Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Jumat, 09 Oktober 2015

Seni Kontra Seni Komersial: Kasus Seni Rupa dan Musik

Oleh: Nasbahry Couto


UMUMNYA terdapat perbedaan antara kegiatan seni dan kegiatan seni untuk komersial, bahwa seni komersial bertujuan untuk menjual produk. Selanjutnya juga sering disebut dengan bermacam istilah kreatif, seperti ekonomi kreatif, industri kreatif dan sebagainya. Sementara itu tujuan seni adalah menjadi obyek estetika untuk dihargai kehalusannya dan memiliki kualitas yang unik, hal ini dijelaskan oleh  Susan Kendzulak (2015) dalam sebuah tulisannya. Sehingga yang dimaksud  dengan “seni komersial” itu bisa meliputi periklanan, desain grafis, branding, logo, dan ilustrasi buku, sedangkan bidang seni meliputi lukisan, patung, seni grafis, fotografi, instalasi, multi-media, seni suara, dan performance art. Di Indonesia sebutan untuk seni komersial masih dinamakan “seni terapan”. Namun  dari banyak tulisan hari ini di Eropah maupun di Amerika, istilah seni terapan ini tidak dipakai lagi dan dianggap kuno (archaic). 
Dalam seni musik juga terdapat kontradiksi antara musik untuk tujuan seni dengan musik untuk tujuan komersial. Hal  ini bisa terjadi karena perbedaan interpretasi dan tujuan diantara seni dan seni untuk komersial. Di antara kedua kepentingan ini idealisme seniman umumnya tertekan oleh hegemoni produsen seni yang memandang aspek ekonomi lebih penting dari pada idealisme seni. Pertentangan antara seni murni dan seni komersial nampaknya lebih tajam terlihat di dalam seni musik ketimbang dalam seni rupa. Di bawah ini  adalah gambaran selintas bagaimana kehidupan seni komersial itu yang berbeda dengan ideal seni yang berasal dari dunia pendidikan di Indonesia. Apapun yang dikerjakan oleh seniman komersial, nampaknya bakat dan minat serta kegigihan sangat menentukan keberhasilannya. 

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting