Kamis, 06 September 2012

Sejarah Seni Rupa Lokal: Metode seni, Seni Lukis dan Perkembangannya di Sumatera Barat (1)


Pelukis Amrianis, Sumatera Barat, bergerak dari bentuk nyata yang di pelintir-pelintir

Oleh: Nasbahry Couto ( Revisi september, 2014 dan 6-9-2015)


Karya seni telah "dibaca" dengan berbagai cara, yaitu berbagai cara yang berbeda untuk menggambarkan dan menafsirkan seni sebagai sebuah metodologi analisis artistik serta tafsiran maknanya. Benda seni dalam teorinya sangat kompleks. Setiap karya seni merupakan ekspresi budaya (menurut waktu dan tempat), menurut pembuatnya (seniman), dan tergantung pada media (terbuat dari apa seni itu).
Jika membahas metodologi seni (ilmu tentang metode seni) maka akan sangat luas, sebab materinya dapat mencakup: analisis formal (formal analysis), iconology (ilmu arti bentuk/ikon) dan ikonografi (gambaran grafisnya), Marxisme, feminisme, biografi, dan otobiografi, psikoanalisis, strukturalisme, ras dan gender. Semuanya itu mencerminkan banyak makna dalam sebuah gambar artistik. Sebuah karya seni dapat digambarkan dari  sudut pandang metodologis yang berbeda.

Laurie Schneider Adams,

( The Methodologies of Art: An Introduction)

Bagian I. Apakah Seni Lukis itu ada Metodanya?

Sebagai pendahuluan jelaslah bahwa yang dimaksud dengan metode disini, bukanlah metodologi seni (pengetahuan tentang berbagai metode seni). Tulisan ini diarahkan kepada analisa bentuk-bentuk (formal analisis) yang pernah dibuat oleh seniman-seniman di Sumatera Barat dengan cara-cara tertentu.  Felmand  pernah menulis, bahwa jika sulit untuk menuliskan karya seni maka tulislah tentang tekniknya. Petunjuk Felmand ini menginspirasi penulis  untuk menuliskan tajuk ini yang intinya tentang seni di Sumatera Barat. Kesulitan penulis membahas ini adalah data, karena penulis tidak punya data lengkap tentang siapa pelukis sumatera Barat ini.

Menurut hemat penulis, jika dalam desain ada cara mendesain (design method) maka dalam seni rasanya juga ada art method, tetapi masalah ini jarang di bahas. Banyak cara untuk menggambarkan subjek seni, diantaranya menurut  Arnel Rivera (lihat disini),  dan disini. Ada beberapa cara/method merepresentasikan objek seni lukis diantaranya, cara realis, cara abstrak, simbolis, fauvis, dadais, futuris, ekspresionis dan surealis. Art methods ini harus dibedakan dengan artistic methods. Batik misalnya, diakui sebagai salah satu artistic method bukan art methods.

Namun menurut penulis metode seni, dalam konteks bentuk dan gagasan,  jika  di ringkas, dapat menjadi tiga metoda  antara lain


a.Peniruan Alam atau Bentuk

Pertama metode peniruan alam atau "imitasi", dimana setelah menyiapkan bahan dan alat, seseorang langsung berkarya sesuai dengan model rupa yang ada (misalnya objek dalam rumah seperti benda-benda di atas meja,  objek luar rumah seperti pemandangan alam. Atau hasil rekaman rupa seperti sketsa, potret/ hasil foto, dari guntingan majalah dsb. Metoda ini sudah lama dilaksanakan, misalnya pada awal perkembangan seni sampai dengan seni moderen pelukis umumnya merekam alam dan mendokumentasikannya. 

Polemik, wacana atau diskursus [1] dalam metode imitasi ini adalah adanya perbedaan antara kenyataan yang ditiru dengan kenyataan karya. Dan terdapatnya banyak variasi tujuan dalam menggambarkan kenyataan itu, misalnya impresionis (abad ke-19) tujuannya adalah ingin menggambarkan kesan-kesan saja (impresi) objek yang dilihat, sedangkan ekspresionis mendramatisir objeknya, lukisan naratif ingin bercerita, lukisan romantik ingin menciptakan suasana, ada pula yang bersifat politis, membujuk (persuasif), merangsang (nudis) dan seterusnya. Berbagai cara dan teknik individual seperti cara Wakidi, cara Affandi, dan seterusnya ingin menangkap realitas sesuai dengan kacamata seorang pelukis. Sekarang (2012) pada pelukis muda lagi trend  lukisan realis-minimalis). 

Dalam metode peniruan alam atau "imitasi", umumnya lukisan adalah "santir" atau cermin dari realitas yang banyak disukai orang sepanjang zaman. Karena manusia selagi hidup umumnya memiliki kenangan di atas bumi ini yang kadang habitatnya berubah. Lukisan membekukan suatu peristiwa, tempat, dan kenangan. Dengan melihat lukisan manusia dapat menerawang kembali ke suatu tempat dalam memorinya. Lukisan realis adalah diantara lukisan yang mampu mengungkapkan hal ini, dan tidak banyak masalah  dalam merepresentasikan imaji manusia.





Salah satu metode seni lukis imitatif : mengaplikasikan proporsi "fibonancy" atau "golden section", oleh David Johnson (2008). Setelah komposisi ditentukan, figur digambar langsung melalui model dalam studio, dilakukan juga pemotretan. Kemudian baru di lukis dengan cat minyak.

b. Metoda  "inspirasi": Dari konsep (verbal) ke rupa (visual) 

Kedua adalah metoda  "inspirasi", dimana seniman tidak lagi meniru alam tetapi menggali dari persepsi-persepsi ide, konsep atau teorinya. Dalam metoda ini  dimana seseorang berkarya bukan semata meniru alam, tetapi melukiskan sesuatu dengan modal gagasan, tema  atau konsep yang dirumuskannya. Kemudian mencari kira-kira rupa/bentuk seperti yang dibayangkan (diimajinasikan).  Metoda ini dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar. Yaitu penciptaan konsep dan penerapan konsep. (1) Seniman dapat terinspirasi untuk menciptaan konsep-konsep baru yang diungkapkannya secara verbal/kata, dan atau (2)  inspirasi dari informasi atau konsep-konsep yang sudah ada (penerapan  konsep ).

(1) Inspirasi dalam konteks membuat konsep baru (murni gagasan seniman)

Seni rupa umumnya berkecimpung dalam kualitas dan kuantitas elemen rupa seperti warna, bentuk, garis dan sebagainya. Berkarya dalam seni rupa dan desain adalah proses memilih, membatasi diri pada warna, bentuk, garis, tekstur dan sebagainya. Kenapa memilih ? Sebab berkarya bukanlah menuangkan cat ke atas kanvas, sehingga tumpah-ruah. Yang menjadi latar belakang dalam memilih tersebut adalah dalam rangka adanya makna dan bentuk yang ingin disampaikan.

Dalam proses reduksi ini diperlukan banyak kemungkinan melalui langkah tertentu. Seniman selalu mulai berkarya dengan suatu repertoar yang memungkinkan banyak pilihan, dan akhimya memilih yang sesuai dengan yang diinginkannya. Seniman bisa berangkat dalam suasana khaos, tidak jelas, sampai kepada keteraturan yang terlihat pada karyanya. Menyusun suatu karya seni merupakan suatu proses reduksi/pemiskinan/ penurunan. Sebab dalam melukis seniman menyeleksi warna-warna yang akan dituangkan. Ada proses pengaturan dalam berkarya. Ada warra dipilih, diulang dan disingkirkan. Kadangkala muncul dari spontanitas, sehingga tidak sesuai lagi dengan ide semula yang akan disampaikan pada lukisan itu, dan atau yang ada dalam sebuah bentuk komposisi, namun itu adalah inspiratif-kreatif.

Jadi dalam metoda inspirasi, inspirasi bisa muncul sesaat, saat proses berkarya dan kondisi palet tempat bekerja. Palet merupakan repertoar yang kaya dengan warna, namun yang ada pada palet merupakan sebuah kebetulan belaka. Apa yang terlihat pada palet bukanlah karya seni. Sebaliknya apa yang ada pada kanvas adalah seni walau munculnya secara kebetulan. Dia selalu dalam proses kontrol pengamatan, berikut seleksi pengamatan. Akhirnya, lukisan abstrak sekalipun, bukanlah sebuah kekacauan. Dia berakhir pada sebuah struktur rupa, struktur persepsi yang sesuai dengan makna verbal, yang dipersepsi sebagai sebuah karya (rupa) baru, dan inspiratif sewaktu berkarya.

Kecendrungan seperti ini, muncul dari seniman-seniman Sumatera Barat yang berusaha untuk tidak terseret oleh konstelasi (mashab) seni yang ada. Sebagai contoh misalnya Nashar atau Zaini sebagai seniman Sumatera Barat, yang menolak pro Bandung (yang kebarat-baratan) dan mashab Jogya yang pro terhadap seni kerakyatan (realis dan ekspresionistik).

Catatan tentang pelukis Nashar
"Renungan Malam"


"Nashar adalah pelukis yang dengan intens melakukan pencarian esensi objek-objek manusia, alam, dan lingkungan, tetapi esensinya adalahbagaimana ia mengungkapkan totalitas jati diri. Lewat bentukbentuk yang terus disederhanakan sampai menuju abstraksi total, sebenarnya merupakan ekspresi yang mencerminkan efek psikis dari pengalaman kehidupan sehari-hari. Warna-warna yang cemerlang sering tidak mengungkapkan kecerahan, tetapi menceritakan efek dramatis kehidupannya. Untuk mencapai kedalaman esensi objek-objek dan kemurnian perasaan dalam lukisannya, ia merumuskan perjuangan kreativitas lewat kredo ‘tiga non’. Pertama yaitu nonkonsep. Maksudnya adalah, ketika mulai melukis ia belum punya gambaran, konsep, bahkan gaya yang akan dipakai. Ia hanya mengandalkan pada keinginan jiwa dan intuisi yang akan mengalir. Kedua, yaitu nonobjek. Dalam kredo ini ia percaya bahwa suasana intens dalam melukis akan mendorong untuk mendapatkan suatu bentuk atau objek sendiri dalam kanvas. Ketiga, adalah nonteknik. Dalam melukis ia selalu tidak berangkat dari pola teknik. Tetapi akan menyesuaikan dengan cara dalam berkarya. Dengan kredo ‘tiga non’ itu diharapkan melukis harus melalui proses perjuangan yang sulit, sehingga situasi jiwa murni selalu terjaga."

Sumber: http://galeri-nasional.or.id/collections/528-renungan_malam


(2) inspirasi yang berasal dari informasi (menerapkan konsep yang sudah ada). 

Metoda ini adalah salah satu metoda yang tertua dalam seni, dimana gagagan-gagasan seni berasal dari konsep yang sudah ada, misalnya dari agama primitif, kepercayaan, agama Islam atau Kristen, filsafat atau gagasan-gagasan dari ahli seni.

Seorang seniman dapat terinspirasi dari konsep-konsep seni yang sudah ada yang berasal dari sejarah seni abad ke-19 dan 20,  misalnya konsep realis, naturalistik, surealistik, ekspresionistik, seni abstrak modern  dan sebagainya.

Dari mana sumber-sumber gagasan seperti ini? Tentu saja dari bacaan atau informasi yang diperoleh seniman sumatera barat dari  perkembangan seni yang ada. Metoda ini juga sangat banyak variasinya. Mulai dari yang sederhana seperti yang  berpedoman ke narasi (dari cerita), sampai metode analisis, penelitian (research) bentuk-bentuk baru dalam seni rupa. 



Salah satu contoh misalnya dengan memahami konsep-konsep seni, menggubah bentuk seni yang berasal dari budaya dsb. Sekarang guru-guru lagi “dipaksa” memahami bentuk-bentuk budaya rupa lokal, nasional  (seni berbasis budaya). Pada dasarnya anak-anak diarahkan berkarya dengan mereproduksi pikiran orang dewasa, khususnya yang berasal dari budaya tertentu.

Lukisan Evelyn Dianita, mengambil cerita (narasi) Minangkabau lama sebagai objek lukisan


Kekurangannya adalah bentuk-bentuk dari budaya rupa lokal itu miskin, kaku dan sangat terbatas. Untuk mengetahui dan memahami lebih dalam lihat di (Arteology, the science of products and professions). 

Pada dasarnya penerapan konsep ini adalah berasal dari teori-teori tau konsep yang sudah ada seperti bagan  di bawah ini sebagai berikut.


Sumber: Arteology


Hal pokok dari metoda inspiratif-verbal ini adalah menggali dari kata-kata atau konsep yang  merupakan kelebihan metoda ini, karena sifatnya lentur. Kenapa lentur, sebab dari kata ke wujud rupa itu memudahkan untuk pencarian bentuk baru. Lain halnya dari "rupa" ke "rupa" sifatnya streotip, kaku dan terbatas. Misalnya "gambar bentuk" yang digambarkan jelas terbatas hanya bentuk itu. Dalam konsep verbal seperti  konsep/aliran seni pada dasarnya adalah konsep-konsep verbalistik. 


Seorang guru dapat bercerita tentang dongeng/cerita (verbal) sebagai dasar untuk berkarya, yang memungkinkan munculnya berbagai bentuk sebagai hasil imajinasi dari cerita itu. Metoda pencarian bentuk ini lebih terperinci dalam bidang desain. Metoda ini umumnya di pakai di PT, dengan segala kekurangannya. Diskursus dalam metoda ini (yang diperdebatkan) adalah adanya perbedaan antara konsep, ide dan kenyataan karya.

c. Metoda Kolaboratif

Metode yang ketiga adalah metode kolaboratif, disamping berkarya bersama, konsepya, tema, ide adalah milik dan gagasan adalah konvensi (kesepakatan) komunitas, misalnya dari sebuah sanggar seni.  Hal ini terlihat dalam kecendrungan kelompok saat pameran bersama, dimana konsep-konsep seni dirumuskan terlebih dahulu oleh kelompok (grup) seni sebelum berkarya dan pameran.

Isu yang beredar dalam seni di Indonesia misalnya ada dua metoda berseni yang berasal dari dua maszhab seni yaitu mashab Bandung dan Yogya. (Lihat tulisan Agus Sachari)

Karya grup, kelompok seni, misalnya dapat kita lihat dalam  seni musik, teater dan tari. Hal ini juga menjadi  trend dalam lintas bidang kesenian. Misalnya penyajian musik, yang menata lampu, tata ruang, tata suara bekerja bersama, dsb. Karya kelompok juga ditemukan dalam melaksanakan pembelajaran/pendidikan dalam kelas. 

Kelemahan metode ini adalah adanya perbedaan gagasan antar individu dalam kelompok, sehingga ada individu yang tertekan dalam kelompok. Komunitas-komunitas seni umumnya tumbuh dalam suasana ini, jika pandai berorganisasi atau mengelola usahanya maka komunitasnya akan maju.

Bagian 2. Variasi Metoda dan Perkembangannya

Ragam Teknik Imitasi
Dalam seni imitasi, ternyata juga banyak variasinya. Misalnya dalam sejarah seni diperlihatkan  teknik dan metoda seni dikembangkan oleh pelaku-pelakunya, Leonardo da Vincy dan Rembrand misalnya mengembangkan metoda Chiaroscuro.[2]Degas menggunakan “snap shopt”(kemampuan untuk menangkap suatu momen pose (capture amomentary pose). Dalam seni moderen dan postmo, pelukis seperti Howard David Johnson (2008) mencampur berbagai metode (naratif, fotografis, golden section/kanonik dan komputer dalam melukis realis-klassik)[3].

Ragam Gagasan atau Ide Eksternal yang Mempengaruhi Seniman Sumatera Barat

Jika metoda ini dapat dipahami, maka kita dapat lebih bebas dalam membicarakan metode seni ini dengan perkembangan yang terjadi di sumatera barat. Misalnya, mulai dengan pertanyaan siapa yang mulai mengembangkan metode seni tertentu. Dari mana mulai, kemana berkembangnya, siapa peminatnya dan apa gagasan di baliknya, atau tak punya gagasan sama sekali dan sebagainya.

Metoda berkarya ini erat hubungannya dengan media yang dipakai, lukisan atau teknik melukis dengan cat minyak  di atas kanvas misalnya. Teknik ini bukanlah berangkat dari budaya lokal, tetapi datang dari luar sejalan dengan persentuhan masyarakat lokal dengan bangsa asing (kolonial), yang kemudian dikembangkan oleh perupa-perupa lokal, baik dari segi  tematik  maupun representasi seni yang ditampilkan.


Pengaruh Mazhab kelompok

Hal yang sama terjadi di kawasan lain di Indonesia, tidak terkecuali Jakarta, Bandung atau Yogyakarta atau kota Medan, atau pusat-pusat urban lainnya di Indonesia. Boleh kita merasa bahwa ada pengaruh dari Bandung atau Yogyakarta terhadap perkembangan Seni Rupa di kawasan Sumatera Barat, tetapi itu tidak seluruhnya benar, sebab disamping besarnya jarak geografis, sumber-sumber Iptekni di kawasan ini sebenarnya sama dengan sumber-sumber dari iptekni (ilmu, teknologi dan seni)  luar yang masuk ke Sumatera Barat, yaitu Iptekni Barat. [4]

Secara sosiologis, seni moderen yang kita kenal sekarang ini adalah budaya kota (urban), yang mendapat imbasan dari kultur global yang disebut moderenisasi atau budaya baru). Oleh karena itu dapat di pahami bahwa perkembangan seni di Sumatera Barat adalah di pusat-pusat pendidikan dan kota-kota seperti Bukittinggi, Padang dan beberapa tempat lain seperti Batusangkar, Padang Panjang dan Kayu Tanam (Lih. peta sejarah sumatera barat)


Berdirinya sanggar-sanggar seni rupa (lihat artikel seni patung), dan sekolah-sekolah seperti INS di Kayu TanamSSRIPadangJurusan Seni Rupa IKIP Padang, dan STSI Padang Panjang (ISI-PP)  adalah model komunitas-komunitas pendidikan yang berciri urban, yang memperkenalkan iptek baru dibidang seni rupa, seperti yang kita kenali saat sekarang. Sedangkan di kawasan desa atau komunitas  rural yang merupakan sebagian besar penduduk Sumatera Barat, terdapat jenis seni rupa yang berangkat dari budaya lokal  atau tradisi.


Disamping itu ada beberapa tipe seniman di Indonesia, tetapi apakah klassifikasi ini dapat dipakai sebagai prediksi terhadap metoda yang mereka pakai? Minimal ada tiga jenis pelaku seni (seniman pelopor/avan garde, seniman salon (galery) dan seniman profesional (Clark:1998:11). Jika kita menggunakan patokan ini, maka banyak  yang tidak masuk kategori ini, kecuali menjadi seniman saat pameran saja, yang terakhir ini banyak di sumatera barat (profesi ganda). Namun tidak menutup kemungkinan semua metoda seni mereka kuasai (terutama yang berasal dari luar).



Dari Bahasa Verbal ke Bahasa Visual 

Salah satu metoda ini adalah melalui permainan bahasa verbal ( yang dimaksud adalah, gagasan, pikiran, ide, dsb yang diutarakan melalui kata—kata untuk menciptakan kata baru atas sebuah rupa.

Cara klassik dalam melukis


Rupa  yang dilihat ----------------- Rupa dalam seni


Hal ini berlaku atas semua seni yang merupakan cermin (santir) dari rupa yang dilihat manusia (contoh pelukis melukis alam, hasil lukisan adalah cermin dari yang dilihat)

Cara baru: Seni yang tidak semata meniru alam

Rupa yang dilihat (diberi label)-------menciptakan banyak label baru------menciptakan rupa baru

Pada prinsipnya metoda ini adalah  dari pencarian kata (verbal) ----------ke- rupa (visual)-------Karya baru (visual + verbal/judul lukisan)



Coba perhatikan karya Robin di atas, karya ini adalah hasil print yang berjudul seven cirling crows ( tujuh gagak terbang?). Terlihat bahwa ada perbedaan antara judul dengan apa yang terlihat pada karya, jadi kata (judul) tidak sama dengan rupa (tidak selalu harus sama) sebab dalam proses berkarya terjadi penyimpangan, dia membayangkan lebih dulu tentang tujuh gagak.

Dari contoh di atas, jika dipakai cara lama maka pelukis hanya akan menggambarkan nangka secara konservatif. Tetapi dengan memberi nama baru atau melabel kembali nangka itu akan muncul kata baru sebagai pemancing untuk berimajinasi. Seperti contoh di atas.
Misalnya, bola sepak, sayur nangka, buah raksasa dsb. Pada label bola sepak: si seniman membayangkan nangka sebagai bola untuk disepak. Pada Seven Circling Crows, karya Robin Maria Pedero di atas dia membayangkan lebih dulu tentang tujuh gagak. Melalui turunan kata (label baru) ini lebih mudah kita men­ciptakan rupa baru. Di luar kegiatan membuat label baru, Anda dapat mencari dan membaca bebe­rapa label baru yang kurang dikenal untuk mem­ben­tuk cip­taan baru sesuai dengan persepsi Anda. bSalah satu yang mirip dengan metoda ini adalah karya-karya dari Hamzah, Dosen ISI Padang Panjang, untuk thesis S2, di ISI Yogya dengan memakai kata "Cancang" dalam proses berkarya


Analogi
Menurutnya Kata cancang (bahasa Minangkabau) Cancang ditinjau dari sisi pengerian  masyarakat Minangkabau adalah  sebagai berikut ini.
Cancang lauak di tangah alek artinya adalah mencincang daging di tengah  keramaian, ini berkonotasi negatif yakni ibarat orang yang suka membuka aib, atau menimbulkan kekacauan dalam kehidupan masyarakat. (2) Cancang tadaek jadi ukia artinya adalah walau salah jalannya pahat atau alat tetapi tetap menjadi ukiran. Ini berkonotasi positif yakni ibarat orang yang pintar, cerdas, dan bijaksana, sehingga pandai dalam menyelesaikan pekerjaannya.
Akhirnya dia menggunakan kata ini : Cancang sebagai metode, yaitu salah satu cara, strategi, dan teknik dalam melakukan pembuatan suatu karya.Sebetulnya kata cancang bukanlah metoda, tetapi sebuah kata (verbal) yang akan di cari analogi dan metamorfosa-nya dengan menciptakan kata baru dari kata cancang, untuk seterusnya menciptakan rupa sebagai berikut ini.



Contoh Karya


Karya 9, Cancang Habis, 2010, Akrilik pada kanvas, OO X 180 cm, Foto: Dedy Supriadi

Barangkali saya tidak akan menjelaskan teori tentang metoda ini. Namun variasi dan keleluasaan metoda Inspiratif terlihat dari karya-karya pelukis generasi baru sumatera Barat. Beberapa contoh metoda yang berdasar konsep verbal ke karya visual
Dari konsep mimpi, ilusi (verbal) ke bentuk rupa
Dari cerita ke visual, disebut metoda narratif
Dari cerita budaya (verbal) ke rupa: lukisan illustratif
Dari konsep verbal, ke rupa verbal, contoh lukisan kaligrafis
Dari  konsep komposisi ke karya, contoh seni lukis dekoratif
Dari konsep elemen rupa,  misalnya konsep tekstur (verbal) ke rupa lukisan

dsb.
Beberapa  contoh oleh generasi baru Sumatera Barat adalah sebagai berikut.

Tulisan ini terdiri dari 2 halaman, klik halaman yang dituju