Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Senin, 30 Oktober 2017

Dasar Pemikiran dan Kebijakan Pendidikan Seni : Tradisi Pendidikan Seni (Seni rupa, Musik, Tari dan Teater) di Uni Eropah

Oleh : Nasbahry Couto

Seperti yang kita ketahui dunia pendidikan di Indonesia umumnya tunduk pada berbagai tuntutan misalnya kebijakan (politik, pemerintah, kementerian dan sebagainya. Hal yang sama juga terjadi di Eropah dan Amerika. Pengaruh ini akan berakibat kepada bentuk organisasi, isi kurikulum, kebijakan penyediaan guru dari pendidikan seni. Artinya pendidikan seni banyak dipengaruhi oleh berbagai hal di luar kepentingan pembelajaran seni itu sendiri. Disamping itu, pengaruh lain yang tidak kecil adalah terjadinya peningkatan komunikasi secara global juga berakibat kepada meningkatnya migrasi (perpindahan penduduk antar negara)  dan persaingan diberbagai bidang secara internasional. Terjadinya peningkatan teknologi dan pengembangan pengetahuan ekonomi yang meluas. Dalam konteks ledakan penduduk dan persaingan pekerjaan  ini, berbagai negara dapat melihatnya  secara positif maupun secara negatif. Dan banyak negara melihat bahwa untuk mengatasi pengangguran maupun persaingan lapangan kerja di negaranya, maka salah satu jalan keluarnya  adalah dengan memperkuat landasan di bidang pendidikan. Dengan kata lain sistem pendidikan dapat dilihat sebagai sarana untuk mempersiapkan generasi muda untuk berperan dalam dunia yang semakin tidak menentu ini. Sekolah dianggap memiliki bagian untuk bermain dalam membantu orang muda untuk mengembangkan rasa aman dari diri mereka sendiri, baik sebagai individu dan anggota berbagai kelompok dalam masyarakat.
Disamping itu ada juga kebutuhan untuk mendorong orang muda untuk mengembangkan berbagai keterampilan dan minat, untuk mengidentifikasi dan membina potensi mereka secara kreatif. Perkembangan ini menimbulkan sejumlah tantangan bagi pendidikan seni dan bidang pendidikan lainnya. Hal ini terlihat dari perdebatan dan kebijakan yang diambil dalam pendidikan seni oleh berbagai pemerintah dan juga lembaga-lembaga internasional seperti UNESCO. 


Pendahuluan 


Minat kepada pendidikan seni oleh organisasi internasional menunjukkan peningkatan yang bermakna dalam beberapa tahun terakhir ini, hal ini mengakibatkan munculnya kebijakan  penting tentang hal ini. UNESCO misalnya telah menjadi kekuatan utama dalam pengembangan inisiatif kebijakan di bidang pendidikan dan kebudayaan dalam dekade terakhir.

Misalnya pada tahun 1999, Direktur Jenderal UNESCO mengadakan seruan kepada semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan seni dan budaya untuk memastikan bahwa pembelajaran seni  diberi perhatian khusus dan diuntungkan dalam pendidikan setiap anak, dan sekolah sampai dengan tahun terakhir sekolah menengah (UNESCO 1999). [1])

Seruan ini kemudian di tanggapi di Eropa dan hal ini diikuti dengan diadakannya konferensi dunia di Lisbon untuk menandai puncak dari sebuah kolaborasi internasional lima tahun antara UNESCO dan mitranya di bidang pendidikan seni. Konferensi ini menegaskan kebutuhan untuk menetapkan pentingnya pendidikan seni di semua lapisan masyarakat dan ini terbukti dorongan untuk meningkatkan penelitian global tentang dampak seni dalam pendidikan (Bamford 2006) dan Road Map UNESCO untuk meningkatkan Pendidikan Seni (UNESCO 2006).

Tulisan ini bertujuan untuk memberikan penjelasan dan uraian tentang tradisi pendidikan seni di Eropah, salah satunya menjelaskan bahwa pendidikan seni menurut pemikiran orang Barat adalah untuk membantu untuk: menegakkan hak asasi manusia untuk pendidikan dan partisipasi budaya; mengembangkan kemampuan individu;  meningkatkan kualitas pendidikan;  dan mempromosikan ekspresi keragaman budaya. Dalam hal ini UNESCO merumuskan sebagai berikut:

The Road Map aimed to provide advocacy and guidance for strengthening arts education. The document asserts that arts education helps to: uphold the human right to education and cultural participation; develop individual capabilities; improve the quality of education; and promote the expression of cultural diversity.[2]

Perkembangan kebijakan serupa telah terjadi di Eropa. Pada tahun 1995, Dewan Eropa meluncurkan proyek besar yang berfokus pada Kebudayaan, Kreativitas dan kaum muda. Hal ini terlihat dari perhatian dan peningkatan penyediaan yang ada untuk pendidikan seni di sekolah-sekolah di negara anggota Eropa serta keterlibatan seniman profesional dan ketersediaan kegiatan ekstra kurikuler di sekolah-sekolah di Eropa. Peningkatan juga terjadi pada  survei dan penelitian seni di Eropa berikut musyawarah Internasional.

Pada tahun 2005, Dewan Eropa meluncurkan Konvensi Kerangka Framework Convention untuk nilai warisan budaya bagi masyarakat (Council of Europe 2005), yang mengidentifikasi kebutuhan negara-negara Eropa untuk melestarikan sumber daya budaya, mempromosikan identitas budaya, menghormati keragaman budaya dan mendorong dialog antar-budaya. Pasal 13 dari Framework Convention mengakui pentingnya warisan budaya dalam pendidikan seni dan menganjurkan mengembangkan hubungan kursus antar berbagai bidang studi.

Pada tahun 2008 Dewan Eropa menerbitkan White Paper untuk dialog antarbudaya (Dewan Eropa 2008), yang menawarkan pendekatan antarbudaya untuk mengelola keragaman budaya. Termasuk juga untuk mengidentifikasi organisasi pendidikan (termasuk museum, situs warisan budaya, taman kanak-kanak dan sekolah) yang dapat dan memiliki potensi untuk mendukung pertukaran antarbudaya, dapat belajar dan berdialog melalui kegiatan seni dan budaya.

Beberapa perkembangan terjadi juga dalam konteks Uni Eropa. Pada tahun 2006, selama Kepresidenan Austria dari Dewan Uni Eropa, sebuah konferensi internasional diselenggarakan dengan   mata pelajaran  Mempromosikan “Cultural Education in Europe" (Austrian Presidency of the EU 2006). Konferensi ini didahului dengan pertemuan dari “European Network of Civil Servants (Jaringan Pegawai Negeri Sipil) di Bidang Pendidikan, Seni dan Budaya yang memberitahukan tentang glossary (istilah) dimaksudkan untuk membangun landasan bersama untuk definisi 'pendidikan budaya' dan istilah terkait lainnya).

Pada bulan Mei 2007, Komisi Eropa juga menghasilkan hubungan dan agenda Eropa untuk budaya di dunia global (Komisi Eropa 2007). Komunikasi itu menghasilkan rekomendasi 'mendorong pendidikan seni dan partisipasi aktif dalam kegiatan budaya di uni Eropa dengan tujuan untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi'. Resolusi tersebut diikuti oleh Rencana Kerja Kebudayaan 2008-10 (Dewan Uni Eropa 2008). Komisi mengakui pentingnya budaya dan kreativitas dengan menunjuk tahun 2008 sebagai Tahun Dialog Antarbudaya Eropa dan tahun 2009 sebagai Tahun Kreativitas dan Inovasi (Figel, Yan, 2009)

Resolusi Dewan 2007 juga memperkenalkan metode baru dari  “Open Method of Coordination” (OMC) di bidang kebudayaan. Dalam kerangka OMC ini, dibentuklah kelompok kerja sinergi antara budaya dan pendidikan untuk mempromosikan kata kunci dari 'kesadaran ekspresi dan budaya'. Kelompok kerja dituntut untuk memvalidasi praktik terbaik, dan membuat rekomendasi untuk inisiatif baru untuk mempromosikan kerjasama antara budaya dan pendidikan (termasuk pendidikan seni)  termasuk pada pemerintahan anggotanya.

Pada bulan Maret 2009, Parlemen Eropa mengeluarkan resolusi tentang Studi Artistik di Uni Eropa (Parlemen Eropa 2009). Rekomendasi utamanya termasuk: pendidikan seni harus wajib di semua tingkat sekolah; mengajar seni harus menggunakan informasi dan komunikasi teknologi terbaru; pengajaran sejarah seni harus melibatkan pertemuan dengan seniman dan kunjungan ke tempat-tempat budaya. Dalam rangka untuk membuat kemajuan pada isu-isu ini, resolusi menyerukan pengawasan yang lebih besar dan koordinasi pendidikan seni di tingkat Eropa, termasuk pemantauan atas dampak dari pengajaran seni dan kompetensi siswa di Uni Eropa (Figel, Yan, 2009).[3])

Selain perkembangan utama dalam kerja sama internasional dan Eropa, telah ada sejumlah inisiatif konferensi yang lebih kecil, beberapa di antaranya telah menyebabkan perubahan dalam kebijakan seni dan pendidikan budaya. Salah satu konferensi tersebut termasuk adalah yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan di Belanda pada tahun 2001, yang penting bagi  isi dan posisi seni dan pada pendidikan budaya di sekolah menengah Eropa (Cultuurnetwerk Nederland 2002), kemudian Simposium Internasional Eropa tentang Pendidikan Seni ([4]), dan konferensi internasional mengenai budaya kaum muda, pendidikan, kewarganegaraan dan pendidikan guru yang diselenggarakan oleh Flemish Ministry of Education and the Dutch (Kementerian Flemish Pendidikan dan Belanda) dan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu bertepatan dengan Tahun Kreativitas dan Inovasi ([5]).

Pada saat yang sama, tiga badan-badan internasional yang mewakili pendidik seni drama / teater,  seni rupa dan musik bersama-sama untuk membentuk aliansi dunia (International Society for Education through Art 2006) (Masyarakat Internasional untuk Pendidikan melalui Seni 2006). Mereka dihimbau UNESCO untuk membuat pusat pendidikan seni untuk agenda dunia dan untuk  pengembangan diri manusia yang berkelanjutan serta transformasi sosial.

Inisiatif lain diambil oleh Asosiasi Européenne des conservatoires, akademi de Musique et Musikhochschulen (AEC). AEC telah mengumpulkan informasi pada sistem nasional untuk pelatihan musik profesional selama beberapa tahun. Situs web [6]) mereka terutama hasil dari 'Polifonia' dan proyek 'Mundus Musicalis'.

Beberapa Pertanyaan tentang Pendidikan Seni di Eropa

Menurut Figel, Yan (2009) ada sejumlah kecil pertanyaan yang penting tentang pendidikan seni di Eropa. Dari pertanyaan ini dapat dilihat permasalahan dan tema-tema penting yang dapat dibandingkan dan dilihat perbedaannya dengan perkembangan yang ada di Indonesia.  Tentu saja dari persamaan dan perbedaan ini dapat dilihat masing-masing kelemahan dan dan kebaikannya. Beberapa pertanyaan itu adalah berikut ini.
·  Apakah semua negara di Eropa memiliki bobot kurikulum seni yang sama? Dan dimana tempat seni dalam kurikulum nasional mereka?
Hampir semua penelitian tentang kurikulum pendidikan  menegaskan bahwa adanya hirarki dalam kurikulum, yaitu dimana pelajaran membaca, menulis dan berhitung diprioritaskan. Dan terlihat pula bahwa prioritas pendidikan seni di sekolah-sekolah di Eropa  memprioritaskan terutama seni rupa dan musik, ketimbang  seni yang lain  (seperti drama dan tari). Hal ini dapat dimengerti karena seni rupa dan musik mewakili dua jenis seni yang menggunakan penglihatan dan pendengaran manusia (Figel, Yan, 2009).

 Sebuah survei dari pendidikan seni di Eropa (Robinson 1999) ([7]) berlangsung sebagai bagian dari inisiatif Dewan Kebudayaan, Kreativitas dan Kaum Muda Eropa.[8] Studi ini menemukan bahwa semua pernyataan kebijakan nasional tentang pendidikan secara rutin menekankan pentingnya dimensi budaya dan kebutuhan untuk mempromosikan kemampuan artistik dan kreatif dari orang-orang muda. Dalam praktiknya, status dan penyediaan seni dalam pendidikan kurang menonjol. Disiplin utama yang diajarkan adalah seni rupa dan musik. Dalam sebagian besar sistem nasional, seni adalah wajib dalam pendidikan dasar dan selama dua atau tiga tahun pertama dari pendidikan menengah.

Di luar titik ini, hampir secara universal, seni adalah opsional (pilihan). Dalam semua kasus yang diperiksa, seni memiliki status lebih rendah dari matematika dan ilmu pengetahuan lainnya. Bahkan di beberapa negara, ada upaya untuk mengurangi ketentuan yang ada untuk seni dalam kurikulum, sebaliknya mendukung mata pelajaran yang dianggap lebih relevan dengan keberhasilan ekonomi atau akademis.  

Temuan serupa juga dilaporkan dalam studi internasional dari (Sharp dan Le Metais 2000; Taggart et al 2004.).[9])

Dua pendekatan utama untuk membingkai seni dalam dokumen  nasional negara-negara Eropa,  yang dapat di diidentifikasi:

(1) adalah domain seni generik (juga disebut 'kawasan terpadu') atau mata pelajaran yang terpisah. Salah satu kekhawatiran tentang pendekatan berbasis  mata pelajaran  adalah tempat drama dan tari, yang sering dimasukkan dalam bidang studi lainnya, misalnya pendidikan olah raga. Secara khusus, diakui bahwa mungkin sulit untuk mempromosikan adanya kualitas ekspresif tari dalam area  mata pelajaran  yang difokuskan pada latihan fisik dan olahraga.

(2) Taggart et al. (2004) menemukan bahwa pelajaran seni rupa dan musik adalah bagian pelajaran wajib di semua 21 negara Eropa yang disurvei. Sekitar setengah dari negara/negara yang disurvei di Eropah, dimana murid diminta untuk mempelajari satu atau lebih disiplin ilmu seni sampai usia 16 tahun. Negara-negara lainnya memerlukan agar muridnya mempelajari seni sampai usia 14, atau mengikuti mata pelajaran kesenian sebagai mata pelajaran pilihan atau sukarela terutama siswa yang lebih tua.

Status relatif rendah yang diberikan kepada subyek seni tercermin dalam relatif kurangnya perhatian, penilaian dan pemantauan standar dalam mengajar seni di Eropa (Bamford 2006; Taggart et al 2004.). Hasil penelitian juga menyorot dan khawatir tentang alokasi waktu yang resmi untuk pendidikan seni, demikian juga waktu yang disediakan di sekolah-sekolah, yang umumnya tidak cukup ruang untuk penyajian kurikulum seni yang luas dan seimbang (Robinson 1999; Sharp dan Le Metais 2000; Taggart et al 2004.). Kurangnya waktu, ruang dan sumber daya telah diidentifikasi sebagai faktor kunci menghambat keberhasilan pendidikan seni (Bamford, 2006).  
· Apa tujuan dari pendidikan seni? Apakah semua tujuan telah diberi bobot yang sama?  
Ada peningkatan tekanan pada pendidikan seni untuk memenuhi berbagai tujuan, di samping mengajar tentang seni. Sistem pendidikan semakin menyadari pentingnya mengembangkan kreativitas anak-anak dan memberikan kontribusi untuk pendidikan budaya, tetapi belum tentu bagaimana sebenarnya seni yang diharapkan dapat memberikan kontribusi secara baik sebagai subyek individu atau dengan bekerja dengan bidang kurikulum lainnya.

 Taggart et al. (2004) menemukan bahwa hampir semua dari 21 negara/negara bagian dalam studi internasional mereka memiliki tujuan yang sama untuk kurikulum seni. Dalam hal ini juga termasuk bagaimana: mengembangkan keterampilan artistik, pengetahuan dan pemahaman, serta keterlibatannya dengan berbagai-bentuk seni; peningkatan pemahaman budaya; berbagi pengalaman seni; dan membedakan konsumen seni dan kontributor. Disamping hasil artistik, ada juga hasil karakter pribadi dan sosial seperti kepercayaan, harga diri, ekspresi individu, kerja tim, pemahaman antar budaya serta partisipasi budaya yang diharapkan dari pendidikan seni di sebagian besar negara.

Secara khusus, perhatian pada aspek kreativitas ada kaitannya dengan aspek inovasi dan pendidikan budaya yaitu dalam kaitannya dengan identitas individu dan pemahaman antar budaya, jadi jelas ada kaitannya dengan tujuan pendidikan seni secara umum. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan dari kurikulum seni untuk memenuhi tujuan yang beragam dan luas tersebut.

Analisis tujuan dari seni dan kurikulum pendidikan budaya umumnya didasarkan pada studi internasional, yaitu mengenai  tujuan kurikuler seni dan pendidikan budaya (Sharp dan Le Metais 2000). Namun demikian, ada kategori baru yang ditambahkan dalam hal ini dalam rangka untuk lebih mencerminkan isi dari seni dan kurikulum pendidikan budaya di negara-negara Eropa yang bersangkutan [10]). Diantara tujuan itu adalah sebagai berikut:

1)       keterampilan artistik, pengetahuan dan pemahaman
2)       apresiasi kritis (penilaian estetik)
3)       warisan budaya (identitas nasional, budaya lokal)
4)       keragaman budaya (identitas  eropa/ kesadaran dunia)
5)       ekspresi individu / identitas diri / pengembangan diri
6)       kreativitas (imajinasi, pemecahan masalah, mengambil resiko)
7)       keterampilan sosial / kelompok kerja / sosialisasi / kerja sama
8)       keterampilan komunikasi
9)       kenikmatan / kesenangan / kepuasan / kebahagiaan
10)   ragam dan keragaman seni; terlibat dengan berbagai bentuk seni / media
11)   pagelaran/penyajian/pertunjukan (berbagi karya artistik antar teman sendiri)
12)   kesadaran lingkungan / konservasi / keberlanjutan / ekologi
13)   percaya diri / harga diri
14)   belajar seni dan seumur hidup/ soal interesting
15)   mengidentifikasi potensi seni (aptitude / bakat)

Hasil penelitian (Figel, Yan, 2009) memperlihatkan bahwa enam pertama  dari tujuan belajar seni sebagaimana dimaksud daftar di atas ditemukan di hampir di semua kurikulum pendidikan seni dan budaya di Eropah. Yaitu tujuan pembelajaran seni yang cukup tegas terhubung dengan tujuan pendidikan seni umumnya. Semua kurikulum mengacu pada 'keterampilan artistik, pengetahuan dan pemahaman. Dari enam tujuan, setidaknya lima negara Uni Eropa menyebutkan ktreatifitas tidak termasuk dalam tujuan pembelajaran seni  mereka.

1. Keterampilan artistik, yaitu pengetahuan dan pemahaman, secara umum, dimana keterampilan membentuk dasar dari 'bahasa artistik' (seperti pemahaman warna, garis dan bentuk dalam  seni rupa atau, dalam musik, mendengarkan dan prestasi keterampilan menggunakan instrumen). Pengembangan keterampilan artistik cenderung mencakup belajar gaya artistik dan genre yang berbeda. Dalam hal itu, beberapa negara mengacu pada repertoar karya tertentu, khususnya untuk musik dan drama. Pemahaman tentang aspek artistik biasanya cenderung berfokus pada konsep artistik, seperti memahami karakteristik berbagai cara ekspresi seni atau ungkapan seni yang terkait dengan hubungan antara  seniman dengan lingkungan, fisik, karya, dan sosial budaya.

2. Apresiasi kritis adalah di antara enam tujuan yang paling sering disebut. Hal yang terkait dengan meningkatkan kesadaran murid dari fitur penting dari suatu karya atau prestasi dan untuk mengembangkan kapasitas mereka untuk penilaian kritis dalam mengevaluasi pekerjaan mereka sendiri atau orang lain.

3. Warisan Budaya. Hampir semua negara mementingkan  pemahaman tentang warisan budaya. Dalam beberapa kasus, tujuan yang terhubung dengan penciptaan identitas budaya: belajar bentuk-bentuk budaya berupaya untuk mengembang kan pemahaman diri sebagai warga negara suatu negara atau anggota suatu kelompok negara/budaya. Pemahaman warisan budaya dipromosikan melalui kontak dengan karya seni, serta melalui pembelajaran karakteristik karya seni yang dihasilkan dalam periode sejarah negara masing-masing yang berbeda dan seniman tertentu yang berbeda.

4. Pemahaman keanekaragaman budaya, bertujuan umum bagi sebagian besar tujuan kurikulum dan belajar seni dan budaya. Promosi keragaman budaya melalui seni juga berupaya untuk meningkatkan kesadaran warisan budaya dan genre modern yang spesifik untuk berbagai negara dan kelompok-kelompok budaya (kadang-kadang dengan referensi khusus untuk budaya Eropa).

5-6. Perkembangan ekspresi individu dan pengembangan kreativitas adalah dua tujuan yang sangat luas lainnya, meskipun yang terakhir disebut di negara-negara yang sedikit lebih sedikit. Perkembangan ekspresi individu anak-anak dengan cara seni berhubungan erat dengan ungkapan emosional mereka. Biasanya terhubung dengan semua bentuk seni tetapi khususnya dengan seni rupa.
Pengembangan kreativitas dapat didefinisikan sebagai pengembangan kapasitas individu untuk berpartisipasi dalam kegiatan imajinatif, produk yang akan ditandai dengan orisinalitas dan nilai (Robinson 1999). Meskipun hubungannya dengan perkembangan ekspresi individu itu jelas, pengembangan kreativitas cukup berbeda dan dianggap sebagai jenis yang terpisah dari tujuan artistik.

7. Ketrampilan sosial. Tujuan umum yang paling sering disebut adalah 'pengembangan keterampilan sosial': hal ini diidentifikasi oleh 26 kurikulum negara-negara di Eropa. Umumnya, bahwa tujuan lebih khusus terkait dengan seni pertunjukan, dalam drama tertentu.

8. Harga diri. Yang paling dikutip adalah pengembangan diri kepercayaan  atau harga diri' dengan cara berpartisipasi dalam kegiatan seni: hanya 15 kurikulum (negara Uni Eropa) menyebutnya. Perkembangan 'kesenangan /kepuasan' dan 'keterampilan komunikasi' adalah tujuan yang terkandung di hampir jumlah yang sama kurikulum (23 dan 24, masing-masing negara Uni Eropa). Yang pertama adalah umum untuk semua bentuk seni, sedangkan pengembangan kedua melalui seni terutama terkait dengan seni pertunjukan (musik, drama dan tari) serta seni media.

9. Kesadaran Sosial, 'meningkatkan murid' atas kesadaran lingkungan mereka'adalah tujuan yang ditemukan dalam 20 kurikulum seni Uni Eropa. Yaitu mencapai tujuan yang memerlukan apresiasi dari lingkungan fisik, pemahaman tentang asal-usul bahan yang digunakan dalam seni dan tanggung jawab untuk konservasi ekologi.

10. Pagelaran  Seni. Di antara tujuan pembelajaran / hasil yang tegas terhubung dengan seni yang cukup spesifik, paparan berbagai pengalaman dan berbagai sarana ekspresi seni dan keterampilan dalam melakukan atau menyajikan suatu karya adalah tujuan yang paling sering disebut dalam kurikulum (22) dan yang umum semua bentuk seni.

11. Pengembangan Bakat. Dalam kategori yang sama, dua tujuan yang yang paling sering disebut adalah 'mengembangkan minat seumur hidup dalam seni', dengan kata lain, mendorong siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan seni ekstrakurikuler dan mempertahankan bahwa minat sepanjang hidup mereka (15 merujuk untuk itu), dan terutama' mengidentifikasi potensi potensi /bakat', yang didefinisikan oleh hanya 6 kurikulum di Uni Eropa.

Selain tujuan belajar yang diidentifikasi sebagai bagian dari seni dan kurikulum budaya, ada juga tujuan belajar dalam kurikulum secara keseluruhan yang bisa dihubungkan dengan seni dan pendidikan budaya. Di satu sisi, beberapa kurikulum mengacu pada tujuan spesifik mendorong link lintas-kurikuler antara  mata pelajaran  seni dan mata pelajaran lain.

Di sisi lain, meski tidak harus menyebutkan link lintas-kurikuler, di sejumlah negara ada unsur kurikulum keseluruhan yang berhubungan dengan kreativitas serta seni dan pendidikan budaya. Ini juga indikator potensi lintas-kurikuler seni dan pendidikan budaya. Elemen seperti dari kurikulum keseluruhan meliputi referensi untuk kreativitas, warisan budaya, keragaman budaya, pengembangan ekspresi individu dan identitas, berbagai pengalaman artistik dan sarana ekspresi, keterampilan sosial, kerja kelompok dan kepentingan untuk berpartisipasi dalam kegiatan budaya.
·      Bagaimana guru dipersiapkan untuk mengajar seni ? Bagaimana sistem pendidikan memantau standar pengajaran dalam seni di Uni Eropah?
Sebagai hasil penelitian Bamford (2006) [11] menunjukkan, banyak sistem pendidikan bergantung pada guru generalis (guru umum) untuk mengajar mata pelajaran seni, terutama untuk anak-anak muda.

Mengajar seni untuk standar yang tinggi bagi guru umum sebenarnya cukup menantang, sehingga tidak mengherankan untuk menemukan bahwa ada guru utama seni dan kurangnya kepercayaan khususnya dalam mengajar seni (Taggart et al. 2004).

Oleh karena itu akan muncul kebutuhan untuk mempertimbangkan baik persiapan awal guru untuk mengajar mata pelajaran seni dan pengaturan untuk pengembangan bagi profesional berkelanjutan, untuk memungkinkan guru seni untuk memperbarui pengetahuan dan mengembangkan keterampilan mereka.  

Pengaturan untuk kualitas pemantauan mengajar dalam seni telah mendapat sedikit perhatian dalam studi penelitian terbaru, meskipun ada sering referensi kekhawatiran tentang variabilitas standar dan kebutuhan untuk memberikan pengalaman belajar yang berkualitas tinggi di sekolah (Bamford 2006; Robinson 1999; Sharp dan Le Metais 2000; Taggart et al 2004).

Robinson (1999) menyoroti masalah struktural yang menghambat perkembangan pendidikan seni yang mengikat di sekolah-sekolah umum. Dimana tanggung jawab pemerintah untuk seni dan pendidikan sering dibagi antara dua atau lebih departemen yang terpisah dari pendidikan dan kebudayaan, dan kadang-kadang pemuda dan olahraga, yang dapat membuat sulit untuk mencapai pemahaman bersama tentang kebutuhan dan prioritas pendidikan seni di Uni Eropa. 
·      Adanya kesempatan ekstra-kurikuler dalam pembelajaran seni dan budaya, tetapi bagaimanakah caranya?  
Akses anak-anak untuk seni dan pengalaman budaya seperti kunjungan ke museum di Eropa telah menjadi penting, terutama karena sekolah memiliki potensi untuk memperbaiki ketimpangan dengan menyediakan akses ke sumber daya budaya untuk anak-anak dari latar belakang yang kurang beruntung (lihat Robinson 1999; Sharp  dan Le Metais 2000).  
·      Apakah seniman profesional yang terlibat dalam pendidikan seni, dan jika demikian, bagaimana?
Keterlibatan seniman profesional dalam pendidikan seni telah direkomendasikan dalam beberapa penelitian (Bamford 2006;  Robinson 1999;  Sharp dan Le Metais 2000). Alasan utama yang diberikan untuk ini adalah: untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan pembelajaran seni, mendorong kreativitas yang lebih besar, meningkatkan keterampilan dan kepercayaan diri guru, dan menyediakan akses ke jangkauan yang lebih luas dari sumber daya budaya. Bamford (2006) mengidentifikasi hubungan antara kualitas pendidikan seni dan keterlibatan seniman profesional: 'kualitas pendidikan seni cenderung ditandai dengan kemitraan yang kuat antara sekolah dan seni luar dan organisasi masyarakat. Untuk saat ini, kita tahu relatif sedikit tentang sifat dan tingkat sistem nasional untuk memungkinkan kemitraan semacam ini.
·      Bagaimana seharusnya kurikulum seni menanggapi perkembangan teknologi baru, media baru ?
Studi penelitian (Bamford 2006; Sharp dan Le Metais 2000;. Taggart et al 2004) telah menyoroti tekanan untuk pengembangan kurikulum dalam seni di21, abad ini untuk memasukkan studi media baru (termasuk film, fotografi dan seni digital) yang memungkinkan siswa untuk menggunakan Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai bagian dari proses kreatif. Ada juga tren yang muncul untuk bekerja  lintas-kurikuler, yang melibatkan seni dan pelajaran lainnya (non-seni) dimana beberapa bidang studi bekerja sama dalam tema kreatif dan/atau budaya.
Perkembangan semua ini tentu akan memberikan tuntutan baru pada guru dan sekolah yang membutuhkan pengarahan dari pimpinan dan dukungan di tingkat kebijakan.

Fokus dan Ruang Lingkup dari Studi Pendidikan Seni

Studi ini mencakup maksud dan tujuan dari pendidikan seni, termasuk informasi pada penilaian murid dan pendidikan guru dalam seni. Dalam membahas ini, penulis dan kontributor bertujuan untuk menyediakan informasi yang berguna bagi pengambil keputusan dan pemangku kepentingan.
Fokus utama dari buku ini adalah pada pendidikan seni, meskipun beberapa informasi tentang pendidikan budaya dan kreatif yang berkaitan dengan pendidikan seni juga dapat ditemukan dalam pembahasannya. Ketika penelitian menganggap pendidikan budaya dan kreativitas, ini yang penting dalam kurikulum seni: cakupan menjadi terbatas dalam kaitannya dengan konten lintas-kurikuler berfokus pada pengembangan kreativitas atau mengajar tentang warisan budaya yang sebenarnya di luar bidang seni. Namun hal inilah yang terjadi sekarang di Indonesia, dimana seni dan budaya di satukan, sehingga tidak jelas lagi batas-batasnya
.
Jika kita lihat tradisi Eropah, maka yang disebut seni  difokuskan pada seni visual, musik, drama, tari, seni media dan kerajinan. Sastra (misalnya fiksi dan puisi) tidak termasuk dalam kajian seni secara umum, walaupun sastra juga bagian dari seni. Karena biasanya merupakan bagian dari studi bahasa 'sehari-hari' di negara-negara Eropa. Tradisi Eropah juga memasukkan arsitektur sebagai bagian dari pembahasan seni, walaupun dalam proses pembuatannya melibatkan berbagai masalah keteknikan.
Beberapa istilah yang dipakai untuk membahas pendidikan seni ini adalah sebagai berikut.

o    Seni rupa: adalah seni dua dimensi, seperti melukis dan menggambar dan seni tiga dimensi, seperti patung.
o    Musik: yaitu memainkan musik, komposisi dan apresiasi musik (dalam arti kritis).
o    Drama: yaitu tampilan drama, bermain-menulis  drama dan apresiasi drama.
o    Tari: yaitu pertunjukan tari, koreografi dan apresiasi tari.
o    Seni melalui Media: yaitu elemen artistik dan ekspresif media seperti fotografi, film, video dan animasi komputer.
o    Kerajinan: elemen seni dan budaya kerajinan, seperti seni tekstil, tenun dan pembuatan perhiasan.
o    Arsitektur: seni merancang bangunan; pengamatan, perencanaan, dan membangun imaji ruang.
Pendidikan seni ini umumnya di laksanakan di 30 negara-negara Uni Eropa[12] yang merancang berbagai versi kurikulum pendidikan seni di sekolah-sekolah umum.  

Menurut (Figel, Yan, 2009) sekolah seni spesialis terutama dipentingkan di negara-negara Eropah khususnya di Bulgaria, Yunani, Rumania dan Slovakia. Selain itu, ada sekolah-sekolah seni yang dikelola dan didanai oleh otoritas publik yang tertutup. Namun, Belgia, Irlandia dan Belanda ada sekolah seni yang dikelola swasta yang bekerjasama dengan pemerintah, atau pengecualian untuk ini.
Sekolah swasta umumnya mendapat hibah dan dibantu di tiga negara ini, karena mereka dianggap memiliki murid yang banyak. Selain itu, di Belanda, pendanaan pendidikan swasta dan publik sama kedudukannya dalam konstitusi. Rincian lebih lanjut tentang pendidikan seni di masing-masing negara yang tersedia di situs Eurydice (www.eurydice.org).

Posisi Guru Seni dalam Pendidikan Umum

Sebagian besar negara memiliki  praktik yang berbeda mengenai tingkat spesialisasi guru seni dalam pendidikan tingkat dasar (ISCED 1) di satu sisi, dan di tingkat pendidikan menengah (ISCED 2) di sisi lain.[13] Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.1 dan 1.2, guru generalis cenderung mengajar seni di tingkat primer (meskipun sekolah bebas memilih sebaliknya di beberapa negara), sedangkan guru spesialis biasanya digunakan untuk mengajar mata pelajaran seni di tingkat menengah.
Mayoritas negara-negara mempekerjakan guru generalis untuk mengajar mata pelajaran seni dalam pendidikan dasar. Namun demikian, di beberapa negara, baik sekolah memiliki pilihan mempekerjakan guru seni spesialis, atau mata pelajaran seni tertentu (kebanyakan musik) terutama diajarkan oleh guru spesialis. Di Yunani, musik sering diajarkan oleh guru musik spesialis, sementara  praktik ini jarang dalam kasus  seni rupa dan teater dan tergantung pada beban kerja guru spesialis. Di Spanyol, sementara aturan adalah memiliki guru generalis mengajar seni (drama,  seni rupa dan tari), musik diajarkan oleh guru musik spesialis. Di Liechtenstein, guru spesialis mengajar tekstil.


Gambar 1.1 Guru Spesialis dan guru umum (ISCED 1)  di negara Uni Eropa 2007/2008 . Sumber: Eurydice website (www.eurydice.org).  

Di Irlandia, meskipun tidak ada kebijakan khusus Departemen Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan dalam pendidikan seni, ada sejumlah kecil sekolah yang mempekerjakan guru spesialis untuk drama dan musik. Di Lithuania, orang tua dapat meminta untuk memiliki guru spesialis mengajar baik seni, drama, musik atau tari di sekolah dasar. Di Hungaria, guru biasanya generalis mengajar di pendidikan dasar (ISCED 1), tapi sekolah lebih besar dapat mempekerjakan guru spesialis. Di Finlandia, sekolah memiliki pilihan mempekerjakan guru kelas semi-khusus (guru generalis yang juga memenuhi syarat untuk mengajar mata pelajaran tertentu pada tingkat menengah) atau guru spesialis di tingkat primer. Semakin tinggi kelas, semakin sering itu adalah guru spesialis yang mengajar mata pelajaran seni; namun ada situasi bervariasi dari sekolah ke sekolah.

Di Inggris misalnya (Inggris, Wales dan Irlandia Utara), meskipun guru sekolah dasar dilatih untuk mengajar semua mata pelajaran dalam kurikulum, dan adanya penyebaran staf urusan sekolah. Sekolah dapat memilih untuk mempekerjakan guru spesialis untuk mata pelajaran seni, sehingga waktu guru kelas untuk tugas-tugas lain seperti perencanaan dan persiapan dapat dimantapkan.  
Dalam kelompok lain dari negara, divisi utama adalah antara 3-4 tahun pertama pendidikan dasar dan bagian kedua dari pendidikan wajib umum, bukan antara pendidikan dasar dan menengah. Di negara-negara ini, guru generalis mengajar mata pelajaran seni dalam beberapa tahun pertama pendidikan dasar, sedangkan guru spesialis bekerja setelah itu. Negara-negara di mana pola ini berlaku adalah Polandia, Portugal dan Islandia.

Di Estonia, tidak ada pembagian tegas antara tingkat dasar dan tingkat menengah pendidikan. Biasanya guru generalis mengajar dalam 3 tahun pertama, namun sekolah dapat memutuskan untuk mempekerjakan guru spesialis dari awal, terutama dalam musik.

Di tiga negara, hanya guru spesialis atau semi-spesialis yang mengajar seni di semua tingkatan, termasuk tingkat dasar pendidikan. Guru semi-spesialis di negara-negara Denmark Jerman dan Latvia dan Malta memiliki sistem yang berbeda, dimana guru seni bergerak yang mengkhususkan diri hanya dalam salah satu  mata pelajaran  seni dan mengunjungi semua sekolah negeri primer secara teratur dan memberikan pelajaran kepada siswa.

Guru kelas (umum) mungkin hadir saat pelajaran seni, hal  ini terjadi jika mereka memiliki komitmen dengan sekolah lainnya.

Ada guru yang spesialis untuk drama, seni visual, musik dan pendidikan jasmani (dimana seni tari di Eropah merupakan bagian dari pendidikan jasmani). Namun demikian, mata pelajaran seni mungkin juga diajarkan oleh guru generalis (guru kelas) yang kadang-kadang dipandu oleh guru spesialis.  
Akhirnya, di beberapa negara Uni Eropa, tidak ada peraturan umum tentang siapa yang dapat mengajar mata pelajaran seni di pendidikan dasar (sekunder atau lebih rendah), dan ada juga ada pola umum seperti dalam kasus negara-negara yang dibahas di atas (misalnya Belanda). Di Bulgaria, guru generalis dan guru spesialis dapat mengajar mata pelajaran seni, tergantung pada sekolah masing-masing. Ada situasi yang sama di Komunitas Flemish-Belgia (Flemish Community of Belgium), Swedia dan Norwegia. Dalam Komunitas Flemish-Belgia, karena tujuan utama dari pendidikan seni di tingkat utama adalah agar siswa belajar dan menemukan diri mereka sendiri, guru seni biasanya bukanlah seniman spesialis.  

Di hampir semua negara, guru spesialis dipekerjakan untuk mengajar mata pelajaran seni di pendidikan menengah yang lebih rendah. Ada beberapa pengecualian, namun. Misalnya, di Austria, sementara guru spesialis seharusnya mengajar mata pelajaran seni di kedua sekolah akademik menengah (Allgemeinbildende Höhere Schulen) dan sekolah menengah umum (Hauptschulen), dalam  praktik nya hal ini tidak selalu terjadi di sekolah menengah umum.
Dalam kasus terakhir ini, guru spesialis kadang-kadang mengajarkan mata pelajaran tetapi mereka tidak memiliki pelatihan tambahan. Selain itu, seperti yang disebutkan di atas, ada beberapa negara di mana tidak ada peraturan umum yang mengajar seni di ISCED 2, dan informasi mengenai pola umum tidak tersedia.

Gambar 1.2 Guru Seni pada di tingkat pendidikan menengah (ISCED 2) Uni Eropa 2007/2008. Sumber: Eurydice website (www.eurydice.org).  

Negara-negara yang bersangkutan adalah Komunitas Flandria Belgia, Bulgaria, Swedia dan Norwegia. Namun demikian, di Komunitas Flemish-Belgia, meskipun kedua guru generalis dan guru spesialis bisa mengajarkan seni pada tingkat ini, dalam  praktik nya sebagian besar sekolah mempekerjakan guru spesialis untuk tujuan ini.

Keterampilan dan Kualifikasi Guru Seni

Pendidikan dan pelatihan guru seni, sama dengan guru-guru yang lainnya, dan dapat dianggap dalam dua tahap: pendidikan guru awal (dengan demikian pendidikan sebelum memperoleh status guru) dan pengembangan guru profesional. Selama fase awal, calon guru seni menerima pelatihan dalam mata pelajaran seni yang berbeda; atau, dalam kasus guru spesialis, mereka menerima pelatihan dan kualifikasi dalam satu atau dua bidang studi tertentu. Selain itu, dalam banyak kasus, guru seni calon juga menerima pelatihan guru profesional. Pendidikan guru awal adalah di bawah transformasi di banyak negara karena reformasi beragam dan Proses Bologna[14]); Oleh karena itu, informasi yang diberikan di bawah ini dapat berubah.

Guru generalis biasanya dilatih dalam mata pelajaran seni sebagai bagian dari pelatihan guru profesional mereka. Dalam kasus guru seni spesialis, mereka mengalami praktik seni yang berbeda. Untuk menjadi seorang guru seni spesialis, calon guru di sebagian besar negara harus memiliki gelar Master dalam  mata pelajaran  seni (seni visual, musik, dll) Bachelor atau dan harus menyelesaikan studi profesi khusus seni tertentu.

Pelatihan guru dapat dilakukan sesuai dengan baik dengan (1) model bersamaan atau (2) model berurutan. Model bersamaan adalah pilihan yang berlaku atau hanya di Denmark, Jerman dan Polandia. Negara-negara di mana pendidikan guru spesialis di bidang seni cenderung mengikuti model berurutan adalah Estonia, Perancis, Italia, Luksemburg, Finlandia dan Inggris (Inggris, Wales dan Irlandia Utara).

Dalam Komunitas berbahasa Jerman dari Belgia, hanya ada satu lembaga pendidikan guru generalis; guru spesialis dilatih terutama di Komunitas Perancis Belgia. Tidak ada lembaga pendidikan guru di Liechtenstein; Oleh karena itu, semua guru seni dilatih di negara-negara tetangga (kebanyakan di Swiss dan pada tingkat lebih rendah di Austria). 

Di negara-negara Eropa lainnya ada dua rute utama yang tersedia untuk menjadi seorang guru seni spesialis: (1) siswa yang mempelajari seni di lembaga-lembaga pendidikan tinggi khusus atau fakultas (misalnya di fakultas seni rupa, akademi seni atau konservatorium) dan kemudian berpartisipasi dalam pelatihan guru profesional, atau (2) mereka mempelajari seni sebagai bagian dari pelatihan guru profesional mereka (misalnya di fakultas pendidikan).

Misalnya, di Siprus, guru seni spesialis yang mengajar di sekolah dasar mempelajari seni sebagai bagian dari pelatihan guru mereka, sementara mereka bersiap-siap untuk mengajar di tingkat menengah biasanya menerima gelar sarjana pertama di  mata pelajaran  tertentu.

Di Spanyol, sementara guru musik spesialis yang mengajar di tingkat SD dilatih di perguruan tinggi pelatihan guru, pelatihan guru spesialis di pendidikan menengah mengikuti model berurutan. Di Irlandia, siswa guru spesialis untuk menjadi  seni rupa dapat menyelesaikan gelar sarjana dalam Guru Pendidikan di Seni dan Desain, atau mereka dapat menyelesaikan gelar dalam  seni rupa dan kemudian dapat memperoleh Diploma Pengajar/Pendidikan Seni dan Desain. Demikian pula, di Republik Ceko dan Slowakia, seseorang dapat menjadi guru seni spesialis dalam dua cara: (1) mereka dapat belajar di fakultas pendidikan (sehingga mempelajari seni adalah bagian dari pelatihan guru), atau mereka dapat belajar seni profesional di lembaga pendidikan tinggi Seni dan kemudian menjalani pelatihan pedagogis sebagai unsur tambahan ketrampilan mengajar.

Adanya pedoman atau kerangka kerja nasional ditetapkan untuk pendidikan guru awal guru generalis dan spesialis seni sangat bervariasi di seluruh negara di Eropah. Meskipun biasanya lembaga pendidikan guru yang bertanggung jawab atas isi dari pelatihan, dalam banyak kasus mereka (harus) meliputi topik-topik tertentu atau  mata pelajaran  dalam program mereka. Dalam sebagian besar kasus, baik ada standar nasional atau semua lembaga pendidikan guru memberikan pelatihan serupa. Berikut sub-bagian fokus pada dua domain: pelatihan awal dalam mata pelajaran seni dan pelatihan guru profesional. Sub-bagian terakhir maka akan beralih ke pengembangan profesional berkelanjutan bagi guru seni.

Jenis Seni dalam Pendidikan Guru

Guru generalis yang kemudian juga mengajar seni biasanya adalah guru yang mengajar di pendidikan dasar, mereka lazimnya  menerima pelatihan di lebih dari satu  mata pelajaran  seni.

Di sebagian besar negara, ada program nasional untuk pendidikan dan pelatihan guru generalis atau semua lembaga menawarkan pelatihan serupa. Seperti diilustrasikan dalam Gambar 1.3, semua negara dengan rencana studi nasional (Irlandia, Perancis, Siprus, Lithuania, Hungaria, Malta, Austria, Rumania, Swedia dan Inggris (Skotlandia) atau mereka di latih serupa dengan yang ditawarkan oleh semua lembaga (berbahasa Jerman Komunitas Belgia dan Luksemburg, masing-masing dengan hanya satu lembaga yang menawarkan pendidikan guru generalis, Perancis dan Flemish Komunitas Belgia, Spanyol, Slovenia, Slovakia dan Finlandia) umumnya mereka memiliki  seni rupa dan musik sebagai mata pelajaran wajib.

Sedangkan mata pelajaran Drama adalah wajib di Komunitas berbahasa Jerman dari Belgia, di Irlandia, Malta, Slovenia (sebagai bagian dari bahasa Slovenia), Slovakia, Finlandia, Swedia dan Inggris (Skotlandia).

Tari adalah pelajaran wajib di Komunitas berbahasa Jerman dari Belgia, di Irlandia, Swedia dan Inggris (Skotlandia), dan adalah wajib sebagai bagian dari pendidikan jasmani di Siprus, Malta, Austria, Slovenia dan Finlandia.  Pelajaran seni juga ditawarkan sebagai mata pelajaran opsional di beberapa negara, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.3.  

Di negara-negara di mana mata pelajaran seni tidak wajib, hanya sedikit informasi yang tersedia tentang apakah ada pelatihan guru di sana atau tidak. Di Inggris (Inggris), survei nasional tentang pendidikan seni di sekolah dasar - yang dilakukan pada tahun 2002 dengan partisipasi dari 1 800 sekolah - menemukan bahwa seperlima dari semua guru generalis dalam penelitian ini tidak menerima pelatihan seni sama sekali selama pendidikan awal guru mereka (Downing. 2003).[15])

Mengenai pelatihan guru generalis yang mengajar seni di sekolah dasar, misalnya percobaan pengajaran seni dari proyeks HEARTS (Higher Education, the Arts and Schools) yaitu sebuah proyek diluncurkan pada tahun 2004 di Inggris dengan tujuan memperkuat pelatihan unsur seni TK sampai PT.  Seperti yang dipublikasikan oleh NFER sebagai berikut ini:
“HEARTS (Higher Education, the Arts and Schools) project was established with the intention of strengthening the arts element of initial training of primary school teachers. During the academic years 2004/6, six HEIs were given financial and practical support to introduce new programmes of arts work into their curricula.

Key Findings:
Increased collaborative working was a key outcome of HEARTS for staff in the HEIs. Despite time constraints within the context of initial teacher education, the project demonstrated that there could be greater professional dialogue between tutors, and efforts should be made to enable this more widely.
The current cohorts of student teachers have only studied under the national curriculum and have largely experienced teaching to pre-determined outcomes. They expressed some surprise and even delight that it is possible to enable pupils to explore and find their own creative outcomes.
Trans-disciplinary and cross-curricular learning, with the arts as a central focus, were a feature of all of the HEARTS projects and were examples of how subject areas can come together meaningfully, for both teachers and learners.”

Selama tahun akademik 2004-2006, enam lembaga pendidikan tinggi di Inggris diberi dukungan keuangan dan praktik untuk memperkenalkan program baru seni ini, dan dilaksanakan ke dalam kurikulum mereka. Proyek ini terdiri berbagai kegiatan, beberapa di antaranya keterlibatan seniman profesional.  Proyek semacam ini tidak ada atau belum ada di Indonesia, dimana seniman profesional terlibat dalam pendidikan seni di sekolah-sekolah.

Dalam hal pengembangan profesional  yang berhak adalah lembaga pendidikan lagi tinggi dan lembaga lainnya (budaya) menawarkan program pelatihan yang bertanggung jawab untuk mengundang seniman profesional di sebagian besar negara-negara Eropa.

Di Luxembourg, seniman profesional tidak terlibat dalam pelatihan CPD. Di Siprus, keterlibatan seniman profesional dalam CPD diselenggarakan pada tingkat yang berbeda dalam kasus guru mengajar di ISCED 1 dan ISCED 2. Dalam kasus guru ISCED 1 seni, biasanya kepala sekolah yang mengundang seniman profesional untuk presentasi. Untuk ISCED 2 guru seni, pengawas dari masing-masing  mata pelajaran  dapat mengundang seniman untuk menyelenggarakan lokakarya dan seminar khusus. Di Islandia, CPD merupakan tanggung jawab dari Islandia Academy of Arts yang melibatkan seniman profesional.



Catatan : di Belgia sebagian besar guru dilatih dalam Komunitas Perancis-Belgia; dan pada tingkat yang lebih rendah di latih di Jerman. Spanyol: Rencana studi awal pelatihan guru sekolah dasar generalis (juga diajarkan seni, kecuali seni musik) juga memiliki komponen nasional inti umum untuk semua universitas. Sebuah bagian dari komponen ini adalah suatu subyek dari negara dan compulsory nature disebut 'pendidikan artistik dan didaktik nya'. Selain ini, setiap universitas dapat membentuk  mata pelajaran  lainnya (s) (eithercompulsory atau opsional bagi siswa) yang berkaitan dengan seni. United Kingdom (ENG / WLS /NI): Meskipun tidak ada pusat kurikulum bertekad untuk calon guru, ada are centrally standar yang ditetapkan atau kompetensi yang siswa harus memenuhi agar memenuhi syarat sebagai guru. Ini menentukan bahwa guru harus memiliki pengetahuan yang cukup-rinci  mata pelajaran  / bidang kurikulum mereka untuk memungkinkan mereka untuk mengajar secara efektif. Liechtenstein: guru Calon dilatih sebagian besar di Swiss dan Austria.

Baru-baru ini guru yang berkualitas lebih cenderung memiliki unsur pengetahuan seni setidaknya beberapa seni selama pendidikan guru awal mereka, meskipun dengan jumlah kecil di setiap mata pelajaran seni. Selain itu, meskipun ada tampaknya lebih keahlian yang tersedia dalam mengajar musik dari dalam mata pelajaran seni lainnya, perhatian yang paling luas diungkapkan tentang kekurangan keterampilan mengajar musik.

Setelah survei ini dilakukan, pada tahun 2004, kemudian  diluncurkan proyek (Higher Education, the Arts and Schools) atau HEARTS (Pendidikan Tinggi, Seni dan Sekolah) dengan tujuan memperkuat unsur pelatihan awal seni guru sekolah dasar. Mengenai hal ini lihat di situs ini.[16])

Ada beberapa negara di mana lembaga pendidikan guru yang otonom dan lembaga menawarkan program pendidikan guru yang berbeda: mata pelajaran seni mungkin wajib atau opsional dan mata pelajaran yang berbeda juga dapat dimasukkan.

Informasi tentang sifat wajib atau opsional kursus ini hanya tersedia dalam kasus beberapa negara. Di Estonia,  seni rupa dan musik umumnya hanyalah opsional untuk guru generalis (mereka harus memilih hanya salah satu dari mereka), tetapi pendidikan guru awal untuk guru generalis biasanya mencakup kursus pengantar wajib dalam  seni rupa dan kadang-kadang dalam musik.

Di Islandia, meskipun tidak ada  mata pelajaran  tertentu seni tertentu adalah wajib, siswa yang berpartisipasi dalam pendidikan guru awal untuk guru generalis harus memilih di antara tiga bidang studi: seni visual, musik / drama / tari, dan tekstil / kerajinan.

Demikian pula, di Bulgaria dan Republik Ceko, lembaga pendidikannya meskipun yang tinggi dan otonom tetapi  praktik nya mungkin berbeda, guru generalis calon dapat memilih spesialisasi antara subyek seni. Di Yunani, sementara tidak ada program nasional untuk guru generalis hadir dan calon mengambil   mata pelajaran  seni hanya opsional sejak akhir tahun sembilan puluhan, guru tua yang dilatih sebelumnya memiliki satu atau dua mata pelajaran seni wajib selama masa studi mereka (seni visual, musik, teater atau menari). Di Norwegia, mata pelajaran seni belum wajib sama sekali untuk guru generalis sejak tahun 2003.

Dalam kasus guru spesialis, menunjukkan keterampilan dalam seni tertentu  mata pelajaran  sebelum menjadi seorang guru seni biasanya persyaratan dalam semua model pelatihan potensial. Namun, keterampilan seni biasanya lebih ditekankan dalam model berturut-turut.

Misalnya, di Austria, ada perbedaan dalam pelatihan guru seni spesialis mengajar di sekolah menengah akademik dan di sekolah menengah umum. Guru spesialis mengajar di sekolah menengah akademis biasanya dilatih di perguruan tinggi sesuai dengan model berturut-turut, sedangkan guru mengajar di sekolah menengah umum dilatih di perguruan tinggi pelatihan guru di mana ada lebih fokus pada pedagogi dan kurang pada keterampilan seni. Demonstrasi keterampilan seni tidak diatur secara terpusat di Bulgaria dan Swedia.

Pelatihan Guru Profesional Guru Seni

Pada prinsipnya kedua jenis guru baik yang guru seni generalis dan guru spesialis harus memperoleh keterampilan mengajar profesional yang berhubungan dengan mata pelajaran seni yang diajarkan.
Dengan demikian, di sebagian besar negara, guru seni spesialis, bahkan jika mereka terutama dilatih sebagai seniman (profesional) dalam model berturut-turut, juga perlu menjalani pelatihan guru profesional di beberapa titik. Ini berarti bahwa untuk dapat mengajar di sekolah umum negeri (dan tidak hanya kelas ekstra-kurikuler, di mana seniman profesional dapat terlibat di beberapa negara, misalnya di Yunani, Italia, Finlandia, Slovakia dan Slovenia), seniman profesional harus menyelesaikan pelatihan guru profesional juga.

Pengecualian adalah di Yunani, di mana musisi dengan gelar dari conservatoire dapat mengajar di semua sekolah dasar negeri hari tanpa kualifikasi guru; dan Luksemburg, di mana seniman profesional dengan gelar Master bisa mengajar di sekolah umum;

Di Polandia, di mana seniman profesional dapat mengajarkan dengan persetujuan kepala dinas pendidikan daerah; dan Swedia, di mana sekolah dapat memutuskan sendiri apakah seniman profesional bisa mengajar atau tidak. Namun, di Yunani, dalam rangka meningkatkan jaminan kualitas dalam pendidikan seni, semua guru, termasuk guru seni spesialis harus menjalani ujian kompetitif dikelola oleh Supreme Council for Civil Personnel Selection (Dewan Tertinggi untuk Seleksi Personil Sipil) atau ASEP. Selain itu, sertifikat guru merupakan prasyarat untuk pengangkatan mereka sebagai guru yang berkualitas di sekolah umum.

Beberapa negara (Perancis Komunitas Belgia, Estonia, Irlandia, Latvia, Hungaria, Belanda, Finlandia, dan Islandia) memungkinkan seniman profesional untuk mengajar tanpa kualifikasi mengajar yang diperlukan atau pelatihan guru secara sementara - misalnya, jika ada guru yang berkualitas adalah tersedia.

Namun demikian, dalam kasus ini, seniman profesional biasanya diperlukan untuk menyelesaikan pelatihan guru profesional setelah periode waktu tertentu untuk mendapatkan status permanen. Di Belanda, sebelum memperoleh kualifikasi guru, seniman profesional dapat mengajar berdasarkan apa yang disebut 'Artist in the classroom' certificate ('Seniman di kelas bersertifikat’).
Menurut Mengenai pelatihan guru profesional, bidang-bidang berikut studi dapat dipertimbangkan:
1.      Pengetahuan Perkembangan anak dalam isi kurikulum seni,
2.      Pengetahuan Seni
3.      Pedagogi Seni
4.      Sejarah seni
5.      Pengembangan Ketrampilan Seni Pribadi Calon Guru
6.      Pengetahuan Evaluasi Seni dan penilaian siswa (yang terakhir ini hanya dalam kasus guru seni spesialis).
 Seperti dapat dilihat pada Gambar 1.4 sangat sedikit negara dengan kerangka kerja atau program nasional (lihat daftar di atas) mencakup semua daerah-daerah pedagogis dalam pelatihan wajib mereka untuk guru generalis, tetapi masing-masing hadir dalam rencana studi beberapa negara.

Negara-negara di mana semua lima bidang studi wajib atau disediakan oleh semua lembaga pendidikan guru dalam penyusunan guru generalis adalah Perancis, Lithuania, Austria, Slovakia dan Finlandia. Di Estonia, meskipun lembaga pendidikan tinggi yang otonom, semua guru generalis menerima pelatihan di semua mata pelajaran untuk beberapa derajat.

Negara-negara di mana itu adalah pada   kearifan   lembaga pendidikan guru untuk menentukan isi kurikulum dan lembaga berbeda dalam program pelatihan mereka Flemish Komunitas Belgia, Bulgaria (meskipun pedagogi seni  wajib), Republik Ceko, Yunani, Italia, Belanda, Portugal, Swedia, Islandia dan Norwegia. Di Yunani, semua area yang terdaftar yang ditawarkan sebagai pilihan terpisah di lembaga-lembaga yang berbeda untuk pendidikan guru, tetapi tidak ada lembaga yang menawarkan semua dari mereka.

Di Norwegia, guru generalis tidak diberikan komponen saja didefinisikan terkait dengan seni dalam pelatihan pedagogi, meskipun beberapa daerah dapat dipelajari jika calon guru memilih  mata pelajaran  seni (yang tidak wajib).

Namun demikian, ada ketentuan dalam kurikulum nasional untuk pendidikan guru untuk penyertaan wajib drama sebagai metode pengajaran lintas sektor. Selain itu, program pendidikan guru nasional menetapkan bahwa pendidikan guru harus memberikan kesempatan untuk mengekspresikan, mengembangkan dan mewujudkan potensi estetika mereka calon guru.

Demikian pula, program pendidikan guru awal untuk guru seni spesialis bervariasi tentang sifat wajib atau opsional daerah pedagogis. Gambar 1.5 menggambarkan apakah daerah yang tercantum dibuat wajib oleh kurikulum nasional / ditawarkan oleh semua lembaga pendidikan guru untuk guru seni spesialis di suatu negara, atau lembaga pendidikan tinggi yang otonom dalam menentukan isi pelatihan mereka dan berbeda dalam program mereka.


Gambar 1.4 Area pedagogis untuk guru generalis. Sumber: Eurydice website (www.eurydice.org).  
Lembaga pendidikan guru yang otonom dan tidak memiliki pedoman nasional atau program ada di Belgia, Bulgaria, Republik Ceko, Italia, Belanda, Finlandia, Swedia, Inggris (Skotlandia) dan Islandia. Di Islandia, ada dua lembaga pendidikan tinggi yang menawarkan pendidikan guru dalam mata pelajaran seni, yang dapat merancang kurikulum mereka pada policy   mereka.  


Gambar 1.5 Daerah Pedagogi studi di pendidikan guru awal untuk  seni rupa spesialis dan guru musik, 2007/08

Karena  seni rupa dan musik adalah pelajaran yang paling umum diajarkan di sekolah-sekolah, maka data ini terutama juga menggambarkan bahwa guru seni rupa dan guru musik adalah guru seni yang paling representatif dan paling spesialis [17]) dan mereka mendapatkan pelatihan wajib di bidang pedagogik yang diberikan selama pelatihan guru professional. Namun, beberapa program pelatihan berbeda sesuai dengan bentuk-bentuk seni yang berbeda.

Denmark: dari penilaian murid belum tentu memilih wajib guru musik.
Yunani:  Perkembangan anak dalam seni bukanlah bidang studi dalam kasus guru musik. Selain itu, kurikulum seni adalah bidang studi pilihan bagi guru dan calon guru musik.

Meskipun ada kebebasan bagi lembaga pendidikan tinggi, namun ada beberapa daerah yang mewajibkan guru spesialis dalam kurikulum nasional di sebagian besar negara di Eropah. Namun, sifat wajib yang diberikan itu tidak berarti bahwa calon guru menerima pelatihan komprehensif di daerah-daerah.

Misalnya, di Siprus, meskipun sebagian besar wilayah  tercantum adalah wajib ada program pelatihan guru, di daerah-daerah para guru spesialis akan disuguhi pelatihan yang agak umum dan dangkal. Di Austria, guru spesialis mengajar di sekolah menengah menerima pelatihan lebih mendalam dalam sejarah seni dan seni pengembangan keterampilan pribadi dari guru yang mengajar di sekolah menengah umum itu.

Materi  pedagogis bisa diajarkan dalam fase yang berbeda dari pendidikan guru awal. Di Jerman, misalnya, pedagogi seni, sejarah seni dan pengembangan pribadi keterampilan seni wajib selama fase pertama pelatihan guru; kurikulum seni dan penilaian murid adalah topik utama selama layanan persiapan (pelatihan pedagogi praktis). Di Perancis dan Luksemburg, aspek akademik - misalnya sejarah seni - diajarkan selama studi di universitas, sedangkan daerah lainnya materi ini adalah bagian dari pelatihan guru profesional setelah disebut Concours, atau ujian kompetitif calon guru harus lulus untuk mendapatkan status guru.

Beberapa Kesimpulan

Umumnya tujuan utama dari pendidikan seni cukup serupa di antara semua negara Eropah. Hampir semua negara menyebutkan 'keterampilan artistik, pengetahuan dan pemahaman', 'apresiasi kritis', 'warisan budaya', ‘ekspresi atau identitas individu', 'keragaman budaya', dan 'kreativitas' sebagai tujuan pendidikan seni. Namun, 'seni dan belajar seumur hidup hanya disebutkan dalam 15 kurikulum.

Mungkin penting pula untuk membahas link lintas-kurikuler antara seni dan area lain dari kurikulum. Di satu sisi, umumnya banyak kurikulum seni, tujuannya adalah untuk mengembangkan keterampilan, yang dianggap penting adalah 'mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan komunikasi' dan beberapa diantaranya memiliki tujuan yang spesifik dan mendorong hubungan antara mata pelajaran seni dan lainnya (non-seni). Di sisi lain, secara keseluruhan belajar dan memperoleh kompetensi seni dan budaya diperlihatkan oleh beberapa negara sebagai tujuan pendidikan yang penting.

Konsep kurikulum seni bervariasi antara negara-negara Eropa: di sekitar setengah dari mereka, masing-masing  mata pelajaran  seni diatur terpisah dalam kurikulum (misalnya pemisahan musik, seni visual) sementara di tempat lainnya, mereka disatukan bersama-sama sebagai studi terpadu (misalnya di beri nama 'seni') tetapi isinya adalah musik dan seni rupa.

Luasnya kurikulum seni juga bervariasi, meskipun di semua negara, kurikulum termasuk musik dan  seni rupa dan dalam banyak hal juga termasuk drama, tari dan kerajinan. Seni Media  ditawarkan dalam selusin negara. Arsitektur adalah bagian dari kurikulum seni yang wajib di lima negara
Berbeda dengan sekolah-sekolah di Indonesia. Semua murid di tingkat dasar memiliki beberapa pendidikan seni yang wajib dan setara dengan mata pelajaran matematika.

Hal ini juga terjadi untuk hampir semua di pendidikan menengah yang lebih rendah. Pada tingkat ini, ketika  mata pelajaran  seni tidak wajib, mereka dapat dipilih sebagai pelajaran pilihan.  
Jumlah minimum waktu mengajar wajib untuk dihabiskan pada jumlah pendidikan seni sekitar 50 sampai 100 jam per tahun di tingkat dasar di sekitar setengah dari negara Eropah. Jumlah ini sedikit lebih rendah pada pendidikan tingkat menengah pertama di mana sekitar setengah dari negara-negara mendedikasikan sekitar 25 sampai 75 jam per tahun untuk pendidikan seni.

Selain itu, hampir semua negara mendorong sekolah untuk menawarkan kegiatan ekstra kurikuler dalam seni. Meskipun mereka mungkin menawarkan sejumlah bentuk-bentuk seni, musik tampaknya adalah pilihan yang penting

Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) secara eksplisit dinyatakan untuk menjadi bagian dari kurikulum seni di dua belas negara.

Menurut (Figel, Yan, 2009) sekarang ini sekolah umum di Eropa sedang mengembangkan inisiatif untuk menghubung kan murid lebih dekat dengan dunia seni dan budaya. Di sebagian besar negara, inisiatif yang diambil adalah untuk mengatur kunjungan ke tempat-tempat menarik dari seni dan budaya, atau untuk membangun kemitraan dengan seniman. Selain itu, ada beberapa contoh festival seni terkait, perayaan dan kompetisi di mana murid didorong untuk berpartisipasi. Di beberapa negara, upaya ini khusus mengembangkan dan menyatukan seni, budaya dan pendidikan telah dilembagakan oleh penciptaan organisasi dan jaringan untuk mempromosikan seni, pendidikan dan budaya. Beberapa negara melakukan beberapa reformasi kurikuler dalam banyak kasus, ini akan mempengaruhi kurikulum pendidikan seni.

Kriteria penilaian dalam pendidikan seni biasanya didefinisikan di tingkat sekolah oleh guru sendiri. Mereka didirikan atas dasar tujuan belajar yang ditetapkan dalam kurikulum atau pedoman yang disediakan oleh otoritas pendidikan. Kriteria ini memungkinkan guru untuk mengidentifikasi berbagai tingkat prestasi murid. Dalam hanya tujuh negara yang kriteria penilaian yang ditetapkan oleh otoritas pendidikan pusat.

Mayoritas negara-negara di Uni Eropa merekomendasi kan penggunaan satu atau beberapa jenis skala penilaian, terutama pada tingkat menengah di mana sisik tanda numerik adalah yang paling umum.

Pada tingkat dasar, praktik penilaian guru  yang paling sering disebutkan, dan ada di selusin negara, adalah penggunaan komentar verbal. Hal ini terutama terjadi untuk tahun-tahun pertama tingkat pendidikan. Di sebagian besar negara, ternyata penilaian seni tidak memadai dalam praktik  nya, hal ini memiliki konsekuensi langsung untuk kemajuan murid di sekolah.

Pada tingkat dasar,  pendidikan seni sebagian besar disampaikan oleh guru umum, dimana guru ini mengajar semua atau sebagian mata pelajaran yang ada di kurikulum sekolah. Dan lazim pula guru umum ini menerima pelatihan dalam mendidik (pedagogi) seni serta mempelajarai lebih dalam lebih dari satu  mata pelajaran  seni.

 mata pelajaran  seni yang paling sering dipelajari adalah (1) seni rupa, (2) dan musik, dimana menjadi mata pelajaran wajib di semua kurikulum sekolah Eropa pada tingkat dasar.
Pada tingkat sekolah menengah, pendidikan seni diajarkan oleh guru spesialis agar mereka juga dapat menunjukkan keterampilan artistik dalam  mata pelajaran  seni tertentu, jadi sebelum menjadi seorang guru seni biasanya mereka harus memenuhi persyaratan tertentu.

Seniman profesional jarang diizinkan untuk mengajar seni di sekolah-sekolah kecuali mereka memiliki kualifikasi mengajar yang sesuai. Jika ada guru yang mengajar tanpa pelatihan guru profesional, biasanya hal ini hanya bersifat sementara. Selain itu, partisipasi mereka dalam program pendidikan dan pelatihan guru jarang didorong oleh proyek-proyek pemerintah.

Membangun pendekatan kolaboratif antara pemain yang berbeda di tingkat pembuatan kebijakan serta di sekolah mungkin cara ke depan untuk meningkatkan pendidikan seni.

Pada tingkat kebijakan, hal ini sudah terjadi di beberapa negara ketika kementerian yang berbeda mencoba untuk berkolaborasi untuk mendukung beberapa proyek atau di mana jaringan tertentu atau badan yang dibentuk untuk mempromosikan pendidikan seni.

Pada tingkat sekolah, pendidikan seni hanya bisa mendapatkan keuntungan dari keahlian seniman profesional dan lembaga-lembaga seni pada umumnya dalam berkreasi seni tidak hanya  mata pelajaran  yang menarik untuk belajar, tetapi juga pengalaman hidup hidup dan nyata.


Literatur



[1] http://www.unesco.org/fileadmin/multimedia/HQ/CLT/CLT/pdf/Arts_Edu_RoadMap_en.pdf
[2] ). Lihat pada UNESCO( United Nations Educational, Scientific  and Cultural Organization): Road Map for Arts Education, The World Conference on Arts Education:  Building Creative Capacities for the 21st Century Lisbon, 6-9 March 2006, hal. 2.
[3] Lihat: http://eacea.ec.europa.eu/education/eurydice/documents/thematic_reports/113EN.pdf
[4] Lihat situs Simposium: http://www.centrepompidou.fr/Pompidou/ Pedagogie.nsf / 0 / D9E5FC50EAF95536C12570D7004A1A24? OpenDocu ment & L = 2
[5] Lihat situs konferensi Cicy: http://www.cicy.eu/
[6] http://www.bologna-and-music.org / countryoverviews

[7] Lihat Robinson, K., 1999. Culture, Creativity and the Young: Developing Public Policy. Cultural Policies Research and Development Unit Policy Note No. 2. Strasbourg: Council of Europe.
[8] Lihat juga: https://ec.europa.eu/youth/policy/youth-strategy/creativity-culture_en
[9] Lihat Taggart, G., Whitby, K. & Sharp, C., 2004. Curriculum and Progression in the Arts: An International Study. Final report (International Review of Curriculum and Assessment Frameworks Project). London: Qualifications and Curriculum Authority.

[10] Kategori tambahan ini adalah sebagai berikut: keterampilan sosial, keterampilan komunikasi, prestasi / presentasi, ekspresi individu, kesadaran lingkungan dan identifikasi potensi artistik. Sebuah kategori umum yang berkaitan dengan 'pemahaman budaya', yang diidentifikasi dalam konteks studi sebelumnya, telah dibagi menjadi dua elemen: warisan budaya dan keragaman budaya.

[11]  Bamford, A., 2009. An Introduction to Arts and Cultural Education Evaluation. Unpublished paper commissioned by Creativity, Culture and Education (CCE). The report formed the basis of the recommendations adopted by the EU’s Open Method of Co-ordination group on the synergies between culture and education in June 2009.
[12] Turki, yang merupakan anggota dari Jaringan Eurydice, tidak termasuk dalam pembahasan ini.

[13] . The levels of education concerned are primary (ISCED 1) and lower secondary (ISCED 2) (concerning children aged 5/6 to 15 years).
[14] Pada Proses Bologna, lihat : http://ec.europa.eu/education/policies/educ/bologna/bologna_en.html, serta laporan Perguruan Tinggi di Eropa 2009: Perkembangan Proses Bologna (Eurydice 2009a).
[15] Downing, D., Johnson, F. & Kaur, S., 2003. Saving a Place for the Arts? A Survey of the Arts in Primary Schools in England, LGA Research Report 41. Slough: NFER.
[16] https://www.nfer.ac.uk/publications/HEA01
[17] Asosiasi Européenne des conservatoires, akademi de Musique et Musikhochschulen (AEC) telah mengumpulkan informasi pada sistem nasional untuk pelatihan musik profesional selama beberapa tahun. Situs web www.bologna-and-music.org/countryoverviews terutama hasil dari proyek-proyek 'Polifonia' dan 'Mundus Musicalis'. Informasi lebih lanjut tentang pendidikan guru musik dan pelatihan dapat ditemukan juga pada www.polifonia tn.org/invite dan pada www.menet.info.



Posting Komentar

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting