Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Kamis, 10 Maret 2011

Seni Patung Modern Sumatera Barat dalam Perspektif Sosiologis

Oleh: Erfahmi
Dosen Jurusan Seni Rupa FBSS UNP Padang
(Editor: Nasbahry Couto)
The results of the study show that the growth and the development of the modern sculpture of West Sumatera are influenced by various factors such as the existing art educational institutions, governmental institutions, state owned corporations and local government owned corporations, private institutions, artists and their supporting people. The direction of the growth and the development of the modern sculpture of West Sumatera is more likely to serve its social functions as clearly observed in the sculptural work in the form of monuments and other monumental works with their realistic representation of the form copying than those that serve the function as the personal expression of the artists. It is believed that the phenomena is economically influenced by the governmental institutions and the state owned corporation and the local government owned corporation and also the private sector in addition to the supporting people with their political tendency and to establish certain institutional or corporation images of the respective institutions.
Keywords: Modern Sculpture Art, Growth, and Development


PENDAHULUAN

Sejarah Singkat
Pertumbuhan senirupa dalam kelompok seni murni (fine art), seperti lukis, patung, grafis dan kriya di Sumatera Barat dapat mengikuti alur perkembangan tersendiri sesuai bidang spesialisasinya. Pertumbuhan seni rupa ini tidak terlepas dari tokoh-tokoh yang membangunnya. Mengenai hal ini Usman (1994:7), berperdapat sebagai berikut.
Seni rupa murni yang keberadaannya sekarang, dahulu, tepatnya sebelum masuknya sekolah-sekolah governemen, belum dikenal oleh masyarakat Sumatera Barat. Baru setelah kedatangan dua orang tokoh besar seni rupa Sumatera Barat yang merintis jalan ke arah itu, seni rupa murni mulai dikenal masyarakat pada tahun 1920-an. Kedua tokoh itu adalah Wakidi dan M. Syafei.

Wakidi dan M. Syafei dianggap tokoh yang berpengaruh dalam perkembangan senirupa modern di propinsi Sumatera Barat, yang banyak muridnya. Di antara murid dan pengikutnya itu, ada yang berprofesi sebagai seniman patung seperti Hasan Basri (1920-…), Nurdin (1912-…), Syamsul Bahar (1913-1994), A.A. Navis (1924-…), Ramudin (1922-1995), Anwarsjam (1927-…) dan Dahlan Djas (1929-…) (Saleh, 1957:150). Namun, dari sekian banyak nama itu, tidak banyak karya-karya yang masih dapat dilihat dan ditemukan di Sumatera Barat. Misalnya  karya Ramudin dalam bentuk monumen “Pejuang yang Tak Dikenal” (1950)  di kota Padang.


 
 Monumen Pejuang yang Tidak Dikenal, di kota Padang, karya Ramudin (1950) 1)
Lokasi patung (klik kanan di sini)

Kemudian karya Ramudin Pahlawan Tidak Dikenal (1958-1963) di kota Bukittinggi. Yaitu sebuah karya monumen yang bentuknya dipenuhi tanda-tanda simbol perjuangan. Karya ini diselesaikannya tahun 1963, yaitu hampir delapan tahun lamanya. Dapat dikatakan bahwa penciptaan seni patung moderen Sumatera Barat yang simbolis itu-- yang dimulai oleh Ramudin dengan teknik plastering --  belum muncul pada daerah lain di Indonesia. Sesudah itu dia seakan tenggelam oleh kesibukannya sebagai penata musik untuk pagelaran tari istrinya (Hoeryah Adam).

Monumen Pahlawan Tidak Dikenal, di kota Bukittinggi, karya Ramudin (1958-1963) (klik kanan di sini)

Dari catatan sejarah daerah ini, dapat diketahui bahwa pada periode Revolusi Fisik Kemerdekaan (1945-1949), sejumlah murid dan pengikut Wakidi dan M. Syafei, mendirikan berbagai sanggar seni. Dalam kacamata penulis sejarah seni rupa Indonesia hal ini dilihat sebagai sebuah gerakan, yaitu gerakan seni di luar pendidikan formal. Kadang-kadang juga dapat dilihat sebagai bagian dari kemerdekaan itu sendiri.
In Box


Sebuah sanggar adalah sebuah tempat dimana seniman bekerja. Karena itu sanggar dapat juga diartikan sebuah studio gambar (lukisan), atau workshop (patung, kriya, tari). Anehnya, penulis sejarah seni rupa sering membesar-besarkan makna sebuah sanggar. Terutama sanggar-sanggar seni yang muncul di awal kemerdekaan. Dan anggota sanggar disebut sebagai "pengikut". Hal ini dapat dipahami karena banyak penulis & kritikus seperti Soedjoyono, mengganggap sanggar sejaman sebagai tempat membuat propaganda/ poster anti kolonial. Demikian juga bentuk-bentuk anti aliran seni lainnya. Misalnya Soedjoyono anti terhadap seni lukis bercorak "Moi Indie" yang dianggapnya sebagai warisan kolonial. Oleh karena itu mereka menyebutnya atau mengasosiasikan sanggar sebagai sebuah "gerakan". Pelukis Wakidi juga memiliki sebuah studio, walaupun tidak pernah disebut sebagai sanggar Wakidi, mungkin karena lukisannya yang bercorak "Moi Indie: itu. Semasa kecil (SD) Nasbahry Couto, kebetulan bertetangga dengan pelukis Zanain di kota Bukittinggi, kenal dengan anak-anak serta karya-karya yang terpajang di kamar tamunya, Zanain juga membuat tempat kerja (studio) di rumahnya, tetapi tidak pernah disebut sanggar Zanain. Jadi sebuah sanggar tidak lain sebagai sebuah "ruang praktek dokter" dimana seniman bekerja dan berkarya untuk mencari uang.
Menurut Kusnadi & Nyoman Tusan (1978:32), “di Bukittinggi berdiri ‘Seniman Muda Indonesia’ disingkat SEMI yang diketuai Zetka dengan anggauta antara lain A.A. Navis dan Zanain”. Kegiatan sanggar-sanggar ini meliputi berbagai spesialiasi antara lain menggambar, melukis dan mematung. Khusus untuk kegiatan mematung mengalami banyak hambatan. Misalnya, ketika A.A. Navis membuat patung potret ayahnya, dia mendapat tantangan dari keluarganya” (Rosa, 2004:11). Dalam hal ini, mungkin terkait dengan pandangan masyarakat di   Sumatera Barat saat itu yang masih memandang tabu untuk menciptakan patung yang berbentuk realistis. 2)

Tujuh tahun kemudian (1970), Arby Samah pulang ke Sumatera Barat setelah studi Seni Rupa di Yogyakarta. Beliau dipercaya Pemda Kota Padang membuat monumen “Bagindo Azis Can”. Kemudian  tahun 1975 Dia juga dipercaya membuat patung dalam wujud monumen “Pejuang Revolusi” di Nagari Sungai Buluh kecamatan Batang Anai Kabupaten Padangpariaman Sumatera Barat. Umumnya seni patung yang diciptakan Arby adalah untuk kebutuhan  monumen perjuangan yang diciptakan dalam gaya realis. Monumen tersebut satu persatu berdiri di beberapa tempat lain di Sumatera Barat, hal ini berlangsung sampai tahun 1990-an. Sejalan dengan waktu, hambatan dan pandangan sosial terhadap seni patung sedikit banyaknya  berubah. Hal ini sejalan dengan kehadiran lembaga-lembaga pendidikan formal kesenirupaan di Sumatera Barat berikut apresiasi masyarakatnya.

Ekspresi Seni Patung:  dari Realis ke Non-Figuratif 3)

Walaupun demikian, seni patung sebagai alat ekspresi pribadi atau self expression di Sumatera Barat belumlah muncul. Kehadiran Arby Samah menurut Rosa (2004:12), “tidak lagi punya greget seperti ketika masih di Yogyakarta”. Pendapat yang hampir sama, juga disampaikan oleh Hadi (13 September 1996) di Harian Haluan Bahwa semenjak dia kembali ke ‘Kampung’ (Sumatera Barat) dan terlibat dengan tugas-tugas rutin kepegawaian dan sosial kemasyarakatan, dari hari ke hari semakin ‘lepas’ dan ‘berjarak’ dengan apa yang telah dicapainya”. Padahal apa yang telah diperoleh Arby ketika ia di Yogyakarta menurut sebuah tulisan Sudarmaji yang dimuat pada Ruang Budaya Harian Kompas (30 Maret 1976); “Di Yogyakarta hanya satu orang yang sudah menunjukan gejala non figuratif ialah Arby Samah…”. Begitu juga dengan apa yang ditulis oleh Holt, Claire (1967) dalam bukunya Art in Indonesia yang dikutip oleh Soedarsono (2000:341) sebagai berikut. 
Di antara mahasiswa-mahasiswa patung yang lain adalah Arby Sama, yang bergerak ke arah yang sangat berbeda. Ia sedang mengadakan eksperimentasi dengan bentuk-bentuk semi-abstrak yang pada waktu itu benar-benar tidak biasa di ASRI dan bagi Yogya secara umum. Walaupun ia tidak dirangsang dan juga tidak diarahkan ke arah ini, dengan jelas tidak ada penolakan yang jelas dari komposisinya.

Mungkin tidak hanya Arby Samah yang mengalami kondisi seperti dikemukakan di atas. Banyak figur lainnya, setelah menimba ilmu seni di berbagai perguruan tinggi seni seperti ASRI (ISI) Yogyakarta, ITB, Bandung dan di PT seni lainnya di luar daerah, setelah kembali ke daerahnya  mengalami hal yang mirip dengan yang dilami Arby Samah.  Diantara kemiripan itu bukan hanya dalam ekspresi berkarya, tetapi lebih menekuni tugas-tugas kesehariannya sebagai guru atau staf pengajar pada PT atau sekolah yang memiliki program studi seni rupa yang ada di daerahnya, setidaknya hal ini sangat dominan di kota Padang.

Bertolak dari fenomena yang terjadi tentang pertumbuhan dan perkembangan seni patung modern Sumatera Barat yang telah berjalan lebih dari setengah abad lamanya, menarik untuk dikaji dengan pertanyaan: “Faktor-faktor apa saja dan bagaimana faktor-faktor tersebut menentukan arah pertumbuhan dan perkembangan seni patung modern Sumara Barat”.


SEBUAH  PENELITIAN


Metodologi
Artikel ini adalah ringkasan dari penelitian yang diadakan oleh penulis. Terkait dengan hal ini maka dilakukan sebuah penelitian yang diberi judul “Seni Patung Modern Sumatera Barat: dalam Perspektif Sosiologis” ini, dapat dikategorikan ke dalam wadah bingkai penelitian kualitatif. Penelitian ini menekankan pada tata cara, alat, dan teknik yang berorientasi pada paradigma alamiah seperti yang dijelaskan oleh Guba dan Lingkoln (Moleong,1989:vii).  Nawawi (1983:209) juga menjelaskan tentang penelitian ini sebagai “penelitian kualitatif “, yaitu rangkaian kegiatan atau proses menjaring informasi dari kondisi sewajarnya dalam kehidupan suatu objek dan atas hubungan dengan pemecahan suatu masalah baik dari sudut pandang teoretis maupun praktis.


Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini berisikan ringkasan, eksplanation (penjelasan), dan interpretasi atas temuan dalam proses dan tindakan pengumpulan data. Secara keseluruhan, berdasarkan pertanyaan yang telah diajukan pada penelitian ini, yang nantinya dibagi menjadi dua bagian yaitu: 1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Seni Patung Modern Sumatera Barat, 2. Arah Pertumbuhan dan Perkembangan Seni Patung Modern Sumatera Barat.

Tinjauan terhadap Seni patung modern Sumatera Barat, dari waktu-kewaktu tidak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhi dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Kajian terhadap fenomena seni patung tersebut, dibahas sesuai dengan teori sosiologi yang dikemukakan oleh Vera L. Zolberg sebagai landasan teori utama dan didukung oleh teori-teori lainnya serta wawancara yang berhubungan dengan permasalahan.


 Zolberg (1990:ix) berpendapat bahwa: “Scholars have discovered the socially constructed nature of art, cultural institution, artists, and publics. Rather than assume that these complex phenomena art explained by simpel causes, we find it necessary to incorporate heterogeneity, processes of discovery, evalution, history…”

Pendapat Zolberg ini diartikan bahwa para sarjana telah menemukan sebuah konstruksi seni, yaitu institusi sosial, seniman, dan masyarakat. Asumsi itu dapat diterangkan dengan konsep, bahwa fenomena kesenian yang terjadi sedemikian rupa keterangannya dapat dijelaskan atas kompleksitas temuan seni, kreasi dari tradisi, evaluasi, dan sejarah. Dengan demikian, pemakaian teori dalam pembahasan ini akan disesuaikan dengan sifat dan karakteristik seni patung modern Sumatera Barat yang diteliti.
1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Seni Patung     
    Modern Sumatera Barat
Di antara Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seni patung modern Sumatera Barat seperti yang akan dibahas dengan kerangka teori di atas (institusi sosial, seniman, dan masyarakat), dimana ketiga faktor utama tersebut berada dalam sistemnya masing-masing dan saling dan terkait antara satu dengan yang lainnya.

Institusi sosial, adalah faktor penentu dalam perwujudan karya seni, termasuk seni patung Sumatera Barat. Hal itu terlihat dari peran serta institusi atau lembaga seperti institusi pendidikan, lembaga pemerintahan, badan usaha milik negara dan daerah (BUMN/BUMD),  lembaga swasta, dan atau lembaga-lembaga terkait lainya. Peran serta institusi tesebut, tidak terlepas dari tujuan dan kepentingan serta sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

Institusi pendidikan. Yang dimaksudkan dengan institusi pendidikan senirupa adalah sekolah  Seni Rupa yang dikelola oleh pemerintah, perorangan atau swasta. Lembaga tersebut mempunyai peran penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan seni patung modren di Sumatera Barat. Di antara institusi pendidikan yang memiliki program studi seni rupa yang ada di Sumatera Barat, diawali di ruang Pendidikan INS (Indonesich Nederlandsche School) Kayutanam, Jurusan Seni Rupa FKSS IKIP (sekarang FBSS Universitas Negeri Padang) Padang, SSRI/SMSR (sekarang SMK 4 Padang) dan Jurusan Seni Murni di STSI (sekarang ISI) Padangpanjang.

INS Kayutanam. Sekolah ini mulai berdiri pada tahun 1926 dan mencapai puncak kejayaannya tahun1941. Lembaga ini mampu menghasilkan seniman patung seperti yang diperlihatkan oleh Ramudin dan rekan-rekannya dengan karya seni patung dalam bentuk monumen (gambar 1 dan 2). Namun, sejak masa penjajahan Jepang selama tiga setengah tahun (1942-1945) sampai zaman perjuangan kemerdekaan Indonesia (1945-1950), lembaga pendikan INS Kayutanam mengalami gangguan dalam proses pembelajarannya. Tiga tahun berikutnya, ketika peristiwa PRRI (1958-1961), kondisi lembaga pendidikan ini semakin parah hingga tertutup oleh hutan dan rimba. Tahun 1967 lembaga ini dibenahi lagi sehingga sekolah ini dapat melaksanakan proses pembelajarannya kembali. Sejak tahun 1991 sampai saat ini INS Kayutanam sudah berubah menjadi SMU Plus. Kondisi semacam ini diyakini sebagian besar pengamat pendidikan bukanlah kondisi yang menguntungkan untuk menghasilkan cikalbakal seniman patung yang berkesinambungan dalam perkembangan seni patung modern di Sumatera Barat. Walaupun demikian, lembaga tersebut telah membuka jalan dan meletakkan kerangka untuk pertumbuhan dan perkembangan seni patung modern di Sumatera Barat pada tahapan selanjutnya.

Seni Rupa FBSS- UNP Padang. Pada tahun 1963 muncul Jurusan Seni Rupa di FKIP Univesitas Andalas (Unand), yang sekarang menjadi Jurusan Seni Rupa FBSS Universitas Negeri Padang (UNP). Lembaga ini  bukanlah lembaga penghasil seniman seni rupa (khususnya patung) dalam arti yang sesungguhnya. Kemampuan berkarya seni patung lulusan lembaga ini hanya merupakan efek samping dari studi atau mata kuliah seni patung yang wajib diikuti oleh mahasiswa selama satu semester, yang berlanjut sebagai matakuliah pilihan minat utama selama tiga semester berikutnya. Memang beberapa lulusan lembaga ini dapat memiliki dasar pengetahuan dan keterampilan dasar mematung secara realis. Dasar pengetahuan ini dapat dikembangkan mereka melalui pengembangan diri dengan mengikuti perkembangan seni patung setelah menyelesaikan program studinya. Dan kenyataannya, sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh oleh lulusan Jurusan Seni Rupa UNP tersebut, telah memberi pengaruh terhadap perkembangan seni patung modern di Sumatera Barat seperti terlihat pada (gambar 3).


Gambar.3
Lokasi patung (klik kanan di sini-AT 6 Harvart)

SSRI/SMSR. Pada tahun 1965 berdiri institusi pendidikan senirupa SSRI/SMSR (sekarang SMKN 4) dengan lima jurusan, termasuk salah satunya Jurusan Seni Patung. Sejak tahun 1985, Jurusan Seni Patung di sekolah tersebut dijadikan sebagai mata pelajaran minor atau mata pelajaran pilihan. Sejak tahun 1996 sampai saat ini, sesuai dengan Surat Keputusan MPKN Nomor: 70/KU/MPKN/96 tanggal 12 Juli 1996, mata pelajaran seni patung semakin diperkecil porsinya menjadi bagian dari mata pelajaran nirmana ruang. Kondisi yang semula membawa pencerahan terhadap perkembangan seni patung di Sumatera Barat melalui sekolah tersebut, namun pada akhirnya harus menerima kenyataan akan berkurangnnya calon seniman patung yang selayaknya mampu berkembang setelah mereka melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau berkarya dengan mengikuti berbagai perkembangan di bidang seni patung.

STSI Padangpanjang. Pada tahun 2006, berdiri Jurusan Seni Murni di STSI Padangpanjang. Walaupun belum menghasilkan seniman patung, setidaknya sampai saat ini, melalui staf pengajarnya juga telah ikut berkontribusi terhadap pekembangan seni patung modern di Sumatera Barat melalui karya yang diikutsertakan pada setiap kesempatan pameran. Besar harapan pada institusi ini pada masa yang akan datang perkembangan seni petung di Sumatera Barat akan jauh lebih baik.

Lembaga Pemerintahan. Selanjutnya peran lembaga pemerintahan sebagai bentuk lembaga yang telah terorganisir secara resmi mempunyai peranan yang signifikan sebagai pelindung maupun fasilitator bagi pertumbuhan dan perkembangan seni patung dan kesenian pada umumnya di Sumatera Barat. Di antara bentuk perhatian dan perlindungan lembaga pemerintah tersebut, baru pada tataran memfasilitasi pembuatan karya patung untuk keperluan monumen yang umumnya dibiayai oleh Pemerintah Daerah TK I dan II. Selain itu, bentuk perlindungan dan perhatian pemerintah Sumatera Barat dalam bidang kesenian, juga telah didirikan lembaga yang dapat dijadikan sebagai mediator dan fasilitator bagi perkembangan seni patung, yaitu UPDT Taman Budaya. Dengan skala perioritasnya yang terbatas. Institusi Taman Budaya ini telah melaksanakan pameran karya-karya seni patung sebagai alat ekspresi pribadi para seniman, yang dapat menjembatani antara seniman dan karyanya dengan masyarakat penikmat dan pengamatnya.

Sementara itu, institusi atau badan usaha milik negara dan daerah serta lembaga swasta, juga telah ikut berpartisipasi dalam perkembangan seni patung modern di Sumatera Barat. Terutama kontribusinya dalam bentuk sokongan dana untuk pembuatan karya seni patung bagi keperluan monumen dan kaya seni patung monumental lainnya.

Seniman. Faktor seniman adalah penentu yang juga berperan secara langsung terhadap kesinambungan seni patung modern Sumatera Barat. Umumnya seniman patung modern Sumatera Barat seperti yang yang terungkap dari data penelitian rata-rata memiliki profesi ganda. Selain sebagai seniman patung, mereka juga sebagai guru, staf pengajar perguruan tinggi ataupun pegawai negeri. Umumya waktu, fikiran dan tenaga mereka tidak digunakan sepenuhnya untuk berkarya seni patung. Hal ini terkait dengan konsep seniman itu sendiri, sebab seorang yang benar-benar seniman menurut konsep Becker (1984:229), yaitu orang sepenuhnya siap dan mampu menghasilkan karya seni yang sesuai dengan aturan-aturan keprofesiannya, bukan pekerjaan sekunder. Umumnya seorang seniman sepenuhnya terintegrasi ke dalam dunia seni yang ada. Ia tidak akan menyebabkan masalah untuk siapapun yang bekerjasama dengannya, selanjutnya karyanya akan mendapatkan audiens yang besar dan responsif. Seniman adalah sebuah  profesi yang utuh.


Temuan lain 4)
Temuan lain menunjukkan bahwa perkembangan seni patung modern Sumatera Barat juga diciptakan oleh berbagai seniman patung lainnya.

Karya patung yang di buat oleh seniman kelompok tersebut, pada umumnya dalam bentuk figuratif yang mudah dimengerti oleh orang banyak. Sehingga seni patung tersebut memiliki keterbatasan dalam gaya dan cenderung realis. Dilihat dari bahan atau materi, teknis dan gaya, hampir tidak ada perobahan selama lebih dari lima puluh tahun lamanya sejak kehadiran karya patung Ramudin “Pejuang yang Tak Dikenal” tahun 1950. Sehingga kehadiran seniman yang datang dari luar Sumatera Barat untuk pembuatan patung di taman Monumen Bung Hatta Bukittinggi yang ditunjukkan M. Hartono seperti (gambar 4), adalah hal yang seharusnya terjadi karena tuntutan kualitas dari patronase yang sudah semakin tinggi apresiasinya dibidang seni patung. Di sisi lain, seniman patung yang mengelompok tersebut, hanya sebagian kecil yang muncul atau ikut berkarya dalam seni patung dengan fungsi personal atau pada bentuk seni patung sebagai alat ekspresi pribadi.