Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Minggu, 20 Januari 2013

2Naluri/Instinct dalam Seni: Teori dan Terapannya


Hal 2

Menurut Dutton, masa lampau memang penuh teka-teki, dahulu mungkin bapak teori evolusi (Darwin) bersikap skeptis terhadap masalah ini. Kita hanya tahu begitu sedikit tentang lingkungan nenek moyang jaman Pleistosen 5) yaitu di jaman awal munculnya homosapiens, seperti apa mereka hidup, bagaimana mereka hidup, dan hampir semua hipotesis dan setiap strategi yang mungkin, dapat membantu mereka untuk berkembang.

Selain itu, kisah tentang evolusi psikologi di jaman Darwin mungkin terlalu dini untuk membicarakan seni berdasarkan naluri, yaitu saat teori Darwin itu muncul. Kecuali jika Darwin sendiri berkelana ke bidang psikologi dengan belajar tentang ekspresi emosi spesies atau leluhur manusia lainnya. Jika premis evolusi ini benar, maka asal-usul psikologi manusia mungkin lebih tua dari jaman Batu. Dan evolusi itu diperhitungkan dapat bekerja lebih cepat dari pernyataannya tentang ini di tahun 1990-an.


Dutton telah menghabiskan banyak waktu bergulat dengan teori-teori yang dikemukakan oleh para pemikir seni sejak jaman Aristoteles dan Kant sampai ke pemikiran Clive Bell dan Michel Foucault. Dia menyentuh  semua isu-isu utama tentang estetik dengan cukup singkat dan  jelas.  Dari uraian Dutton tentang naluri seni manusia, ada hal yang menggelitik  muncul  dari teka-teki  jaman  lampau itu,  misalnya mengapa kita memiliki seni suara dan warna (visual),  bukan seni bau atau lainnya.

Apa yang dipikirkan Dutton, memiliki nilai khusus, terutama pembahasan  tiga perdebatan  antara lain: (1) peran maksud/tujuan seniman, (2) dampak dari sifat seni yang palsu dan (3) konsep penjiplakan/peniruan . Sebagai contoh misalnya karya provokatif seperti aliran  Dadais, seperti karya seniman Marcel Duchamp yang berjudul "Fountain" itu, yaitu sebuah urinoir  yang ditampilkan dalam pameran pada tahun 1917. Dutton kemudian menguji kasus ini terhadap sekelompok  sifat karya yang menurutnya secara kolektif adalah karya seni --tapi dia menemukan kesulitan-- yang berakar dari konflik atau ketegangan di antara karakter-karakter karya itu.[6]

Menurutnya, sebuah karya bisa saja karya yang  sempurna, namun secara tradisonal diragukan “keasliannya”, anehnya karya itu berhasil memancing kenikmatan seni -- sama dengan karya asli yang dirancang untuk mendapatkan kenikmatan seni—jadi dalam banyak kasus orang tetap merasa tertipu (karena berpikir konsep seni secara tradisional). Sebaliknya, walaupun banyak karya menunjukkan orisinalitas – sesuai  dengan  pemikiran yang kita harapkan – banyak juga yang mengecewakan. Apakah karya seni itu sebenarnya, dan siapakah seniman? Apakah fungsi seni? Bagi Dutton, hal ini adalah ekspektasi (diluar dugaan),  bahwa fungsi seni yang paling kuno sebenarnya (tidak tergantung artefak),  tetapi menunjukkan hasrat seniman untuk membuat karya berdasarkan naluri

Jawaban pertanyaan Dutton, ini sebenarnya sudah di jawab oleh pemikir lain, dan sebenarnya dia bukan membahas seni atau bukan, tetapi menunjukkan seni yang didorong oleh naluri. Misalnya,  dalam Definisinya tentang Seni (1991), Stephen Davies[7]  --yang  membahas secara menyeluruh pemikiran dunia Anglo-Saxon -- meskipun dapat diapresiasi  secara mendalam untuk kemungkinan nilai-nilai dan fungsi tertentu dalam seni-- namun ia akhirnya menarik kesimpulan bahwa sesuatunya akan menjadi sebuah karya seni disebabkan semata status tertentu. Status ini diberikan oleh anggota dari dunia seni, biasanya seorang seniman - yang memiliki kewenangan untuk memberikan status yang bersangkutan-- berdasarkan peran dan posisinya dalam dunia seni, dengan otoritas yang dimilikinya. (Davies 1991: 218)[8]

Untuk menjelaskan argumennya, Dutton mengutip harapan Darwin ke  masa depan, psikologi " yang didasarkan pada fondasi yang baru, yaitu yang perolehan kapasitasnya oleh gradasinya yang diperlukan masing-masing oleh kekuatan mental. Apa yang membuat sepotong ilmu Darwin – dia mulai dengan pertanyaan seperti misalnya evolusi mata manusia (yang menghasilkan seni visual) – kemudian begitu kuat dan menonjol, ini adalah cara di mana sejumlah besar langkah-langkah perantara ditunjukkan untuk memimpin secara bertahap dari awal yang sederhana untuk hasil yang luar biasa. Namun, tidak ada langkah-langkah perantara untuk perkembangan yang tersedia untuk dapat menjelaskan evolusi naluri untuk membuat karya seni. Namun teori Dutton ini menyoroti bagaimana  asal-usul seni itu dalam kehidupan kita yaitu dari naluri.[9]

Kajian Dutton, jelas berbeda dengan kajian ahli psikologi analisa Freud. Dalam konsep Freud, naluri atau instink adalah representasi psikologi bawaan dari eksitasi (keadaan tegang dan terangsang) pada tubuh yang diakibatkan oleh munculnya suatu kebutuhan tubuh. Apabila tubuh membutuhkan makanan, contohnya maka energy psikis akan terhimpun dalam naluri lapar yang mendorong dan mengerakkan individu untuk bertindak memuaskan kebutuhan akan makanan. Bahwa pada naluri terdapat empat unsur, yaitu sumber, upaya, objek dan dorongan. Sumber dari naluri adalah kebutuhan, upayanya adalah mengisi kekurangan atau memuaskan kebutuhan. Adapun unsur dorongannya jelas bahwa naluri itu bersifat mendorong individu untuk bertindak dan bertingkah laku. Freud berpendapat bahwa naluri-naluri yang terdapat pada manusia dibedakan ke dalam dua macam naluri, yaitu naluri kehidupan (life instincts) dan naluri kematian (death instincts).

Yang dimaksud dengan naluri kehidupan oleh Freud adalah naluri yang ditujukan pada pemeliharaan ego (the conservation of the individual) dan pemeliharaan kelangsungan jenis (the conservation of the species). Dengan perkataan lain, naluri kehidupan adalah naluri yang ditujukan kepada pemeliharaan kehidupan manusia sebagai individu maupun sebagai species. Contoh dari naluri kehidupan adalah lapar, haus dan seks. Sementara naluri kematian atau “ Thanatos” (naluri merusak) adalah naluri yang ditujukan kepada perusakan atau penghacuran terhadap apa yang sudah ada (organisme atau individu itu sendiri). Freud mengajukan gagasan mengenai naluri kematian ini berdasarkan fakta yang ditemukannya bahwa tujuan semua mahluk hidup atau organisme adalah kembali kepada tujuan organis atau dengan kata lain tujuan dari seluruh kehidupan adalah kematian. Namun naluri menurut Dutton, hanya diperoleh dalam perkembangan, atau dikembang sendiri oleh manusia, dan hal ini bisa bersifat evolusi(lambat) dan revolusi (cepat).

2. Teori Dutton: Perkembangan Naluri Estetik Manusia
Buku Dutton ini merupakan titik balik dari teori estetika dan seni, yang mengkaji seni dari segi evolusi naluri manusia. Menurut Kingsbury Justine 9b) Denis Dutton ini sebenarnya dimaksudkan untuk memprovokasi (memancing perhatian). Sebab dia berbicara tentang naluri manusia untuk menjelaskan seni, misalnya untuk penciptaan musik Bach B minor atau lukisan Guernica Picasso. Namun timbul pertanyaan, bagaimana bisa menjelaskan apresiasi kita terhadap kecemerlangan karya-karya seni? Sebab kreasi seni dan apresiasi seni tampak jauh dari jenis kegiatan (naluri) seperti seks orang dewasa, kebuasan sifat hewani dan makanan busuk, dan sebagainya - yang kita anggap sebagai tempat limpahan dorongan naluri seperti teori Freud. Dan hal ini kelihatan bertentangan dengan pendapat bahwa seni itu adalah warisan budaya, pengaruh budaya.


Tujuan utama dari buku Dutton adalah untuk menjelaskan seni dan pengalaman seni kita dalam kaitannya dengan teori Charles Darwin tentang evolusi estetik- mungkin tampak  aneh. Memang teori evolusi Darwin telah berhasil diterapkan untuk berbagai bidang kehidupan, tapi untuk menerapkannya ke seni tampaknya agak berlawanan. Seni, dan pengalaman kita tentang hal itu, adalah aspek yang kehidupan manusia yang tidak luput dari aturan dan bentukan budaya.

Pendapat Dutton, berbeda dengan pendapat bahwa seni itu adalah dalam manifestasi terbesar dari rasionalitas manusia, kecerdasan dan kontrol sadar. Dengan demikian, untuk menjelaskan seni dalam hal naluri universal, bisa tampak sebagai sesuatu istilah yang kontradiktif. Selain itu, bagi banyak orang di abad kedua puluh dan dua puluh satu, gagasan seni dalam lintas-budaya seni yang dipikirkan sebagai bawaan sifat manusia, mungkin tampak bersifat politis dan mengganggu sifat keintelektualan seni. Namun, buku Dutton merupakan upaya berkelanjutan untuk menghilangkan prasangka tersebut.

Dutton berpendapat, estetika itu bukan batu tulis kosong. Estetika itu dikembangkan, sama seperti reaksi biologis manusia -- misalnya mengembangkan rasa takut kepada ular daripada takut kepada kelinci -- sehingga (jika estetika itu dikembangkan) kita akan paham, itu akan dapat membuat lebih mudah bagi kita untuk menghargai karya pelukis Renoir, ketimbang menghargai karya Duchamp. Seperti yang disebut Dutton dalam bukunya sebagai berikut ini.
Meskipun benar bahwa  tertib budaya  dan perilaku selera estetika itu sangat luas, namun tidaklah selalu  berasal dari budaya, yang dapat memberikan kita rasa untuk segalanya. Juga, sebaliknya, tidaklah  berarti bahwa jika di masa depan ada tukang pos  ditemukan menyiulkan salah satu baris nada musik Schoenberg, hal itu berarti  bahwa tukang pos itu tidak menghargai keindahan  tanpa nada. Sebagaimana sifat manusia, juga perkembangan estetiknya, terbatas pada apa budaya dan seni yang dapat dicapainya, dengan kepribadian serta selera nya. (Dutton 2009, 205-206).
Artikel ini terdiri dari 4 halaman

(4) Penutup 
Poskan Komentar

Sering dilihat, yang lain mungkin juga penting