Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Selasa, 28 Februari 2017

Arsitektur Posmodern pada Bangunan Kantor di Universitas Negeri Padang

Nasbahry Couto


Isu-isu sekitar gaya arsitektur, umumnya hanya dikenal oleh orang “dalam”. Yaitu para partisipan seperti  desainer atau arsitek. Partisipan yang lain adalah  komentator dan pemerhati bangunan dan lingkungan, para penulis kritik arsitektur, yang tentu terbatas jumlahnya. Partisipan ini tidak mutlak selalu arsitek, bisa saja mereka adalah pemerhati yang memahami sejarah dan teori arsitektur. Seperti Charles Jenk, tokoh posmo yang melahirkan konsep enam tradisi arsitektur. Dia adalah seorang penulis dan pemerhati budaya ketimbang arsitek. Jadi kira-kira dalam posisi seperti ini pula tulisan ini ditulis. Dan muncul seadanya. Namun, tidak lupa pula penulis ucapkan terimakasih kepada sahabat penulis. Yaitu saudara Afriva Khaidir, MAPA., PhD. dari bagian perencanaan di UNP. Yang mendorong penulis untuk menyusun tulisan ini. Maksud lain diantaranya adalah untuk koran kampus Ganto, yang penulis maksud juga dimuat di blog penulis. Ada pula pembicaraan, bahwa dalam rangka peresmian pemakaian beberapa gedung baru di Universitas negeri  Padang, rasanya perlu muncul tulisan seperti ini yang diprediksi cendrung bergaya arsitektur posmodern (posmo). Sebelumnya, pembicaraan mengenai bangunan-bangunan ini mungkin hanya sebatas fungsi, sedangkan dari sisi arsitekturnya tidak terperhatikan atau diperbincangkan.


Latar Belakang posmodern


Seperti yang telah menjadi diskusi klasik dan diketahui, faktor pertama yang melatarbelakangi munculnya posmo adalah gerakan post-Structuralism. Yaitu ketidakyakinan terhadap dominasi  mainstream dari kultur yang lebih besar. Pada saat munculnya kekuatan-kekuatan baru dari budaya pinggiran yang lebih kecil. Kecaman terhadap budaya barat adalah salah satu bentuk dari post-strukturalisme ini. yang diantaranya memunculkan arsitektur posmodern (posmo).

Dalam sosiologi, antropologi dan linguistik, strukturalisme adalah metodologi dimana unsur budaya manusia harus dipahami dalam hal hubungan mereka dengan yang lebih besar. Yaitu sebuah sistem yang umum yang disebut struktur. Strukturalisme adalah paham bahwa adanya struktur yang mendasari semua hal yang dilakukan manusia. Baik yang dipikirkan maupun yang dirasakan. Strukturalisme lahir dari keyakinan bahwa fenomena kehidupan manusia tidak akan dimengerti, kecuali melalui keterkaitan diantara mereka. Post-strukturalisme justru menentang hal itu. Inti dari post strukturalisme adalah penghargaan terhadap subyek, atau  eksistensi manusia.

Faktor kedua yang melatarbelakangi posmo adalah munculnya globalisasi di segala bidang kehidupan atau kebudayaan global. Globalisasi dipicu oleh kemajuan teknologi  berikut meledaknya produk industri dan sifat konsumerasi. Tidak ada lagi batas-batas negara (nasional) yang jelas melalui kekuatan korporasi. Konglomerasi mencengkeramkan kukunya melalui lintas negara. Yang ketiga adalah kejenuhan dan kebosanan akibat industrialisasi dan berkembangnya Teknologi Informasi. Tetapi lebih dari itu semua, yang penting lagi adalah akibat gagalnya paham modernisme dalam mengekspresikan segi kemanusiaannya. Misalnya munculnya lukisan-lukisan bergaya abstrak dianggap menghilangkan dimensi kemanusiaan dalam seni. Dalam bidang arsitektur justru memuncul apa yang disebut “arsitektur moderen” atau “international style”, yang dianggap  menghilangkan ciri budaya Perancis, Jepang atau Amerika dan seterusnya. Sebab gaya arsitektur moderen “international style” sama saja bentuknya dimana-mana yaitu dalam bentuk kotak-kotak, dingin, kaku, mementingkan fungsi, berikut sifat efesien dan ekonomisnya. Saat itu semua profesi desain meng “amini”  slogan “form follow function” atau “bentuk mengikuti fungsi” Sebaliknya pemberian ukiran atau ornamen dianggap pemborosan dan kejahatan. Hal ini terbalik dengan faham posmo yang muncul kemudian. Mungkin dengan menerangkan sedikit latar belakang filosofi desain posmodern ini, kita bisa mulai beranjak untuk memahami  apa itu arsitektur posmo.

Arsitek sebagai  Source (sumber)  Pesan Visual

Dalam pandangan ilmu komunikasi source adalah sumber pesan. Yang bertindak sebagai source adalah perancang (desainer) atau arsitek dengan konsep-konsep arsitekturnya. Sedangkan pengamat bangunan disebut receiver sebagai penafsir atau penanggap yang akan mengapresiasi karya-karya arsitektur. Dalam teori komunikasi dikatakan bahwa komunikasi dapat terjadi karena adanya media (karya arstektur) dan terbaca atau tidak terbaca oleh pengamatnya melalui tanda-tanda (sign) apakah melalui tanda ikon (icon), simbol (symbol) atau tanda indeks (indikasi), yang akan diterangkan pada bagian lain pada tulisan ini.

Seperti yang telah tercatat dalam sejarah dan teori arsitektur, tokoh pemikir arsitektur pos-moderen itu beragam, ada yang berasal dari penulis nonarsitek, dan ada yang dari arsitek. Yang fenomenal misalnya Bruce Allsopp (1977) dengan konsep “format”nya. Menurutnya, arsitek yang baik harus berangkat dari “arsitektur rakyat” yang seyogyanya memiliki nilai ekologis, arsitektonis dan “alami” karena mengacu pada kondisi, potensi iklim – budaya dan masyarakat lingkungannya. Menurut Bruce Allsopp kreatifitas merancang yang tepat adalah mendesain peruntukan khusus bagi manusia yang sesuai dengan iklim dan wilayahnya. Bahwa dalam merancang seharusnya juga melibatkan pemikiran pengguna atau “design participation”.

Sebelumnya, konsep posmo telah dikemukakan pula oleh Charles Jencks, yang mulai muncul sekitar tahun 1920 sampai 1970. Dia mengemukakan, bahwa gaya arsitekur bisa dipengaruhi oleh tradisi lokal, nasional, atau mancanegara yang memunculkan tradisi-tradisi baru. Dia mengelompokan ide-ide arsitektur saat itu menjadi enam tradisi. Enam tradisi itu adalah: 1). Tradisi Logis. Tradisi ini adalah konsep desain berdasar cara berpikir sistematis, mengikuti hukum alam dan teknologi. Teknologi adalah unsur utama tetapi harus disesuaikan dengan keinginan masyarakatnya jika tidak ingin mengalami kejenuhan. 2) Tradisi Intuitif. Yaitu konsep desain melalui kreatifitas dan emosi dengan hasil yang menakjubkan, tanpa tidak ambil pusing terhadap reaksi-reaksi orang di luarnya. Kreatifitas desain ini umumnya banyak hambatan dalam masyarakat karena tidak cocok dengan tradisi yang ada. Namun bisa memiliki peran penting bagi arsitek untuk memperlihatkan pemikiran yang progresif. 3) Tradisi Aktivis. Yaitu konsep desain yang mampu memenuhi tuntutan hidup dan pemahaman masyarakat terhadap desain karena komunikatif, selaras, serasi dengan lingkungan.4) Tradisi Idealis. Yaitu konsep arsitek yang mementingkan desin yang berlaku umum dalam dimasyarakat dalam kurun waktu tertentu. Gaya bangunan idealis ini mumnya klise. Misalnya gaya bangunan minang yang harus bergonjong atau rumah gadang, dan dianggap ideal oleh orang minang. 5) Tradisi Self-Conscious. Yaitu konsep Arsitek yang mencoba menonjolkan karakter bangunan itu sendiri. Apakah akan mencitrakan wibawa, feminim atau maskulin. Suatu faham yang mencoba menjembatani pemikiran kearah verbalitas bangunan. Misalnya: sebuah bangunan pemerintahan mempunyai bentuk, ciri dan corak pada pemerintahan jaman itu. Konsep ini biasanya dipengaruhi dan di kendalikan oleh penguasa politik. 6.) Tradisi Unself-Conscius. Yaitu konsep arsitektur yang mencoba menghasilkan karya-karya yang dipengaruhi pemikiran dan evaluasi ulang dalam rangka mendukung kegiatan masyarakat dalam memperbaiki tatanan sosial, budaya, lingkungan bukan oleh ideologi tertentu. Kelemahan ke enam tradisi ini dalam prakteknya selalu tidak memadai, kaku bahkan tidak manusiawi, Akan tetapi ke enam konsep tradisi  Charles Jencks ini telah mampu mempengaruhi sebagian besar lingkungan hunian dan bangunan di dunia.

Tokoh lain yang ikut meramaikan konsep posmo dalam arsitektur adalah Michael Graves. Dia memproklamirkan konsep ekletisisme bebas, dimana dia berpendapat saat kajian fungsi bangunan itu berakhir, maka barulah kajian arsitektur itu dapat dimulai. Jadi dia memisahkan kajian teknologi dengan kajian apresiasi terhadap bangunan.

Konsep yang lantang dari arsitektur posmo adalah historisme, yaitu keinginan untuk mendukung dan melahirkan kembali apa yang telah terjadi pada masa lalu. Kelompok historis ingin melihat kebesaran masa lampau. Oleh karena itu paham ini mengganggap gaya arsitektur yang berdasarkan budaya dan hiasan gaya lama patut dihargai dan diikutsertakan dalam ungkapan desain. Gaya ini kadang disebut dengan “vernacular architectur” yaitu mengangkat elemen arsitektur rakyat/lokal yang bersejarah. Hal ini semata-mata bukan ditujukan untuk arsitektur rakyat yang bersejarah dari budaya timur, tetapi juga dari budaya barat. Penggabungan kedua elemen historis timur dan barat ini melahirkan  konsep “neo vernacular”. Di mana keragaman budaya baik dari barat maupun timur) diolah kembali menjadi bahasa ungkap arsitektur baru. Yang lebih ekstrim lagi adalah tokoh Robert Venturi dimana dia benar-benar sangat anti terhadap moderenisme dalam arsitektur.

Dapat disimpulkan bahwa dari sisi si perancang sebagai sumber konsep arsitektur (source) terlihat desainer arsitektur posmo berkeinginan mengadakan pendekatan pendekatan kontekstual yang meliputi, a) sifat terbuka terhadap keinginan masyarakat (participation), b) sifat terbuka terhadap penggayaan terdahulu (historisisme), c) sifat terbuka terhadap unsur lokal yaitu bahan, teknologi, kebiasaan, tradisi, dan selera (vernacularisme).
Sekarang tentu timbul pertanyaan, bagaimana bahasa rupa post  moderen itu? Apakah ada ciri-ciri posmo itu pada bangunan baru di UNP Padang.

Media Arsitektur Posmo (Bahasa Rupa Posmo)

Seperti yang dijelaskan ahli semiotika, apa yang tampak (visual) adalah medium untuk dibaca sebagai tanda yang bermakna. Yang dalam kontek semiotika (ilmu tanda), tanda-tanda itu ditangkap melalui tanda ikon, tanda simbol dan tanda indeks (indikasi).

Ikon artinya sebuah tanda yang menyerupai sesuatu, misalnya gambar atau patung kuda adalah sebuah tanda (sign) yang menyerupai kuda. Sedangkan simbol adalah sebuah tanda yang maknanya berdasarkan kesepakatan (konvensi), misalnya  kata air, water, atau banyu adalah sebuah tanda bahasa yang sesuai dengan kesepakatan  orang Indonesia, orang Inggris atau orang Jawa yang artinya sama yaitu air. Sedangkan tanda indeks adalah tanda yang maknanya mengindikasikan sesuatu, misalnya jejak kaki, atau asap adalah tanda bahwa ada orang yang liwat di sini, atau tanda yang makna adanya kebakaran rumah. Atau seperti bangunan kantr rektor UNP yang baru berbentuk tabung adalah indeks (mengindikasikan) sebuah lumbung atau tempat menyimpan. Di sini terjadi metafora pemaknaan antara bentuk tabung dengan lumbung dan rangkiang.

Yang sering rancu adalah antara tanda ikon dan tanda simbol, sering diputar balik atau diganti artinya, misalnya penulis pernah mengikuti seminar yang mengatakan bahwa ngarai sianok di Bukittinggi adalah ikon sumatera Barat, atau alam takambang jadi guru adalah ikon UNP Padang. Kita bisa masuk ke diskusi paling panas apakah ini ikon , simbol atau indeks, atau hanya sekedar latah saja?

Bangunan  bagi arsitek adalah medium penyampaian gagasan desain yang ada artinya atau bermakna. Dan  medium arsitektur itu dapat muncul dalam beberapa cara. Melalui tanda ikon, tanda simbol dan tanda indeks (indikasi) atau gabungan diantaranya.

Ungkapan perlambangan atau simbol, misalnya bangunan pada gambar 1) dapat melambangkan gudang ilmu, ini adalah ikon jika memang didesain menyerupai gudang, tetapi ini adalah simbol jika kita sepakat bentuk ini berasosiasi dengan lumbung padi.  Dalam hal ini terjadi  metafora atau kiasan, dari kantor rektor ke gudang ilmu terus ke makna lumbung padi (rangkiang) dimana yang terakhir ini memang ada dalam bangunan tradisi minangkabau. Perlambangan (simbol), metafora dan atau kiasan ini menurut ahli arsitektur posmo adalah salah satu ciri dari arsitektur posmodernism. Berbeda dengan  konsep arsitektur moderen yang membebaskan diri dari aspek simbolisasi.




Gambar 1. Kantor Rektorat baru, yang bagian tengahnya melambangkan (menyimbolkan) bangunan rektorat UNP sebagai lumbung padi, sedangkan tiga cabang bangunan yang menyebar dari pusat melambangkan tigo tungku sajarangan (gambar koleksi penulis).

Yang kedua sebagai medium arsitektur posmo adalah kosa kata rupa, misalnya melalui unsur unsur visual desain, ornamen, atau warna seperti Gambar 2. di bawah ini. Bagian kiri adalah bangunan baru di UNP Padang, pada bagian kanan adalah bangunan tradisional kota Padang yang disebut rumah kajang padati




Gambar 2. Beberapa bentuk elemen-elemen dekorasi bangunan tradisonal Kajang Padati di Padang (gambar koleksi penulis).

Gambar 2. Beberapa bentuk elemen-elemen bangunan tradisonal yang diterapkan pada bangunan baru pada UNP Padang (gambar koleksi penulis, foto 2017)

Ciri-ciri arsitektur posmodern terlihat dari usaha arsitek untuk mengembil elemen-elemen rumah kajang padati seperti bentuk atap, singok, kisi-kisi langkan dan ukiran tangga yang diredesain dan diterapkan kepada bangunan baru. Dapat dikatakan hampir setiap bangunan baru  di UNP Padang memakai elemen bangunan tradisi lokal ini. Elemen yang diambil itu misalnya bagian kisi-kisi langkan yang berfungi sebagai hiasan sekaligus sebagai lobang angin.
Yang ketiga bisa juga melalui sintaksis yaitu kesatuan, komposisi, keseimbangan elemen rupa arsitektur seperti Gambar 3. di bawah ini.



Gambar 3. Gedung Fakultas Sastra dan Seni (FBS) UNP Padang, mengambil sintaksis bentuk rumah gadang, yaitu membesar ke atas dan mengecil ke bawah (gambar koleksi penulis, foto 2017)

Yang keempat melalui semantik yaitu pengembangan makna sintaksis melalui  denotasi dan arti arti bentuk arsitektur. Denotasi artinya arti yang tunggal konotasi artinya arti bentuk yang ditafsirkan secara bebas.


Gambar 4. Kolam renang UNP Padang yang didenotasikan, bentuk kura-kura atau binatang laut, dapat dikonotasikan dengan air. (gambar koleksi penulis, foto 2017). Yang kelima melalui pragmatik yaitu sesuai dengan keinginan pemakai tentang arsitektur misalnya meniru secara prakmatis bangunan tradisi lama.




Gambar 5. Kantor Rektor UNP yang lama, terjadi karena keinginan pemakai untuk merancang bangunan secara pragmatis, meniru bangunan rumah adat Minang Darat. (gambar koleksi penulis)

Ciri khas dari Kreasi Arsitektur Posmodern

Dari kreatifitas ujudnya terlihat bahwa unsur yang dominan dalam bahasa rupa arsitektur posmo antara lain adalah bentuk  geometri dan konsep pemiuhan atau melengkung arsitektur posmo seperti contoh gambar 6.



Gambar 6. Contoh Bentuk  Geometri dan Konsep Pemiuhan pada bangunan baru di Universitas negeri Padang , berikut elemen dekorasi yang mengambil elemen bangunan kajang padati. Gmbar kanan adalah bangunan rumah sakit PT. Semen Padang, di Padang. (gambar koleksi penulis, foto 2017)
Dari kreatifitas ujudnya yang kedua terlihat bentuk eklektisime (keinginan mencomot) yang radikal dan bebas  atau neo Vernakular, misalnya memasang ornament bahasa rupa tradisi berbagai bangsa, mencomot konsep tradisi atau gaya lama.


Gambar 7. Gambar kiri mesjid di kampus UNP Padang. Unsur-unsur yang dicomot adalah kubah dari arab, ukiran dari minangkabau, bentuk menara dari arab, percampuran dari berbagai elemen yang berbeda dalam kesatuan desain disebut ekliktik. Demikian juga yang terjadi pada bangunan Mesjid Raya Padang (gambar kanan) (gambar koleksi penulis, foto 2017)

Dari kreatifitas ujudnya yang ketiga yaitu keinginan pemakaian bentuk motif ukiran yaitu pemberian motif, elemen grafis, warna pada bentuk bangunan yang mengambil model rumah kajang padati.



Gambar 8. Gambar kiri, Gedung Student center UNP Padang terlihat keinginan pemakaian bentuk motif ukiran yaitu pemberian motif, elemen grafis, warna pada bentuk bangunan. Gambar kanan adalah model bangunan tradisional pesisir Minangkabau yang disebut  rumah adat kajang padati sebagai model yang ditiru(gambar koleksi penulis). Dari kreatifitas ujudnya yang keempat yaitu keinginan pemakaian warna arsitektur posmo seperti penggunaan warna yang bebas, seperti contoh gambar 7.

Persepsi Pengamat terhadap  Arsitektur Posmo

Dalam catatan sejarah dan teori arsitektur terlihat bahwa bahasa visual arsitektur posmo diyakini sebagai ungkapan komunikasi baru yang pada era moderenisme, namun sejalan dengan itu makna komunikasi sosialnya mulai kabur. Apa penyebabnya ? Tidak lain karena penafsiran terhadap bentuk-bentuk desain baru yang muncul. Umumnya desain posmo bisa jatuh pada ungkapan metaforis, ungkapan vernakular, arti ganda atau gagas baru dengan penafsiran bebas.
Dalam situasi ini ajang komunikasi dalam desain arsitektur posmo sebagai media interpretasi bentuk memiliki dua kelompok partisipan atau receiver:
(a)   mereka yang mengerti dan faham akan makna bahasa rupa
(b)   masyarakat awam yang mengutamakan aspek kenyamanan, kebiasaan, budaya setempat


Gambar 9 Gedung Bagian Administrasi UNP Padang terlihat keinginan bermain warna warna bebas pada bentuk bangunan (gambar koleksi penulis, foto 2017)

Diskusi  ikon, lambang  yang digunakan di Universitas Negeri Padang

Diskusi I: Dilema Filsafat serba empat (Alam Takambang Jadi Guru) dan Hasta Brata

Yang dapat dikritik tentang ikon UNP sebagai “alam takambang jadi guru” adalah maknanya yang tidak tepat, dan terbuka untuk kritik sebab hal ini berbeda maksudnya dari zaman ke zaman di Minangkabau. Sebab yang dimaksud alam pada zaman minangkabau bukan alam fisik tetapi metafisik sebagai bagian kosmologi minangkabau. 

Alam ini adalah alam “hasta brata” (delapan sifat kepemimpinan)  yang berasal dari delapan sifat alam atau alam yang diwakili oleh delapan dewa. Sebab dalam politeisme minang ssebelum Islam masuk, alam dipandang dikuasai personifikasi mirip manusia. Konsep ini samar-samar dipengaruhi oleh konsep Hindu-Jawa kuno. 


Bukti mengenai hal ini dapat anda lihat pada pidato adat (yang asli) minangkabau selalu di awali dengan ujaran sebagai berikut: “samulo alam tabagi salapan, duo pai ka utara (Cina), duo pai selatan (Jawa?)”, maka alam itu tinggal empat. Jika orang minang tidak mengenal “nan ampek” maka dia bukan orang minang, sbb: kato nan ampek, nagari nan ampek suku dan seterusnya.


Diantara penafsiran slogan Alam takambang jadi guru lihat blog jalius yang menafsirkan sebagai sumber belajar lihat di

https://jalius12.wordpress.com/2012/03/17/tut-wuri-handayani-dan-alam-takambang-jadiguru-2/
Slogan ini dituliskan pada gerbang dan lambang-lambang UNP Padang tanpa sempat bertanya kepada ahli budaya yang mengerti tentang makna slogan ini dari segi sejarah dan budaya minangkabau.


J
Gerbang masuk kampus UNP Padang dengan slogan " Alam Takambang Jadi Guru", sumber gambar tulisan Jalius

Kita dapat mendisksikan mengenai budaya minang ini lebih lanjut. Terutama budaya visualnya. (tangible cultural heritage), Bentuk-bentuk dan elemen arsitektural sebenarnya penuh dengan berbagai kemungkinan dan pilihan. Jika ada satu atau beberapa pilihan, unsur-unsur visual tersebut bukanlah suatu kebetulan, tetapi sesuatu yang disengaja berasal dari maksud manusia tentang sesuatu dan bermakna. Bentuk-bentuk ini juga bukan sekedar suatu hasil kreasi yang pragmatis, tetapi menggambarkan penerimaan (resepsi) dan kesepakatan (konvensi).

Teori konvensi ini dikemukakan oleh Hauser (1982) dalam bukunya yang berjudul "The Sosiology of Art". Sedangkan pengkajian terhadap makna unsur-unsur visual dan verbal bangunan serta pembanding lainnya, yang dalam kenyataannya dilakukan oleh komunitas secara  berulang dapat ditafsirkan sebagai ketidaksadaran kolektif (social-unconciousness), hal ini dapat ditafsirkan pula sebagai kosmologi Minangkabau.

Unsur-unsur visual bangunan, bisa diproyeksikan kepada sikap hidup dan budaya Minangkabau, seperti mitologi, kepercayaan dan sebagainya. Misalnya konsep tripartit (serba tiga) misalnya tigo tungku sajarangan,  bermula dari Lareh Nan Panjang sebagai penengah dalam konflik kelarasan Bodi Caniago dan Koto Piliang. Persepsi ini dapat dikaitkan dengan terbentuknya tatanan tiga pihak atau tripartit sebagai tigo tungku sajarangan pada era Islamisasi di Minangkabau.

Dualisme dan konflik yang dialami orang Minangkabau sebenarnya berakar pada faham adat Bodi Chaniago (BC) dan kelarasan Koto Pilian (KP). Dualisme faham ini secara tidak disadari masih berlanjut sampai sekarang, dimana di satu pihak, ada yang masih mempertahankan sifat-sifat otokratik (KP) dan pihak lain menginginkan demokrasi (BC). Dalam hal tertentu pengaruh BC sebenarnya sangat kuat di bandingkan pengaruh KP, hal ini dapat dilihat dari kecenderungan komunitas negari-negari di Minangkabau yang demokratis.

Dualisme ini berlanjut tetapi dengan konsep lain yaitu dualisme adat (lama) dengan agama (baru). Alam pemikiran tripartit ini terlihat dalam konsep pranata sosial tigo tungku sajarangan, yang dibentuk setelah Islam masuk. Pertentangan itu melahirkan pihak ketiga yaitu kaum alim ulama (agama Islam).
Konsep serba tiga ini kurang pengaruhnya pada dunia seni rupa dan arsitektur, dibandingkan dengan konsep serba dua, sehingga dalam desain ada kecenderungan memilih simetri dan menolak asimetri.
Di luar pengaruh dualisme antara adat KP dan BC, terdapat konf1ik antara adat (lama) dengan agama (baru), filsafat alam adalah sebagai solusi dualisme tersebut, pandangan serba dua yang bertentangan itu, mengakibatkan pula pandangan dualisme yang lain, khususnya dalam dunia mikrokosmos.

Misalnya persepsi orang Minangkabau tentang alam mikrokosmis yang bersifat matrilineal, dimana ibu adalah pusat kehidupan, dan bapak sebagai unsur luar. Dalam kehidupan sehari-hari orang Minang, sang ayah diibaratkan sebagai “abu di ateh tunggua” (abu di atas tunggul) artinya dia kurang berperan dalam keluarga, kedudukannya sangat lemah sehingga seperti abu kalau angin kuat dia bisa terbang ke mana-mana. Dari segi kekerabatan lingkaran dalam digambarkan sebagai istri, lainnya adalah cucu, anak, istri, ibu dari ibu, nenek, mamak, tungganai; penghulu. Sedangkan lingkaran luar digambarkan sebagai ayah, suami ibu/urang sumando (semenda), suami nenek/kakek.

Dalam perwilayahan istilah luar adalah rantau dalam adalah luhak, atau orang darek (daratan pegunungan) adalah orang dalam, sedangkan pasisia (pesisir) adalah orang luar. Dalam perkembangan wilayah luar adalah Koto Baru sebagai tempat bagi pendatang yang diberi tanah, dalam adalah Koto Tuo, atau Koto Tangah.

Jadi konsep dualistik atau antitesis ini terbaca pada tatanan sosial, tatanan politik-geografis maupun ungkapan visual dan verbal. Antagonis ini terlihat pada unsur-unsur visual bangunan tradisional Minangkabau. Timbul pertanyaan kenapa persepsi dualisme dalam dan luar itu begitu kuat dalam seni dan budaya Minangkabau? Misalnya dalam tarian Minangkabau kita melihat gerakan-gerakan silat (keras) yang konflik dengan ketentuan bahwa tarian itu harus dibawakan dengan gerakan lunak.

Konflik antara BC dan KP bisa disebabkan antara lain oleh: persepsi tentang peran ibu sebagai pusat kehidupan yang dipertentangkan dengan peran ayah sebagai pihak luar. Hal ini juga disebabkan oleh bawah sadar komunitas yang secara geografis berada dalam isolasi. Ternyata orang Minangkabau darek sebagai orang darek (daratan), relatif terisolasi selama berabad lamanya, dan persepsi ini diperkuat oleh sistem matrilineal yang mereka anut yang berpusat pada kehidupan ibu di rumah gadang. Hal ini berbeda dengan pendapat beberapa budayawan Indonesia yang melihat orang Minangkabau itu sebagai orang pesisir. Sama halnya dengan orang Mataram, Minangkabau dibentuk oleh budaya pertanian pedalaman kalau tidak bisa dikatakan budaya pertanian pegunungan.

Persepsi dualisme antara dalam dan luar, kemudian bercampur dengan ajaran tentang alam. Alam dengan segenap unsurnya dilihat orang Minangkabau dalam serba empat. Misalnya jika orang Minangkabau memandang ke luar, maka air-angin-api-tanah adalah kesatuan unsur alam yang tidak dapat dipisahkan, demikian juga jika memandang ke dirinya maka dipercayai terdapat daging-tulang-urat-darah sebagai unsur alam tak terpisahkan.(Lihat buku A.A. Navis: Alam Takambang Jadi Guru)
Untuk menggambarkan unsur alam itu, di samping kelipatan empat, terdapat juga kelipatan delapan misalnya tiang manti nan salapan (delapan), delapan tiang ini mengapit empat tiang utama yang ada di tengah rumah adat; yang disebut dengan manti nan salapan (manti=menteri pembantu raja).

Konsep ini secara samar-samar memperlihatkan pengaruh Hindu yang disebut dengan ajaran Hasta Brata, yang menunjukkan delapan sifat kepemimpinan pembantu raja yang diambil dari delapan sifat unsur alam (dahulunya melambangkan delapan sifat dewa yang menguasai unsur alam).

Setiap unsur itu dianggap hidup dengan perbedaan eksistensinya tetapi empat unsur itu hidup dalam suatu keharmonisan. Unsur itu berkumpul dengan dinamis dalam suatu sistem sebab dan akibat. Sistem sosial di Minangkabau dilihat dalam kerangka pemikiran ini.

Dianggap bahwa suku asal di Minangkabau ada dua, yaitu Bodi Caniago (BC) dan Koto Piliang (KP), kemudian dibagi pula menjadi empat yaitu Koto, Piliang yang KP; Bodi dan Caniago yang BC. Rumusan di atas menjadi dasar adat Minangkabau yang juga terbagi atas empat macam adat dan syarat pendirian suatu negari harus memiliki empat suku.

Seseorang dikatakan bukan orang Minang jika dia tidak mengenal yang “si empat”, misalnya kata yang empat (kata menurun=cara bicara kepada anak yang lebih kecil biasanya dalam rumah gadang, kata mendaki=cara bicara dengan orang yang lebih besar, juga dalam rumah gadang atau rumah adat; kata mendatar = cara bicara dengan orang yang dianggap sama kedudukannya dalam komunitas, kata malereang=berbicara dengan cara tidak langsung atau dengan cara berkias, yang terakhir ini lazim dilakukan dalam pertemuan adat (pidato adat) yang dilakukan kepada pihak luar komunitas dalam rangka basa-basi. Kebiasan cara berbicara terakhir ini terbawa-bawa saat berkomunikasi dengan suku lain di luar wilayah Minangkabau, yang kadang-kadang dianggap negatif oleh suku lain, karena lain yang dimaksud si penutur, lain pula yang diartikan sipendengar. Pada saat ini tidak semua orang Minang bisa berbicara dengan cara seperti ini.

Diskusi II: Kemenangan Arsitektur Lokal sebagai sumber gagasan arsitektur Posmo: Rumah adat Kajang padati

Mengenai rumah gadang kajang padati ini tidak perlu diuraikan secara detail sebab sudah penulis tulis di http://nasbahrygallery1.blogspot.co.id/2013/07/rumah-padang.html, dan silahkan dilihat di internet atau melalui google. Singkatnya bangunan inilah yang menjadi model arsitektur vernacular atau posmo yang lagi tren sekarang ini. Jadi bukan lagi bangunan rumah adat darek yang menjadi modelnya.

Diskusi III. Basic Needs

Kita-kita yang di luar partisipan atau komentator arsitektur, tentu akan lebih banyak jumlahnya ketimbang para arsitek yang merancang bangunan. Ratusan dan puluhan orang pergi setiap ke kantor yang bergaya tertentu. Setiap hari kita akan menentukan arah  ke gedung mana kita akan pergi dan bekerja. Yaitu orang yang biasa menjambangi, memakai atau meliwati bangunan. Di manapun akan lebih banyak orang yang berada di luar” bidang arsitektur yang bereaksi terhadap arsitektur setiap harinya.

Menurut ahli  ada tiga aspek apresiasi (memahami dan menghargai) arsitektur. Yaitu aspek fisik, aspek logika dan aspek emosi. Namun yang terakhir ini lebih menonjol dari yang lain, yaitu semacam “basic need” manusia terhadap estetik yang terdorong oleh rasa. Bahwa di sebuah lingkungan banyak gedung baru yang bagus, unik, megah atau monumental. Kebaruan, keunikan, kemegahan atau kecantikan seorang wanita, akan dapat menjadi modus pujian.

Sebagai contoh seseorang yang memiliki mobil baru, tidak  perlu pandai merancang, mengonsep, atau membuat mobil (aspek fisik), tidak tahu-menahu dari bahan apa mobil dibuat (aspek logis), namun dia sangat senang dapat mobil baru dan bagus, dan membanggakan  ke teman-temannya (aspek emosi).

Jadi dapat disimpulkan manusia itu lazim bereaksi terhadap lingkungan berdasarkan basic needs ini yang diperolehnya dari alam bawah sadar yang berkembang sejak dini, bukan untuk mengerti, tetapi untuk merasakan (felling), indah tidak indah, suka atau tidak suka, senang atau tidak senang. Namun banyak juga pendidik atau pembelajar yang menganggap estetik adalah bagian yang dapat dipelajari (aspek logika).

Persepsi  sebagai Modal Utama Memahami Seni Rupa dan Desain

Modal utama dalam memahami arsitektur (aspek logis) adalah mata (melihat), jadi sifatnya visual, sedangkan memahami sifatnya verbal (melalui kata-kata, bahasa).  Tak terhindarkan kajian  tentang arsitektur mirip dengan kajian tentang seni rupa atau bidang desain visual lainnya. Yaitu tentang persepsi, atau psikologi persepsi.

Dalam melihat (mempersepsi) ada dua mekanisme yang bekerja, yaitu persepsi “bottom up”, dimana manusia hanya semata mengandalkan apa yang dilihatnya untuk mengerti. Sebaliknya  “top down” . Yaitu memahami dari apa yang diketahui dari simpanan memori atau ingatan atau pengalaman. Sebagai contoh anak kecil, orang awam dan orang dewasa sama-sama melihat, persepsinya berbeda. Orang dewasa banyak tahu karena sudah memiliki “pengalaman” sebelumnya tentang apa yang dilihat. Anak kecil jika ditanya tentang apa saja yang terdapat pada seekor ayam, cendrung hanya akan menerangkan kepala badan dan kaki demikian juga saat menggambarkan ayah atau ibunya.

Dari apa yang diuraikan di atas terlihat kerumitan yang terjadi jika kita membahas sesuatu yang terlihat (visual) hanya berdasarkan pengetahuan dan kesadaran kita masing-masing. Hal yang sama juga terjadi pada basic needs, yaitu aspek emosi manusia terhadap estetik, penilaian akan sangat berbeda-beda, sebagaimana halnya yang terjadi pada bidang seni dan desain. Yang netral tentu adalah ilmu pengetahuan, yang tidak berpretensi berpihak, tetapi dalam rangka mencari kebenaran. Semoga saja.

Padang  akhir februari, 2017
Posting Komentar

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting