Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Sabtu, 01 Januari 2011

Penerapan Sains pada Seni


Penerapan Sains pada Seni, 
Tanpa pengetahuan tentang benang, warna, dan bahan, tidak akan dapat dibuat kain songket ini.

A.Penerapan Sains pada Seni

Penerapan science dalam seni dapat kita lihat dari berbagai inovasi science yang dimanfaatkan untuk kepentingan seni, diantaranya adalah teori warna yang didasari oleh penemuan-penemuan dibidang fisika (khusus untuk warna cahaya) dan ilmu kimia untuk warna substraktif. Penerapan matematik untuk seni dapat kita lihat dalam teori proporsi dan simetri. Kemudian ilmu psikologi menghasilkan teori persepsi yang diaplikasikan untuk seni dan desain. Banyak temuan lainnya yang diterapkan untuk kepentingan baik untuk pengembangan konsep seni maupun teknologinya. Steven (1990:137), misalnya, sebagai seorang  yang bergerak di bidang desain dan arsitektur menjelaskan dalam bukunya bagaimana penerapan konsep-konsep matematik dan sains dalam arsitektur, yang disebutnya sebagai logika arsitektur atau teknologi. jika penerapan konsep-konsep itu mengandung ilmu pengetahuan tertentu dapat dipandang sebagai proses teknik atau teknologi tertentu.

Disinilah kita melihat aplikasi science, seni dan teknologi dalam sebuah bidang pengetahuan, khususnya arsitektur. Hal ini bukan berarti bidang seni tidak menggunakan science dan teknologi untuk seni uraian selanjutnya menjelaskan hal ini.

B. Eksperimen Ilmu (Science) Teknologi, dan Seni 

Stewart Kranz (1974), dalam sebuah bukunya membahas gejala-gejala yang tumbuh di Amerika, di mana para seniman berkolaborasi dengan para saintis dan teknolog. Dia melakukan berbagai eksperimen untuk memadukan seni dengan teknologi, yang dimanfaatkan dalam penciptaan seni. Kolaborasi ini dimulai di MIT (Massachusetts Institute of Technology), yang mendirikan sebuah pusat studi visual (Center for Advanced Visual Studies) dengan Gyorgy Kepes sebagai direkturnya. Kepes seorang seniman, penulis dan guru. 

Dalam mengarahkan program tersebut, Kepes mengundang berbagai seniman untuk tinggal dan berkarya di MIT, dan memungkinkan para mahasiswa mencipta secara intens dalam memanfaatkan teknologi, serta memperluas pengalaman estetiknya, para seniman diminta selalu bekerjasama dengan saintis dan teknolog dalam proyek yang direncanakan bersama.
Pemikiran di balik kerjasama ini tumbuh dari persepsi dasar: disiplin-disiplin engineering, electronics, physics, optics, visual imaging system, audio components, dan disiplin lainnya yang terkait, sangat kompleks tidak dapat dikerjakan dan dikuasai sendirian. Dalam perkembangan itu secara konseptual maupun secara praktis, para seniman, saintis dan teknolog tumbuh, saling mengenal dan akan bekerjasama menuju ke arah penciptaan bahasa seni yang dianggap sesuai dan pantas zaman ini.Beberapa bentuk eksperimen perpaduan seni, ilmu dan teknologi diperlihatkan sebagai berikut  ini.


1. Bunyi Elektronik, Sintesizer Audio, Bunyi Analisis-komputer (Electronic Sound, Audio Synthesizer
Computer Analized Sound) Instrumen elektronik seperti Moog Synthesizer, banyak dipakai oleh seniman baik dalam komposisi maupun dalam pertunjukan (life show). Moog Synthesizer memiliki dua keyboard, seperti orgen atau piano dan satu deret unit pembangkit suara. Setiap unit ini bisa dipadukan dengan suara-suara yang dihasilkan oleh keyboard. Dihubungkan dengan taperecorder, synthesizer bisa diprogram mengiringi setiap lagu dengan suara-suara yang saling berlapis. 

Suara-suara instrumen konvensional (lama) dan rekaman suara lingkungan, mulai dari suara yang paling halus sampai suara burungpun dapat dicampurkan oleh komponis musik ke dalam musiknya. Kemudian masih bisa ditambahkan lagi kompleksitas yang lebih jauh dengan menggunakan perekam pita multispeed. Dengan memainkannya, dalam kecepatan yang berbeda-beda, dicapai bermacam suara dan karakteristik bunyi tertentu. Aspek musik elektronik yang paling berarti saat komponis bisa menyatakan keinginannya secara langsung, jika ia sedang berkarya. Ia tidak perlu memakai kelompok penampil yang menginterpretasikan musik dengan berbagai kecenderungan pribadi. Ia bisa menguasai karyanya dari mulai merancang hingga pada saat ditampilkan dalam konser. Seorang musisi menilai musik elektronik tidak memiliki kemampuan memben tuk nuansa langkah sebagaimana dapat dilakukan oleh seorang pemain musik. Karena itu ia memilih cara mencampurkan antara pemain musik dan musik elektronik sebagai kemungkinan dieksplorasi oleh para seniman multimedia.


 Sambungan

2.     Computer Art 

Perkawinan seni, ilmu dan teknologi yang dipelopori oleh perguruan tinggi di Amerika menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru, apakah penggunaan cahaya laser, mekanik, musik dan sebagainya. Salah satu perkembangan dalam perkawinan itu peranan komputer dalam seni, yang sekarang merambah ke segala bidang. Pengembangan itu tidak saja pada perangkat hardwarenya, tetapi juga software. Eksperimen dan hasil teknologi ini menghasilkan kemudahan dalam menciptakan dan menyalurkan keinginannya seperti membuat gambar, mendesain, menciptakan orcestra, game, merancang bangunan atau produk dan lainnya, melalui kreasi sofware tertentu.

3.     Fotografi-intermedia  

Fotografi-intermedia memiliki peranan yang penting sebagai bahasa untuk para seniman intermedia. Sebuah foto memiliki kekuatan masuk dan tak terhapuskan dalam ingatan manusia. Dari sebuah foto seseorang bisa ingat peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah dan masa lampaunya. Para seniman intermedia menemukan pentingnya imaji tersebut, baik jika berdiri sendirian maupun dicampurkan dengan gambar-gambar kinetik dari tayangan ganda (multiple projection). Perkembangan terbaru dalam peralatan (equipment) memperluas kemungkinan ekspresi artistik, seperti foto solarisasi (solarized photographs), kontras tinggi (high-contrast) gambar positif dan negatif, gambar-gambar hitam putih dan berwarna, foto stroboskop (stroboscopic photographs), dan foto-foto yang memakai teknik panning. Demikian pula dengan munculnya lensa-lensa baru, seperti lensa zoom, tele, wide-angel dan fisheye.

4.     Interaction Room (Ruang Interaksi) 

Seni rupa semua visualisasi di kontrol melalui tombol-tombol yang disorotkan ke dinding-dinding menampilkan gambar, bayangan dan tema-tema tertentu. Merupakan kombinasi cara penonton mengontrol bayangan yang diproyeksikan dan suara yang ditimbulkan.

5.     Intermedia

Yaitu interaksi berbagai media: media seni rupa; media panggung (properti); media musik (suara). Karya dikerjakan secara bersama (kolaborasi, kooperasi). Tidak menonjolkan salah satu media. Semua media diarahkan menciptakan satu kesatuan media yang baru.

6.     Kesan Raba (Tactile Impressions)

Yaitu teknik pengolahan material untuk bisa merangsang semua indra dan rasa pengamat. Antara lain melalui kesan raba (tactile), salah satu bentuk seni ini dengan menggantungkan pita-pita plastik dari langit-langit ke lantai. Penonton yang masuk ke dalam ruangan tersebut bereaksi karena pandangannya terputus oleh pita yang mengelilinginya. Seakan-akan berada dalam kabut, dan kemunculan penonton lain secara mendadak dapat mengejutkan. Munculnya pengalaman-pengalaman raba yang menarik, seseorang tidak hanya dituntun oleh indra mata saja untuk menghayati keindahan, tetapi keindahan yang tercipta oleh kesan melalui kulit tubuhnya.

7.     Lumia

Lumia yaitu ekspresi cahaya kinetik sebagai bentuk seni. Clavilux berarti cahaya (lux) yang dikontrol dengan bilah-bilah (klavier-keyboard, piano), atau dengan dua cara: 1) melalui penampilan langsung oleh seniman lumia dengan menginterpretasikan sebuah komposisi lumia (dengan partitur), 2) program otomatik, penampilan secara mekanis dengan lumia box.

8.     Media Art

Muncul tahun 1970-an di Amerika, kemudian berkembang secara Internasional. Memanipulasi mass media sebagai ekspresi seni, terutama kemampuannya membentuk opini publik: liwat surat kabar, poster, video (televisi); munculnya video art-video clip. Senimannya antara lain Joseph Beus (Jerman),

9.     Mixed media

Yaitu karya yang memanfaatkan dengan mencampurkan unsur-unsur berbagai media.

10.Multimedia

Memanfaatkan berbagai media, atau dominasi salah satu media misalnya multimedia dances, penampilan tari dengan puisi, film dan musik. Pakar-pakar media berfungsi sebagai konsultan.

11.Penciuman (Olfactory Impression)

Kesan penciuman dapat melengkapi pergelaran Intermedia, sebagaimana yang dilakukan oleh seniman dalam karya lingkungannya. Mereka mengetahui bau dapat menjangkiti perasaan dan tanggapan seseorang (pengunjung).

12.Sinematografi 

Film (Layar Lebar, Gambar Tayangan Ganda) merupakan alat dasar untuk seniman media campuran (mixed media). Alat itu sangat luwes, dapat memproyeksikan gambar ke dinding yang sempit, lebar, lengkung maupun berbentuk setengah bola. Ia dapat menjangkau berbagai macam dan jumlah penonton. Dalam film, pengaruh teknologi tampak sangat jelas dan mudah dimengerti. Banyak tokoh abad 20 yang bisa menyatakan dirinya secara unik melalui media ini, seperti: Charlie Chaplin, Einstein, Griffith, Carne, Antonioni, Fellini dan lain-lain. Perkembangan yang penting dalam film dengan ditemukannya tayangan layar lebar atau gambar ganda (multiple image) dan memungkinkan para seniman terutama seniman lingkungan (environmental artist), karena kecendrungannya dapat melingkupi penonton dengan tayangan gambar-gambar. Perkembangan tersebut memungkinkan mengelilingi penonton dengan gambar-gambar seluas 180 derajat. Dengan demikian, dampak yang kuat dari tayangan film multimedia terletak di kemampuannya membenamkan penonton secara total dalam lingkungan ilusi tersebut.

Uraian di atas menjelaskan beberapa contoh perkembangan dan juga eksperimen dalam memadukan seni (art) , ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada zaman sekarang hasil-hasil eksperimen itu terlihat misalnya dalam acara dan penampilan studio Televisi, life show musik dengan teknologi laser dan sebagainya. Pemanfaatan teknologi untuk seni merupakan pemandangan sehari-hari dalam kehidupan kita mana kini (kontemporer)

C.     Contoh Karya Seni Rupa yang berdimensi Sains dan Teknologi


18" x 13"

Lacquer on Paper karya Sydney Cash

Karya ini adalah gabungan ungkapan  patung, lukisan, fotografi, cahaya dan tekstur
Lukisan terbaru Sydney Cash di atas kertas, karya ini adalah karya tiga dimensi ( patung) yang mengeksplorasi sinar lampu (cahaya) dan bentuk. Dari karya ini kita dapat menangkap esensi  bayang-bayang dan bentuk. Karya ini dapat memberikan sensasi sain/ilmiah, dan terkait pula dengan karya fotografi baik dalam ungkapan gaya nada terang-gelap (tone) dan gaya rendering.





Energetic Light karya Sydney Cash

Karya ini adalah gabungan ungkapan  patung, fotografi, cahaya dan tekstur
Perupa ini selama tiga tahun  telah mengembangkan bentuk patung cahaya cahaya, dimana cahaya yang digunakan tidak untuk penerangan, tetapi untuk membuat objek. Selama karirnya sebagai perupat benda padat, dia menyinari benda, sehingga masing-masing bagian adalah "terlihat pada bentuknya yang terbaik". Dia bekerja dengan benda padat dan memanfaatkan aspek fotografi, menata objek dengan unsur cahaya dengan hati-hati dengan tujuan untuk menghasilkan  refleksi cahaya dan bayangan sehingga memunculkan objek cahaya yang  paling baik tampilan.

D.    Dimensi Historis: Beberapa Tokoh yang Menghubungkan Seni, Sains dan Teknologi

1. Boyd Compton

Di bawah kepemimpinan Boyd Compton, maka diadakan program Intermedia  di Universitas New York. Compton membawa Len Lie, Anthony Martin, Morton Sobotnick dan perupa perupa penting lainnya ke sekolah ini untuk mengajar dan bekerja dengan mahasiswa dalam program Intermedia resmi yang pertama di negeri ini. Tekanannya adalah di konsep konsep seni mengaktifkan pengunjung lingkungan dengan media campuran.

Program Intermedia, merupakan salah satu pelajaran dari 4 jurusan sekolah seni baru di universitas New York, program ini dilayani oleh satu labor seni eksperimen yang tidak mempunyai mahasiswa khusus. Sejauh yang dapat kita mengamati perkembangan kegiatan  seni eksperimental ini di Amerika. Hal ini sangat terkait dengan struktur birokrasi Universitas atas izin yang diberikan kepada mahasiswa untuk bereksperiemn. Umumnya keinginan kelompok ini berbeda dengan yang diajarkan oleh Universitas secara konvensional, pengikutnya bisa bebas seperti para aktor, penari penari, desainer desainer pembuat film dan orang televisi yang kesemuanya penyandang predikat sarjana muda atau di bawahnya. Kegiatan kelompok ini adalah wadah bagi  hubungan langsung antara perupa yang kreatif dan mahasiswa.

Wadah ini, adalah penyalur yang memungkinkan orang datang dan belajar bersama. Oleh sebab itu tidak diperlukan seorang guru menurut pengertian konvensional. Misalnya, Mort Subotnick seorang guru musik yang besar, mengajarkan musik kepada semua mahasiswa yang masuk dalam kelompok kelas musik yang tidak diprogramkan oleh Universitas. Program ini memberikan pengetahuan pertama kepada mahasiswa sebelum mereka mengetahui siapa orang yang mengajar dan  memberikan jalan keluar kepada perupa dalam magang, membantunya dalam pekerjaan yang  sering melibatkan bermacam macan kerja kelompok yang memungkinkan mereka bekerja keras. Yang menarik dalam program intermedia adalah saling keterikatan antara orang orang dan kebutuhan kebutuhan mereka yang tercurah dalam bentuk seni yang berbeda beda.

Kata "intermedia", semulanya tidak mempunyai kepentingan secara filosofis, tetapi ada saat kritis yaitu pada saat standard konvensi seni lama kemudian diabaikan orang, misalnya waktu kelompok ini mulai bermain dan terlihat melakukan bermacam macam kegiatan, dan di saat mereka mulai menari, atau menggabung tarian dan nyanyian, perupaan dalam bentuk cahaya dan visualisasi tertentu. Hal tersebut sama dengan situasi sekarang bila beberapa perupa yang kuat bermain dengan makna  dan bentuk bentuk baru. Dirasakan bahwa  sangat penting agar mereka diperbolehkan mengerjakan pekerjaan secara bebas, namun salah satu syarat untuk itu dan untuk melaksanakannya mereka harus mempunyai teknologi lanjutan (canggih) yang menarik bagi mereka.

Perupa perupa yang paling kuat menurut persepsi orang Amerika sekarang, adalah perupa yang tanpa essel (penggantung canvas). Apakah mereka bekerjasama secara baik atau hanya karena unsur unsur kesempatan dalam bagian teater atau dalam menari atau membuat sesuatu yang lebih jelas, seperti komposisi musik, umumnya mereka belum begitu berhasil seperti yang lain, tidak hanya secara teknis tetapi lebih sering secara sosial, dimana belum terdapat kekompakan dalam meujudkan suatu karya seni.

Gagasan awal tentang intermedia bagi Compton justru datang dari negara Asia Tenggara, khususnya dalam mengamati kesenian di Jawa. Di Jawa dan Bali  seni adalah peristiwa interen dalam masyarakat dan hasil bersama gabungan beberapa individu. Compton mulai menyenangi tipe kehidupan kesenian ini dimana setiap aspek kehidupan tidak ada yang tidak berakhir dengan seni. Dia mulai tertarik pada kesenian di Jawa yang pada dasarnya lebih banyak berhubungan dengan keadaan alam dan hubungannya dengan manusia. Pada peristiwa pop art terdapat penilaian bahwa seni ini tidak baik dalam konteks kebudayaan, tetapi seni ini mengagumkan dalam hal kreativitas dan dinamikanya, sebab umumnya pop art ini selalu ada yang baru dan itu berlangsung terus menerus tanpa sempat ada penilaian, lagi pula melibatkan masyarakat secara menyeluruh. Kemudian ditemukan pula bahwa orang yang bekerja di dalam seni ini banyak melibatkan orang hampir tanpa pengecualian tertarik pada masalah masalah yang sangat ruwet dalam teknologi baru.

Compton sangat banyak mengoservasi dan merasakan bagaimana seni komunal terbentuk misalnya pop art itu, yang lain adalah seni seni intermedia dari pulau pulau India Timur yang membuka matanya terhadap apa yang terjadi di sana dan merasa bahwa itu adalah sesuatu yang fantastis, dan dia merasa dari sini dia mendapatkan gagasan pertamanya tentang intermedia.Pada seni rupa masyarakat yang dilihatnya, pada penikmat diperlihatkan berbagai media seni dengan cara demokratis, egaliter. Para pemain berusaha menggambarkan pengamatan sosial yang sedang terjadi kadang kadang penonton juga ikut didalamnya, terlibat secara intens dalam adegan yang ditayangkan. Mereka mempersiapkan bahan bahannya secara bersama dan peduli kepada lingkungan tentang bagaimana lingkungan kita, tentang lingkungan apa yang mereka inginkan sebagai tempat tinggal manusia. Compton juga melihat bahwa para perupa sangat dekat dengan masyarakat. Sampai dia berpikir secara ekstrim bahwa alangkah baiknya  kalau semua museum ditutup, dan membawa karya seni kerumah, karena museum tidak begitu akrab dengan masyarakat.

Di bawah kepemimpinan Boyd Compton, program Intermedia sekolah seni baru Universitas New York akhirnya menunjukkan eksistensinya. Compton membawa Len Lie, Anthony Martin, Morton Sobotnick dan perupa perupa penting lainnya ke sekolah ini untuk mengajar dan bekerja dengan mahasiswa dalam program Intermedia resmi yang pertama di negeri ini. Tekanannya adalah pada konsep konsep seni mengaktifkan pengunjung lingkungan dengan media campuran.

2.     Thomas Wilfred

Thomas Wilfred mempergunakan cahaya sebagai media seninya. Dia membentuk cahaya dengan sarana optik dan kemudian menambahkan warna dan gerak. Ia mencapainya dengan menciptakan Clavilux, suatu alat semacam orgen yang memungkinkannya untuk memproyeksikan paduan optikal dari cahaya, warna dan gerak di layar besar. Dia sebutkan media ini lumia, suatu ekspresi cahaya kinetik sebagai bentuk seni. Kata Clavilux berarti cahaya (lux) yang dikontrol dengan bilah bilah (klavier keyboard, piano).  Menurut Wilfred, penampilan lumia bisa dilakukan dalam 2 cara: Melalui penampilan langsung oleh perupa lumia dengan menginterpretasikan sebuah komposisi lumia (dengan partitur) program otomatik, penampilan secara mekanis dengan lumia box. Wilfred tidak mempergunakan cahaya secara konvensional seperti di film dan fotografi. Dia sebut itu sebagai media kalengan (canned media) yang dianggap kurang memenuhi keinginannya untuk bertindak secara langsung, dan memperlakukan cahaya dengan clavilux. Mesin cahayanya itu memiliki peralatan yang unik yang sangat berarti, dan clavilux dapat dimainkan seperti orgen konser. Dengan mempergunakan tongkat geser (sliding levers) di keyboard clavilux, ia bisa memodulasi intensitas cahaya dalam nuansa yang sangat halus. Demikian juga terhadap warna dan bentuk. Untuk mencatat komposisi lumia agar bisa dimainkan ulang, Wilfred mengembangkan sistem pencatatan visual (partitur).Di samping itu ia juga mengembangkan program mekanik dan karyanya bisa ditampilkan dengan otomatik melalui lumia box. Salah satu karyanya, Lumia Suite opus 158, yang disimpan di Museun of Modern Art menggambarkan penemuan tersebut. Karya yang dipesan di tahun 1963 itu diproyeksikan di layar,  terdiri dari 3 suita yang masing masing berlangsung selama 12 menit.

3.     Len Lye

Bila Georgy Kepes mengembangkan hubungan mendasar antara teori dan aplikasi praktis dalam seni dan teknologi, dan Thomas Wilfred menjadi pionir dalam memanfaatkan cahaya sebagai bentuk seni, peranan yang sama dapat diberikan kepada Len Lye sebagai pelopor dalam eksplorasi gerak atau kinetek. Ia memang sudah tertarik pada keindahan gerak sejak umur 15 tahun. Ia memanfaatkan mekanik untuk menggerakkan patungnya.  Bila di satu sisi Alexander Calder mempergunakan arus angin untuk menggerakkan keseimbangan patung mobiles nya; dan di sisi yang lain Jean Tinguely menciptakan binatang mekanik yang dirancang agar melalui goncangannya dapat menghancurkan dirinya sendiri (self destruction); Karya Len Lye melingkupi kedua sisi tersebut.  Di satu saat karyanya dirancang untuk digerakkan oleh angin, di saat lain oleh tangan tangan penonton, dan di saat tertentu mempergunakan motor listrik dan gearing yang rumit.

Di tahun 1922 ia meninggalkan tanah airnya, New Zealand, untuk belajar animasi filem di Sydney, Australia. Tahun 1928 ia pergi ke London dan mendapatkan pengakuan karya-karya kartunnya. Ditahun 1935 ia mulai menyutradarai filem-filemnya. Setelah itu , atas ajakan Boyd Compton, ia pindah ke Amerika dan bekerja di program Intermedia di Universitas New York, mengajar generasi seniman yang baru. Len Lye membentuk baja yang mengartikulasi ruang.

4.     Alwin Nikolais

Alwin Nikolais yang tertarik di bidang koreografer mentranformasikan tubuh dengan cahaya dan kostum penari yang skulpturaluntuk tujuan yang sama. Kain yang lentur dapat menampilkan ilusi gerak dari bagian bagian tubuh, dan bentuk bentuk yang surealistik yang muncul menampilkan bayangan bayangan yang aneh. Gambar gambar yang diproyeksikan menimpa sosok sosok dari para penari. Dalam teater tari, Nikolais mempergunakan sinar ultra violet serta teknik teknik yang sangat maju.Pendekatannya di bidang musik juga sangat revolusioner. Ia menyusun sendiri suara suara yang diinginkan, dengan mencampur musik musik biasa, musik elektronik dengan moog synthesizer, dan berbagai pita yang dimainkan dalam berbagai kecepatan. Variasinya memang tak terbatas. Apalagi dengan penempatan beberapa speaker dan menghubungkannya dengan suara yang direkam secara multichannel agar berhubungan dengan bermacam gerak para penari. Bagi Nikolais, bentuk penari merupakan bagian dari motif karyanya. Sebagai koreografer, Nikolais sangat menghargai sensitifitas seorang penari. Dalam melatih para penari ia selalu menekankan agar mereka mau terbuka dan sadar terhadap konsepnya yang revolusioner. Ia mengajar para penari untuk mengembangkan kemampuannya agar bisa tanggap terhadap tuntutan karyanya, yaitu integrasi total ke dalam sintesa dari suara, cahaya dan gerak.

Gambar 1.8. Musik  synthesizer ditemukan oleh  Robert Moog, 1964, yang sekarang dikenal dengan nama “Moog Synthesizer,” atau  “Moog.” Dalam gambar ini komposer Jepang Isao Tomita menggunakan sebuah Moog synthesizer dalam studionya.

    Kepeloporannya sebagai inovator kembali dikukuhkan ketika ia menyutradarai balet elektronik,  "Limbo", untuk Columbia broadcasting Company. Bekerja sama dengan produser Ray Abel dan seorang ahli elektronik Herb Gardener, ia mengembangkan balet video yang khusus untuk media tersebut. Video dilaksanakan dengan Chroma Key Switching di mana sang sutradara bisa mengubah layar menjadi dua atau tiga  bidang visual yang satu dengan lainnya independen. Umpamanya kepala dan tangan seorang penari ditayangkan sebagai hasil rekaman dari sebuah kamera, sedangakan badannya muncul dari kamera yang kedua, demikian pula dengan latar belakang yang diambil dari kamera ketiga. Fleksibilitas ini memungkinkan Nikolais untuk menciptakan balet tanpa gaya berat (gravity), suatu pencapaian tertinggi dari mimpinya sebagai penata tari.

5.     Billy Kluver

Dr.  Kluver adalah seorang saintis yang disegani yang mendapatkan pengakuan internasional atas pengembangan konsep dalam riset sinar laser di Bell Laboratories.  Daalam hubungan itu ia merupakan salah satu perintis dalam gerakan kolaborasi antara saintist dan perupa. Di samping itu di tahun 60 an, disebabkan oleh interesnya terhadap seni, ia telah menjalin persahabatan dengan seorang pelukis Amerika yang eksperimental, Robert Rauschenberg. 

Saat itu Rauschenberg sedang memusatkan perhatiannya pada "spectator activated workof art" (karya seni yang diaktifkan oleh penonton). Pelukis tersebut merasa bahwa peralatannya yang lama sudah tidak mampu lagi melayani tugasnya, dan semakin lama ia semakin tertarik pada perangkat elektronik. Di sinilah ia merasa bahwa gagasannya telah melampaui kemampuan teknik nya, dan ia memerlukan bantuan temannya, si saintist sinar laser.

Secara bersama Rauschenberg dan Kluver menciptakan satu prototip patung elektronik terdiri dari 5 bagian. Setiap bagian memiliki sensing device (alat peraba) yang dihubungkan dengan komponen komponen audio. Bila penonton melewati bagian dari patung tersebut, gerakannya akan merangsang (trigger) aneka macam bunyi elektronik. Ketika karya tersebut selesai, Rauschenberg menamakan "oracle" (ramalan) dan meminta Kluver untuk bersama sama menandatanganinya. Tindakan ini merupakan tonggak dimulainya era seni sains sebagai karya kolaborasi. Kerjasama ini menghasilkan suatu pameran yang sangat terkenal, yang diselenggarakan di 69 Street Armony New York City pada Oktober 1966. Pameran tersebut dinamakan "The Nine Evenings: Theatre and engineering", yang melibatkan 10 perupa terkenal dan 30 insinyur teknik yang dikumpulkan  oleh Rauschenberg dan Kluver dari komunitas seni di Nwe York dan dari Bell Laboratories.

The Nine Evenings bukanlah hanya sebuah teater. Ia terdiri dari beberapa serial dari komposisi yang diciptakan oleh imajinasinya perupa yang bekerja dengan bentuk baru dalam intermedia, multimedia, dan cahaya kinetik (cinetic light).Meskipun ada kegagalan peralatan dan berbagai kritik yang dilontarkan oleh pihak pihak konservatif, tetapi sebagai upaya untuk mencoba kemampuan dua disiplin dua bidang yang tidak saling berhubungan untuk bekerja sama dan menghasilkan pencapaian secara bersama, the nine evenings merupakan suatu keberhasilan.Dari kerjasama tersebut lahirlah sebuah organisasi yang didirikan oleh Kluver bersama Rauschenberg, robert Whiteman, dan Fred Waldhauer, dengan nama E.A.T  (Experiment in Art and technology) di New York.




Catatan Kaki/Akhir




1.    Perkembangan ini kita lihat sejak temuan ahli filsafat Yohanes  Dewey, ahli  psikoanalisa Carl Gustav Jung, dimana kaum  intelektual abad 20 mulai terpengaruh untuk melihat  psikologi  seni tidak hanya pada proses pikiran seniman,  tetapi dipindahkan  kepada masalah proses kreasi dan persepsi untuk menilai seni  dari sudut pandang biologi, sosial, budaya, perspektif filosofis dan psikologis.  Dewey dan Jung sangat mempengaruhi studi seni di  dalam konteks sosial dan budaya mereka bertanggung jawab  atas pemahaman kehadiran format seni. Menurut pandangan  psikologi, seni adalah sebuah proses kreatif (dalam diri manusia)  dan dengan demikian begitu juga sebuah proses psikologis.  Seni  bisa sangat jelas diterangkan dengan teori persepsi dan sebagai teori proses.  Menurut pandangan  psikologi, seni adalah sebuah  proses kreatif (dalam diri manusia) dan dengan demikian  begitu juga sebuah proses psikologis.  Seni bisa sangat jelas  diterangkan dengan teori persepsi dan sebagai teori proses, dan  penelitian ini secara mendalam melahirkan berbagai teori visual


2.    Richard Dawkin (1976), dalam bukunya The Selfish Gene, sampai pada kesimpulan bahwa ilmu, teknologi, seni dan kebudayaan manusia menyebar melalui kultur “meme” (peniruan). Proses belajar sebenarnya proses peniruan yang komplek (memepleks).


3.  Academic Standards for the Arts and Humanities, Pennsylvania Department of Education, U.S.A, 18, Juli, 2002 (1-15).http://www.edupennsylvania)

4.      Couto, Nasbahry, 2008, http//belanak.wordpress.com), Maret 2008

5.   Academic Standards for the Arts and Humanities, Pennsylvania Department of Education, U.S.A, 18, Juli, 2002 (1-15).http://www.edupennsylvania)

6.      KTSP 2006

7.     Technology, Microsoft® Encarta® Encyclopedia 2002)
8.   Zaman Renesan (Renaissance), adalah beberapa tahap gerakan dan perkembangan budaya dan pemikiran manusia (literatur) pada abad ke 14, 15 dan 16 yang dimulai di Italia, kemudian berkembang ke Jer-man, Perancis, Inggris dan beberapa daerah lainnnya di Eropah. Salah satu revolusi pemikiran saat itu adalah munculnya humanisme dan individualisme, dimana manusia mulai melepaskan dirinya dari dogma agama Kristen saat itu, yang telah mendominasi ilmu pengetahuan dan perilaku manusia sejak abad pertengahan.
9.    Pengertian konsep oleh Bruner: Pemahaman konsep, Pembentukan konsep dan pemahaman konsep merupakan dua kegiatan mengkategori yang berbeda yang menuntut proses berpikir yang berbeda. Dalam pemahaman konsep, konsep-konsep sudah ada sebelumya, sedangkan dalam pembentukan konsep adalah sebaliknya, yaitu tindakan untuk membentuk kategori-kategori baru. Menurut Bruner (1980), kegiatan mengkategori memiliki dua komponen, yaitu: (1) tindakan membentuk konsep, (2) tindakan pemahaman konsep. (Lufri, (2007) Strategi Pembelajaran Biologi, Padang, UNP Press, hal.26
10. Sebelum kertas dan kanvas lazim dipakai untuk melukis dan menggambar, pada masa lampau orang menggunakan berbagai media sebagai dasar berkarya. Buku ini ingin mengungkapkan kembali teknologi tradisional ini, dimana kita dapat mengetahui bagaimana orang-orang di zaman dahulu menggunakan berbagai media sebagai medium seni, seperti keramik, piring, dan lainnya. Tentu saja media ini sangat terbatas untuk bereksploirasi. Melukis pada media ini, tidak sebebas penggunakan kanvas ruang gambarnya lebih luas dan besar. Tetapi ada juga bidang gambarnya yang luas, misalnya lukisan dinding bangunan, melukis pada bidang dinding bangunan juga tidak dapat dilakukan oleh semua orang, karena harus memanjat dan melukis cepat-cepat selagi plaster dindingnya masih basah. Dapat dipahami bahwa melukis atau menggambar pada seperti ini sangat membatasi ruang gerak si pelukis atau penggambar. Jika lukisan sudah selesai, pemilik bangunan akan sangat bangga, dan pelukis bisa bekerja berbulan-bulan dan tahunan untuk menyelesaikannya, dan dibayar mahal. (Herbert Kurt, 1955)
11.  Gagasan  atau konsep-konsep seni bisa saja muncul  setelah diskusi atau perbincangan seni. Umumnya  seniman atau calon  seniman terlibat dalam komunitas- komunitas seni dimana di dalam komunitas mereka saling  bertukar pikiran. Konsep seni itu tidak jarang berasal dari  pengetahuan yang diperoleh sebelumnya, dari proses  belajar dan pemahaman konsep-konsep seni. Penerapan  konsep-konsep ini diluaskan berdasarkan interpretasi.
12.   Myers, B. 1965, dalam “How To Look Of Art”, hal 207
13.    Lyon,Christopher,1995, Batik, (Compton’s Interactive Encyclopedia, CD ,1994, 1995
14.     Medium, (CD-Room) Compton’s Interactive Encyclopedia.1994, 1995 Reserved
15.      lih. Bourdieu, Pierre (1990). The Logic of Practice,  Oxford, Polity  Press.
16.   lih. Saw, James T., (2001), “ 2 D design Notes, art 204: Design and Compo-sition”, http//daphne.palomar.edu/design.default.htm
17.  Lih. Saidi, Acep Iwan, 2007, “Mengenali Narasi dalam Seni Rupa”, dalam Jurnal Sosioteknologi, Ed.12 tahun 6-Desember 2007: 297 
18. Lihat pernyataan Barnes, tentang seni: Art, a disciplined activity that may be limited to skill or expanded to include a distinctive way of looking at the world. The word art is derived from the Latin ars, meaning “skill.” Art is skill at performing a set of specialized actions, as, for example, the art of gardening or of playing chess. ( Barnes, 2002, dalam Encyclopedia Encarta/ CD)
19.  lihat. Couto, Nasbahry, Era Revolusi Digital dalam Desain Grafis untuk Mendukung Industri dan Pendidikan Kreatif, Komunitas Seni Belanak, http://belanak.wordpress.com, artikel, Komunitas Belanak, Januari, 2008)
20.  Konon pendirian pusat tersebut disebabkan oleh adanya perasaan bersalah dikalangan pengajar (para saintis dan teknolog) tentang dampak penelitian, serta kekuatan destruktif dari enerji atom, persenjataan biologi dan ekologi, dalam perang dunia kedua. Dengan pusat kegiatan tersebut diharapkan para mahasiswa mendapatkan kesadaran tentang nilai-nilai kemanusiaan yang umumnya ada dalam seni.
21. Perupa kelahiran Detroit, Michigan, Amerika tahun 1941. Tahun 1963 menikah dengan  Sharron Loree, seorang pelukis. Informasi lebih lanjut  telusuri http://www.sydneycash.com/personal_history_01.html


E.     Daftar Kepustakaan

  • Academic Standards for the Arts and Humanities, Pennsylvania Department of Education, p.1-11, http://www//edupensylvania.com. 18 Juli 2002
  • Al-Hasan, Ahmad & Hill, Donal R.1986. Teknologi dalam Islam. Bandung: Penerbit Mizan
  • Anarson,H. Moderen Art: Painting, Sculpture, Architecture. New York: Harry N.Abrams, Inc.Publiher
  • Boas, Frans.1955. Primitif Art,
  • Barnes. 2002. Art. (Microsoft Encarta Encyclopedia.CD-Room, 2002)
  • Barrett, Estelle. 2007. “Creative Arts Practice, Creative Industries Method and Process as Cultural Capital”, http://www.gu.edu.au/school/art/text/speciss/issue3/barrett.htm,Desember, 2007
  • Bourdieu, Pierre. 1990. The Logic of Practice, Oxford: Polity Press.
  • Barrett.E. 2004. ‘What Does It Meme? The Exegesis as Valorisation and Validation Of Creative Arts Research’ TEXT, Special Issue Number 3 April. http://www.gu.edu.au/school/art/text/speciss/issue3/barrett.htm Beckermann,
  • Clark, John. 1998. Moderen Asian Art, Sydney: Craftsman House.
  • Couto, Nasbahry. 2002. Dinamika Seni Dan Teknologi di Bidang Seni Rupa Daerah Sumatera Barat , (makalah Seminar) , kerjasama Lemlit UNP Padang dengan kementerian Riset dan Teknologi RI , tanggal 26-10-2002 di Universitas Negeri Padang
  • --------------------. 2008. Sebuah Perenungan Terhadap Kecendrungan Seni dan Budaya: Praktik Seni Berbasis Riset, dan KISS (Keep it simple, and stupid), http://belanak.wordpress.com, artikel, Komunitas Belanak, Maret , 2008
  • ----------------------.2008. Era Revolusi Digital dalam Desain Grafis untuk Mendukung Industri dan Pendidikan Kreatif, Komunitas Seni Belanak, http://belanak.wordpress.com, artikel, Komunitas Belanak, Januari , 2008
  • Dewey, Y. 1934. Art as experience. New York: G.P. Putnam’s Sons, 1980
  • Feldman, E.B. 1967. Art As Image & Idea, New Yersey: Pren-tice Hall. Inc.
  • Fleming,William. 1965. Art and Ideas. New York: Holt Rine-hart & Winston
  • Grenfell, Michael and James David, et al . 1998. Bourdieu and Education: Acts of Practical Theory, London, Falmer Press
  • Holt, Claire.1967. Art In Indonesia : Continuities and Change, New York:Cornell University Press,
  • Jones, Cristopher, 1979, Design Method; Seeds Of Human Future, Toronto: Jhon Wiley
  • Johnson, H.D. 2007. Realistic Art Tecnique and Style, http://www info@howarddavidjohnson.com
Artikel ini diringkas jadi 2 tampilan klik kanan hal berurutan



Poskan Komentar

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting