang memberi tahu tentang sistem penyajian visual. Visi yang dimaksud harusnya ada dalam sebuah operasi sosial dan struktur biologis yang dibangun, dan tergantung pada perancangan tubuhnya. Yaitu bagaimana melibatkan alat penafsir yang dikembangkan oleh sebuah budaya, agar melihat dan memahaminya dengan mudah.[19]
e)     Bukti visual dan harus ada untuk menentukan apa yang mereka dapat ceritakan kepada kita, melihat tindakannya seperti halnya hubungan antara cara berpikir dan penyajian visualnya, perasaannya, aktingnya, dan keyakinannya.


F. Catatan Akhir


Dari pendekatan teori dan Filsafat, seni  itu dapat dicerap melalui (1) mata, (2) telinga dan (3) campuran. Sehingga lahir kelas seni (1) visual arts, (2) Verbal arts/ seni melalui bahasa, (3) auditory arts (seni melalui pendengaran), dan (4) campuran diantaranya, misalnya seni drama dan film.
Dari teori ini muncul pengklassifikasian seperti: seni musik atau seni suara, seni visual (rupa), seni sastra atau campuran seni ini seperti seni drama.

Yang dimaksud dengan jenis visual disini adalah karya yang terlihat dengan kategori imaji visual.Apakah imaji (image) itu?. Imaji adalah sesuatu yang dibayangkan dalam pikiran; bayangan; Imaji visual adalah segala sesuatu yang mewakili visual.   Misalnya grafis (gambar arsitektur, gambar interior, produk), peta-peta, lukisan dan gambar, hasil foto dan segala sesuatu yang nampak kelihatan. Untuk tidak salah pengertian karya desain arsitektur adalah gambar-gambar grafis arsitektur, demikian juga desain produk dan interior. Dalam sejarah, teknik awal dalam menggambarkan imaji itu, melalui gambar perspektif, cat minyak, dan lensa. Ciri dari imaji visual itu adalah cerminan, (mirror), santir dari realita atau benda (objek).

Seni visual adalah imaji-imaji  visual yang mengandung keindahan. Karya seni rupa juga terlihat (visual), tetapi membatasi diri pada aspek ekspresi manusia terutama emosi, visual arts tidak. Itulah sebabnya arsitektur, filem, fotografi, dimasukkan kedalam kategori jenis seni visual. Filem, animasi, kartun, video seni misalnya, adalah gambar bergerak yang dipersepsi melalui imaji-imaji visual. Jadi  visual arts  adalah kategori seni visual yang mementingkan imaji (image). Pembatasan seperti ini berbeda dengan kriteria tradisi seni rupa akademik yang membatasi seni hanya  pada lukisan, patung, grafis dan keramik sebagai media kreatifitas.

Untuk klassifikasi Visual arts dipakai kriteria produk hasil seni visual. Sebagai contoh kriteria yang dipakai  misalnya jenis imaji visual tiga dimensi yang dibedakan dengan imaji visual dua dimensi, imaji lukisan dibedakan dengan imaji visual arsitektur. Perkembangan  jenis imaji visual ini dapat diketahui melalui pendekatan sejarah dan konseptual.  Dalam sejarah, secara konseptual, yang disebut seni (arts)  adalah yang visual (kategori tangible). Dari sejarah terlihat, selalu ada ada jenis-jenis  produk seni baru yang dapat menjadi bagian dari seni visual lama, misalnya fotografi dan karya komputasi. 

Yang lebih luas dari seni visual adalah budaya visual (visual culture) mirip dengan visual arts, tetapi penekanannya kepada sosial dan budaya. Yang dilihat tetap imaji-imaji visual yang dimaksud. Misalnya komik “manga” adalah ekspresi budaya (Cultural Expression)  Jepang. Sedangkan “Tom and Jerry” adalah imaji visual ekspresi budaya Amerika. Jadi Budaya visual adalah dalam konteks ekspresi budaya yang berlainan. Budaya visual bukanlah sekedar wujud kebudayaan konsep. Budaya visual Indonesia yang baru dikenal internasional ada pada keragaman bentuk bangunan dan ukiran serta seni batik yang juga memperlihatkan ekspresi budaya yang khas Indonesia. Dan juga sudah banyak karya seni visual lainnya tetapi popularitasnya belum luas.Dalam budaya visual di bedakan antara yang tangible dengan yang intangible (intangible cultural  heritage). Budaya visual hanya membahas “tangible cultural heritage”. Umumnya bidang seni budaya mempelajari dan menguasai keduanya.

Dari teori budaya, budaya manusia dianggap menghasilkan seni, sehingga lahirlah Ekspresi Budaya (Culture Expression), sesuai dengan masing-masing budaya yang ada di dunia. Dari teori budaya ini muncullah istilah atau klassifikasi:  seni budaya lokal, seni tradisional, tari moderen, tradisional dan sebagainya. Teori ekspresi budaya visualmemunculkan klassifikasi: budaya visual (Visual culture), dan yang lebih khusus adalah kelas Visual Arts.

Budaya itu secara teoritik meninggalkan warisan budaya, sehingga dapat dilihat  dua kelas warisan budaya yang diakui secara internasional. Dapat dibagi sebagai "Peninggalan budaya berwujud dan tidak berwujud" "tangible culturan heritage" dan "Intangible cultural heritage", sebuah tari tradisional dan ilmu silat termasuk "warisan budaya takbenda" karena hanya bisa dilihat jika ditampilkan. 

Jenis  visual ini (imaji visual) menurut Barnes 


Jenis Seni 
Contoh
1
Imaji-imaji yang muncul dari lukisan dan seni pada bidang datar
Imaji-imaji yang muncul dari lukisan dinding (fresco), lukisan cat minyak,  lukisan tempera,; dan cat air, di atas panel kayu, plester, kain layar, dan kertas, media dua dimensi lainnya yang dipakai untuk melukis   ( tradisi Barat) antara lain  jambangan ( vase), Kaca-patri/stained glass, naskah iluminasi,   lukisan pasir, lukisan tinta, dan semua bentuk gambar dan hasil printmaking/seni cetak.
2
Imaji-imaji yang muncul dari seni patung dan seni pada ruang
Imaji-imaji yang muncul dari  ruang dan lingkungan. Patung, dengan suatu kategori yang diluaskan, meliputi objek tiga dimensi, apakah yang freestanding ( tanpa adanya struktur pendukung lain) atau terkait dengan suatu latar belakang dan disebut dengan patung  relief. Atau patung dalam pengertian ruang yang bersatu dengan pengamatnya, atau menciptakan lingkungan utuh di mana orang-orang dapat bergerak sekelilingnya.
3
Imaji-imaji yang muncul dari arsitektur dan lingkungan publik
Imaji-imaji  arsitektur adalah seni yang muncul dari struktur dan ruang dimana kita dapat tinggal/hidup, bekerja, dan bermain. Arsitek, lebih dari seorang pelukis atau pematung, karya arsitektur terkait dengan faktor fungsi/utilitas; seperti halnya dengan penampilan visualnya, kepadatan strukturnya, cara bangunan ditempatkan pada suatu lingkungan/ lanskap mempengaruhi manusia secara visual
4
Fotografi dan media baru
Imaji-imaji yang muncul dari hasil fotografi, seni filem, seni video, media yang didasari oleh waktu (time based media)
5
Imaji-imaji yang muncul dari Seni dekoratif
Imaji-imaji yang muncul dari karya kriya perhiasan, tekstil,  kayu, keranjang, fashion/ pakaian, mebel, atau materi rumah tangga


Contoh-contoh Gambar



Budaya Visual: Komik “manga” Jepang,  dan “komik “cowboy” Amerika, sumber: Wikipedia.2014. Perbedaan budaya terlihat dengan jelas dari imaji yang ditampilkan.


Imaji visual gambar ilustrasi komik

Beberapa contoh streotype dalam budaya Visual

Teori Stereotype Visual (lihat disini)

Streotype Visual orang Amerika




Mobil Jepang dan Amerika


Mobil buatan Jepang itu kecil-kecil dan di buat di Ohio, mobil Amerika besar-besar di buat  di Kanada. Streotipe budaya visual Amerika: Orang Amerika hanya akan memilih mobil Amerika karena besar. Sumber: http://www.google.com/imgres

Streotype Visual Orang Amerika pada  Animasi  (gambar bergerak kartun)
Animasi Tom and Jerry


Budaya visual Amerika: selalu bawa senjata, perdamaian diselesaikan dengan senjata. Sterotip Imaji visual  ini sering  didiskusikan  dan kadang  terlihat dari sikap dan perbuatan orang Amerika.


Streotipe budaya visual Minangkabau (lama), dihubungkan dengan kebesaran dan kemenangan, serba mengkilat dan glamor, seperti dalam mamangan adat Minangkabau:  " takuruang nyek di lua, taimpik nyek di ateh". Senjata keris diletakkan di depan (di dada) ". Suatu sifat pantang kalah" gigih. Tetapi kadang kurang menghargai sesama. Dalam antropologi di sebut dengan "adat pamer" (adat "potlach"). Sterotip Imaji visual ini jarang (tabu) didiskusikan  tetapi terlihat dari sikap dan perbuatan manusia.


Budaya minang berubah saat bersentuhan dengan  budaya barat, menghasilkan orang-orang yang ber intelektual cerdas dan  sederhana budaya visualnya, contoh Bung Hatta  saat menjadi wakil presiden pun hidupnya tidak glamor. Berani Miskin dan menghargai orang (humanisme), dan berorientasi kepada manusia (contoh Khairil Anwar). Hal ini berubah saat kemerdekaan dan kembali ke pola pemikiran lama. Bahayanya dimana kecerdasan dan Ilmu pengetahuan tidak lagi di hargai. Di perguruan tinggi, nampaknya gelar sekedar untuk pamer ? Kembali ke adat "potlach" (materialistis lokal)?


Budaya visual moderen-tradisional Minangkabau, kembali ke adat potlach ? (materialisme-lokal): ciri-ciri visual yang menonjol: warna merah, emas, kuning, mengkilat, dan tidak sederhana (glamor dan tendesius) untuk memperlihatkan "kebesaran dan kemewahan".  Dimana letak gambaran kesucian atau kesakralannya? Sterotip Imaji visual ini jarang (tabu) didiskusikan  tetapi terlihat dari sikap dan perilaku manusianya. Sumber.http://www.skyscrapercity.com

Rumah, pakaian dan asesoris lainnya adalah bagian dari adat istiadat dalam masyarakat minangkabau, dan hal itu berbeda tampilan visualnya dalam nagari-nagari. (bukan adat yang sabana adat). Yang berbeda hanya bentuknya, tetapi sifat dan karakternya sama atau boleh dikatakan mirip sebab "untuk menunjukkan kebesaran nagari atau suku". Baca Thesis Doktoral Ibenzani Usman, 1995: Seni Ukir Tradisional Minangkabau, (Thesis Pasca Sarjana), tidak diterbitkan.


Budaya visual moderen-tradisional Jepang, sederhana, moderen, sakral.



Budaya visual dan imaji visual kreasi anak muda Indonesia (2015) , yang dipengaruhi oleh budaya visual Amerika dalam animasi. Kekerasan dan peperangan. Karya  Cris Lie dari Caravan Studio


Steotipe budaya visual Jawa adalah dunia Perwayangan, masing-masing punya tugas, manusia dinilai dari strata sosial (pengaruh kasta dari India/ Hindu?). Filsafat hidup orang Jawa: "Alon-alon asal kelakon" (lakon, melakoni, melakonkan). Alon-alon artinya (hati-hati). Budaya visual orang Jawa (rumah, pakaian, cara bicara, bahkan sikap, adalah bisa jadi untuk menyatakan "lakon, peran " atau status sosial. Baca buku Mangunwijaya: Wastu Citra,  imaji visual bangunan sebagai gambaran "watak" manusia. Dalam buku ini Mangunwijaya membahas bangunan tradisi, mulai dari cara berpikir budaya visual Jawa. Sterotip Imaji visual ini jarang (tabu) didiskusikan  tetapi terlihat dari sikap dan perbuatan manusianya. Buku ini sebenarnya lebih tepat berjudul "Budaya Visual  dalam Arsitektur", dan satu-satunya buku karangan Indonesia yang membahas budaya visual arsitektur.



Streotype Visual (imaji streotip/persepsi orang eropah) terhadap penduduk pribumi di zaman kolonial. Orang Belanda membayangkan (imaji visual) bahwa orang pribumi itu patuh, penakut dan penurut.

Streotip orang Indonesia di mata orang asing

Orang Indonesia – penakut; neurotik; ekstrovert; teliti; hangat dan orang yang ramah; malas; hidup untuk hari ini – tidak peduli hari esok; tidak ada perencanaan; agamis; berorientasi keluarga; mendukung; jam karet/ jarang tepat waktu; korup; takhayul; lambat; rendah diri; sopan; kurang disiplin; menggunakan perasaan bukan logika; tidak mengikuti aturan; munafik; tahan terhadap perubahan; toleran; low profile; tidak ingin berkonfrontasi, atau memberikan ‘kabar buruk’; diam dalam pertemuan, tidak bisa berenang.
Sumber: http://farisnoteindo.blogspot.co.id


G. Beberapa Kesimpulan Sementara
  • Budaya visualnya bangsa Indonesia harus diperhatikan, bukan hanya budaya perilaku, yang berasal dari ajaran-ajaran semata (karakter)
  • Para pemimpin bangsa ini  tidak melihat bahaya untuk memuja kebesaran masa lampau, sebab ini hanya sindrom post-kolonial, yang tidak perlu. (lihat definisi poscolonial dan jurnal ini)
  • Budaya masa lampau termasuk ada yang baik dan ada yang tidak, dan itu dapat diasumsikan bukan hasil intelektual*) tetapi hanya kebiasaan-kebiasaan lokal -- atau pengaruh budaya dari luar masa lalu-- yang tidak disadari sebenarnya jelek, dan atau yang diperlukan pada masa kini, 
  • Revolusi mental  hanya dapat dirobah dari dalam, yaitu hidup sederhana, hemat dan tidak berlomba-lomba untuk pamer
  • Adat pamer (budaya visual yang jelek) dan atau "materialisme-lokal" akan menyebabkan manusia  menjadi korup, dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan dan menimbulkan kekacauan di segala bidang (pemerintahan, perdagangan, sosial, pendidikan, intelektual dsb)
  • Kemunduran intelektualitas bisa jadi oleh orang pendidikan yang seharusnya menjunjung tinggi intelektualitas dan memajukan bangsa.
Biodata Singkat

Nasbahry Couto, kelahiran Bukitttinggi, 1950. Staf pengajar Seni Rupa FBS UNP Padang,(sekarang sudah pensiun, sejak satu Juni 2015) pernah mengajar di jurusan Arsitektur Univ. Bung Hatta, dan ISI Padangpanjang, Sekarang masih aktif di Penerbitan di samping mengajar, pernah menulis di berbagai media. Telah banyak menulis berbagai macam buku.

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting