Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Kamis, 11 Mei 2017

Pameran Lukisan: Perjalanan Seni Syahrial


Oleh Nasbahry Couto
Rabu tanggal 10 Mei 2017, penulis diundang untuk menghadiri pameran lukisan Syahrial (Yayan ) di galeri Taman Budaya Padang. Pameran ini dilanjutkan dengan diskusi hari ini kamis jam 14.00 siang di tempat yang sama. Pada pameran ini penulis diminta untuk membahas lukisan Syahrial itu. Alasan penulis untuk memuat tulisan ini di blog ini karena tulisan di katalog pameran ini sangat kecil dan tak terbaca. Mudah-mudahan tulisan ini dapat terbaca, dan pembaca dapat mengapresiasi dan memahami bagaimana permasalahan dan konteks seni pelukis ini.
 

Pelukis Syahrial adalah putra kedua dari bapak Suardi (alm.), pegawai Bupati Kab.50 Kota, Sumbar. Ibunya Zainap adalah pensiunan Kantor Pos Kodya Payakumbuh. Jadi kedua orang tua dan latar belakang kehidupan “Yayan” (nama kecilnya), adalah lingkungan pegawai negeri sipil (PNS). Kedua orang tua ini memiliki anak empat orang, dimana yang tertua (laki-laki) mengikuti jejak ibunya sebagai pegawai pos, dan anak ketiga pasangan Suardi(alm)  ini adalah perempuan yang bekerja di Puskesmas. Sedangkan yang bungsu, laki-laki adalah alumni jurusan pendidikan olahraga. Dengan latar belakang PNS seperti itu, kedua orang tua Syahrial, setidaknya  mengharapkan anaknya menjadi PNS pula, atau paling tidak menjadi guru, seperti yang akan di jelaskan nantinya, dimana Yayan setelah tiga tahun studi di ISI Yogya, pada tahun 1995 akhirnya (terpaksa) pindah ke jurusan Seni Rupa IKIP Padang. Namun ternyata nasib berkata lain, justru Syahrial memilih profesi menjadi seniman, khususnya seni lukis. Profesi ini digelutinya secara konsisten sampai sekarang. Sebagai tambahan, sekitar tahun 2011, Syahrial mengawini gadis kerinci bernama Gayarti yang berprofesi sebagai guru, berputra dua orang, dimana yang paling besar baru berusia  sekitar 5 tahun, dan yang kedua usianya tiga tahun.

Bakat Seni Masa Kecil

Latar belakang keluarga PNS -- khususnya ibu dan kakaknya yang bekerja di kantor pos -- tentu akan menimbulkan pertanyaan, faktor apa yang mendorong Syahrial menggeluti profesi pelukis ini, dan bagaimana latar belakang pemikirannya dalam seni lukis. Dapat diramalkan bahwa  jejak-jejak  ingatan atas benda pos, tulisan-tulisan tangan (skrip) dan lingkungan masa kecil seniman ini akan  terlihat kembali pada karya-karyanya. Secara akademis, posisi  kritikus atau kurator seni memang   bukan hanya menafsirkan karya semata dari apa yang tampak pada lukisan. Tetapi ada juga keharusan  melacak  faktor lingkungan dan biografi  seniman, yang kadang  bisa erat kaitannya dengan karya-karyanya. Dan catatan biografi ini  jarang mengemuka dalam pembahasan karya seni di sebuah pameran seni lukis
.              
Syahrial yang kelahiran tahun 1973, menurut ceritanya dari kecil sudah menyenangi benda-benda apa saja. Dan termasuk objek bentuk binatang  yang dianggapnya bagus dan indah bentuknya. Misalnya pada masa kecil dia pernah bersama-sama  menangkap dan mengumpulkan ikan di kali. Setelah ikan terkumpul, Yayan justru tidak menuntut haknya dari banyaknya jumlah ikan sebagai bagiannya. Tetapi dia menuntut ikan-ikan yang dianggapnya paling bagus sebagai miliknya walaupun jumlahnya sedikit namun dia sudah puas. Kecendrungan yang sama juga terlihat dari kegemarannya untuk mengumpulkan benda-benda kecil yang dianggapnya bagus sebagai koleksi pribadinya, tentu saja dalam hal ini dapat dipastikan untuk mengumpulkan perangko.

Dari kesenangan seperti ini, maka mulailah dia menciptakan bentuk-bentuk artistik sendiri sesuai kehendak hatinya. Misalnya melalui kegiatan menggambar. Menggambar dengan pensil, kertas dan atau alat-alat lain. Menggambar pada baju-baju yang dipakainya untuk menimbulkan kesan artistik merupakan keasikan tersendiri pada masa kecilnya. Hal yang sama berlangsung terus sampai saatnya dia masuk Sekolah Dasar tahun 1980. Kemudian pada tahun 1983, dia masuk ke dalam kegiatan “ Sanggar Gonjong limo”, dimana dalam sanggar yang katanya dipimpin oleh “Uda Jon” ini, dia mulai mengenal menggambar dengan media kertas tebal dan pensil krayon. Saat itu kegiatan menggambar di sanggar sering dimulai dengan membawa contoh gambar yang akan dilukis.

Demikianlah Syahrial/Yayan sebenarnya hidup diantara peralihan kampung dan kota (semi urban).Yaitu suatu daerah  yang disebut  “Limbukan”  sebuah desa sebelum masuk kota Payakumbuh sebelah kanan dari arah kota Bukittinggi. Tentu saja di samping pengaruh lingkungan keluarga  PNS dan pegawai pos,  lingkungan  daerah Limbukan seperti ini banyak pengaruhnya terhadap visinya sebagai seniman -- yang mengendap semasa kecil di dalam alam bawah sadarnya -- misalnya suasana hati yang  dipengaruhi oleh kesunyian alam pemandangan dan perbukitan seperti yang  terpantul dari banyak lukisan-lukisan terakhirnya. Salah satu ciri yang akan dijelaskan kemudian pada pembahasan seni  lukis Syahrial. Demikianlah dia hidup  dan besar di lingkungan   seperti  ini hal ini dijalaninya sampai tamat  SMP tahun 1988.

Periode SMSR Padang (1989-1993)

Pada tahun 1989 dia pindah ke kota Padang. Karena tertarik kepada seni lukis maka dia masuk  ke Sekolah Menengah Seni Rupa /SMSR, dan itu dijalaninya sampai tahun 1989. Di sekolah ini dia mulai mengenal seni rupa yang agak lebih luas dan ajang  pagelaran/pameran seni  yang tidak terbatas pada lingkungan sekolah. Tetapi juga pada cakupan yang agak lebih luas seperti Taman Budaya, IKIP Padang dan sebagainya. Pada saat sekarang sekolah ini disebut dengan SMK-4 (Sekolah Menengah Ketrampilan IV).  Mungkin karena dorongan teman-temannya di SMSR maka setelah tamat tahun 1993 di sekolah ini dia berangkat ke Jogyakarta untuk menyambung pendidikan ke ISI, khususnya jurusan seni patung, di jurusan ini dia hanya bertahan sebentar, kemudian pindah lagi ke jurusan seni lukis.

Periode ISI Yogyakarta (1993-1995)

Di Yogya dia mengenal pergaulan yang agak longgar dan luas dibandingkan dengan dengan di kota Padang, dia banyak bergaul dengan seniman-seniman Yogya, dan mengenal lebih jauh lagi tentang apresisasi lukisan dan kehidupan sanggar. Jadi di kota Yogya ini dia melihat bahwa seni lukis dapat menjanjikan  sebagai jalan hidup, apalagi di kota ini banyak menyimpan pelukis-pelukis kaya-raya. 
Di ISI Yogyakarta mulai dia mengenal pelukis-pelukis bertaraf nasional, termasuk dosen ISI dan sekaligus pelukis, yaitu Fadjar Sidik. Dia tertarik dengan  gaya melukis Fadjar Sidik yang menghasilkan karya seni liwat komposisi elemen-elemen bentuk, tekstur dan warna di atas kanvas untuk mencipta seni lukisnya.  Tujuan (goal) melukis ini menurut Syahrial sejalan dengan tujuan pelukis Belanda Piet Modrian, yaitu mengembalikan fungsi kanvas sebagai bidang datar.

Teknik Abstraksi pelukis Piet Mondrian, beberapa tahap abstraksi bentuk, dalam mengambil intisari bentuk pohon. Lukisan-lukisan Piet Mondrian dari 1910-1915) Sumberhttp://visualheritageblognasbahry.blogspot.co.id/2012/05/diskusi-dan-apresiasi-hasil-belajar.html

Namun pelukis Mondrian dan Sadjar Sidik, sangat berbeda dalam hal, gaya, konsep dan teknik seni. Fadjar Sidik memang menggambarkan bentuk-bentuk yang disusunnya diatas bidang kanvas--tidak lagi berasosiasi dengan objek representatif-- melainkan membentuk objek dan komposisi baru di atas kanvas yang oleh receiver (pengamat) bisa menjadi ajang multi tafsir. Sebaliknya teknik melukis Mondrian,  tidak perlu penafsiran sebab dia  hanya mentransformasikan  bentuk alam ke bentuk geometris vertikal dan horizontal. Seperti juga kecendrungan para pelukis modern mashab Bandung dan Yogya  tahun  70-an. Bahwa pelukis ini mengimitasi alam untuk tujuan estetiknya tetapi untuk menstilasikannya bentuk-bentuk di alam, sampai ditemukan intisari warna dan bentuk dasarnya. Hal ini dapat disebut transformasi bentuk.

Kelebihan seni lukis abstrak adalah dari segi keragaman penafsirannya dan bisa diamati dan  terlihat dalam sudut pandang yang selalu baru. Memang ciri dari seni modern adalah karya-karya yang selalu mencari kebaruan dalam segi  gaya, tema dan teknik seni. Berbeda dengan seni posmoderen, dia bertentangan dengan  moderen melalui tema seni karena kembali ke tema-tema lokal, dan bukan berarti tidak baru dalam gaya dan teknik seni. Munculnya seni pinggiran dengan tema-tema lokal dan tradisional dapat dilihat sebagai gejala-gejala posmo, tetapi dia memiliki kebaruan dalam gaya dan teknik seni. Justru dengan tema-tema yang berakar pada tradisi lokal, mencari gaya dan teknik-teknik baru.

Demikian juga pemahaman Syahrial tentang  pelukis Fadjar Sidik, memang hanya sebatas seni lukis abstrak dua dimensi  yang bukan lagi menggambar alam. Hal yang mungkin kurang tercatat dan terpahami adalah cara pelukis di zaman ini dalam menggarap seni “abstrak secara liris”. Dimana pelukis  menciptakan bentuk baru melalui komposisinya dengan sikap seorang penyair dengan medium warna dan bentuk, bukan dengan tulisan. Disebut liris (istilah kritikus Sanento Yuliman, alm.,) sebab seniman seakan ingin berpuisi dengan lukisan abstraknya.  

Periode IKIP Padang dan Sanggar Belanak (1995-2004)

Di Yogya  atau ISI Yogya dia hanya bertahan 2 tahun. Setelah tahun 1994, mungkin sesuatu hal yang terjadi dalam keluarganya, maka dia terpaksa pindah kembali ke kota Padang, dan dia   masuk ke jurusan Pendidikan seni  rupa IKIP Padang (sekarang  Universitas Negeri Padang), pada tahun 1995 dengan status mahasiswa transfer. Mungkin orang tuanya ingin agar anaknya menjadi guru seni rupa. Justru kuliah di IKIP Padang ini dia mengalami banyak kendala. Hal ini terlihat dari penyesuaian diri dengan dosen dan cara belajar yang tidak tepat waktu. Hal ini juga terlihat dari selang dua kali istirahat kuliah, mungkin karena sakit atau hal lain yang menjadi kendalanya.

Anehnya, justru pada masa-masa kuliah di Padang ini, dia sempat mendirikan sanggar seni rupa bersama teman-temannya yaitu “Sanggar Belanak”. Mungkin juga, sebaliknya justru karena kegiatan pameran dan sanggar ini mengganggu perkuliahannya. Dalam wawancara hal ini tidak banyak diungkapkannya.  Diantara teman-teman pendiri sanggar Belanak adalah Irwandi, Syahrizal, Firdaus, Iswandi, M. Ridwan dan lainnya yang tidak disebutkan satu persatu.

Menurut pengakuannya, sanggar belanak memang banyak dipengaruhi oleh gaya seni yang ada di Yogya saat itu. Hal ini bisa terjadi karena komunikasi antar sanggar-sanggar seni  di kota Yogya dan kota Padang, dan juga  melalui media internet. Sebagai orang yang pernah berdomisili di Yogya, syahrial tentu tidak sulit  berkomunikasi dengan sanggar-sanggar yang ada di Yogyakarta. Di sanggar dapat dilakukan berbagai  kegiatan kreatif seperti melukis atau diskusi. Hal yang menonjol terutama eksperimen teman-temannya dengan gaya surealisme Yogya, dimana hal sama juga dianut oleh beberapa gurunya di SMSR dulu, tentu saja dengan gaya dan tema surealistik lokal atau budaya Minang khususnya.

Di sanggar Belanak tidak ada ikatan yang pasti, sebab anggota-anggotanya bisa datang dan pergi. Dia sendiri juga mengakui bahwa  pengalamannya melukis bukan hanya dari kegiatan  berseni di Yogya. Ada juga  sedikit pengaruh yang berasal dari dosen-dosen seni rupa IKIP Padang. Misalnya saat mengerjakan Tugas Akhir dengan pembimbing Jupriani saat itu. Yang lain  misalnya saat dia mempelajari seni grafis untuk tujuan seni. Saat itu dia melihat kemungkinan penggunaan huruf  latin sebagai medium seni. Walaupun pada masa akhir studi seni secara formal di Padang  dianggapnya tidak banyak berpengaruh, karena kapasitas diskusi dan pembelajaran seninya kurang terperhatikan; gagasan pokok seni lukis dengan menggunakan skrip (tulisan)  bukanlah sesuatu yang baru, seperti yang dilihatnya di Yogya. Misalnya pelukis Saiful Adnan yang menggunakan skrip ayat-ayat Alquran sebagai medium seninya. Lebih jauh lagi para pelukis pada masa tahun 60-70 an, di Bandung seperti pelukis Ahmad Sadali dan A.D Pirous yang juga dosen fakultas seni rupa dan desain di ITB itu, sudah memakai medium seni yang sama. Terutama penggunaan ayat suci Al Quran untuk seni lukis abstrak lirisnya.  

Lebih lanjut lagi, pemakaian tulisan latin untuk medium gambar juga bukan hal yang baru. Seni semacam ini dapat ditemukan pada coretan “grafiti” yang dibuat orang awam secara secara serampangan di tembok-tembok pagar rumah atau pagar tembok gedung di perkotaan besar baik di Jakarta, Bandung maupun di Yogya dan sebagainya.

Namun diluar itu semua apakah penggunaan tulisan atau gambar, dan atau seni grafiti begitu penting? Apakah ada sesuatu hal yang penting menjadi catatan seninya? Kita dapat menyimak  pendapatnya mengenai tembok sebagai sumber gagasan yang tidak habisnya seperti yang dia katakan

“Tembok sebagai bentuk pertahanan yang kuat dari gangguan, tempat bersandar dalam kelelahan tanpa harus di pertanyakan tentang sebuah ketulusan, ia pun bisa menjadikan teman untuk menitipkan catatan-catatan kecil tentang kegundahan hati dari anak kolong dan tempat meletakkan motivasi, sebuah kepercayaan dalam kesendirian, sebagai bentuk kebijaksanaan, kearifan, kasih sayang  suatu sisi lembut yang tidak di tampakkan.”
Analoginya tentang tembok sebagai visi tidak diragukan lagi, dia membayangkan tembok sebagai hal yang berguna bagi pertahanan hidup, tentu saja bukan bayangan tembok yang memiliki lokus (tempat) dan  waktu seperti yang tercermin pada sebuah realitas. Bukan itu maksudnya. Untuk memahami hal ini perlu didiskusikan apa realitas yang dimaksud. 

Seperti yang diketahui, hanya pada lukisan-lukisan realisme dan naturalisme yang  dapat menjelaskan tempat (di mana) dan waktunya (kapan), misalnya “Tembok di pagi hari” atau lukisan “Ngarai Sianok Sore Hari”. Dan hal ini menjadi ciri dari lukisan realisme maupun impresionistis. Pada lukisan-lukisan Syahrial bukan hal ini yang dimaksudkannya atau yang dipentingkannya. Bayangan tanda-tanda artefak seperti ini muncul secara berulang dalam karya-karyanya yang ditandai dengan beberapa  judul lukisan dengan nama “artefak” (5 buah lukisan), “coretan” atau “coretan pada dinding” (6 lukisan). Judul-judul lukisan lainnya adalah dalam rangka semacam artefak juga, misalnya judul lukisan “perangko”, “kembang”, “ornamen”, “kwitansi”, tulisan  dan  sebagainya.

Realitas semu ini memiliki  modus yaitu “ dimana dapat tertulis berbagai pengalaman hidup yang nyata/ real”. Jadi bertentangan dengan gaya realisme dalam seni modern yang sifatnya dapat menjelaskan tempat dan waktu. Kesamaan lukisan-lukisan syahrial dengan seni lukis modern justru terlihat dari sifat naratifnya (bercerita). Sesuatu yang naratif memang bisa muncul jika dua  objek berbeda disatukan dalam satu kanvas.  Mengenai hal ini akan dibahas lebih lanjut pada karya-karyanya yang dapat dikategorikan sebagai posmo-naratif. Yaitu sebagai usaha tanpa sadar kembali ke  tradisi seni realis.

Dalam beberapa diskusi dengan Syahrial, dia selalu mengemukakan realitas dalam berkarya, jelas bahwa realitas yang dia maksud itu bukan semacam aliran seni yang pakemnya ada seperti realisme,  impresionisme, ekspresionisme bahkan seni abstrak pelukis Picasso dan Braque pun bisa berangkat dari realitas yang diabstraksikannya, menjadi segmen-segmen geometrik atau bentuk dasar alam. Yang dia maksud sesuai dengan konsep kanvas sebagai kanvas, apa yang terdapat pada kanvas adalah sebuah realitas yang tentu saja dalam hal ini dapat ditanggapi oleh receiver dengan multi tafsir. Guratan-guratan kayu, tulisan-tulisan tangan dengan kuas kecil atau kuas besar, bentuk bayangan struktur pohon atau bayangan semak belukar atau dedaunan, bayangan pot-pot bunga, bayangan demi bayangan bukanlah bentuk-bentuk yang dimaksudkan sebagai realitas utuh berdiri sendiri, tetapi kumpulan yang muncul secara spontan dari gerak hati yang menyerupai dan merekamkan ikon-ikon realitas.

Bagi sang seniman biasanya sebuah bidang kanvas adalah wilayah lamunan yang menyediakan ruang pintu masuk bagi berbagai kemungkinan tempat objek-objek gambar disatukan secara tidak terduga. Hal ini berasosiasi dengan sebuah tembok yang akhirnya penuh dengan objek-objek skrip dan coretan, semacam kolase ingatan demi ingatan  yang di wakili kumpulan ikonisitas itu.

Berbeda dengan Sadali atau Saiful Adnan saat akan menorehkan  skrip kaligrafi itu, sudah pakem bentuknya, agar tidak berubah maknanya. Jadi seniman  paling tidak hanya bisa  merubah komposisi bentuk dan warna serta  gaya skrip/kaligrafi  karena sumbernya skripnya adalah Alquran yang tabu untuk diubah. 

Gagasan dan Realitas dalam Berkarya                                   

Dari 28 lukisan yang dipamerkannya, dua buah dilukis pada tahun 2004,  yaitu lukisan “Bayang-Bayang” dan ”Proses”, dimana kedua lukisan ini sebenarnya mewakili  kecendrungan hampir semua  lukisan Syahrial.

Kemudian satu lukisan tahun 2010, berjudul “ornamen” . Dan dua (2)  lukisan bertahun 2011 berjudul  “kembang”dan”nol”; dua (2) lukisan bertahun 2012 berjudul “coretan pada tembok” dan “perangko”;  empat belas (14) lukisan bertahun  2013 yang pada dasarnya mirip baik tema maupun makna isinya tentang”melihat lebih dekat” dan tentang skrip/tulisan serta tektur. Kemudian delapan (8) lukisan bertahun 2016 yang tema sentralnya adalah artefak atau tembok seperti yang telah diuraikan diatas itu. 

Kecendrungan Pertama Lukisan Syahrial:   Bayangan Alam dan Lingkungan                                  

Dengan mengamati karya-karya Syahrial dari tahun ke tahun,  paling tidak ada empat (4) tipe atau kecendrungan seni lukis.  Kecendrungan pertama  adalah Bayangan Alam dan Lingkungan. Misalnya pada lukisan “Bayang-Bayang”(150x150 cm) yang dilukis  tahun 2004 itu kita dapat  melihat bagian  atas  yang mendominasi area  lukisan yang melukiskan  kumpulan  tulisan tangan (skrip)  warna putih  yang seakan menggantikan bentuk  bintang-bintang malam  hari di langit yang kelam, barisan tulisan ini seakan awan atau gerakan bintang atau meteor yang bergerak kearah kiri kanvas, sedangkan bagian di bawahnya seakan batas horison berkabut, dan selanjutnya pada bagian bawah  terdapat daratan  berwarna abu-abu  putih   dengan foreground   tanaman semak belukar dengan daun-daunnya yang runcing seperti daun tanaman palma (palm).

Ciri khas lukisan ini adalah konotasi dan asosiasi kita terhadap adanya  langit, awan atau gerakan meteor ke arah kiri, kemudian persepsi kita terhadap  kehadiran horizon, daratan dan semak-semak, dengan dasar warna abu-abu. Kalau mau jujur  Judul lukisan “Bayang-bayang”ini sebenarnya mengarahkan imaji kita kepada  ingatan-ingatan terhadap objek asosiatif yang digambarkan     di atas  baik yang dilukis dengan skrip maupun imitasi bentuk real . 





Ciri lukisan  seperti ini dapat kita temukan pada karya-karya pelukis  wanita Annette  Iggulden dari Universitas Deakin Australia.Konsep seni Annette Iggulden berbeda dengan Syahrial, sebab secara teoritik Iggulden melukis  setelah melakukan penelitian tentang tulisan (manuskrip)  Mesir dan  kitab suci kuno, kemudian dalam praktiknya dia mengembangkan peng- gunaan bentuk dan warna  abstrak yang diciptakan dari bentuk skrip (tulisannya)  ke dalam objek lukisan-lukisannya. Artinya, dia melukiskan objek melalui tulisan tangan, yang mirip dengan lukisan langit Syahrial di atas.



Soundscape II | Annette Iggulden | 28x29cm | Image courtesy of the artist and Watters 
             
Misalnya lukisan-lukisan Annette  Iggulden yang menggambarkan seseorang melayang dilangit, elemen dasar  dari apapun yang digambarkan adalah coretan tulisan tangan (skrip), misalnya bayang-bayang, bentuk-bentuk. Sedangkan lukisan Syahrial bukanlah berangkat dari konsep ini, dan bukan pula  dari hasil penelitian seperti itu. 


Tulisan atau skrip yang dikuaskan oleh syahrial justru muncul begitu saja, sebagai cara untuk mengucapkan sesuatu seperti yang umumnya tulisan tangannya yang banyak tertera dalam banyak lukisan temboknya.  Ungkapannya dalam hal ini dalam skrip  beberapa lukisan  adalah “untuk melihat lebih dekat” atau “untuk melihat lebih jauh”. Misalnya seperti yang terdapat pada lukisan “melihat lebih dekat (2013)

   
Atau skrip dalam bahasa Inggris “to see close up”   yang terdapat pada lukisan”artefak4”(2016) yang  sama artinya  sebagai contoh berikut ini.


Jadi kanvas baginya seakan sebuah objek garapan yang dapat dilihat lebih jauh atau lebih dekat. Jika dilihat lebih dekat  tak lain   dari sekumpulan tulisan yang dapat dibaca jika dilihat dari jauh dia akan menjadi objek lain atau tekstur yang seyogyanya menggantikan objek tertentu  seperti barisan awan, tulisan di tembok dan sebagainya. Dapat disimpulkan kecendrungan  Syahrial yang pertama adalah secara taksadar kembali cara-cara realisme tetapi bukan realisme asli, ini adalah    tindakan bawah sadar   memori dan   bayang-bayang ingatan yang berasoasi dengan realitas pengalaman hidupnya yang di-skripkan di atas kanvas.
Lukisan-lukisan yang memiliki kecendrungan seperti ini juga terlihat dari lukisan “tentang titik 1”(2013),  “artefak 1, sd., artefak 5, (2016).

Kecendrungan Kedua lukisan Syahrial,   Naratif:  Serpihan Memori dan Peta Ingatan    

Sebuah karya seni lukis dikatakan naratif  jika pada gambar itu ada dua atau lebih objek disatukan dalam  komposisi. Misalnya objek gambar gunung dengan pondok bercerita tentang lingkungan pedesaan.  Dan dikatakan surealistik jika dua objek gambar berbeda disatukan, misalnya gambar babi berkepala ember. Atau seperti surealisme Yogya yang menggambarkan petani wanita dengan anaknya  yang setengah manusia dan setengah batu yang retak dan pecah, atau gabungan sapi dengan awan, penyatuan dua objek berbeda ini jelas akan menimbulkan kesan surealistik.
                        
Bagi seniman, dalam sebuah karya seni objek-objek berbeda dapat datang yang tidak diduga karena imajinasi, lamunan atau gerak tangan   tak sadar untuk menempatkan sesuatu di atas bidang kanvas atau kertas  gambar. Cara seperti ini terlihat kreatif ketimbang meniru alam  atau  kegiatan mewarnai pada seni anak-anak karena guru malas dan sulit untuk melihat dan mengevaluasi   perbedaan kreativitas di antara anak asuhnya. Hal ini tidak akan terjadi pada dunia seni yang sebenarnya adalah dunia kreatif  dalam hal warna dan bentuk.

Terlepas dari istilah naratif yang sebenarnya sudah arkaik/kuno karena sudah ada sejak prasejarah. Lalu kapan terjadi lukisan yang secara teknis  sepenuhnya menyatukan berbagai hal berbeda dalam sebuah bidang imaji atau kanvas seniman modern? Sejarah seni modern mencatat bahwa pelukis Pablo Picasso pada saatnya merekatkan kertas koran pada lukisannya. Teknik ini kemudian telah di perluas bukan hanya menempelkan kolase, tetapi juga dengan merakit, menggambar ulang,  mem-print, kemudian print itu dilukis lagi.

Menurut Barbara Auran-Wrenn (1982:85), seninya terletak pada dalam seleksi dan penataan yang bersifat pilihan pribadi. Dengan cara ini kecil kemungkinan seniman untuk meniru sesuatu karena hasil sepenuhnya ditentukan oleh objek-objek yang ditempelkan. Dan kecil pula kemungkinan bahwa hasil ditentukan gerak tangan yang dikendalikan alam bawah sadar, kecuali kerja motorik yang diulang-ulang. Karena saat merakit atau menempelkan penuh dengan pertimbangan sadar: apakah dengan menempatkan sesuatu seperti ini menyatakan sesuatu hal? Apakah tempelan ini dapat membangkitkan suasana hati? Apakah permukaan sebuah objek dibubuhkan dengan bertekstur seperti ini akan menyatakan sesuatu yang lain? Apakah yang terjadi jika tekstur dan bentuk disatukan dalam sebuah tata atur tertentu? Sedikit demi sedikit, gagasan baru tentang karya itu mulai meruncing dan memanaskan hati. Ini menyerupai lamunan yang melintas di benak sewaktu melukis. Dan saat menyatukan berbagai hal pada sebuah bidang sebenarnya sepenuhnya merupakan reaksi pribadi, dimana dalam mencipta seniman menemukan diri.

Sifat-sifat seperti ini dapat kita rasakan kehadirannya  secara unik dan berbeda  pada lukisan Syahrial yang berjudul ” perangko” (2012). Pada lukisan ini perangko jelas tidaklah hasil rekatan atau rakitan, tetapi dilukis seakan-akan sebuah tempelan yang bersifat pribadi.

Namun dasar pemikirannya tetap beranjak dari konsep”tembok”itu dan lukisan sebagai rekaman pengalaman hidupnya.  Jelas  bahwa pengamatan  dan pengalaman  bertahun-tahun lamanya di kantor pos dimana   ibunya   bekerja membawa ingatan kepada  skrip  maupun  tempelan perangko. Lukisan ini dapat saja ditafsirkan sebagai  sebuah surat tua yang sudah lusuh berperangko Indonesia 25 rupiah. Surat tua seperti ini bisa saja surat tanpa alamat yang tidak sengaja   dibawa ibunya ke rumah karena alamatnya tak jelas. Kumpulan bentuk dan ragam skrip surat, perangko-perangko, kertas-kertas lusuh sudah tua  bisa saja adalah sebuah peta ingatan atau memori  yang   muncul  dari sebuah pengamatan pribadi seniman pada masa kecil dan ingatan ini mencuat lagi saat dia  melukis. Apa narasi di balik lukisan perangko ini? Tentu saja hanya pelukisnya yang tahu. Dan itu sebuah misteri bagi receiver.
                                                                                                                             
Hal yang sama juga terlihat pada lukisan yang berjudul “selamat malam” (2013) ciri-ciri naratifnya terbaca dari gambaran dua orang anak kecil, satu perempuan yang lebih besar dan satu anak laki-laki yang lebih kecil. Bahwa ini kejadiannya “malam”, ditandai dengan lukisan bulan sabit dan awan abu-abu berarak di belakangnya. Di bagian depan terlihat ember, kucing,  tumpahan warna merah muda dan skrip-skrip tulisan tangan yang tak jelas terbaca. Lukisan ini seakan potongan kertas dari sebuah buku catatan yang di jilid dengan kawat atau plastik yang telah diperbesar menjadi sebuah lukisan. Hal ini ditandai dengan barisan kotak hitam di bagian depan sekali   seakan lobang  kawat yang digunakan untuk menjilid  buku. Lukisan ini adalah imitasi  lembaran lepas sebuah buku catatan, dimana pada buku catatan ini tertera gambar dan catatan penulis.Apa yang diceritakan oleh penulis di kertas ini dengan selamat malamnya?
   
Lukisan ini dibuat tahun 2013    Dari catatan tentang kapan lukisan ini dilukis, jelas bahwa lukisan ini bukanlah putra-putri dari Syahrial. Sebab dia memasuki usia perkawinan di sekitar tahun 2011. Mungkin saja lukisan ini muncul   dari ingatan terhadap adik-adiknya pada masa kecil. Dan narasi yang akan diceritakan dalam lukisan ini berkaitan dengan keceriaan dan kebahagiaan masa kecil, dan hal yang tidak akan terulang lagi pada masa kini.                                                        

Kecendrungan ketiga: Bayangan Tembok dan Objek-objek di atasnya                                        

Kita dapat melihat kecendrungan ketiga dari lukisan garapan Syahrial, dimana lukisan tak lain adalah sebuah tembok bertekstur dengan coretan tertentu atau objek-objek tertentu diatasnya. Hal ini terlihat pada lukisannya   yang berjudul” proses” yang  dilukisnya pada tahun 2004.

Kecendrungan untuk menggarap tekstur secara sadar dapat ditelusuri kembali saat dia kuliah di jurusan patung ISI Yogyakarta. Walaupun perkenalan itu  hanya singkat, namun kesadaran tekstur sebagai objek seni tentu menonjol pada seni patung  ketimbang pada seni lukis. Seni patung adalah objek yang  dapat dilihat dari berbagai sisi,  disamping untuk dilihat juga untuk dirasakan permukaannya, perasaan-perasaan seperti halus, lembut, kasar atau kasat dan tajam  dapat dirasakan dengan melihat dan meraba permukaan sebuah objek. Pada  lukisan “proses” di atas judul ini berasosiasi dengan enam helai daun warna coklat tua  diatas tembok yang seakan berproses dan  mengering. Sebuah makna bisa muncul dalam lukisan ini bahwa dunia ini tidaklah abadi, sesuatu yang tadinya muda dan segar, bisa menjadi tua dan mengering. 


Pelukis sebenarnya memanfaatkan semiotika (ilmu tanda), atau munculnya objek-objek bertendensi semiotik yang bisa dengan gamblang   dibaca awam. Baik secara ikonisitas, simbol maupun tanda (sign)  indeks. Kalaupun tidak bisa dibaca secara simbolik, kekuatan lukisan ini adalah pada ikon dan indeks.  Indeks adalah tanda indikasi, seperti ada jejak kaki adalah tanda  orang  yang liwat berjalan  di pasir, gambar daun adalah ikon (mewakili) daun, ada daun mengering mengindikasikan (indeks)  ketuaan dan ketidak abadian. Hal yang sama ditemukan pada lukisan berjudul “tentang titik-1” (2013), “tulisan hijau” (2013); ”tulisan”(2013), ketiga lukisan yang terakhir ini justru menyampaikan pesan makna melalui kata-kata skrip. Misalnya “tulisan hijau” skripnya adalah “it was pain yesterday morning”  

Kecendrungan Keempat Tekstur Permukaan dan Objek-objek di atasnya 

Kecendrungan untuk menggarap tekstur ini terlihat dengan jelas pada lukisan-lukisan selanjutnya, misalnya pada lukisan “ornamen” (2010), digarap dengan latar sapuan kuas besar warna coklat tua yang agak pekat   pada kanvas, kemudian sebelum cat akrilik mengering kemudian ditorehkan  benda tumpul melingkar secara berulang pada seluruh bidang kanvas. Maka muncul efek bentuk-bentuk lingkaran dan setengah lingkaran berulang berwarna putih. 



Apakah ada maknanya, sesuai dengan judulnya  “ornamen”, maka  tak lain hanya pencarian nilai estetik melalui garapan tekstur. Hal yang sama ditemukan pada lukisan berjudul lukisan“kembang”(2011); ”melihat lebih dekat-2”(2013); pada lukisan “melihat lebih dekat-3” (2013);  pada pada lukisan “tentang titik” (2013), ”tulisan”(2013); coretan dinding-1”(2013).

Penutup
Pada masa kecilnya   Syahrial hidup diantara peralihan kampung dan kota (semi urban). Tentu saja di samping pengaruh lingkungan keluarga  pegawai pos,  lingkungan  daerah Limbukan seperti ini banyak pengaruhnya terhadap visinya sebagai seniman -- yang mengendap semasa kecil di dalam alam bawah sadarnya -- misalnya suasana hati yang  dipengaruhi oleh kesunyian alam pemandangan dan perbukitan seperti yang  terpantul dari banyak lukisan-lukisan terakhir yang dibuatnya pada tahun 2016

Dapat disimpulkan bahwa kekuatan utama lukisan-lukisan Syahrial adalah pada kecendrungan pertama dan kecendrungan kedua. Misalnya pada lukisan “Bayang-Bayang” (150x150 cm) yang dilukis  tahun 2004,  kita dapat  melihat bagian  atas  yang mendominasi area  lukisan yang melukiskan  kumpulan  tulisan tangan (skrip)  warna putih  yang seakan menggantikan bentuk  bintang-bintang malam  hari di langit yang kelam, barisan tulisan ini seakan awan atau gerakan bintang yang bergerak kearah kiri kanvas, sedangkan bagian di bawahnya seakan batas horison berkabut, dan selanjutnya pada bagian bawah  terdapat daratan  berwarna abu-abu  putih   dengan foreground   tanaman semak belukar dengan daun-daunnya yang runcing seperti daun tanaman palma (palm).

Ciri khas lukisan ini adalah asosiasi kita terhadap adanya  langit, kemudian persepsi kita terhadap  kehadiran horizon, daratan dan semak-semak, dengan dasar warna abu-abu. Kalau mau jujur  Judul lukisan “Bayang-bayang”ini sebenarnya mengarahkan imaji kita kepada  ingatan-ingatan terhadap objek asosiatif yang digambarkan     di atas  baik yang dilukis dengan skrip maupun imitasi bentuk real .
     
Kekuatan kedua yang menonjol pada lukisan Syahrial adalah sifatnya yang naratif yang berasal dari serpihan memori dan peta ingatannya. Sebuah karya seni lukis dikatakan naratif  jika pada gambar itu ada dua atau lebih objek yang dapat dikenali (natural) disatukan dalam  komposisi. Dan hal yang unik terlihat pada lukisan ” perangko” (2012) yang dasar pemikirannya beranjak dari konsep”tembok”itu sebagai rekaman pengalaman hidupnya. Jelas bahwa pengamatan  dan pengalaman  bertahun-tahun lamanya di kantor pos dimana   ibunya   bekerja membawa ingatan kepada  skrip maupun  tempelan perangko.

Kesamaan lukisan-lukisan Syahrial dengan seni lukis modern justru terlihat dari sifat naratifnya (bercerita).  Tema karya-karya Syahrial sebenarnya adalah sebuah kecendrungan kembali ke kekuatan tema tradisi seni lokal yang berangkat dari realisme dan naturalisme. Sifat-sifat lokal yang muncul secara tidak sadar ini dapat dikategorikan sebagai gejala-gejala posmoderenisme. Yaitu sebagai usaha tanpa sadar atau disadari kembali ke  tema tradisi seni yang lama tetapi dengan teknik dan gaya bahasa seni yang justru baru. Misalnya penggunaan skrip (tulisan latin) sebagai salah satu elemen seni rupa. Yang bukan lagi semata hanya elemen titik, garis, bentuk, tekstur dan warna dua dimensi, seperti yang terdapat pada elemen seni rupa seni moderen.

Sedangkan kecendrungan ketiga dan keempat, lukisan syahrial adalah gejala umum dalam seni kontemporer, dimana penggarapan dasar-dasar visual seperti titik, garis, bidang, tektur dan warna sebagai media lukis merupakan bahasa umum dapat dijumpai pada karya-karya seniman masa kini sebagai hasil studi akademik di perguruan tinggi dan sekolah-sekolah seni rupa, namun penemuan-demi penemuan baru dalam seni lukis yang memanfaatkan unsur dasar visual ini tetap saja dapat menarik secara visual.

                                                                                                                               Padang, Maret, 2017                                                                                                                                                                                                   

                                      





Posting Komentar

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting